Rajasa

Rajasa
Chit Chat



Rajasa meminta tolong pada Nurmala untuk mendapatkan nomor pribadi Black Rose.


“Black Rose?” Tanya Nurmala.


“Penulis kolom dan artikel yang sedang dibicarakan orang.”


Nurmala mengerutkan keningnya.


“Tapi untuk apa?”


“Aku sangat penasaran. Tulisannya sangat menyihirku.”


“Darimana aku bisa mendapatkan informasinya?”


“Suamimu. Dia editor.”


“Mengapa tidak kau tanyakan sendiri?”


“Dia menolak membocorkannya.”


“Mengapa aku harus membantumu?”


“Aku sudah kehilangan istriku. Aku merasa menemukan wanita yang bisa menggantikannya.”


“Black Rose?”


“Yeah.”


“Aku tidak yakin suamiku mau membocorkannya padaku.”


“Gunakan segala cara. Aku tidak peduli.”


“Aku akan berbicara padanya.”


“Apa pun. Terpenting aku bisa terhubung dengannya.”


“Mengapa kau setertarik itu padanya?”


“Mana aku tahu? Aku hanya merasa ketertarikan yang sangat kuat. Mungkin sama seperti saat aku bertemu dengan Edelweis.”


Nurmala berusaha mengorek informasi tentang Black Rose melalui Ryan.


“Untuk apa sih kau menanyakan tentang Black Rose?” Sahut Ryan memisahkan tubuhnya dengan Nurmala serta membalikkan tubuhnya setelah mereka selesai bercinta.


Nurmala sengaja mengorek informasi setelah melayani suaminya. Dengan harapan Ryan akan lebih terbuka mengenai hal tersebut.


“Pengen tahu aja. Masak gak boleh? Apalagi viral. Kan bangga kalau bisa tahu identitasnya.”


“Jangan usil bisa gak?” Ujar Ryan menarik selimutnya bermaksud untuk tidur.


Nurmala menarik selimut suaminya.


“Dingin!” Teriak Ryan. Air conditioner terpasang 16 derajat Celcius.


“Kenapa sih aku gak boleh tahu informasi tentang Black Rose?”


“Dia ingin identitasnya dirahasiakan. Aku harus menghormati keinginannya. Berikan selimutnya padaku?”


“Aku berjanji tidak akan membocorkannya. Hanya untukku pribadi saja.”


“Berikan selimutnya. Tubuhku sangat lelah. Besok saja kita bicara. Aku tidak bisa berpikir.”


Nurmala memberikan selimutnya pada suaminya. Dirinya tidak tega melihat Ryan yang tampak lelah serta mengantuk.


“Janji ya besok kita bicarakan lagi.”


“Iya.” Ryan menarik selimut menutupi tubuhnya dan tertidur pulas.


Keesokan paginya, Nurmala meneruskan rencananya mengorek informasi tentang Black Rose dari suaminya.


Ryan tampak segar. Setelah mandi, menunaikan sholat subuhnya. Bersiap untuk sarapan.


Nurmala sendiri tengah memanggang roti di toaster. Membuat scrambled eggs. Menggoreng sosis dengan menggunakan margarine.


Ryan berjalan menuju kamar bayinya. Bermain bersama Rayyan sambil menunggu Nurmala menyiapkan sarapan pagi.


Selesai bermain dengan Rayyan menuju kamar Amanda dan Amalia. Mencium serta memeluk mereka.


“Kau tidak mau bangun, bersiap untuk pergi ke sekolah?” Tanya Ryan sambil memeluk Amalia.


“Masih terlalu pagi.” Ujar Amalia.


“Kau bisa menemaniku sarapan. Kita sarapan bersama. Apakah kau ingin ikut sarapan pagi?” Tanya Ryan pada Amanda. Mencium pipinya yang gembil.


Amanda memeluk leher Ryan. Dengan mata masih terpejam.


“Aku menunggu kalian di meja makan jika ingin bergabung bersamaku. Sarapan pagi.” Ujar Ryan bersiap keluar kamar. Menuju meja makan.


Nurmala menuangkan scrambled eggs dan sosis ke piring Ryan. Meletakkan sepasang roti bakar di piring yang sama.


Ryan menikmati sarapan paginya. Meminum susu coklatnya.


“Kau berjanji akan membocorkan identitas Black Rose untukku?” Rayu Nurmala.


“Untuk apa sih kau ingin tahu tentang dia?”


“Mengapa aku tidak boleh tahu tentang dia? Dia bukan kekasih gelapmu kan?”


“Astaga! Aku paling malas kalau kau sudah mulai cemburu tidak jelas!”


“Kau sudah berjanji akan memberitahukan padaku.”


“Kita akan membicarakannya lagi bukan memberitahukan identitasnya.”


“Tidak usah berkelit!”


“Baiklah, akan kutanyakan padanya.”


“Terima kasih!” Nurmala mengalungkan tangannya di leher Ryan. Menghadiahkan ciuman di kedua pipi suaminya.


Mereka bersiap berangkat bekerja. Sebelum berangkat Ryan kembali menciumi putranya dan kedua putrinya yang masih tertidur.


Udara pagi memang sangat segar juga dingin. Membuat siapa pun yang sedang terlelap malas terbangun.


Sesampainya di ruangannya. Ryan menelpon Edelweis.


“Nurmala dan Rajasa ingin mengetahui identitas mu.”


“Kau tidak membocorkan pada mereka kan?”


“Aku sudah merasa nyaman dengan kehidupanku yang sekarang. Tidak ingin menoleh pada masa lalu sama sekali.”


Edelweis tidak terlalu menanggapi pesan yang berasal dari Nurmala dan Rajasa.


Mereka hanya membahas seputar tulisan. Tidak membahas hal yang sifatnya pribadi.


Rajasa berinisiatif untuk berpura-pura menawarkan Edelweis pekerjaan. Menyamar sebagai editor.


[Bagaimana jika kau menulis di majalah kami?]


[Maaf, belum bisa. Terima kasih atas penawarannya.]


[Baiklah, apakah kau keberatan menjadi nara sumber tulisanku?]


[Baiklah.]


Rajasa menyamar menjadi penulis bernama Arka. Obrolan mereka lebih mengalir. Tetapi tetap saja tidak bisa mengetahu nama asli Black Rose.


[Mengapa kau menyembunyikan nama aslimu]


[Aku sedang dalam program perlindungan saksi] Edelweis berbohong.


[Apa yang terjadi]


[Long story...]


Jawaban tersebut efektif membuat Rajasa berhenti menanyakan informasi yang bersifat pribadi.


[Kita memiliki kesamaan nasib.] Rajasa menuliskan text dengan menggunakan profil bernama Arka. Teori persamaan nasib kadang bisa berlaku efektif. Dan bingo!


[Kesamaan nasib?]


[Sama-sama single parent.]


[Kau juga single parent?]


[Sama-sama bercerai karena masalah perselingkuhan.]


[Perselingkuhan adalah salah satu sebab terbesar perceraian.]


Persahabatannya dengan Black Rose membuat Rajasa memiliki hiburan selain pekerjaannya.


Pembicaraan mereka kebanyakan mengenai keseharian masing-masing. Tidak membicarakan masalah pribadi terutama perpisahan mereka dengan pasangan masing-masing.


[Seringkali aku merasa menyesal karena sudah mengkhianati istriku. Tetapi nasi sudah menjadi bubur.] Tulis Rajasa


[Istrimu terlalu emosional. Aku akan memaafkan suamiku seandainya dia berubah tetapi kenyataannya kan tidak seperti itu.]


[Kalau tidak berubah berarti dia tidak menghormati apalagi mencintaimu. Aku setuju bahwa memaafkan itu dalam konteks memang sudah tidak melakukan lagi. Sudah berubah sehingga semua sudah berlalu.]


[Yeah.]


[Seandainya istriku sepertimu. Mungkin kami tidak akan berpisah.]


Mereka saling bertukar kabar dan cerita. Di tengah aktifitas , keseharian juga pekerjaan mereka.


Rajasa seperti mendapatkan semangatnya kembali.


[Mengapa kau tidak mencari pengganti istrimu?] Tanya Edelweis.


[Tidak ada yang bisa menggantikannya. Aku baru menyadarinya setelah dia pergi meninggalkanku.]


[Mengapa kau tidak berusaha memintanya kembali. Jika memang kau sangat mencintainya?]


[Aku sudah pernah melakukannya dan dia tetap meninggalkanku.]


[Istrimu tidak tahu betapa beruntungnya dia memiliki lelaki sepertimu. Seandainya, suamiku sepertimu. Hanya aku yang ada di dalam hati dan pikirannya .]


[Bisa jadi suamimu sama sepertiku. Menyesalinya.]


[Dia berbeda denganmu. Sangat berbeda. Dia sangat kejam. Aku sangat membencinya.]


[Lebih baik, kita berbicara yang lain. Aku tidak ingin emosimu menjadi terganggu. Kau tampak emosional setiap kali membicarakan suamimu. Sepertinya dia sudah menyakitimu begitu dalam.]


[Sangat dalam...]


Malika sudah menyukai sekolah, teman-teman serta guru barunya. Wajahnya sumringah. Dia juga sudah mulai lancar berbahasa Inggris.


“Aku merindukan papa.” Ujar Malika pada ibunya.


“Kau ingin memvideocallnya?”


Malika menganggukkan kepalanya.


“Tapi kau tidak boleh membocorkan kita ada dimana.”


Malika menganggukkan kepalanya.


“Jika kau tidak menepati janjimu. Kau tidak bisa berbicara dengan ayahmu lagi. Kau mengerti?”


Malika menganggukkan kepalanya.


Rajasa sangat bahagia menerima telepon dari putrinya. Walaupun putrinya tidak mau mengatakan berada dimana. Semua pasti karena Edelweis yang melarangnya.


“Mana ibumu?”


Malika memberikan gadgetnya pada ibunya.


“Mana jagoan kecilku?”


Edelweis mengambil bayinya dari kamar tidurnya. Memperlihatkannya pada Rajasa.


“Apakah aku benar-benar tidak bisa menemui kalian lagi?” Ujar Rajasa dengan nada sendu juga pilu.


“Jangan menanyakan sesuatu yang aku sendiri tidak tahu jawabannya. Sebaiknya, kau berbicara lagi dengan Malika. Aku ingin menidurkan Malik.”


“Namanya Malik?”


“Yeah, Malika dan Malik. Kau tidak keberatan kan?”


“Tidak sama sekali. Berikan gadgetnya pada Malika. Jika kau memang ingin menidurkannya. Biarkan aku berbicara dengan Malika.”


“Yeah. Dia sangat merindukanmu.”


“Aku juga. Aku merindukan kalian semua.”