Rajasa

Rajasa
Ryan



Bel rumah Edelweis berbunyi. Edelweis bergegas keluar kamar Malika menuju ruang tamu. Membukakan pintu.


Wajahnya tampak sumringah melihat tamu yang berkunjung ke rumahnya.


"Ryan!" Teriaknya dengan wajah senang.


"Hai! Ini anakmu?" Sahutnya melihat Malika yang berada di dalam gendongannya.


"Iya, ini Malika, om!" Sahut Edelweis mengembangkan senyumnya, "Ayo masuk! Jangan berdiri di situ."


Ryan masuk dan duduk di ruang tamu. Edelweis ke dapur meminta asistent rumah tangganya menyiapkan makanan dan minuman untuk Ryan.


"Makan siang disini ya?"


"Jangan repot-repot dong!"


"Gak repot dong!"


"Aku gak mau Rajasa salah sangka dan cemburu. Kau tahu bagaimana dia."


"Aku akan menelponnya. Memberitahukan kedatanganmu. Kau menginap disini ya?"


"Aku sudah booking hotel."


"Lama gak kau disini?"


"Tergantung suamimu."


"Kau ada janji dengan suamiku?"


"Rajasa pernah menjanjikanku pekerjaan. Sepertinya aku sudah bosan bekerja di hutan. Apalagi kau tahu bagaimana intervensi pihak tertentu yang selalu mengganggu hasil dokumentasi yang kita buat. Bolak balik direvisi. Aku merasa kebebasanku dikebiri."


"Lalu apa rencanamu?"


"Rajasa menawarkan pekerjaan sebagai editor."


"Yeah! Kupikir pekerjaan itu sangat cocok untukmu."


"Ini siapa namanya?" Sapa Ryan kepada Malika.


Malika menyembunyikan wajahnya dibalik tubuh ibunya.


"Sepertinya dia malu." Sahut Edelweis tertawa.


"Yeah." Mereka kembali berbincang.


"Aku menelpon suamiku dulu."


"Ok."


Edelweis memvideo call suaminya. Rajasa menerimanya, "Ada apa sayang?" Sahutnya mesra.


Edelweis tersenyum lebar, " Ada Ryan."


"Benarkah?"


"Yeah!" Edelweis menyodorkan video call kepada Rajasa.


"Hai Yan! Apa kabar?"


"Baik! Gimana kabarmu?"


"Baik! Kau lihat sendiri. Aku sangat baik. Ada apa Yan?"


"Aku perlu break time. Bosan juga kerja di hutan."


"Apa rencanamu?"


"Apa tawaran menjadi editor masih berlaku?"


"Tentu! Tenang saja. Kapan kau mau mulai?"


"Tidak perlu diseleksi dulu?"


"Selama kita bekerja sama. Sudah cukup menjadi portofoliomu."


Ryan tertawa,"Kau memang sahabat yang baik dan bisa diandalkan."


"Kau menginap di rumah ya?"


"Gak usah, aku di hotel aja. Aku gak mau nanti kau ngamuk-ngamuk ke aku dan isterimu!"


Rajasa tergelak, "Kau jaga jarak aman dong!"


"Jaga jarak gimana lagi sih? Nanti batal aku dapat kerja kalau bos kesinggung."


Mereka kembali tergelak.


"Kalau kau jadi bekerja. Masak kau tinggal di hotel terus? Bangkrut ntar."


"Nanti aku cari kontrakan atau kost."


"Sementara tinggal aja di rumah. Gak apa-apa. Nanti kalau sudah dapat tempat tinggal baru kau pindah, bagaimana?"


"Kau serius? Aku gak mau nanti kau menuduhku yang tidak-tidak."


"Gaklah! Tapi kau juga jangan terlalu lama mencari kost dan kontrakannya."


"Ok!"


"Kau tunggu aku pulang kerja ya? Nanti kita berbincang?"


"Okelah!"


"Sip! Mana isteriku?"


Ryan mengangsurkan video call ke Edelweis. Rajasa berbincang sebentar dengan Edelweis kemudian mereka menutup percakapan mereka.


"Ryan, makan dulu ya? Rajasa memintamu menginap disini. Berarti dia tidak mencemburui kita."


"Aku harus segera mendapatkan kost atau kontrakan. Tidak enak kalau lama-lama disini. Kalau perlu aku akan cari hari ini. Sepulang dari sini aku langsung cari kost atau kontrakan. Jadi keluar dari hotel, aku langsung tinggal di kost atau kontrakan."


"Kost saja di sini. Aku senang ada teman." Edelweis mengembangkan senyumnya.


"Kita harus menjaga perasaan Rajasa. Aku tidak ingin Rajasa marah dan mencemburui kita."


"Yeah! Padahal kita tidak ada niat mengkhianatinya sama sekali. Aku sudah menganggapmu seperti saudaraku sendiri."


"Aku juga! Tapi tetap saja, kita harus menjaga perasaan suamimu."


"Yeah. Kita makan yuk!" Edelweis mengajak Ryan ke meja makan yang sudah ditata dan disediakan beberapa macam makanan.


"Kau tidak makan?"


"Kau saja. Aku gampang."


"Kau makan dulu. Kau kan menyusui. Kau pasti lapar."


"Aku sudah biasa menyusui dengan meminum air putih dan mencuri waktu makan kalau Malika sedang tidur."


"Berikan Malika padaku."


"Benarkah? Biarkan kucoba peruntunganku." Ryan mengembangkan tangannya pada Malika.


Malika menyembunyikan wajahnya pada ibunya.


"Dia tidak mau. Malika memang seperti itu."


Ryan mengelus rambut Malika. Menepuk punggungnya dan mengusapnya. Malika memandang ke arahnya.


"Mau kah kau kupeluk?" 


Tangannya mengembang ke arah Ryan.


Edelweis merasa takjub melihatnya.


"Kau mau digendong om Ryan?" Edelweis mengangsurkan Malika pada Ryan. Malika berpindah dalam gendongan Ryan.


"Makanlah! Biar kupegang Malika."


Edelweis menganggukkan kepalanya, "Terima kasih ya!"


Ryan mengembangkan senyumnya, "Tidak usah sungkan."


Edelweis membuka piringnya. Mengisinya dengan nasi, lauk pauk dan sayur. Selesai makan bergantian menggendong Malika. Giliran  Ryan makan.


Edelweis menyusui Malika di dalam kamar sementara Ryan memakan makanannya di meja makan. 


Selesai menyusui, Edelweis keluar kamar sedangkan Ryan yang juga sudah menyelesaikan makannya. Menawarkan diri untuk memegang Malika.


"Berikan Malika padaku."


"Tidak usah!"


"Tidak apa-apa. Kau istirahatlah sementara aku memegang Malika."


"Tidak usah, tidak apa-apa."


"Berikan padaku." Ryan mengembangkan tangannya dan Malika menyambutnya.


"Kau benar tidak apa-apa menggendong Malika?"


"Tidak apa-apa. Memangnya kenapa? Kau istirahatlah mumpung ada aku disini."


"Baiklah, terima kasih. Aku ingin mandi dulu dan berlama-lama di kamar mandi. Kau tidak apa-apa?"


"Tidak apa-apa. Aku dan Malika akan menjadi bestie. Ya kan sayang?" Sahut Ryan mengecup pipi dan pucuk kepala Malika.


Edelweis sangat lega melihat Malika nyaman bersama Ryan. Terdengar gurauan dan celotehan keduanya. Malika tertawa senang.


Edelweis mandi berulang kali. Membersihkan tubuhnya yang lengket dan penuh keringat. Dia menyalakan air di dalam bath tub. Menuangkan aneka macam sabun dan rempah. Termasuk susu dan minyak essensial.


Menggosokkan tubuhnya dengan perlahan. Air hangat yang merendam tubuhnya membuatnya mengantuk dan tertidur.


Wajahnya mengenai air mandinya. Dirinya tiba-tiba terbangun. Malika!


Dia langsung bergegas keluar dari bath tubnya. Menyambar handuknya. Mengeringkan tubuhnya. Membalurkan tubuhnya dengan body lotion. Menyemprotkan parfum ke tubuhnya. Menyisir dan merapikan rambutnya. Tubuhnya terasa sangat segar.


Edelweis berjalan keluar kamar dan melihat Malika sedang asyik bermain dengan Ryan.


Berulang kali tergelak dan berceloteh. Riang gembira.


"Dia sangat menyukaimu."


"Yeah! Sepertinya kami bersahabat baik." Sahut Ryan tertawa.


"Aku buatkan kau kopi ya? Kau mau roti bakar apa?"


"Apa tawarannya?" Sahut Ryan sambil terus bermain dan memperhatikan Malika.


"Roti bakar meises, meises susu kental manis, selai strawberry, strawberry dengan susu kental manis, selai kacang, selai kacang susu kental manis, beef bacon dengan butter, beef bacon,butter dan keju leleh."


"Kayaknya enak beef bacon dengan apa tadi?"


"Keju leleh dan butter."


"Iya. Aku mau itu."


"Aku kasih salada sama tomat ya?"


"Boleh banget."


Edelweis ke dapur membuatkan kopi dan roti bakar. Sementara Ryan dan Malika bermain dan bercanda.


Selesai membuat roti dan kopi. Edelweis bergabung bersama Ryan dan Malika.


"Aku pisahkan heavy creamnya. Aku gak tau kau mau creamy coffee atau expresso."


"Okay, thanks!"


Edelweis mengambil Malika dari Ryan.


"Biarkan saja dia! Dia kan tidak minta gendong."


"Kalau nanti dia nangis gimana?"


"Baru digendong."


"Malika pembosan."


"Kalau moodnya bagus dan happy gak. Anakmu sama seperti anak lainnya. Suka berlaku spontan. Senang diajak bermain dan bercanda."


"Yeah! Tapi kadang aku dan Rajasa sudah pusing kalau melihatnya bertingkah. Rewel."


"Apa karena kau ibunya? Kalian orang tuanya? Ikatan emosinya berbeda?"


"Entahlah! Semua teori dan persiapan yang kami lakukan gagal total."


"Kupikir kau harus mencari seseorang yang bisa menangani anakmu dengan baik."


"Benarkah?"


"Yeah! Sehingga kau bisa mengatur waktumu lebih baik."


"Tapi dia tidak mau kuberikan dengan siapa pun. Aku baru melihatnya nyaman bersamamu."


"Masak aku sih kandidatnya?"


Kontan keduanya tergelak.


"Kau harus sabar. Nanti kucarikan bagaimana?"


"Hmm, baiklah, aku juga kasihan melihat Rajasa seperti tidak bisa menyatu dengan kami."


"Anak-anak memang unik dan tidak bisa dipaksa. Tetapi ketika mereka bisa menerima sesuatu. Mereka akan merasa nyaman. Kegembiraan dan keceriaan serta semangat yang seperti tidak ada habisnya memancar."


"Yeah!"