
Kening Rajasa berdenyut. Hubungannya dengan Edelweis yang kerap didera badai. Membuatnya termangu.
Mengapa hubunganku dengan Edelweis melalui banyak fase penuh onak duri juga badai?
Mengapa aku begitu bodoh? Berlari ke wanita lain setiap hubunganku dengan Edelweis berada di dalam keadaan yang sulit?
Rajasa menyesali setiap kebodohannya tetapi nasi sudah menjadi bubur.
Rajasa bersiap menuju Australia. Bermaksud membereskan urusannya dengan Kinanti.
Dia sudah pernah melalui hal ini sebelumnya dengan Nurmala. Rencana sudah tersusun rapi di kepalanya.
Sesampainya di Australia. Rajasa tidak langsung menghubungi Kinanti. Meluangkan waktu sendiri untuk berpikir serta menenangkan diri.
Semua yang terjadi antara dirinya dengan Kinanti. Tidak ada bedanya dengan Nurmala. Dia tidak pernah bermaksud menggantikan Edelweis dengan siapa pun. Hubungan mereka sedang dalam keadaan sulit.
Aku pasti bisa menyelesaikan semua ini. Harus bisa!
Rajasa menselonjorkan kakinya di atas tempat tidur. Pikirannya melayang pada Edelweis dan Malika.
Meninggalkan Edelweis dalam keadaan hamil tua Dan sebuah masalah sedang mengintai rumah tangga mereka. Seperti telur di ujung tanduk.
Aku berharap kau mau mempercayaimu sekali lagi. Aku tahu, aku selalu berlaku bodoh tapi bukan berarti aku ingin kehilanganmu, Malika serta jagoan kecilku.
Edelweis nyaris meninggalkannya dan menikah dengan Ryan saat mengetahui hubungannya dengan Nurmala. Walaupun sudah berakhir saat Edelweis mengetahuinya.
Apa yang akan terjadi seandainya Edelweis mengetahuinya? Hubungannya dengan Kinanti saat dia putus asa akan pernikahannya dengan Edelweis.
Mereka akan bercerai dan Edelweis akan menikahi Ryan. Dia bermaksud menyerah dengan pernikahannya. Menjalani kehidupan barunya.
Oh Tuhan! Apakah dia akan mampu mengerti berapa rumitnya aku? Maukah dia mengerti kerumitanku serta menyederhanakannya sehingga pernikahan kami tidak selalu berada di ujung tanduk.
Apakah dia percaya bahwa dia satu-satunya wanita yang kucintai? Satu-satunya wanita yang kupilih untuk menghabiskan hidupku bersama?
Aku tahu cinta yang kutawar seperti beracun serta penuh onak duri. Tapi keindahan mawar justru di tengah duri yang mengelilinginya.
Edelweis seindah mawar walaupun beragam peristiwa pahit membalut pernikahan kami berdua.
Pikirannya melayang pada Kinanti. Gadis itu memang menarik sebagai seorang wanita. Cerdas, seksi dan cantik. Tetapi persona serta daya tariknya sangat berbeda dengan Edelweis.
Ketertarikannya pada Kinanti dan Edelweis jika dibandingkan bunga mungkin seperti mawar dan edelweis.
Sesuai namanya, ketertarikannya pada Kinanti mungkin menggebu karena diliputi nafsu. Dan hanya nafsu. Semua usai setelah terpuaskan.
Sedangkan Edelweis? Seperti hal bunga edelweis yang berada di tepi jurang. Sangat curam. Tetapi tidak membuatnya surut apalagi gentar.
Keindahannya yang sederhana. Membuatnya terpana. Bunganya abadi. Tidak layu. Bersemi Dan tidak pernah mati. Demikian perumpamaan perasaannya pada Kinanti dengan Edelweis.
Kesetiaan, kesederhanaan serta keindahan yang meliputi Edelweis membuatnya tetep memilihnya sebagai satu-satunya dalam hidupnya.
Aku mendapatkanmu dengan susah payah. Mempertahankanmu tanpa kata menyerah. Tekad Rajasa di dalam hati.
Ini bukan gengsi apalagi arogansi. Tapi esensi dari cinta sejati seperti bunga edelweis. Kadang berada di tempat yang sulit serta tidak mudah. Membutuhkan perjuangan, harapan juga kegigihan serta keyakinan.
Keesokan harinya, Rajasa bertemu dengan Kinanti di tempat yang sudah mereka sepakati.
Rajasa menolak bertemu di apartement Kinanti atau di hotelnya.
“Aku tidak ingin mengkhianati kepercayaan istriku. Dia sudah memberikanku kesempatan. Aku tidak akan menyia-nyiakan kepercayaannya padaku. Jika kau ingin bertemu aku. Kita sepakati tempatnya.”
“Baiklah. Aku hanya ingin kau bertanggung jawab atas perbuatanmu.”
Kinanti tampak sudah menunggu kedatangan Rajasa. Tubuhnya semakin berisi.
“Sudah lama?”
“Setengah jam.”
“Aku on time.”
“Aku yang datang lebih awal.”
“Kau mau pesan apa?”
“Apa saja.”
Rajasa memesankan makanan dan minuman untuk mereka berdua. Roti barquette, cream soup aspagarus, steak salmon dengan cheese potato balls. Salad buah. Jus apel. Carrot cake.
“Apa yang kau inginkan?”
“Pernikahan.”
“Mengapa kau berbalik seratus delapan puluh derajat? Kau sendiri yang tidak mau menikah.”
“Karena aku tidak hamil.”
“Karena kau hamil semua jadi berubah?”
“Aku tidak ingin anakku tidak memiliki ayah.”
“Aku tidak bisa menikahimu.”
“Kau benar-benar brengsek!”
“Ada banyak alasan mengapa aku tidak bisa menikahimu.”
“Kau hanya mencari alasan.”
“Whatever!”
“Kau mengancamku?”
“Aku tidak memiliki cara lain.”
“Kata siapa?”
“Apa yang kau tawarkan?”
“Sejumlah uang.”
“Aku bisa mencukupi anakku dari penghasilanku. Aku ingin status buat bayiku.”
“Bayimu anak zina. Selamanya tidak akan memiliki status. Menikah tidak merubah statusnya.”
“Kau sangat tidak masuk akal. Ini darah dagingmu!”
“Aku tidak mengakui keturunan selain yang dilahirkan oleh istri yang kunikahi secara sah. Dan itu hanya istriku. Tidak ada yang lain.”
“Kau benar-benar keterlaluan.”
“Mengapa kau tidak menikah dengan mantan kekasihmu? Atau orang lain yang ingin membangun rumah tangga bersamamu. Menghabiskan hidupnya hanya bersamamu.”
“Kau benar-benar brengsek!”
“Aku tidak ingin kau mengancamku! Jika istriku sampai tahu. Kau akan menerima akibatnya!”
“Apa yang akan kau lakukan?”
“Jangan paksa aku memperlihatkan sisi gelapku padamu. Kau tidak akan suka itu. Percayalah padaku!”
Tubuh Kinanti merinding. Nada Rajasa sangat serius dan tidak main-main.
“Apa yang akan kau lakukan padamu?”
“Aku belum tahu. Tapi jika kau ingin masuk ke dalam daftar orang hilang kau bisa mencobanya.”
“Kau akan membunuhku?”
“Aku tidak sebodoh itu.”
Kinanti bernafas lega, “apa yang akan kau lakukan?”
“Menyewa pembunuh bayaran untuk menikmati tubuhmu sebelum menghabisimu.”
Wajah Kinanti pucat pias. Tubuhnya mengigil.
“Kau tidak akan berani!”
“Coba saja! Kau tidak akan pernah tahu.”
Selera makannya menguap.
“Makanlah. Salmon baik untuk wanita hamil. Begitu juga dengan salad dan jus buah segar.”
“Aku tidak membutuhkan perhatian palsumu. Tanggung jawabmu.”
“Kau sendiri yang tidak mau menikah. Sekarang mengatakan bahwa dirimu hamil. Meminta aku menikahimu.” Rajasa menatap mata Kinanti dengan tajam seperti ingin menelannya hidup-hidup.
“Apa sebenarnya maumu? Sejak awal hubungan kita tanpa ikatan. Sebatas pelampiasan nafsu. Kau bahkan tidak hanya berhubungan denganku tapi juga mantanmu. Kau boleh mengacaukan hidupmu sendiri tapi jangan rumah tangga dan keluarga orang lain. Aku tidak tahu apa maksudmu dibalik semua ini!”
“Aku hanya ingin kau bertanggung jawab.”
“Kau menolak sejumlah uang dariku. Aku bisa memberikan apa pun kecuali pernikahan. Kau sendiri yang menolak menikah dan ingin berhubungan bebas dengan siapa pun yang suka dan mau. Sekarang kau bebankan semuanya padaku. Apa maksudmu sebenarnya?”
“Jika kau menolak menikahiku. Maka tunggu saja pembalasanku!” Ujar Kinanti yang bangkit dari kursinya.
Rajasa menatap kepergian Kinanti dengan wajah gusar. Wanita itu ingin mengacaukan rumah tangga dan pernikahannya. Apa yang harus dia lakukan?
Rajasa menelpon istrinya.
“Halo, ini siapa?”
“Aku.”
“Rajasa, ada apa?”
“Apakah kau akan memaafkanku jika aku mengulangi kesalahanku?”
“Perlukah kita membahas hal ini?”
“Aku hanya ingin bertanya. Apakah kau akan mempertahankan pernikahan kita atau kau menuntut kesempurnaan?”
“Ini bukan masalah kesempurnaan. Ini masalah perasaan.”
“Apakah kau akan mendengarkan penjelasanku atau kau akan pergi begitu saja?”
“Kau bicara apa sih?”
“Aku ingin lebih percaya kepadaku.”