Rajasa

Rajasa
Refreshing Time



Jika kehidupan Rajasa baik dan seimbang. Antara pekerjaan, aktifitas seksualnya bersama sekretarisnya, sosialisasi juga kehidupan berkeluarganya dengan Edelweis dan anak mereka, Malika.


Kehidupan Edelweis berubah drastis semenjak kelahiran Malika. Dia tidak bisa lagi melayani suaminya. Tubuhnya selalu lelah dan kurang tidur.


Malika juga sangat menempel erat kepadanya.


Depresi menyerangnya tanpa ampun. Dia tidak bisa memiliki kehidupan yang normal. Seluruh kehidupannya untuk Malika.


Dirinya dan Rajasa sendiri terpisah di dalam kotak masing-masing. Mereka hidup di dalam dunia masing-masing.


Rajasa dengan pekerjaan dan juga kehidupannya di luar pekerjaan yang tidak melibatkannya dan Malika karena mereka berdua tidak nyaman berada dimana pun kecuali rumah.


Sikap Rajasa sendiri selalu manis, sayang, hangat dan baik kepadanya. Dia merasa sangat beruntung memiliki suami yang sangat sabar seperti Rajasa.


Tidak pernah menuntut untuk dilayani. Sepenuhnya mengerti bahwa hidupnya harus didedikasikan kepada putri mereka yang sangat membutuhkan perhatian dan kasih sayangnya.


Rajasa tidak pernah lupa membawakan makanan kesukaannya. Membelikan daster dan semua hal yang dia dan Malika butuhkan.


Dia bahkan tidak pernah mengeluh tidur sendirian. Semenjak Malika lahir. Edelweis tidur di kamar Malika berdua.


Kekhawatirannya, Rajasa akan kembali seperti dulu. Mengejar gadis-gadis juga tidak terbukti.


Rajasa sesekali meluangkan waktu dengan Malika dan atau Edelweis. Menemani keduanya keluar saat Edelweis dan atau Malika benar-benar merasa bosan di rumah. Tetapi tidak terlalu lama. Mereka sudah kembali lagi ke rumah. Hanya sekitar satu sampai dengan tiga jam.


Rajasa juga semakin royal kepada Edelweis. Penampilannya juga semakin rapi dan wangi. Sangat berbeda dengan keadaan dirinya. Tapi semua tidak masalah selama hubungannya dengan Rajasa berjalan dengan baik dan lancar.


Rajasa kerap membawakan hadiah-hadiah kecil dan bunga. Semua perlakuan manis Rajasa sangat menghibur dirinya.


Edelweis masuk ke dalam mobil setelah Rajasa memasukkan semua barang-barang yang diperlukan.


"Tidak usah membawa stoller. Malika tidak suka menggunakan stoller. Dia hanya mau digendong."


Rajasa menuruti perkataan isterinya. Menuruni stoller dari mobil.


"Kita juga gak butuh car seat. Karena Malika hanya mau dipangku. Tidak mau duduk sendiri. Rajasa kembali mengeluarkan car seat dari dalam mobil.


Malika menggelayut manja pada ibunya. Mobil dijalankan. Meluncur menuju mall langganan mereka berdua. 


Sesampai di mall. Mereka berjalan-jalan. Malika agak gelisah melihat keramaian yang ada. Dia membenamkan kepalanya ke dalam pelukan ibunya.


"Aku merasa lebih fresh jalan-jalan."


"Kau memang harus lebih sering refreshing."


"Lebih nyaman di rumah. Ini karena sudah sangat bosan saja. Kalau di rumah, aku dan Malika bisa lebih rileks. Kau tidak lihat bagaimana dia gelisah melihat keramaian?"


Rajasa mengelus rambut putrinya dengan lembut. Mengecup pipinya.


"Yeah! Dia tampak tidak begitu menikmati keramaian."


"Aku mau makan ice cream dan cake."


"Ok. Kita ke tempat ice cream dan cake."


Mereka berjalan menuju food corner khusus menjual cake dan ice cream.


Rajasa memilih tempat di pojok. Memilih kursi yang empuk dan memiliki sandaran. Mereka duduk dan memanggil pelayan.


Pelayan menyerahkan buku menu. Mereka berdua meneliti menu yang ada.


"Kau mau apa?" Tanya Rajasa menyodorkan buku menu pada Edelweis.


Segelas ice cream coklat chip campur vanila dengan taburan kacang dan lelehan fla coklat menggugah seleranya lengkap dengan astor yang menempel di atasnya.


"Aku ini saja." Edelweis menunjuk pilihannya. Kemudian meneliti deretan cake yang ditawarkan. Matanya tertuju pada lava cake dan tiramisu yang sangat menggoda selera.


"Cakenya lava coklat dan tiramisu."


"Baiklah." Rajasa sendiri memilih ice cream coklat campur matcha dengan potongan coklat dan kacang. African Gateuau.


"Bagaimana perasaanmu?"


"Lebih nyaman. Malika sudah bisa duduk dan merangkak."


"Benarkah?"


"Apakah dia sudah mulai mau makan?"


"Belum. Dia hanya ingin menyusu."


"Dua tahun bukan? Setelah itu harus disapih?"


"Yeah! Kurang setahun beberapa bulan lagi."


Pelayan menghidangkan lava cake coklat dengan ice cream coklat di atasnya.


"Kau mau gak?" Edelweis menawari Rajasa yang tengah menunggu pesanannya.


"Gak! Aku mau pesananku."


"Enak loh! Masih hangat cakenya."


"Lava cake memang enak dimakan hangat."


Edelweis menganggukkan kepalanya. Makanan memang merupakan obat stress dan pelampiasan emosi.


Pesanan berikutnya datang bersama pesanan Rajasa.


"Kayaknya enak African Gateaunya."


"Kau mau?" Rajasa menyuapi isterinya gateau yang ada di piring cakenya.


Edelweis memakan gateuau yang disuapkan suaminya padanya.


"Enak?" Tanya Rajasa.


"Enak banget."


"Mau lagi? Atau kupesankan untukmu?"


"Gak usah, nanti aku kenyang. Aku mau makan tiramisu dan ice creamku."


"Pesan aja buat di rumah ya? Dibawa pulang."


"Boleh. Sekalian ice creamnya ya? Enak banget."


"Boleh."


Malika sesekali menjilati ice cream milik ibunya.


"Sepertinya dia menyukainya." Sahut Rajasa.


"Yeah! Dia suka ice cream coklatnya. Tapi gak bisa makan kacang dan coklatnya. Kusingkirkan takut keselek. Kalau tersedak dan menutup jalan nafasnya bisa bahaya."


"Yeah! Malika mau tidak kupangku?"


"Coba saja."


"Kalau dia mau, kau bisa menikmati makananmu dengan lebih santai."


"Apa kau mau bersama papa?" Edelweis menyerahkan Malika pada ayahnya. Ice cream Rajasa yang berwarna coklat dan hijau menarik perhatiannya.


Malika tidak menolak digendong ayahnya. Tangannya meraih ice cream Rajasa.


"Sepertinya dia tertarik dengan ice creammu."


"Yeah! Kau suka sayang?" Sahut Rajasa lembut.


Malika meraup ice cream Rajasa menggunakan tangannya.


"Kita makan berdua ya?" Sahut Rajasa menyendok ice creamnya. Menyingkirkan coklat dan kacangnya. Khawatir membuat Malika tersedak jika memakannya.


Malika bermain dengan sisa ice cream Rajasa sementara Rajasa menyuap African Gateaunya.


"Boleh kah dia makan cake?"


"Dia sudah lebih dari enam bulan. Kupikir tidak apa-apa kalau tidak banyak."


Rajasa menyuapkan cakenya ke mulut Malika.


"Dia sepertinya menyukainya."


"Jangan terlalu banyak. Bagaimanapun dia masih bayi. Apalagi dia hanya mau ASI. Tidak biasa dengan makanan padat."


Rajasa mencium pucuk kepala putrinya, "Jangan terlalu banyak ya?" 


Malika memainkan kue yang dipegangnya. Sebagian dimasukkan ke mulut dan sebagian hanya dimain-mainkan.


"Wajahmu belepotan!" Rajasa tertawa melihat wajah putrinya yang belepotan coklat dan matcha. Pipinya dipenuhi warna coklat, hijau dan putih dari heavy cream.


"Aku merasa sangat nyaman dan segar."


"Benar kah?"


Edelweis menganggukkan kepalanya.


"Apa kau mau ke salon?"


"Bagaimana Malaika?"


"Dia merasa nyaman kupegang?"


"Bagaimana kalau dia mencariku?"


"Memang lama?"


"Lama lah kalau luluran dan segala rupa."


"Aku pasti bingung kalau tiba-tiba mencarimu."


"Tidak usah sajalah. Aku juga nanti gak bisa enjoy kalau tiba-tiba Malika mencariku."


"Kita akan berkeliling naik mobil sebelum pulang ke rumah. Bagaimana?"


Edelweis menganggukkan kepalanya tanda setuju.


Malika tampak menikmati waktunya bersama ayah dan ibunya.