
Wanita akan mengembalikan lebih. Jika kau memberinya rumah. Maka dia akan memberikan kehangatan di dalam rumahmu.
Jika kau memberikannya beras maka dia akan memberikanmu nasi. Jika kau memberikannya cinta maka dia akan memberikan pengabdian seumur hidupnya.
Air mata Nurmala menetes ketika Ryan memberikan sebuah amplop berisi lembaran uang seratus ribu rupiah. Sejumlah sepuluh juta rupiah.
"Kita tidak menikah beneran. Setelah bayi ini lahir. Kita akan bercerai." Ujar Nurmala mengangsurkan kembali amplop yang diberikan Ryan kepadanya, "Aku tidak pantas menerima ini." Tolaknya.
"Aku sudah mengucapkan akad atasmu. Kau menjadi tanggung jawabku selama kita menikah."Tukas Ryan.
Mantan suaminya tidak pernah memberikan uang sepeser pun. Rajasa sendiri tidak hanya memberikan uang. Melainkan juga apartement dan mobil.
Tetapi mengapa hatinya terenyuh menerima pemberian Ryan yang jumlahnya jauh dari yang diberikan Rajasa kepadanya. Tabungan senilai lima ratus juta. Uang bulanan sebesar dua puluh lima juta rupiah. Diluar uang jajannya pribadi sebesar lima belas juta rupiah.
"Aku menafkahimu sesuai kemampuanku. Ini sepertiga gajiku. Untukmu. Gunakan untuk keperluan rumah."
"Kau tidak perlu menafkahiku. Pernikahan kita tidak sungguh-sungguh. Aku juga bukan wanita baik-baik."
"Jangan berdebat denganku. Ok?" Ryan melipat kedua tangannya, "Kau seorang ibu. Jangan memandang rendah dirimu sendiri. Kalau kau merasa bersalah karena merebut Rajasa dari Edelweis. Artinya kau masih memiliki empati dan nurani. Jangan lakukan lagi. Jauhi Rajasa. Jangan ganggu rumah tangganya lagi. Aku tidak ingin Edelweis menjadi sakit hati. Aku memang akan merebutnya dari sisi Rajasa tetapi bukan dengan cara menyakiti apalagi melukai perasaannya."
Nurmala menganggukkan kepalanya, "Apa rencanamu?" Tanya Nurmala.
"Aku belum tahu. Tapi aku akan memilih jalan yang tidak membuat Edelweis terluka dan tersakiti."
"Kau sangat memperhatikannya."
"Aku mencintainya. Kupikir Rajasa bisa menjaganya dengan baik. Aku benar-benar tidak menyangka Rajasa akan mengkhianatinya. Aku benar-benar kecewa padanya. Pada kalian berdua."
"Aku tahu bahwa aku bukan wanita baik-baik. Tidak seharusnya aku menerima tawaran pak Rajasa. Hidup menjanda sangat berat."
"Aku hanya memberikanmu nafkah lahir. Mengapa kau bisa menjalaninya?"
"Aku tidak tahu. Aku merasa aman bersamamu. Aku merasa kau melindungiku. Berbeda dengan lelaki pada umumnya."
"Seorang lelaki memang harus menghargai dan melindungi wanita. Kalau banyak orang tidak bisa melakukannya. Karena mereka tidak mau. Masalah karakter. Seperti apa yang kau dan Rajasa lakukan. Itu kan masalah karakter. Bukan fitrahnya seperti itu. Laki-laki memang harus bersikap gentleman dan melindungi wanita. Menghormati. Karena setiap wanita akan menjadi seorang ibu. Jika ada lelaki yang merendahkan wanita. Atau wanita yang tidak bisa menghargai diri mereka sendiri. Bukan berarti kita juga ikut-ikutan seperti itu walaupun banyak yang melakukannya. Atau sudah menjadi kebiasaan untuk merendahkan wanita. Mereka tidak berpikir bagaimana kalau ibu mereka diperlakukan seperti itu. Atau saudara perempuan mereka? Lelaki yang baik bukan merendahkan, menghina atau melecehkan tapi justru menjaga dan tidak mengambil kesempatan atau keuntungan."
"Kupikir sudah hampir punah. Lelaki semacam itu. Mungkin mencari tulang belulang Dinosaurus lebih mudah daripada mencari lelaki yang kau maksud."
"Seandainya kita berpikir. Kita dilahirkan dari seorang ibu seperti itu. Bagaimana perasaan kita? Ibu tetaplah ibu. Dan apa ada yang merendahkan wanita. Kalau semua lelaki bersikap sama. Baik dan hormat serta tidak memanfaatkan mereka untuk kepentingan diri mereka sendiri?"
Air mata Nurmala jatuh menetes. Ucapan Ryan terasa seperti embun pagi. Rajasa hanya memanfaatkan tubuhnya saja. Walaupun diberikan materi tetap saja dirinya tidak merasa disayangi dan dicintai dengan semestinya, "Aku mengerti maksudmu."
"Jauhi Rajasa dan jangan ganggu rumah tangganya lagi."
Nurmala menganggukkan kepalanya.
Ketulusan Ryan sangat menyentuh hatinya. Debaran perasaan halus mulai menyusupi hatinya.
Kupikir aku jatuh cinta kepadanya?
Kelembutan, ketulusan dan kebaikan hati Ryan sangat menyentuh hatinya. Tidak sekali pun Ryan merendahkan atau menghinanya. Padahal jika Ryan mau. Dia berhak menerimanya.
Dia bukan wanita baik-baik. Bermain api dengan bosnya sendiri. Untuk mengejar kepuasannya sendiri dan materi.
Sampai mengorbankan Ryan menikahinya untuk menutupi perbuatannya dengan bosnya.
Pernikahan mereka hanya untuk menutup aib. Tetapi Ryan memperlakukannya seperti layaknya seorang istri yang diperhatikan dan dilindungi.
Selain berhubungan intim. Ryan menjalankan semua kewajibannya sebagai seorang suami. Mengantar dan menungguinya bekerja.
Membantu pekerjaan rumah bersamanya dan Ara. Membantu menjaga dan mengasuh Amalia. Menafkahinya secara lahir. Memberikan sepertiga gajinya kepadanya.
Sikap lembut, perhatian dan baiknya membuat hati Nurmala tersentuh.
Aku takut begitu pernikahan kita berakhir. Aku dan Amalia sangat kehilanganmu.
Ryan tidak pernah menyentuhnya sejak mereka menikah. Selain masa iddahnya belum habis. Pernikahan mereka hanya untuk menutup aibnya.
Kehamilannya semakin membesar. Tidak mungkin dia dan Rajasa mengakui pernikahan siri mereka. Akan menyakiti Edelweis. Rumah tangga Rajasa bisa hancur berantakan.
Ryan tidak ingin mengambil kesempatan dari polemik yang menimpa Rajasa dan Nurmala. Dia tidur di sofa lipat yang dibelinya yang bisa berfungsi sebagai tempat tidur.
"Sudahlah! Kau tidak usah banyak berpikir.Sebaiknya kita beristirahat. Besok kita mesti kerja."
Keesokan paginya, seperti biasa sebelum mereka berangkat bekerja. Nurmala membuatkan secangkir kopi untuk Ryan. Memasak mie instant rebus. Menambahkan sayuran. Sawi hijau, wortel, kol dan daun bawang. Menambahkan telur setengah matang di atasnya dengan taburan bawang goreng.
Ryan menyirami taman mungil di rumah kontrakan mereka. Menggunting beberapa ranting dan daun.
Memberi makan kucing dan kelinci yang mereka miliki. Amalia sangat suka bermain dengan kucing dan kelinci. Ryan sengaja membelinya untuk Amalia.
Mereka sarapan pagi bersama sebelum berangkat bekerja.
"Nanti mau makan siang di luar atau bawa bekal? Atau kau mau makan siang sendiri?" Tanya Nurmala.
"Pekerjaanku banyak. Bawa bekal supaya bisa makan di kantor bagaimana?"
"Baiklah."
Nurmala menyiapkan bekal makan siang untuk mereka berdua. Wadah pertama berisi nasi putih. Wadah kedua, Nurmala mengisinya dengan tempe tahu dan ayam goreng. Wadah ketiga berisi sayur. Cap cay. Nurmala juga membuat jus jeruk untuk mereka berdua.
Amalia masih terlelap tidur. Tahun depan, Amalia akan memasuki sekolah play groupnya. Tahun depan usianya genap empat tahun.
Ryan dan Nurmala mencium Amalia yang sedang tertidur nyenyak.
Mobil meluncur dari pemukiman rumah yang mereka tinggali. Ryan menyetel radio dan mencari lagu yang enak didengar. Menemani perjalanan mereka menuju kantor.
"Kau sudah memutuskan Amalia akan bersekolah dimana?" Tanya Ryan.
"Ada baiknya kita mengajak Amalia melihat-lihat beberapa sekolah. Kita lihat bagaimana respon Amalia. Bagaimana menurutmu?"
"Ide yang bagus. Kau sudah memiliki pilihan-pilihan sekolahnya?"
"Sudah. Ada tiga atau empat sekolah yang menurutku akan cocok dengan Amalia."
"Baiklah nanti kita jajaki satu-satu. Bagaimana?"
Nurmala menganggukkan kepalanya. Ryan sangat memperhatikan Amalia.