
Angela menyimak cerita Roy tentang Rajasa dan Edelweis sambil mengawasi Arya, anak mereka bermain.
“Edelweis berkeras meminta cerai. Rajasa tidak mampu membujuknya.”
Angela mendengar dengan seksama. Roy melanjutkan perkataannya.
“Aku juga gagal membujuknya. Dia tetap teguh dengan pendiriannya.”
“Kau ingin aku membantu Rajasa dan kau?” Tanya Angela.
“Memangnya kau bisa?”
“Lihat saja nanti.”
“Aku sudah berusaha membujuknya. Rajasa juga sudah berusaha meluluhkan hatinya. Tapi tidak berhasil.”
“Kita lihat saja nanti. Aku tidak ingin mengatakan apa pun.”
“Baiklah.”
Arya mendatangi ayahnya. Memintanya menemaninya bermain mobil-mobilan.
Sementara keduanya bermain mobil-mobilan. Angela mengambil makanan dan minuman untuk keduanya.
Arya berceloteh ditimpali ayahnya. Mereka bermain mobil-mobilan dengan seru. Suara celoteh. Tawa riang.
Angela sesekali melempar senyum dan tawa melihat keduanya.
Setelah percakapannya dengan Roy tentang Edelweis.
Angela memutuskan bertemu Clara meminta pertolongannya.
“Ku minta kau mengancamnya dengan foto-foto yang pernah kita ambil dulu.” Ujar Angela.
“Apa rencanamu?”
“Menggagalkan perceraiannya. Kau bisa kan melakukannya?”
Clara terdiam.
“Tidak ada cara lain. Roy tidak berhasil membujuknya. Aku dan Roy bermaksud menolong Rajasa. Edelweis akan menyesali keputusannya. Dia sedang dikuasai emosi saat memutuskannya.”
“Baiklah akan kucoba.”
“Thanks Cla. Aku tahu aku bisa mengandalkan mu.”
Clara mencari momen yang tepat untuk bertemu dengan Edelweis.
Dia menemukan saat yang tepat ketika anak Edelweis sedang bersekolah.
“Bisakah aku bertemu denganmu?” Tanyanya di telepon.
“Kau siapa?”
“Kau akan tahu siapa aku. Begitu kita bertemu.”
“Baiklah. Kapan?”
“Sekarang.”
Clara menyebutkan tempat mereka bertemu.
Tidak sampai satu jam mereka bertemu di tempat yang sudah mereka sepakati.
Clara mengenakan kacamata hitamnya.
“Edelweis?”
Edelweis mendongakkan kepalanya.
“Betul. Anda siapa?”
“Kau tidak perlu tahu siapa aku.” Sahut Clara duduk di hadapan Edelweis.
Restaurant tempat mereka bertemu sangat lengang.
“Ada keperluan apa kau ingin bertemu denganku?”
“Aku ingin kau membatalkan gugatan ceraimu.”
“Kau orang suruhan Rajasa?”
“Rajasa tidak ada hubungannya dengan hal ini.”
“Lalu kau siapa?”
“Kau tidak perlu tahu aku siapa. Aku hanya ingin kau membatalkan gugatan ceraimu.”
“Tidak akan.”
“Kau akan menyesal jika tidak melakukannya.”
“Oh ya?”
Clara memberikan sejumlah foto pada Edelweis.
Wajah Edelweis memucat.
“Kau mengedit foto-fotoku?”
“Foto-foto ini asli. Aku bisa mencetak sebanyak yang kumau.”
“Aku tidak tahu sama sekali mengenai hal ini.”
“Kau dalam keadaan tidak sadar. Tapi foto-foto ini asli.”
“Siapa kau sebenarnya?”
“Kau tidak perlu tahu siapa aku. Jika kau tidak ingin foto-foto ini tersebar. Batalkan gugatan ceraimu. Kembali pada suamimu.”
“Aku tidak ingin kembali pada suamiku. Dia sudah menyakiti hatiku.”
“Jika dia melihat semua foto ini. Apakah tidak sakit hati?”
“Apa maksudmu?”
“Mungkin suamimu melakukan kesalahan. Tapi dia sudah memperbaikinya. Jika foto ini tersebar. Kalian get even.”
“Bagaimana? Kau ingin semua foto ini disebar atau membatalkan gugatan dan kembali pada suamimu?”
“Membatalkan gugatan tapi aku tidak berjanji bisa kembali pada suamiku. Dia sudah menyakiti hatiku.”
“Kau sangat keras kepala!” Gerutu Clara.
“Aku tidak punya banyak waktu. Aku harus pergi.” Sahut Edelweis.
Aku minta kau mengirim berkas perceraian yang kau cabut ke po box ini. Aku akan membatalkan menyebarkan semua foto-fotomu begitu aku menerima kiriman berkas mu. Aku beri waktu tiga bulan.”
“Baiklah. Aku harus pergi.”
Edelweis bangkit dari duduknya. Meninggalkan Clara dengan gusar.
***
Angela memandang ke arah Clara. Menantikan kabar dari Clara.
“Bagaimana?”
“Aku memberikannya waktu selama tiga bulan untuk membatalkan gugatan cerainya.”
“Kau tidak memintanya kembali pada suaminya?”
“Dia sangat keras kepala.”
“Yeah.”
“Kupikir, Rajasa harus berjuang sendiri jika masalah rujuk.”
“Dia ingin menikah dengan Ryan.”
“Ryan?”
“Sahabatnya dan Rajasa.”
“Pantas dia tidak mau kembali pada suaminya.”
“Setidaknya kau bisa memaksanya membatalkan gugatan cerainya. Sisanya, biarkan dia berpikir sendiri.”
“Jika mereka batal bercerai. Edelweis tidak bisa menikah lagi.”
“Secara resmi tidak. Tetapi masih dimungkinkan untuk menikah secara siri.”
Edelweis membatalkan gugatan cerainya dibawah ancaman Clara.
“Kau benar membatalkan gugatan ceraimu?” Tanya Rajasa tidak percaya.
Edelweis hanya diam. Bungkam seribu bahasa.
“Apa alasanmu membatalkan gugatan ceraimu?”
“Aku memiliki alasan pribadi.”
“Baiklah. Apa pun itu. Aku sangat menghargai niat baikmu. Apakah aku masih memiliki kesempatan?”
“Aku membatalkan gugatan cerai bukan berarti aku membatalkan niatku menikah dengan Ryan.”
“Bagaimana mungkin kau menikah dengan orang lain. Jika kita tidak resmi bercerai. Poliandri dilarang.”
“Secara resmi kita masih menikah. Tapi kita bisa bercerai secara agama. Aku dan Ryan masih bisa menikah secara siri.”
“Mengapa kau bersikeras bercerai dan enggan memaafkanku? Masih berpikir untuk menikah dengan Ryan?”
“Hanya Ryan yang mampu memahami ku dan Malika. Aku merasa terlindungi dengan Ryan. Kesetiaan dan karakternya.”
“Aku mungkin bukan suami yang sempurna. Tapi aku selalu berusaha memberikan terbaik yang aku bisa. Untukmu, Malika dan bayi yang kau kandung.”
“Kau mengkhianatiku. Tidak bisa menghentikan kebiasaanmu mendua.”
“Aku berusaha setia. Jika itu yang ingin kau ketahui. 99 persen isi otak lelaki adalah ***. Bisa kau bayangkan jika hal itu tidak terpenuhi. Ditambah lelaki sebagai makhluk visual. Wanita bagi lelaki sama seperti materi bagi wanita. Hampir tidak mungkin diabaikan. Bukan aku membela diri. Mengertilah dari perspektive lelaki.”
“Dari perspektive wanita. Apa yang kau lakukan sangat menyakiti hati dan perasaan. Kesetiaan bagi wanita lebih penting dari cinta.”
“Aku tidak menawarkan cinta yang sempurna. Karena aku sadar. Aku tidak mampu. Tapi yang kutahu. Bersamamu dan anak-anak kita hidupku menjadi sempurna.”
“Kau tahu? Pengkhianatan itu luka bagi seorang wanita. Belati yang bisa merobek hati dan juga akal pikiran.”
“Aku terlanjur melakukannya. Tidak ada yang bisa kulakukan untuk yang sudah terjadi. Tapi kita masih bisa memperbaiki yang belum terjadi.”
Edelweis menatap wajah suaminya dengan gundah.
“Aku pernah berharap. Kau memiliki satu kata dan hati. Ketika kau mengatakan cinta. Hatimu juga berkata hal yang sama. Tubuhmu juga enggan dan tak mampu mendua. Itu adalah harapanku. Sebelum kau hancurkan.”
“Tidak ada gading yang tak retak. Kumohon kesempatan untuk kau, aku, Malika dan bayi yang kau kandung. Untuk kita semua."
“Ryan adalah harapanku. Jika aku tidak mampu meraih kebahagiaan bersamamu. Ryan menawarkan sesuatu yang tidak bisa kau berikan. Kesetiaan.”
“Kau mau menikah tanpa cinta hanya untuk menghukum ku?”
“Kau sangat dangkal. Untuk apa aku menghukum mu? Cinta tidak akan tumbuh subur jika tidak dirawat. Sebaliknya, cinta akan tumbuh subur jika rajin dirawat. Hidup matinya cinta tergantung bagaimana kau merawatnya.” Tukas Edelweis gusar.
“Mungkin saat ini aku masih mencintaimu. Tetapi aku yakin Ryan dapat menyembuhkan luka hatiku. Dengan cinta yang dia tawarkan padaku.” Sambung Edelweis.
Rajasa memandang Edelweis dengan putus asa. Luka yang dia taburkan membuat istrinya berlari pada sahabatnya sendiri. Setidaknya dia mau membatalkan gugatan cerainya. Mungkinkah dia memikirkan masa depan Malika dan bayi di dalam kandungannya?