
Rajasa memanfaatkan kedatangan Ryan untuk kepentingan dirinya. Sekaligus memberikan ruang bagi Edelweis untuk beristirahat mengurus anak mereka. Ryan bisa membantunya.
Apakah dia cemburu melihat Ryan seperti bisa menyatu dengan sempurna. Pada Edelweis dan Malika. Dua perempuan yang paling dia cintai di muka bumi ini. Tentu saja cemburu tapi dia bisa apa. Sama saja dengan affairnya dengan Nurmala. Sebagai pria bisa apa dia? Istrinya tidak bisa memenuhi dan memuaskan kebutuhan biologisnya. Mereka juga kerap seperti sandal jepit yang beda ukuran dan warna. Bukan kanan kiri melainkan kanan dengan kanan atau kiri dengan kiri. Benar-benar tidak serasi sama sekali.
Nurmala sendiri yang tengah bermain dengan putrinya di kamar terkaget menerima telpon dari Rajasa.
"Ada apa pak?"
"Aku berubah pikiran. Kita bertemu di apartementmu sekarang."
"Tapi kenapa pak? Bagaimana kalau ibu nanti curiga?"
"Ada sahabat lama kami datang. Dia tidak akan mencurigai. Bahkan mungkin ingat padaku lagi. Selama rentang waktu tersebut. Kutunggu kau di apartement."
"Baik pak!" Nurmala segera menitipkan Amalia pada Ara yang sedang menonton televisi di depan ruang tamu. Di sofa bed yang merangkap sebagai tempat tidur buat Ara. Karena kamar di kontrakannya cuma ada satu.
Nurmala bergegas menuju apartementnya. Berpakaian seadanya karena terkejut menerima telpon Rajasa.
Sesampainya di apartement. Langsung membersihkan diri. Mengenakan pakaian yang sangat disukai Rajasa. Seksi dan terbuka. Lingerie yang dibeli Rajasa khusus untuknya.
Warna lingerienya merah marun dengan pinggiran tali dan renda berwarna hitam. Bahannya campuran satin dan sutra. Sepertinya harganya sangat mahal. Lengkap dengan kamar jas pendek sebagai pakaian luarnya menutupi bahunya.
Rajasa sangat terbuka mengenai apa yang dia suka dan tidak suka. Memudahkan Nurmala untuk melayaninya dengan lebih baik.
"Ini untukmu." Sahut Rajasa mengangsurkan sebuah kotak yang sangat indah.
"Apa ini?"
"Coba saja kau buka."
Nurmala sangat takjub melihat keindahan pakaian tidur yang ada di dalam kotak tersebut.
"Aku ingin kau mengenakannya saat kau melayaniku. Aku akan membelikanmu yang lainnya. Semua yang kuberikan padamu adalah yang aku inginkan agar kau memakainya."
"Baiklah!"
"Aku tidak suka semua pakaian tidurmu. Jangan kau pakai lagi saat bersamaku. Gunakan apa yang kupilihkan untukmu."
"Baiklah."
Nurmala mempersiapkan dirinya menyambut kedatangan Rajasa.
Dia sedang menyemprotkan parfum ketika Rajasa memasuki apartementnya. Wajah Rajasa tampak kusut.
"Kau kenapa?" Nurmala tidak ingin tahu masalah Rajasa tetapi melihat wajah bosnya tampak kacau. Hatinya menjadi tidak tega untuk mencari tahu.
"Sepertinya aku melakukan kesalahan."
"Kesalahan apa?"
"Tidak seharusnya aku terobsesi pada istriku dan bersaing dengan sahabatku. Memperebutkannya. Mereka tampak serasi dan bisa saling mengisi satu sama lain."
"Kau jangan cemburu seperti itu."
"Bisakah kau membuatkanku roti bakar dan kopi?"
"Baiklah. Apakah dengan heavy cream seperti biasanya?"
"Yeah."
Sebagai sekretaris, Nurmala kerap membuatkan kopi untuk kedua bosnya di kantor sehingga mengetahui kesukaan mereka berdua selaku atasannya.
Tidak seperti biasanya mereka langsung bercinta. Kemudian setelahnya selesai kembali pada kehidupan masing-masing. Kali ini mereka mengobrol lama.
Nurmala menarik kamar jas pendeknya lebih erat untuk menutupi kedua *********** yang tersembul keluar.
Rajasa menyesap kopinya dan menikmati roti bakarnya dengan perlahan. Pikirannya melayang pada Ryan, Edelweis juga Malika.
"Mengapa suamimu menceraikanmu?"
"Suamiku tidak menceraikanku."
"Mengapa kau bercerai?"
"Aku mengajukan gugatan cerai karena suamiku tidak setia dan bertanggung jawab. Dia memintaku berhenti bekerja tetapi juga tidak memenuhi nafkah bagiku dan anakku. Terutama perselingkuhannya. Aku tidak bisa menerima dan memaafkannya. Aku masih bisa bekerja selama dia juga mengijinkan serta mendukung. Tetapi perselingkuhan? Semua wanita hampir tidak bisa mengerti dan menerima hal ini."
"Kupikir suamimu menceraikanmu."
"Tidak. Aku yang minta cerai. Dia tidak ingin menceraikanku tetapi aku memaksanya. Aku sudah tidak tahan."
"Tentu. Untuk apa kami menikah jika tidak saling cinta."
"Kupikir akan ada penyesuaian dalam hubungan kita. Aku tidak mau istriku tahu. Akan sangat melukai dan menyakitinya."
"Penyesuaian seperti apa?"
"Aku belum tahu. Mungkin seperti saat ini."
"Baiklah, terserah padamu."
"Ada yang ingin kutanyakan padamu." Sahut Nurmala memberanikan diri.
"Apa?"
"Apakah kau mencintai istrimu?"
"Tentu, sangat! Aku mencintainya sejak pertama kali melihatnya."
"Tapi mengapa kau mengkhianati istrimu?"
"Kebutuhanku yang tidak bisa ditunda."
"Alasannya seperti sangat egois."
"Memang. Tapi itu kenyataannya. Aku bisa berpikir lebih baik kalau kebutuhanku bisa terpenuhi dengan baik. Kau sendiri, mengapa mau menerima tawaranku?"
"Nafkah batin dan materi." Sahut Nurmala berterus terang.
Rajasa tertawa.
"Mengapa kau tertawa?"
"Argumen kita berdua menyerupai basic insting."
Nurmala tertawa,"Yeah!"
"Aku senang kau jujur dan mau berterus terang. Tidak berpura-pura jatuh cinta padaku. Hanya karena kau menginginkan materi dan ***."
"Aku tidak bermaksud menginginkan kedua hal tersebut sejak awal. Aku tidak pernah merencanakan atau sengaja mengincarmu."
"Ya, aku tahu. Semua kebetulan tapi justru yang kebetulan itu yang seringkali menjadi kehendak Tuhan."
"Tetapi tetap tidak bisa dibenarkan. Perselingkuhan adalah perbuatan yang tidak terpuji."
"Yeah. Pengecut dan tidak sabar."
"Yeah. Semoga bisa berproses ke arah yang lebih baik."
"Manusia memang seringkali tidak bisa menghindari proses. Tapi mungkin aku memiliki alasan lain yang lebih menyerupai pembenaran daripada kebenaran atau pembenaran yang mengandung kebenaran."
"Apa itu?"
"Wanita tidak akan bisa melupakan pria yang mengkhianatinya. Kupikir, aku tidak ingin istriku melupakanku selamanya.Sedangkan pria tidak bisa melupakan cinta pertamanya. Kupikir aku dan istri akan saling mengingat satu sama lain. Selamanya."
"Aku tidak bermaksud menyakiti sesama wanita." Ujar Nurmala berterus terang.
"Aku juga tidak bermaksud mengkhianati istriku. Kupikir tidak ada orang yang sengaja memilih melakukan hal yang buruk. Walaupun akhirnya mereka memilih sesuatu yang buruk tersebut sebagai jalan keluar dalam mengatasi masalah mereka."
"Mungkinkah growing pains?"
"Pembenaran yang mengandung kebenaran. Bad lier or beautiful lier?"
"Hidup seringkali tidak sempurna. Setiap orang berproses menjadi ke arah yang lebih baik. Anything happens for the reason."
Kehidupan Rajasa terlihat sangat sempurna. Karir yang cemerlang. Istri dan anak. Kekayaan yang lebih dari cukup. Semua sangat sempurna tapi mengapa masih merasakan ketidakpuasan?
Nurmala tersentak. Lamunannya buyar melihat Rajasa mendekati dirinya. Matanya berkabut. Dirinya terlihat sangat bergairah. Membuat Nurmala sedikit gugup dan tanpa sadar merapatkan kamar jasnya.
"Yeah." Rajasa merangsek maju dan membuka kamar jas yang dikenakan Nurmala.
Tangannya mulai memainkan bukit kembar Nurmala.
"Aaahhh…" Nurmala meloloskan *******.
Rajasa semakin bersemangat. Nafsunya semakin memuncak.
Nurmala tahu bagaimana memuaskan Rajasa di atas ranjang. Pergulatan panas mereka yang membuat mereka menjadi saling terikat satu sama lain. It's love or lust? Benefit or belonging?