
Nurmala membelai rambut Ryan dengan lembut. Rambut merupakan bagian yang sangat unik dan bisa jadi sensitif untuk disentuh.
Ryan memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut Nurmala pada rambutnya. Nurmala menciumi dahi dan kedua mata suaminya. Membelai halus dan lembut bibir suaminya dengan bibirnya.
Puas bermain dengan rambut dan wajah suaminya. Menjelajahi leher suaminya dengan membelainya lembut dengan bibir dan jilatan lembut.
Ryan mengerang saat Nurmala menyentuh titik sensitif di bawah telinganya.
“Hum...” Ryan meracau. Menggelinjang di bawah kukungan Nurmala dan serangan sentuhannya. Yang menyerang setiap titik sensitifnya.
Pengalamannya di atas ranjang. Tidak membuatnya kesulitan untuk memuaskan Ryan. Mengajarkannya penuh kesabaran. Bagaimana berkomunikasi yang nyaman sebagai suami istri di dalam kamar tidur mereka.
“Kau tau satu hal?” Ujar Nurmala saat mereka menyelesaikan sesi percintaan mereka.
“Jika kita tetap harus berpisah. Karena kau harus menikahi Edelweis. Maka...”
“Maka apa?”
“Maka kau bisa membahagiakannya. Kau tidak akan melakukan kebodohan dengannya seperti yang kau lakukan padaku.”
Ryan memandang wajah Nurmala. Dia tidak berpikir sejauh itu. Memang selalu ada hikmah dari setiap peristiwa.
“Aku mencintai Edelweis.” Ujarnya jujur.
“Ya, aku tahu. Aku mencintaimu sedangkan kau mencintai Edelweis.”
“Seandainya aku mengenalmu lebih dahulu. Mungkin aku akan mencintaimu bukan Edelweis.”
“Kau tidak hanya mencintainya tetapi juga mengaguminya. Walaupun kita bertemu lebih dahulu. Kupikir, kau tetap akan mencintainya. Mungkin aku justru sakit hati. Karena dia berhasil merebut mu dariku. Aku memang sempat berpikir sepertimu. Seandainya, kita bertemu terlebih dahulu. Kemungkinan semua akan berbeda. Tapi melihat bahwa yang kau rasakan padanya tidak hanya cinta tapi juga kekaguman. Semua hal yang kau rasakan sebagai seorang pria kepada wanita kepada Edelweis. Aku tidak akan pernah bisa memenangkan cintamu.”
Ryan membelai rambut Nurmala dengan lembut. Mengecup bibirnya dengan sepenuh jiwanya. Nurmala telah mengajarinya menjadi seorang pria sejati.
Dapat memimpinnya dengan baik di atas tempat tidur mereka. Hal mana yang sebelumnya merupakan hal yang sangat buta baginya.
Sebagai seorang perjaka. Tidak berpikir untuk melakukan hubungan intim sebelum menikah. Sehingga dia tidak memiliki pengalaman berhubungan intim dengan siapa pun.
Menikahi Nurmala untuk melindungi aib Nurmala dan Rajasa. Sampai akhirnya insiden obat perangsang yang tanpa sengaja diminumnya.
Tidak ada satu pun yang menyalahkan apa yang terjadi padanya dan Nurmala. Karena mereka suami istri.
Apa yang dikatakan Nurmala benar adanya. Saat dia menikahi Edelweis. Dia tidak akan melakukan apa yang sudah dilakukannya terhadap Nurmala. Bisa menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami kepada Edelweis dengan lebih baik.
Semua yang terjadi antara dirinya dengan Nurmala adalah di luar dugaan mereka berdua.
Ryan kerap berpikir. Mungkin memang jalan Tuhan mempertemukan dan menyatukannya dengan Nurmala. Kemudian memisahkan mereka. Bagaimana pun, dia bertekad, tidak akan mengingkari janjinya pada Edelweis.
Apakah dia ditakdirkan menikah dua kali? Dengan wanita yang berbeda?
Nurmala tertidur lelap seperti bayi. Semenjak mereka berhubungan layaknya suami istri. Mereka kerap menitipkan Amanda pada Ara. Mereka tidak ingin Amanda mengetahui apa yang mereka berdua lakukan. Walaupun Amanda masih bayi dan belum mengerti apa pun. Tetapi keduanya sangat menjaga akan hal ini.
“Kupikir kita perlu mengambil pengasuh anak satu lagi.” Ujar Ryan ketika mereka sarapan.
“Untuk apa?”
“Aku kelelahan harus bekerja, mengurus Amanda dan memenuhi kewajibanku padamu.”
Nurmala memandang wajah Ryan dengan tanda tanya.
“Kau keberatan mengurus Amanda?”
“Aku kesulitan mengatur waktu dan istirahatku. Apalagi sekarang memiliki kewajiban tambahan. Jika kita nanti bercerai. Kau juga membutuhkan istirahat. Jika semua Ara yang mengurus kedua anakmu. Dia akan terlalu lelah. Bagaimana menurut pendapatmu?”
Nurmala memikirkan perkataan Ryan. Saat nanti mereka berpisah. Akan sangat kerepotan jika semua diserahkan pada Ara.
Mereka sepakat mengambil satu orang pengasuh lagi. Amanda tidur bersama pengasuhnya. Sedangkan Amalia tidur bersama Ara.
“Kita cari rumah dengan tiga kamar. Atau kita buat kamar satu lagi.” Ujar Ryan.
“Kau yakin tidak mau pindah rumah kontrakan atau membuat kamar satu lagi?”
“Aku yakin.”
“Baiklah.”
Ryan tetap membantu Nurmala di tengah kesibukannya bekerja dan menjalankan tugasnya sebagai suami.
Sepulang kerja selalu meluangkan waktunya untuk Amanda dan Amalia. Kemudian beristirahat untuk menyegarkan tubuhnya.
Menjelang pagi. Menyikat giginya dan berwudhu menunaikan sholat tahajjud nya. Menjalankan kewajiban nya sebagai suami. Membersihkan dirinya. Sholat subuh. Sarapan pagi. Bersiap berangkat bekerja.
Sementara Nurmala cuti melahirkan. Ryan pulang pergi sendiri ke kantor. Begitu selesai bekerja. Langsung pulang menuju rumah kontrakannya.
Di dalam pikirannya. Hanya Amalia, Amanda, Nurmala dan pekerjaannya. Bukan berarti dia melupakan Edelweis. Saat ini konsentrasinya pada apa yang sedang dijalaninya hari ini.
Cintanya pada Edelweis akan menggaris takdirnya sendiri. Hanya masalah waktu.
Jika Amanda dan Amalia sudah bangun. Sebelum Ryan berangkat kerja. Ryan menyempatkan diri untuk bermain dan bercanda bersama mereka.
Membantu Ara menyuapi Amalia ketika mereka sarapan pagi bersama sebelum berangkat ke kantor.
Tetapi jika Amalia sedang rewel. Tidak ingin menyentuh sarapan paginya. Mereka hanya bercanda dan berbicara.
Amalia sangat senang menghabiskan waktu dengannya. Setelah Ryan berangkat kerja. Ara akan mengajaknya bermain sambil menyuapinya makan.
Mengikuti suasana hati Amalia. Apakah ingin bermain di dalam atau luar rumah. Atau bermain sepeda atau di taman. Selama suasana hatinya baik dan gembira. Amalia akan menghabiskan makanannya.
Hari demi hari berlalu. Waktu berjalan sangat cepat. Nurmala kerap mengharu biru mengingat perpisahannya dengan Ryan semakin mendekat.
Dia tidak memiliki nyali untuk berbicara apalagi memohon pada Edelweis. Menyadari bahwa wanita itu tidak akan mengabulkan keinginannya.
Justru memberikan kepuasan pada wanita tersebut melihatnya nelangsa karena akan kehilangan Ryan. Selamanya. Tercerabut begitu saja.
Hubungan mereka sebagai suami istri semakin lekat tapi hal itu tidak mengubah apa pun.
Setelah perpisahannya, dia harus membiasakan diri hidup tanpa Ryan. Jika hanya melakukan semuanya sendiri tidaklah seberat jika hidup tanpa Ryan di sisinya.
Dia akan merindukan Ryan. Mungkin menangisinya. Kali ini, dia akan memutuskan untuk menjanda selamanya. Tidak lagi ingin menjalin hubungan dengan siapa pun. Hanya berujung luka.
Pernikahannya yang pertama. Mereka berpisah karena perselingkuhan. Pernikahan yang kedua, bercerai karena Rajasa tidak ingin Edelweis mengetahui pernikahan siri mereka.
Pernikahannya yang terakhir. Kembali terjadi karena Ryan tidak bisa melupakan Edelweis dan selalu mencintai wanita itu.
Edelweis...Aku tidak mampu menyaingi mu. Dan mungkin kau sendiri tidak pernah berpikir untuk berkompetisi denganku atau siapa pun.
Aku hanya mampu memiliki raga dua orang pria yang hatinya kau miliki seutuhnya.
Apa daya tarik mu? Kau wanita biasa? Yang kerap terluka dan berkubang dalam lara?
Aku menemukan cinta sejatiku. Tapi dia tetap memalingkan wajahnya dariku. Berlari pada wanita yang kerap aku sakiti hatinya. Ku benci tapi sekaligus tidak bisa ku ungguli....