Rajasa

Rajasa
The Angered



Hati Edelweis hancur. Tidak ada angin. Tidak ada badai. Seperti bermimpi di siang bolong. Menemukan perselingkuhan suaminya dengan sekretarisnya. Istri sahabat suaminya. 


Mereka bertengkar hebat. Rajasa tampak emosi dan frustasi. Membujuk isterinya yang sudah bertekad untuk mengajukan gugatan cerai.


"Seandainya kau percaya padaku! Semua ini tidak akan terjadi!" Seru Rajasa marah.


"Apa maksudmu tidak percaya? Aku tidak hanya bodoh tapi juga buta!"


"Buat apa kau memeriksa laci-laci meja kerjaku?"


"Aku mencari dokumen asuransi dan berkas-berkas yang kubutuhkan. Akte kelahiran Malika. Aku tidak dapat mengurus asuransi tersebut tanpa dukungan berkas-berkas yang diminta."


"Aku simpan di safe deposit." Ujar Rajasa.


"Mengapa kau tidak mengatakannya padaku?"


"Lupa. Mengapa kau tidak menanyakannya padaku?"


"Aku minta cerai!"


"Jangan egois! Pikirkan Malika."


"Kau bertahan denganku karena Malika? Pantas saja kau tidak bisa setia! Kau tidak mencintaiku!!!"


"Buat apa aku menikahimu kalau aku tidak mencintaimu?"


"Aku tidak ingin kau mencari alasan. Aku tidak ingin meneruskan pernikahan ini lagi."


"Itu sudah berlalu. Aku sudah melupakannya."


"Buat apa kau simpan rekamannya di handphonemu?"


Rajasa terdiam. Dia menyimpan foto-foto dan video perselingkuhannya dengan Nurmala. Untuk fantasi seksualnya. Bagaimana pun persetubuhan mereka sangatlah panas. Membuatnya kerap menginginkannya. Lagi dan lagi. Sampai dia bertemu dengan Kinanti.


Dia tidak memerlukan foto dan video itu lagi. Karena permainan ranjang mereka tidak kalah panasnya. Seharusnya dia membuangnya. Tetapi dia takut membutuhkannya suatu saat nanti. 


Pengalaman Edelweis apalagi kepiawaiannya dalam berhubungan intim kalah jauh dengan Nurmala dan Kinanti.


Nurmala seorang janda yang sangat ahli dalam urusan ranjang. Sedangkan Kinanti pengalamannya bercinta? Walaupun tidak pernah menikah. Bukan berarti tidak mengerti bagaimana menyalurkan hasrat seksualnya.


Rajasa sendiri sebelum bertemu dengan Edelweis adalah seorang player. Sedangkan Edelweis hanya memiliki pengalaman bercinta dengannya. Itu pun dia harus mengajarinya. Berbeda dengan Nurmala dan Kinanti. 


Menjadi ibu dan istri. Edelweis sosok yang sesuai. Tetapi untuk kepiawaian bercinta? Dia tidak mengatakan bahwa Edelweis tidak bisa memuaskan dirinya. Hanya saja jika dibandingkan dengan Nurmala dan Kinanti?


"Kita sudah tidak dapat bersama!" Seru Edelweis ketus.


"Kata siapa? Malika bagaimana?"


"Memang kenapa Malika? Kau tetap menjadi ayahnya."


"Aku tidak ingin dia tumbuh menjadi anak broken home."


"Aku tidak mempercayaimu lagi!"


"Aku tidak pernah melakukannya lagi. Mengapa kau minta cerai di saat aku sudah tidak melakukannya lagi. Hal ini sangat tidak adil untukku!"


"Mengapa kau sangat jahat padaku!"


"Aku tidak mencintai Nurmala. Aku hanya mencintaimu!"


"Kau tidak mencintai Nurmala tetapi kau bercinta dengannya."


"Aku lelaki. Berhubungan **** tidak serta merta berarti mencintai. Kau kan sudah dewasa. Kau tentu tahu bagaimana lelaki secara tekhnis?"


"Kau bicara apa? Kau mencintaiku tetapi kau berhubungan seksual dengan orang lain?"


"Jangan samakan lelaki dengan wanita. Cinta dan **** adalah dua hal yang berbeda."


"Apa maksudmu?"


"Pria yang jajan atau berselingkuh bukan berarti mereka tidak mencintai istri mereka."


"Kau benar-benar keterlaluan!" Tangis Edelweis meledak.


"Bisamu hanya menangis!"


"Aku ingin cerai!"


"Kau minta cerai seperti minta permen. Berpikirlah dengan logikamu. Jika kita bercerai. Bagaimana Malika? Aku berhubungan seksual dengan wanita lain. Bukan berarti aku tidak mencintaimu. Kita membangun keluarga. Sedangkan aku dan Nurmala tidak berarti apa-apa. Just ***! Be wise!"


Edelweis melempari Rajasa dengan barang-barang. Dirinya mengamuk. 


"Kau memang bajingan tengik!" 


Rajasa menyilangkan kedua tangannya di depan wajahnya. Menghindari lemparan barang-barang Edelweis.


"Aku tak percaya mau menikah denganmu. Aku sangat bodoh! Mau menikah dengan pria brengsek sepertimu!"


"Kau bisa tenang gak?" 


"Kau bisa gak jangan bikin gara-gara?"


"Aku bukan bikin gara-gara. Aku hanya berusaha menjelaskan padamu. Lelaki berbeda dengan perempuan."


"Kata siapa? Lelaki mesum sepertimu?"


"Secara tekhnis…" Edelweis melempar vas bunga yang terbuat dari kristal. Rajasa berkelit. Terdengar suara kristal membentur dinding dan pecah.


"Aku juga bisa bermain gila seperti yang kau lakukan padaku!" Sambung Edelweis.


"Tenangkan dirimu!" Ujar Rajasa.


"Selama kau tidak masuk akal! Aku tidak bisa tenang!" Edelweis kembali melempar pajangan porselen yang disusun rapi di rak buku.


Rajasa kembali menghindar," Kalau sampai aku cedera berat. Kau bisa jadi janda!"


"Aku tetap jadi janda walaupun kau sehat wal afiat. Aku tidak sudi hidup bersamamu lagi!"


"Tenangkan dirimu. Kumohon!"


"Secara tekhnis…." Edelweis melempar gelas yang ada di meja makan diikuti piring makan ke arah Rajasa.


"Bisa kita bicara baik-baik?" Bujuk Rajasa.


"Aku juga bisa mencintaimu dan berhubungan seksual dengan orang lain! Aku juga bisa memisahkan cinta dan ***!" Teriak Edelweis.


"Aku bukan membela diri. Tapi semua terjadi di luar kendaliku!"


"Selingkuh itu bukan tanpa kesadaran. Tapi pilihan. Kau jangan berbohong! Kau pikir wanita yang berselingkuh dari suaminya? Mereka mencintai selingkuhannya? Tolol!" Teriak Edelweis.


"Baiklah!  Aku mengaku salah. Kau menang! Aku minta maaf. Lupakan semua. Kita mulai lagi semuanya."


"Kau jangan gila! Aku tidak mau memaafkanmu!"


"Kau menghancurkan rumah tangga kita. Kalau tidak mau memaafkanku!"


"Bukan aku yang menghancurkan rumah tangga kita. Tapi kelakuan bejatmu!"


"Baiklah! Aku mengaku salah. Tapi kalau kau mengugat cerai.  Rumah tangga kita berakhir karena gugatan ceraimu!"


"Lalu kenapa?" Edelweis mengambil pajangan porselen dan melemparnya ke arah suaminya.


"Kita membangun keluarga. Jangan kau hancurkan hanya karena kau tidak mau memaafkan kesalahanku. Tidak mau bersabar."


Edelweis mengambil beberapa gelas dan melemparinya ke arah Rajasa. Pecahan kaca, kristal dan porselen bertebaran dimana-mana.


Edelweis sudah mengungsikan Malika ke rumah ibunya. Meminta Basil, Amarilis, ibunya juga pengasuhnya untuk menjaga Malika.


Dia tidak ingin Malika menyaksikan pertengkarannya dengan Rajasa.


"Tenang dong, sayang…."


"Jangan panggil aku sayang!" Edelweis kembali melempar barang ke arah Rajasa. Kali ini peralatan dapur. Karena sudah habis piring dan gelas di meja makan.


Porselen dan barang-barang kristal juga sudah habis dilempar hingga pecah berkeping.


"Kau sedang hamil. Tenangkan dirimu."


"Tidak usah pura-pura perhatian."


"Kau istriku. Bayi yang didalam perutmu. Anakku. Buat apa aku pura-pura perhatian padamu?"


"Kau benar-benar keterlaluan!" Jerit Edelweis.


"Bagaimana aku harus menjelaskan padamu?"


"Buat apa kau jelaskan? Apa ada bedanya? Kau sudah mengkhianati pernikahan kita. Apa bedanya penjelasanmu? Jika aku yang melakukannya. Apakah kau bisa mengerti? Apa ada bedanya?" Edelweis melempar piring-piring yang ada di dalam rak piring.


"Aku tahu, aku salah. Tapi kau tidak bisa melihat sesuatu secara hitam dan putih."


Edelweis membanting semua barang yang ada dan dia temukan di hadapannya.


Menangis sesengukan, " Sakit sekali rasanya. Seperti mau mati."


"Secara tekhnis…."


"Kau bajingan!" Teriak Edelweis. Suaranya terluka.


"Kau tahu mobil kan?"


"Apa hubungannya dengan mobil?"


"Petramax, petralite, petramax turbo…."


"Kau benar-benar keterlaluan!!!"


"Dengarkan dulu aku!"


"Tidak! Kau tidak punya perasaan."


"Memilih salah satu jenis bahan bakar. Menggunakan bahan bakar lain sesekali…."


Edelweis membanting semua barang.


"Kau tahu persis maksudku. Aku tidak pernah bermaksud menggantikanmu dengan yang lain. Tetapi jika sesekali…."


"Keluar!!! Pergi!!!"