Rajasa

Rajasa
Bestie



Sepeninggal Rajasa, Edelweis menitipkan Malika pada Ryan. Sementara dia membuat pisang goreng dan kopi.


Malika sangat menyukai Ryan. Gelak tawanya dan celotehannya memenuhi ruangan.


Edelweis meletakkan pisang goreng dan kopi di meja. Mengembang tangannya pada Malika.


"Makan dan minumlah dulu. Biar kupegang Malika. Dia sepertinya sangat menyukaimu." Ujar Edelweis.


"Mungkin karena kami bestie." Sahut Ryan tertawa sambil menyerahkan Malika pada Edelweis.


Ryan menghirup kopinya dan menyesapnya, "Harum sekali kopinya."


"Kopi gayo kesukaanmu."


"Pantas. Mengingatkanku ketika di hutan Aceh."


"Rajasa sangat sibuk."


"Kau hanya berdua dengan Malika. Bersama asistent rumah tanggamu?"


Edelweis menganggukkan kepalanya.


"Dia bekerja keras untukmu dan Malika."


"Ya, aku tahu. Tapi aku juga ingin dia bisa sepertimu."


"Jangan suka membanding-bandingkan orang."


"Aku tidak bermaksud membandingkan. Memang salah aku berkeinginan seperti itu?"


"Tidak. Tapi kau tidak bisa membandingkan seperti itu. Aku akan mencarikan orang yang bisa membantumu bergantian menjaga Malika. Mungkin kau juga menjaga anakmu   sambil bekerja."


"Aku tidak mungkin bekerja seperti dulu. Walaupun ada yang membantuku menjaga Malika. Pekerjaanku sangat menyita waktu dan perhatian."


"Aku akan bekerja sebagai editor. Kau kan ingin menjadi jurnalis. Bagaimana kalau kau membuat tulisan sambil menjaga Malika?"


Edelweis memandang Ryan dengan takjub, "Kau sangat brilian dan baik hati."


Ryan tergelak mendengar perkataan Edelweis.


"Tidak usah berlebihan."


"Aku tidak berlebihan tetapi kau bisa mengatasi permasalahanku begitu saja. Aku memang ingin menjadi jurnalis. Bukan sekretaris. Kuliahku  di jurnalistik bukan sekretaris."


"Freelancer saja. Tidak usah memegang kolom. Akan sangat menyita waktumu. Kau pasti kerepotan dan tidak bisa menikmati rutinitasmu. Dikejar deadline.  Jadi kau bisa mengerjakannya sambil menjaga Malika. Kerjakan di sela waktu luangmu. Bagaimana?"


"Yeah, Ryan! Aku merasa idemu sangat bagus."


"Aku tidak bisa banyak membantumu."


"Kau menjaga Malika. Mencari orang yang bisa membantuku menjaga Malika. Memberikan pekerjaan yang bisa kukerjakan di waktu luangku. Nikmat mana yang kau dustakan?"


Ryan tergelak,"It's my pleasure…."


"Aku kadang berpikir apa yang membuatmu sangat pengertian?"


"Aku hanya ingin melihatmu bahagia. Itu saja."


"Mengapa kau baik sekali? Sangat peduli padaku?"


"Karena kau sahabatku. Aku sudah menganggapmu seperti adikku sendiri."


"Mengapa Rajasa tidak bisa sepertimu?"


"Semenjak kelahiran Malika. Hubungan kami berubah. Dia semakin sibuk. Aku terasing bersama Malika."


"Rajasa juga menginginkan yang terbaik bagimu. Apalagi dia suamimu. Pasti perhatian melebihi siapa pun. Dia bekerja lebih keras untukmu dan Malika. Tidak semua orang bisa dekat dengan anak kecil terutama jika mereka terlalu sibuk bekerja. Lebih bisa menghadapi pekerjaannya. Biasanya mereka memang tidak bisa mengurus anak. Semua ada kurang lebihnya. Tidak bisa dibandingkan. Kau bisa meminta bantuan pada orang yang bisa membantumu mengurus anak. Cari jalan keluar yang lebih sesuai dengan kondisimu. Dibandingkan memaksakan keadaan. Terpenting masalahmu bisa teratasi dengan baik."


"Aku merasa Rajasa semakin jauh." Mata Edelweis mengaca.


"Hormonmu sedang tidak stabil. Jangan berpikir berlebihan. Kau hanya membebani pikiranmu sendiri. Menyakiti dirimu. Suamimu hanya sibuk bekerja untuk kalian berdua. Bukan sengaja meninggalkan kalian berdua. Atau tidak ingin bersama kalian berdua."


"Hiburannya pekerjaan? Bukan aku dan Malika?"


"Bekerja adalah kewajiban dan tanggung jawabnya. Tidak ada suami yang mau sengaja menenggelamkan diri ke dalam pekerjaan kecuali karena beban tanggung jawab dan kewajiban yang harus ditunaikan."


"Apakah kalau kau nanti menikah. Kau juga akan seperti Rajasa? Bekerja lebih keras untuk anak dan istrimu sampai kau merasa asing dengan mereka?"


"Apa maksudmu? Aku belum menikah. Kalau memang aku harus bekerja lebih keras. Mungkin aku sama dengan Rajasa atau mungkin lebih keras lagi. Atau mungkin aku bekerja di luar kota. Keluar negeri kalau memang aku membutuhkan uang  yang lebih banyak . Mungkin aku mencari pekerjaan yang jauh dari rumah dengan hasil yang lebih besar?" Ujar Ryan.


"Aku hanya merasa pernikahan juga membutuhkan kebersamaan dan komunikasi yang lebih terkoneksi." Sahut Edelweis.


"Jika suamimu kurang bisa memahamimu bukan berarti dia tidak mencintaimu. Love language setiap orang tidak sama. Ada yang dengan perhatian dan pengertian. Komunikasi yang nyaman. Melindungi. Uang dan materi."


"Maksudmu love language Rajasa, uang dan materi?"


"Melindungi, uang dan materi." Ujar Ryan.


"Mungkin itu yang paling mudah terlihat tetapi bagaimana dengan kebersamaan, pengertian dan perhatian? Komunikasi yang nyaman?" Tanya Edelweis.


"Setiap manusia menginginkan kesempurnaan dan itu jamak. Tapi masalahnya seringkali kita harus menerima sesuatu dengan segala kurang lebihnya. Kau sudah menikah dengannya. Maka tentu kau harus menerima suamimu apa adanya. Dan begitu juga sebaliknya." Sahut Ryan.


"Mengapa kau belum menikah?" Tanya Edelweis.


"Pertanyaan macam apa itu?" Sahut Ryan tertawa. 


"Mengapa aku tidak boleh tahu alasannya?"


"Apa gunanya aku jawab? Aku belum menemukan jodohku. As simple as that. Kalau aku sudah menemukan jodohku. Aku pasti menikah." 


"Bukan karena kau takut terjebak di dalam pernikahan? Kehilangan kebebasanmu?"


"Astaga! Kau menganggap suamimu terjebak di dalam pernikahan kalian?"


"Aku tidak tahu. Bisa saja kan? Apalagi Rajasa sangat suka mengejar wanita cantik. Kehidupan pernikahan monoton dan membosankan. Hanya ada tanggung jawab dan kewajiban di dalamnya."


"Kupikir Rajasa sudah berubah sebelum menikah denganmu. Atau mungkin sejak bertemu denganmu. Aku tidak tahu tetapi dia tidak seperti yang kau katakan. Jangan terlalu mencemburuinya. Apalagi cemburu buta. Sangat tidak baik dan tanpa bukti sama sekali. Aku tahu, tidak semua pernikahan berjalan sesuai dengan harapan. Mungkin ada perubahan yang mungkin ditakuti sebagian orang. Seperti yang kau katakan. Merasa terjebak. Takut kehilangan kebebasannya. Tapi kupikir, menikah adalah fitrah. Setiap orang yang sudah menemukan jodohnya pasti menikah. Kalau mereka ditakdirkan bersama selamanya. Mereka tidak akan berpisah kecuali kematian memisahkan mereka. Tetapi kalau mereka tidak ditakdirkan selamanya bersama. Mungkin mereka bercerai. Mendua atau berpoligami atau menikah lagi setelah bercerai. Atau tidak menikah lagi setelah bercerai."


"Apa yang ingin kau katakan?"


"Tidak ada yang bisa tahu panjang pendeknya jodoh seseorang. Tidak menikah, single. Menikah, bercerai, poligami atau janda/duda. Itu kan pilihan sesuai dengan pertimbangan situasi kondisi. Jalani saja sesuatu sebaik yang kita bisa."


"Apakah kau merasa kehilangan pekerjaan lamamu?"


"Tentu! Aku sangat menyukai hutan dan bekerja di sana. Tetapi aku juga sudah merasa bosan dengan tekanan kerjanya. Atau bisa juga aku bosan dengan pekerjaannya. Aku tidak tahu."


"Tidak mungkin kau bosan dengan pekerjaannya tapi mungkin ada sesuatu yang membuatmu bingung dan tidak nyaman."


"Seperti yang kukatakan. Intervensi pekerjaanku. Membuatku merasa tidak bebas dan terganggu."


"Seringkali bukan pekerjaannya tetapi lingkungan atau ketidaknyamanan di luar pekerjaan itu sendiri."


"Yeah!"