Rajasa

Rajasa
Reckless



Nurmala menumpahkan kesedihannya sesampai di rumah. Dia sudah merendahkan harga dirinya memohon  kepada Edelweis untuk melepaskan suaminya.


Betapa bodohnya dia. Jika Edelweis memang berniat melepaskan suaminya. Dia tidak perlu memohonnya apalagi merendahkan dirinya seperti itu. Membiarkan Edelweis menghina dirinya karena kebodohannya sendiri. Edelweis akan dengan sukarela melepaskan tanpa harus diminta. Mungkin justru berusaha menjauhi dan melepaskan suaminya.


Ketika wanita mencintai. Dia akan berusaha mempertahankan sekuat yang dia bisa. Ibarat tali yang sudah mulai terputus. Tetap dia akan berusaha menggenggamnya semampu yang dia bisa. Bahkan jika tali itu licin pun. Dia akan berusaha melumurinya dengan abu. Mempertahankan sampai detik terakhir.


Sedangkan lelaki sebaliknya. Ketika memang ingin melepaskan maka dia tidak akan berpikir dua kali. Bahkan jika tali tersebut masih kuat terjalin. Dia akan berusaha melepaskannya satu per satu hingga tidak ada lagi yang tersisa. Terlepas begitu saja. Tidak memberikan pilihan.


Jika pun Ryan mengizinkan Nurmala bertahan dan mempoligami mereka berdua. Seperti yang dikatakan Ryan. Bisa jadi Nurmala akan sakit hati jika Ryan tidak mampu berbuat adil. Dan selalu mendahulukan Edelweis. Entahlah. Dia juga bukan bermaksud mengikhlaskan Ryan berpoligami tetapi agar mereka tetap terikat satu sama lain. Selamanya. Apa pun keadaannya.


Aku tidak bisa kehilangan Ryan. Aku bisa gila. Aku tidak tahu rasanya sesakit ini kehilangan orang yang sangat dicintai. Secemburu ini melihat orang yang kita cintai memilih yang lain. Seperti inikah rasanya saat aku melukai Edelweis? Menyayat perasaan hatinya dengan belati tajam. Menggoresnya tanpa perasaan.


Aku tidak bermaksud melukai. Aku hanya bermaksud melindungi kepentingan diriku sendiri. Aku tidak ingin kehilangan Ryan. Dia adalah cinta yang kucari selama ini. Bodoh jika aku melepaskannya begitu saja.


Aku tidak bisa merubah keinginan keduanya untuk bersama. Mungkin memang mereka sudah menantikannya sejak lama. Hanya masanya belum tiba. Tapi segera semua akan terwujud keinginan keduanya. Mereka akan melangkah bersama. Berbahagia selamanya.


Nurmala menghapus tetesan bening airmatanya yang berjatuhan. Mengelus perutnya yang semakin membuncit  dengan lembut. Bayinya akan lahir dalam hitungan hari. Hatinya demikian sedih.


Setidaknya aku sudah berusaha memperjuangkan kebahagiaanku. Sisanya tidak penting lagi. Bodoh adalah jika kau tidak melakukan kebodohan untuk berusaha memperjuangkan kebahagiaanmu sendiri. Tidak ada yang pernah tahu akan hasil akhir. Hanya saja, dia merasa kalah dan tak berdaya. Hanya bisa memasrahkan semuanya. Mempersiapkan menerima semuanya dengan lapang dada. Pada akhirnya memang semua berserah kepada takdir. Ada batas antara usaha dan doa. Serta garis Yang Maha Kuasa.


Aku akan berusaha membesarkan Amalia dan bayi yang kukandung seorang diri. Cinta hanya menorehkan luka. Tiga kali mengenal cinta. Tiga kali kecewa.


Ayahnya Amalia tidak mampu bertanggung jawab secara lahir. Hanya mau menafkahinya secara batin. Entah salah keadaan yang membuatnya tidak mampu. Atau memang tidak bisa dan mau. Ditambah perselingkuhannya. Tidak dinafkahi secara lahir dan diselingkuhi. Sangat kejam dan membuat trauma yang sangat dalam.


Bertemu dengan Rajasa di tengah keterbatasannya sebagai janda. Mendapatkan semua yang dibutuhkannya. Hanya saja hubungan diantara mereka bukan cinta dalam arti sebenarnya. Hanya saling memanfaatkan. Cinta tetapi bukan sejati. Dalam konteks saling membutuhkan satu sama lain.


Jika pernikahannya yang pertama suaminya direbut pelakor. Pernikahan kedua justru dia menjadi pelakor. Semua akhirnya berakhir. Karena hubungan diantara mereka murni saling memanfaatkan. Tidak ada hal yang membebani keduanya.


Pernikahan ketiga, mengajarkan dan mengenalkan makna cinta yang sebenarnya. Dia sempat berpikir menemukan cinta sejatinya. Karena sangat berbeda dengan ayahnya Amalia dan Rajasa.


Dirinya merasa nyaman, aman, tentram dan juga merasakan cinta dalam arti yang sebenarnya. Sebagaimana seorang wanita mencintai lelaki. Dia tidak tahu apakah Ryan merasakan hal yang sama. Atau memang hanya ada Edelweis di pikiran dan hatinya.


Ryan sangat berbeda. Menyentuh hati dan jiwanya begitu saja. Hanya saja, walaupun dia sangat mencintainya. Tapi terasa sangat jauh dan tidak terjangkau sama sekali.


Dirinya merasa iri dengan Edelweis yang dicintai Ryan setulus hati dan jiwanya. Tapi apa yang bisa dia lakukan? Dia sudah melakukan semua hal yang harus dia lakukan. Tinggal menunggu hasilnya. Tidak ada lagi yang bisa dia lakukan.


Dia sudah menyampaikan perasaannya pada Ryan. Memohon pada Edelweis agar mau melepaskannya. Tidak mungkin dia memaksa keduanya untuk menuruti keinginannya. Tidak ada ikhtiar lain selain menunggu.


Jika pernikahannya dengan Ryan berakhir. Dia bertekad menjalani hidupnya seorang diri bersama Amalia dan bayi yang dikandungnya. Penghasilannya sebagai sekretaris cukup menghidupi keperluan mereka bertiga.


Tidak semua cinta berwarna indah seperti pelangi. Bersinar cerah seperti matahari. Memendar cahaya seperti bulan. Berwarna-warni seperti bunga. Seperti halnya Khalil Gibran berkata ikutilah cinta walaupun dengan pedangnya dia melukaimu. Itulah wajah cintanya kepada Ryan.


Hatinya meneteskan darah. Jiwa menggoreskan luka dan perih. Tapi dia tetap mengikuti kemana cinta membawanya. Walaupun dengan pedang tajamnya menghunus tepat di dadanya. Membuat luka yang menganga. Cinta bukan sekedar pemuasan nafsu. Mungkin itu rupa cinta yang terendah. Yang dilalui sebelum bertemu dengan Ryan.


Kedua pernikahannya terdahulu. Hanya berorientasi pada nafsu. Tidak ada kasih sayang maupun cinta. Tapi dia tetap menamakannya cinta. Karena wajah cinta beraneka ragam.


Seandainya, dia bertemu Ryan terlebih dahulu. Apakah Ryan akan memilihnya atau tetap memilih Edelweis?


Seandainya, mereka menikah sebelum Ryan mengenal Edelweis. Mungkin dia bisa memiliki Ryan selamanya. Ryan berkata akan menemaninya selama empat puluh hari setelah melahirkan. Sebelum dirinya benar-benar suci.


Tiba-tiba terlintas sebuah rencana. Yang membuatnya menggigil. Tuhan, maafkan aku! Mungkin tidak seharusnya aku berpikir seperti ini. Tapi aku tidak sanggup jika aku kehilangannya. Ijinkan aku berusaha untuk terakhir kalinya. Berikan kesempatan dan takdirkanlah. Aamiin yaa robbal ‘alaamiin.


Dirinya memejamkan matanya. Tidak percaya bahwa dia memiliki rencana tersebut. Sepertinya rencana itu akan berhasil kalau berjalan dengan mulus. Tapi masalahnya, apakah Tuhan akan mengijinkan, berkehendak dan menakdirkannya?


Aku tidak memiliki jalan lain selain mencobanya. Aku yakin. Ryan tidak akan pernah meninggalkanku. Selamanya.


 Not a decent way. But it worth to give a try. I know this time you will me mine, forever....


Sekali lagi dia terpaksa mencurangi Edelweis.  Aku melakukannya bukan karena dendam atau sakit hati padamu. Aku tahu, aku sudah bersalah merebut suamimu. Tapi kali ini, aku benar-benar tidak bisa kehilangan Ryan. Cinta sejati dalam hidupku. Setidaknya, sebelum aku menyerah dan terpaksa membiarkannya berlari padamu. Ijinkan aku berusaha untuk terakhir kalinya. Aku tidak meminta banyak. Dan aku tidak memerlukan persetujuan dan penerimaanmu. Kuharap kau tidak menangis untuk yang kedua kalinya. Kau yang memaksa dan mendesakku melakukannya. Kau berusaha mengambil apa yang bukan milikmu. Dan mengabaikan apa yang sejatinya memang milikmu. Rajasa.


 


 


 


 


 


 


 


... ...