
Pernikahan yang dijalaninya hanyalah sandiwara. Tapi bahagia yang dirasakannya begitu nyata.
Nurmala tidak percaya dirinya sebahagia ini. Ryan adalah sosok pria ideal dambaan semua wanita.
Perhatiannya yang penuh, tanggung jawab dan kesetiaan yang sangat menonjol darinya.
Jika pria jamaknya makhluk mendua. Ryan seperti hanya bisa mencintai satu wanita di dalam pikirannya. Kesetiaannya seperti seorang wanita. Sangat sulit dipalingkan dari cinta yang dirasakannya.
Nurmala berusaha menggodanya. Bagaimana pun, dia seorang janda. Membutuhkan belaian seorang pria. Ryan adalah suaminya walaupun hanya pura-pura. Tapi dia memiliki hak atasnya.
Masa iddahnya belum habis. Menunggu bayi yang dikandungnya lahir. Tapi Nurmala sudah tak sabar. Dia mulai memasang strategi.
Mengenakan pakaian yang menggoda. Jantungnya berdebar keras. Ketika pintu kamar dibuka. Dia sengaja meninggalkan Ryan dan Amelia lebih cepat karena ingin memancing hasrat Ryan terhadap dirinya.
Jantungnya berdebar semakin keras. Mendengar langkah kaki Ryan mendekati tempat tidurnya. Nafasnya berhenti ketika sesuatu menyentuh lembut dirinya dari mulai bawah tubuhnya.
Gemuruh debaran jantungnya berhenti. Berganti dengan rasa kesal. Ternyata Ryan hanya menyelimuti dirinya. Kemudian berjalan menuju sofa bednya. Tidak sampai tiga menit sudah terdengar dengkur halusnya.
Nurmala membalikkan tubuhnya dan memandang gusar ke arah Ryan.
Kau benar-benar tidak tertarik padaku? Mengapa kau sangat mencintai Edelweis? Wanita itu tidak bisa membuat suaminya setia. Tidak becus melayani suaminya. Kau mau mengalami hal yang sama? Berlari pada wanita lain untuk mencari kehangatan dan kepuasaan? Jangan menutup dirimu dari cinta yang baru. Aku mencintaimu dan akan berlaku setia padamu. Jika kau memberikanku kesempatan.
Lidahnya kelu. Tidak mampu mengucapkan satu kata pun. Menelan seluruh kalimatnya.
Dirinya mulai diliputi cemburu dengan sosok Edelweis yang ada di dalam pikiran Ryan. Apa ini namanya cinta? Mengapa begitu menyiksa?
Nurmala berusaha menepiskan pikirannya. Ryan tidak mungkin bersama Edelweis. Bagaimana merebut Edelweis tanpa menyakitinya?
Mana mau Edelweis meninggalkan suaminya kecuali berlaku tidak setia kepadanya? Selain mengungkap pengkhianatan Rajasa terhadap istrinya. Tidak ada cara lain untuk menghancurkan rumah tangga mereka. Ada air mata dan rasa sakit yang harus dibayar untuk semua. Nurmala tidak yakin. Ryan akan tega melakukan hal itu.
Dia sangat mencintai Edelweis. Tidak akan tega untuk menyakiti hati dan perasaannya.
Hanya satu cara menahan Ryan tetap berada di sisinya. Melepaskan Edelweis selamanya. Mengandung anaknya. Tetapi bagaimana caranya bisa mengandung anaknya kalau mereka tidak pernah berhubungan intim?
Saat ini dia juga tengah mengandung anak Rajasa. Tidak mungkin seandainya dia bisa merayu Ryan. Mengandung anak mereka berdua. Harus menunggu anak yang ada di dalam rahimnya lahir ke dunia. Melewati masa iddah. Mereka berhubungan intim. Baru dia bisa mengandung anak Ryan.
Ryan tidak mungkin tega meninggalkannya. Jika mereka memiliki buah hati.
Nurmala memandang resah pada Ryan yang tertidur sangat nyenyak.
Mengapa aku bisa jatuh cinta padamu? Apakah aku tipikal wanita yang mudah jatuh cinta? Aku tidak ingin lagi kecewa karena cinta. Aku tahu tidak akan kecewa akan kesetiaan dan tanggung jawabmu. Tapi bagaimana meraih hatimu yang penuh misteri? Bagaikan teka teki? Apakah kau akan meninggalkanku dan berlari ke Edelweis walaupun kita sudah memiliki buah hati?
Wajah Nurmala memanas. Mana mungkin mereka akan memiliki buah hati? Sedangkan Ryan enggan menyentuhnya?
Astaga! Pikiranku sudah mengembara kemana-mana. Tidak seharusnya, aku memanfaatkan kebaikan Ryan. Cinta tidak bisa dipaksakan.
Apa yang ada di pikiranku? Mencemburui Edelweis? Aku sudah merebut suaminya. Tanpa sepengetahuannya. Dia akan mencincangku seandainya dia tahu apa yang terjadi.
Jika Ryan mencintainya. Wajar saja. Edelweis istri dan ibu yang baik. Parasnya juga cantik dan manis. Seorang wanita yang baik dan menarik. Mendedikasikan hidupnya untuk suami dan anaknya.
Nurmala turun dari tempat tidurnya. Berjalan berjinjit menuju sofa tempat Ryan sedang tidur dan lelap. Mencium lembut kening suami pura-puranya tersebut. Memandangi wajahnya sepuasnya.
Bagian tersulit dari manusia adalah ketika sisi baik dan buruknya saling tarik menarik.
Nurmala menarik nafas panjang. Menghembuskannya dengan frustasi.
Pernah kah aku melakukan hal yang benar dalam hidupku? Memilih seorang lelaki yang tidak bertanggung jawab dan suka berselingkuh sebagai suami. Merebut suami orang untuk memenuhi kebutuhan batin dan materi. Memaksakan cinta pada seseorang yang mencintai orang lain?
Aku tidak bangga pada hidupku. Tapi aku tidak bisa memungkiri kebahagiaan yang kurasakan. Hidup bersama seorang lelaki yang baik. Sangat memperhatikanku dan anakku, Amalia.
Kupikir setiap orang berhak bahagia. Akan tiba saatnya bahagia menyapa. Tidak hanya berisi elegi dan tragedi.
Mengoleskan mentega ke lembaran roti yang akan dipanggang.
Menambahkan mentega ke dalam pan. Kemudian meletakkan smoke beef. Memasaknya hingga matang.
Memecahkan telur membuat telur setengah matang sebagai pelengkap.
Nurmala mengiris tomat dan timun. Memotong-motong daun selada yang terlihat sangat segar.
Menyusun smoke beef, selada, timun, tomat, telur ceplok dan keju slice leleh. Memanggangnya hingga kering.
Membuat salad sebagai pelengkap. Memotong dan mengiris pear, melon, semangka, apel yang sudah direndam perasaan air lemon agar tidak berubah warna. Merebus kentang dan memotong-motongnya. Melengkapi salad yang dibuatnya dengan irisan telur dan udang rebus.
Finishing, mengiris bawang bombay, daun salada, wortel dan timun.
Untuk makan siang, Nurmala membuat soto daging kesukaan Ryan. Perkedel dan telur rebus sebagai pelengkap. Sambal dan irisan jeruk limo.
Pintu kamar terbuka. Ryan keluar dari kamar. Berjalan keluar menuju rak piring. Mengambil gelas dan mengisinya dengan air hangat di dispenser.
"Kau sudah bangun?" Tanyanya sesudah meminum habis air hangat di dalam gelas yang sedang dipegangnya.
"Ya. Kau terbangun?"
"Aku kehausan."
"Kau tidur sangat nyenyak."
"Aku sangat lelah."
"Yeah. Aku bisa melihatnya. Kau tidur seperti orang mati."
Ryan tertawa,"Masak sih?"
Nurmala tersenyum lebar," Yeah! Apakah kau mau sarapan?"
"Kalau kau masih repot tidak usah. Aku juga lebih suka sarapan di kantor."
"Kubikinkan kopi. Bagaimana?"
"Aku mau kopi."
"Aku buatkan pisang penyet disiram susu kental manis dan parutan keju?"
"Tampaknya lezat."
Ryan sangat mudah diurus. Hampir menyukai setiap makanan dan minuman yang disajikan. Tidak seperti Rajasa yang agak rewel. Apalagi jika dia tidak menyukai apa yang disajikan.
Jawaban yang diberikannya juga sangat lugas. Ketika Nurmala bertanya mengapa dia hampir menyukai setiap makanan dan minuman yang disajikan padanya.
"Jika kau terbiasa hidup di hutan. Daun-daun kering, getah bahkan ular bisa terpaksa kau makan. Apalagi makanan yang masih dimasak dan diberi garam dan bumbu."
"Kupikir mulai besok. Tidak perlu kumasak makanan. Kusajikan begitu saja. Air juga bisa langsung kau minum dari kran." Ujar Nurmala.
"Gak sampai begitu juga kali." Sahut Ryan tergelak," Kau kan bertanya mengapa aku tidak pernah menolak makanan dan minuman yang kau sajikan? Semua aku suka. Karena itu. Aku sendiri belum pernah makan ular, dedaunan atau getah. Itu cuma perumpamaan."
"Iya, aku tahu! Aku cuma bercanda kok!"
"Aku gak!"
Mereka kembali tertawa.