Rajasa

Rajasa
Ngidam



Kehamilan Nurmala semakin membesar. Perutnya terlihat semakin buncit.


Amalia sangat senang dengan kehamilan ibunya. Tidak sabar untuk menantikan kelahiran adiknya.


Ryan sendiri menikmati perannya sebagai suami dan ayah. Walaupun dia tidak atau belum menjalankan kewajibannya sebagai suami.


Sebagai pria tulen. Dia bukan kebal dalam menghadapi godaan yang digencarkan Nurmala. 


Apalagi Nurmala seorang janda. Tentu memiliki kebutuhan batin yang memang harus dipenuhi.


Tetapi Ryan memaklumi sikap Nurmala yang seperti cacing kepanasan. Mengabaikan dan tidak mengambil pusing.


Karena dia tidak ingin mengambil kesempatan.


Bukan tipe lelaki penikmat tubuh wanita untuk kepentingannya sendiri.


Menjaga keperjakaannya untuk wanita yang memang ditakdirkan menjadi istrinya yang sesungguhnya.


Sikapnya membuat Nurmala merasa gemas. Seringkali merasa down. Karena sikap Ryan yang dingin. Menolak dirinya.


Apakah dia gay? Tidak menyukai wanita? Tapi dia jatuh cinta pada Edelweis. Mana mungkin gay bisa jatuh cinta pada wanita? Atau dia memiliki masalah kesehatan. Seperti jantung atau impotensi?


Apakah aku kurang menarik? Tubuhku kurang seksi? Wajahku kurang sensual? Mengapa dia seperti kucing yang menolak ikan asin? Memang ada?


Nurmala termenung memikirkan sikap Ryan yang dingin. Mereka sudah menikah lebih dari tiga bulan. Masa iddahnya sudah berlalu. Tapi Ryan masih enggan menyentuhnya. Usia kehamilannya memasuki bulan ke enam. Perutnya tampak semakin buncit.


Dirinya memandang resah. Ryan memang sangat baik dan penuh perhatian. Tapi semua itu dia lakukan hanya sebatas memenuhi kewajibannya sebagai suami.


Alasan Ryan tidak mau menyentuhnya. Karena tidak pernah berniat membangun keluarga dengannya.


Dia melakukan semuanya hanya untuk Edelweis. Sunggu beruntung wanita yang dicintai oleh pria seperti Ryan.


Sangat menghormati wanita. Bisa saja Ryan mempermainkannya. Apalagi dia juga bukan wanita yang baik. Tidak keberatan jika dirinya dipermainkan. Karena membutuhkan pemenuhan batin. Semenjak dirinya menjadi janda. Menyadari beratnya menjalani kehidupan sebagai janda. Terutama berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan batin. Dia menggadaikan harga dirinya. 


Menjadi istri Rajasa untuk mendapatkan pemenuhan materi dan batin. Tidak membuatnya bangga sama sekali. Dia tahu sebagai wanita. Sudah kehilangan harga diri. Tapi dia bisa apa?


Seperti kehamilan lainnya. Nurmala juga mengalami ngidam. 


Ryan kewalahan menghadapi keinginan ngidam Nurmala.


"Aku mau mangga tetangga. Tapi kau gak boleh minta ijin mengambilnya."


"Maksudmu bagaimana?"


"Ambil saja dan tidak usah minta ijin."


"Itu namanya mencuri. Apa salahnya aku minta ijin dulu? Pasti dikasih."


"Gak mau! Aku gak mau kau minta ijin dulu." Rengek Nurmala sambil mengelus perutnya.


"Tidak bisa begitu!" Tolak Ryan.


"Bisa! Tolonglah!"


"Kau ada-ada saja. Ngidammu sangat aneh."


"Tolong!" Wajah Nurmala memelas membuat Ryan menjadi tidak tega.


"Baiklah!"


"Aku juga ingin mengelus kepala botak."


"Apa maksudmu mengelus kepala botak? Aku harus mencukur habis rambutku?"


"Bukan! Kau cari orang yang kepalanya botak. Aku ingin mengelus kepala plontosnya."


"Apa?"


"Tolonglah!" Air mata meleleh dari kedua mata Nurmala.


"Kau mengintimidasiku dengan air mata dan kehamilanmu."


"Aku tidak bermaksud demikian. Tolonglah!"


Ryan paling tidak bisa tega melihat wajah melas apalagi air mata wanita.


"Baiklah!"


Nurmala mengembangkan senyumnya, "Terima kasih."


Untuk permintaan ngidam Nurmala yang pertama. Ryan sudah mendapatkan masalah.


Ryan mengendap-ngendap masuk ke halaman rumah tetangganya. Peluh mengucur di dahinya. Jantungnya berdebar keras.


Nurmala ada-ada saja! Minta diambilin mangga tapi gak boleh bilang. Iyuh!


Ryan berusaha memanjat pohon yang cukup tinggi dan agak licin. Dengan susah payah dia berhasil memanjat. Memilih beberapa mangga yang masih muda. 


Menuruni pohon ketika sebuah suara menghardiknya.


"Siapa itu? Maling!"


Jantungnya seakan lepas dari tempatnya. Peluhnya yang sudah mengering. Membanjir kembali.


Dengan terburu-buru dia menuruni pohon dan berlari keluar halaman.


Sebuah sendal jepit mengenai kepalanya. Tak dihiraukannya. Pikirannya cuma satu. Lari. Dengan terbirit-birit. Dia keluar dari halaman rumah tetangganya. Berlari menuju rumahnya secepat mungkin yang dia bisa.


Ryan terengah-engah membuka pintu pagar rumahnya.


"Kau kenapa?" Tanya Nurmala dengan wajah cemas.


"Aku dilempar sendal oleh yang punya rumah. Ketahuan mengambil mangganya."


"Kau menertawaiku?"


"Maafkan aku! Aku tidak bermaksud menertawaimu."


"Tidak penting maksudmu." Sahut Ryan bersungut,"Aku tidak mengalami ini. Seandainya, aku meminta ijin terlebih dahulu meminta mangganya."


"Maafkan aku! Tapi aku benar-benar ingin mangga yang diambil begitu saja. Tanpa harus minta ijin sebelumnya."


"Sudahlah. Gak usah dibahas. Semoga anakmu cepat lahir."


"Prematur dong!"


"Ya gak gitu juga. Maksudku semoga keinginan ngidammu cepat berlalu dan aku bisa melanjutkan hidupku dengan tenang."


Kontan Nurmala kembali tertawa.


Mengidam berikutnya. Ryan seharian memburu pria dengan kepala botak. Tidak jarang dia dimaki dan dianggap menghina.


"Mas! Jangan kurang ajar ya! Memang kenapa kalau kepala saya botak?"


"Maaf mas. Permintaan istri saya yang sedang mengidam."


"Gak usah mengada-ada! Mengidam dimana-mana maunya mangga muda,makanan,  masak ngelus kepala botak? Saya gak percaya!" Sahut pemuda yang terlihat berumur dua puluh lima tahunan dengan wajah galak.


Kau benar-benar membuatku dalam masalah. 


Ryan berjalan menjauhi pemuda yang sedang marah-marah. Berjalan mencari kandidat lain yang lebih sesuai.


Dengan nada sungkan dia menyapa seorang bapak tua yang berkepala plontos.


"Pak, maaf, istri saya sedang mengidam dan ingin mengelus kepala botak."


"Wanita hamil memang kerap menyusahkan kalau sedang ngidam." Ujar orang tua tersebut bijak.


"Boleh ya pak berarti kalau istri saya mengusap kepala bapak?"


"Boleh saja. Tapi apa gak kualat mengusap kepala orang yang sudah tua?"


Bener juga.


"Dimana istrimu?"


"Tidak usah pak. Saya cari yang lain dulu aja."


"Kenapa?"


"Bener juga omongan bapak. Takut kualat sama orang tua gak sopan."


Ryan agak kesulitan mencari orang yang mempercayai perkataannya.


"Maaf mas. Bisa pinjam kepalanya buat dielus istri saya yang sedang ingidam?"


"Apa? Bapak mau menebas kepala saya?"


"Gak mas! Siapa yang mau nebas?"


"Bapak lebih mengerikan dari suku Indian. Mereka menguliti kepala musuhnya karena perang. Kita gak saling kenal dan bapak mau tebas kepala saya?"


"Saya gak pernah berpikir untuk menebas kepala mas."


"Jangan bohong! Barusan bapak bilang apa?"


"Saya mau pinjam kepala mas buat dielus istri saya yang sedang ngidam."


"Istri anda mengandung anak setan atau bagaimana? Kok ngidamnya kepala orang?"


"Aduh! Mas jangan salah paham."


"Salah paham gimana? Bapak mau pinjam kepala saya. Berarti kepala saya mesti dicopot dulu. Memangnya kepala saya ada murnya?"


"Aduh mas! Maksud saya, mas mau saya ajak ke rumah. Bertemu istri saya. Kepala mas nanti dielus istri saya."


Pemuda tersebut melengos dengan wajah gusar, "Gak usah cari alasan! Dasar kanibal!"


Ryan mengelus dada.


"Anda homo mau elus-elus kepala saya?" Tukas salah seorang pemuda dengan wajah merah padam. Bersiap menghajar Ryan.


"Bukan saya! Istri saya."


"Anda suami germo atau apa? Menyodorkan istri anda pada orang lain."


Di tengah keputusasaannya. Sesosok pria dengan lengan penuh tatoo mendekatinya.


"Istri anda ngidam?"


"Iya."


"Mau elus kepala botak?"


"Iya. Darimana anda tau?"


"Dari tadi saya memperhatikan anda. Mencari seseorang yang kepalanya plontos agar mau dielus kepalanya oleh istri anda yang sedang ngidam."


"Iya."


"Kebetulan kepala saya plontos. Saya tidak keberatan dielus oleh istri anda yang sedang ngidam."


Dengan wajah berbinar. Ryan mengucapkan terima kasih.