Rajasa

Rajasa
Hutan Ceria



Hari minggu saatnya mereka bersantai setelah enam hari mereka bekerja sepanjang hari.


Jam kerja mereka hanya terhitung sampai Jum'at. Sabtu terhitung lembur.


Aktifitas hari minggu berbeda dengan hari lainnya, lebih santai dan freetime.


Edelweis dibantu teman sejawatnya membuat sarapan pagi.


Mereka membuat mie goreng nyemek pedas. Kopi dan teh.


Sebagian lain membersihkan rumah dan sisanya mencuci piring dan membereskan rumah.


"Aku ingin mengajakmu ke suatu tempat sehabis sarapan." Rajasa menyodorkan piringnya pada Edelweis.


"Kemana?"


"Nanti juga kau tau."


"Baiklah!"


Percakapan mereka juga lebih santai. Ngalor ngidul. Saling melemparkan cerita dan candaan.


Selesai sarapan, Rajasa membawa Edelweis ke suatu tempat. Mereka berjalan kaki beberapa kilometer. Melalui jalan setapak. Menaiki semacam bukit dan sampai pada sebuah batu yang menghadap ke jurang. Pepohonan di sana sini.


"Tempat ini sangat indah!" Edelweis tertawa senang.


"Aku menemukannya setelah beberapa lama disini. Iseng berjalan-jalan dan menemukan tempat ini. Kau suka?"


"Sangat suka!"


"Kau lihat itu...."


Edelweis melihat ke arah telunjuk Rajasa.


"Edelweis?"


"Iya, itu kau!"


Keduanya tertawa.


"Apa maksudmu, itu aku?"


Setiap aku merasa ingin menemuimu, aku ke tempat ini. Di tempat ini, aku menemukanmu."


"Edelweis? Yeah...." Edelweis tersenyum kecil.


"Aku mengajaknya berbicara."


"Benarkah?"


"Kau lihat aku!"


Edelweis memperhatikan polah Rajasa.


"Hai, Edelweis! Mengapa kau mematikan teleponku? Kau marah padaku? Bisa kan, kau berbicara atau menjelaskan lewat wa? Jangan mematikan teleponku. Aku tidak bisa berbicara padamu dan kau tau seperti apa rasanya?"


Edelweis tertawa melihat tingkah Rajasa.


"Itu yang kau lakukan ketika kita bertengkar dan aku mematikan gadgetku?"


"Kau perhatikan aku!"


Edelweis kembali memperhatikan prilaku Rajasa.


"Kau mengatakan kau dan Roy hanya jalan berdua! Aku tidak percaya! Kau dengar aku? Tidak percaya!!!"


Edelweis kembali tergelak.


"Kau konyol sekali!"


"Kau lebih konyol! Aku tidak boleh cemburu mengetahui kau dan Roy sering berjalan berdua. Sedangkan aku disini. Bercengkerama dengan harimau. Mengajak bunga Edelweis berbicara seperti orang gila!"


"Kau marah padaku?"


"Tidak, aku tertawa padamu. Ya lah! Aku marah padamu!"


"Harus ya membahas ini?"


"Roy seperti Aksa."


"Apa maksudmu, Roy seperti Aksa?"


"Friendzone."


"Kupikir kau menyukai Roy?"


"Kupikir juga begitu."


Rajasa melotot ke arah Edelweis.


"Kau galak sekali!"


"Kau itu!"


"Mereka sangat baik. Mengerti aku. Apa yang kau harapkan?"


"Aku tidak mengertimu?"


"Entahlah! Kadang kau seperti anak-anak."


"Memang kau tidak?"


"Itu poinku! Dua orang anak-anak. Pernikahan dini!"


"Tidak lucu sama sekali!"


"Kau harus mengakui. Kau kesulitan memahamiku sedangkan mereka bisa membacaku seperti membaca buku biasa. Sedangkan kau?"


"Aku berusaha memahamimu walaupun tidak mudah. Tetapi aku berusaha mempercayaimu."


"Itu masalahnya! Aku seringkali tidak bisa mempercayaimu dan selalu mencurigaimu. Takut kau mengkhianati kepercayaanku. Kau seenaknya padaku."


"Sejelek itu pikiranmu padaku?"


Edelweis menganggukkan kepalanya.


"Aku menyiapkan sesuatu, seandainya kau ke sini."


"Apa itu?"


"Tunggu sebentar!"


Rajasa berjalan ke balik pepohonan. Dia tampak menyimpan sesuatu di sana.


Seperti ada sebuah peti kayu yang dibukanya. Mengeluarkannya dan membawanya kepada Edelweis.


"Apa ini?"


Dia meletakkan mahkota yang terbuat dari daun dan ranting ke atas kepala Edelweis.


"Kubuat sendiri."


"Benarkah?"


"Tidak mudah. Tapi aku berhasil membuatnya."


"Ini bagus."


"Aku senang kau menyukainya."


"Aku juga membuat ini untukmu."


Rajasa memasukkan sebuah cincin yang terbuat dari ranting ke jari manis Edelweis.


Mata Edelweis memanas.


"Aku tidak memiliki apapun untuk diberikan padamu." Sahutnya dengan suara serak.


"Aku tidak pernah meminta apapun darimu. Tidak menginginkan apapun kecuali hatimu untukku."


Airmata Edelweis tumpah ruah.


"Mungkin aku bukan sosok sempurna atau yang kau harapkan tetapi hati dan jiwaku sempurna untukmu!"