Rajasa

Rajasa
Perang Dingin



Pertengkaran pertama Edelweis dan Rajasa yang berujung perang dingin.


"Aku jadi tidak enak sama kalian berdua. Gara-gara aku kalian berdua bertengkar. Aku merasa seperti setan." Sahut Ryan pada Edelweis yang menyerahkan notulen rapat mereka kemarin malam.


"Buat apa kau merasa tidak enak? Rajasa sedang berusaha mendominasiku. Dia bermaksud menjajah dan menginvasi aku."


Kontan Ryan tergelak,"Kalian berdua seperti anak kecil. Kau itu isteri bukan negara atau daerah. Jadi bukan dijajah apalagi diinvasi tapi dimiliki."


" Sama aja! Cuma masalah tekhnis bahasa. Tapi maksudnya sama. Aku bukan benda. Dia tidak dapat memilikiku karena aku bukan barang. Aku isterinya, dia harus belajar menghargai, mempercayai serta menghormatiku. Fyi, yang seperti anak kecil dia bukan aku! Kalau kubiarkan, seumur hidup, dia akan semena-mena padaku."


"Dia kan suamimu. Apa salahnya kau menurutinya?"


"Salah jika aku menurut pada sikap paranoid dan mengekangnya."


"Kau tahu lelaki adalah pemimpin bagi wanita. Kau harus mematuhinya."


"Kau lihat sendiri tingkah kekanak-kanakkannya. Setelah itu apalagi yang akan dia lakukan terhadapku?"


"Kau jangan suudzon seperti itu. Kalau dia cemburu padaku. Itu juga masih wajar. Justru suami yang dayus itu yang tidak baik."


"Dayus tentu saja tidak baik. Jika aku berkhalwat denganmu dan dia diam saja. Aku setuju. Tapi suami yang cemburu buta?  Aku tidak boleh memperlakukanmu seperti saudara atau sahabat?"


"Jangan melawan egonya. Mengalah lah padanya."


"Kau tahu tidak bisa! Dia tidak pada tempatnya."


"Suami berhak melindungi isterinya. Menjaga istrinya. Jangan melawan suamimu."


"Aku tidak ingin kau mencampuri urusanku dengan suamiku."


"Aku hanya mencoba menasehatimu agar hubunganmu dengan Rajasa bisa berjalan dengan lancar."


"Aku benar-benar tidak bisa menerima sikapnya padaku. Aku tersinggung."


"Jika amarahmu sudah turun. Berusaha mengerti suamimu. Karakter suamimu. Buatlah hubungan kalian lebih nyaman. Demi pernikahan kalian berdua. Aku bisa direkrut lagi jadi juru damai untuk kalian berdua. Padahal aku ingin pensiun."


Giliran Edelweis tertawa.


"Aku mengambilkan Rajasa makan dulu ya? Sebentar lagi makan siang."


"Ya, layanilah suamimu. Terima kasih buat notulen rapatnya. Aku akan membacanya untuk mematangkan persiapan pembuatan video dokumentasi kita."


"Sama-sama. Aku pergi dulu ya!"


"Ok!"


Edelweis berlalu dari hadapan Ryan. Menuju meja makan mengambilkan Rajasa makanan. Nasi dengan ikan bakar, tahu, bakwan,  sambal dan tumis kangkung.


"Ini makananmu."


"Suapin aku, boleh?"


Edelweis menyuapi suaminya makan, yang terus bekerja walaupun sudah waktunya mereka istirahat makan siang.


"Kau berbicara apa dengan Ryan?"


"Tidak ada. Hanya membicarakan pekerjaan."


"Membicarakan pekerjaan sampai tertawa bahagia begitu."


"Mengapa kau sangat suka memulai pertengkaran?"


"Kau mendiamkanku. Tetapi bersama Ryan kau berbicara panjang lebar dan kalian tertawa seperti itu. Sementara, kau mendiamkan aku."


"Intropeksi sikapmu."


"Tidak ada yang salah! Kau yang suka kecentilan dengan Ryan."


Wajah Edelweis merah padam menahan amarah. Dia menyuapkan sesendok besar nasi ke dalam mulut Rajasa.


Rajasa terbatuk dan protes.


"Mulutku belum kosong dan kau sudah suapkan aku nasi sesendok penuh? Kau mau membuatku tersedak?"


Edelweis tetap memaksa Rajasa membuka mulutnya dan menyuapkan nasi tersebut padanya.


"Kau benar-benar sadis!" Sahut Rajasa dengan mulut penuh.


"Memangnya kau tidak?"


Rajasa mengunyah dan menelan makanannya.


"Memangnya aku sadis apa?"


"Kau cemburu buta dan itu berbahaya."


"Berbahaya bagaimana?"


"Kau tahu banyak wanita-wanita di Pakistan yang para suaminya mencemburui isterinya secara berlebihan. Mereka menyiram isterinya dengan air keras. Memotong hidungnya."


"Aku tahu kau pintar! Tapi jangan gunakan kepintaranmu untuk mempengaruhi pikiran orang lain. Aku tidak cemburu buta.seperti itu!


"Kau cemburu buta! Kau bisa melakukan kdrt padaku kalau kubiarkan."


"Aku bisa mengkdrtmu kalau kau suka melawanku."


"Kupikir hubungan kita mulai tidak sehat."


"Apa susahnya menurutiku? Aku tidak minta sesuatu di luar kesanggupanmu. Ryan juga tidak mempermasalahkannya. Mengapa kau harus mempermasalahkannya?"


"Aku kan memberikanmu ruang untuk berinteraksi dengan yang lain. Aku hanya minta agar kau jangan terlalu dekat dengan Ryan. Aku tidak ingin kehilanganmu."


Edelweis menatap mata Rajasa. Menarik nafasnya.


"Kau tahu yang kerap memisahkan pasangan?"


"Perselingkuhan?"


"Itu sudah pasti. Tapi ada satu hal yang bisa memisahkan pasangan."


"Apa itu?"


"Kecemburuan."


"Maksudmu tidak boleh cemburu? Itu tidak mungkin."


"Cemburu boleh saja. Itu salah satu tanda cinta. Tapi cemburu buta itu dari setan. Kau tidak tahu betapa tersiksanya dicemburui secara membabi buta. Kau tahu, seorang suami di Pakistan bisa memotong hidung isterinya atau menyiram mereka dengan air keras hanya karena melihat atau mendengar tetangga mereka melihat isteri mereka berbicara dengan orang asing."


"Aku kan tidak seperti itu."


"Belum maksudmu? Karena hal seperti itu awalnya mungkin karena pembenaran terhadap sesuatu yang mereka yakini benar. Kemudian membesar menjadi kecurigaan, kebencian dan kemarahan."


"Cemburu seperti apa yang wajar menurutmu?"


"Kalau menunjukkan tanda-tanda tidak pantas tentu. Seperti kebiasaanmu mengejar gadis-gadis."


"Itu kan dulu!"


"Tapi kalau kau melakukannya lagi atau jika aku seperti itu. Wajar kau marah."


Rajasa terdiam mendengar perkataan Edelweis.


"Aku kan tidak bersikap mesra dengan Ryan. Begitu juga sebaliknya. Semua masih wajar. Jika Ryan terpaksa harus mengantarku ke kota sedangkan kau tidak bisa menemaniku. Apa kau juga akan mencemburuiku?"


"Tapi kau bisa mengerti kan kalau aku cemburu?"


"Tentu saja. Tapi jangan berlebihan. Aku tidak ingin hubungan kita menjadi petaka karena cemburu buta."


"Bisakah kita berbaikan?"


"Aku tidak bermaksud mendiamkanmu. Aku sangat kesal dan tidak tahu harus bagaimana."


"Maafkan aku sudah membuatmu kesal."


"Aku juga minta maaf tidak mau mengerti perasaan cemburumu."


"Kau takut kalau aku jadi mengekangmu dan mencecarmu."


"Yeah! Memang itu yang kutakutkan."


"Aku juga pasti tidak nyaman kalau kau seperti itu padaku. Cemburu itu wajar tapi jadi tidak wajar kalau berlebihan."


"Aku senang kau bisa mengerti." Edelweis mengembangkan senyumnya. Membuat Rajasa terpana melihatnya.


Selesai makan siang, mereka semua bermaksud kembali ke tempat pembuatan video dokumentasi.


"Ayo, kita bersiap-siap kembali ke tempat kerja." Ryan meraih tas ranselnya.


"Aku dan Edelweis menyusul.  Pekerjaanku sedikit lagi."


"Baiklah! Segera menyusul!"


"Tentu! Begitu selesai, kami pasti langsung menuju ke sana."


"Kita hanya sampai jam tiga. Apa kau lebih baik bekerja di rumah saja? Kalian berdua menyusul aku khawatir tidak terlalu aman untuk kalian berdua. Bagaimana?"


"Baiklah."


"Kalau begitu sekalian kau analisa ini dan buat ringkasannya." Ryan menyodorkan setumpuk berkas pada Edelweis.


"Baiklah."


"Ok, kami berangkat dulu!"


"Ok!"


Edelweis mengambil dokumen yang diserahkan Ryan kepada mereka. Mulai meneliti, membaca dan membuat ringkasannya.


"Nanti saja mengerjakannya!" Pinta Rajasa.


"Jangan menunda pekerjaan. Kau tidak lihat tumpukan berkas ini?"


"Lihat. Justru itu kita sebaiknya refreshing dulu."


"Refereshing?"


"Kau mau disini atau di kamar?"


"What?" Wajah Edelweis bersemu merah, "Bagaimana kalau ada yang kembali ke sini?"


"Ok, memang sebaiknya di kamar."


"I can't believe this!"


"Kita kan sudah berbaikan. Sebaiknya kita merayakannya "