Rajasa

Rajasa
Confused



Sesampainya mereka di Bandar Jakarta. Roy mengajak Edelweis berjalan-jalan ke pantai.


“Kau bisa berteriak sepuasnya. Kalau kau mau.” Sahutnya.


Edelweis melampiaskan semua kemarahan, kesedihan dan kekecewaannya.


“Aaagghhhhh...” Teriakannya menyerupai longlongan. Mengeluarkan semua kesedihannya.


Puas mengeluarkan semua emosinya. Mereka berjalan menuju Bandar Jakarta. Memesan makanan dan minuman.


“Mengapa aku harus mempertahankan rumah tangga yang menyerupai neraka ini?” Keluh Edelweis.


“Demi Malika dan bayi yang kau kandung. Jangan turuti emosimu.”


“Bercerai tidak membuat aku dan Rajasa melalaikan tanggung jawab sebagai orang tua.”


“Kebanyakan perceraian akan berdampak pada anak. Tidak akan sama dampaknya pada setiap orang. Sedangkan anak kalian membutuhkan kalian bersama untuk menjaga, merawat dan menyayangi mereka. Dalam hal ini aku setuju pada Rajasa. Jangan egois. Selama Rajasa masih menjalankan kewajiban dan tanggung jawabnya dengan baik. Jangan memperuncing masalah.”


“Dia mengkhianatiku. Hatiku sangat sakit.”


“Aku tahu. Tidak ada orang yang tidak sakit hati dikhianati. Tapi kalian sudah memiliki buah hati dan rumah tangga. Jangan hancurkan semua hanya karena ego dan emosi. Begitu kalian menikah. Seharusnya fokusnya bukan kalian berdua lagi melainkan anak dan rumah tangga kalian. Buatlah keadaan  menjadi senyaman mungkin sehingga kalian bisa menjadi keluarga yang utuh dan bahagia.”


“Mudah bagimu bicara.”


“Siapa bilang? Aku hampir putus asa terhadap Angela. Seandainya, kau  tahu bagaimana tidak mungkinnya hubungan kami berlangsung apalagi langgeng. Seperti menegakkan benang basah. Tapi sering sekali sesuatu itu tidak selalu sama dan bisa saja berubah. Dan ketika semuanya berubah. Maka keadaan ikut berubah. Kami bahagia bersama buah hati kami sampai hari ini. Kau dan Rajasa bisa melalui ini semua. Aku yakin itu. Be strong!”


Makanan dan minuman yang mereka pesan berdatangan satu per satu. Sebakul nasi putih hangat mengepul. Udang saos padang. Kepiting saus tiram. Cumi goreng mentega. Seekor ikan gurame bakar dengan sambal dan lalapan. Dua buah batok kelapa muda.


“Lebih baik kau makan dulu bagaimana?”


Edelweis menganggukkan kepalanya. Setelah menguras habis emosi negatifnya. Perutnya memang terasa lapar.


“Kau tahu? Aku seperti baru mengadakan perjalanan yang sangat jauh dan berliku.” Sahut Edelweis sambil menyendok nasi putih dari bakul ke piring makannya.


“Yeah! Aku tahu. Pasti rasanya sangat menyiksa dan melelahkan sekali. Apalagi kau seorang wanita. Didominasi emosi dan perasaan. Sangat sulit bagimu bertahan di saat emosi dan perasaanmu kacau balau.”


Edelweis menyendok udang dan menyobek daging ikan gurame bakar yang ada di hadapannya. Mencocolnya dengan sambal yang ditempatkan di wadah terpisah.


“Aku senang kau bisa memahami perasaanku. Mentolerir perbuatan Rajasa adalah hal yang sangat sulit buatku. Aku ingin berlari menjauhinya.”


Roy menuang nasi ke piringnya. Mengisinya dengan cumi, udang dan ikan. Wadah sambal miliknya dikosongkan dan dipindahkan semua ke dalam piringnya.


“Kau harus memikirkan Malika dan bayi di dalam kandunganmu. Mereka membutuhkan keluarga yang hangat dan bisa melindungi mereka. Seberat apa pun masalah kalian berdua. Jangan mengikuti ego yang akan membawa dampak pada anak-anak kalian sendiri.”


“Kau tahu logikaku berkata bahwa yang kau katakan benar tapi emosi dan perasaanku sangat sulit untuk bisa menerimanya. Benturan antara akal dan perasaan. Membuatku sangat lelah.”


“Mungkin itu yang namanya ujian hidup. Seringkali memaksa menjalankan sesuatu yang mungkin bertentangan dengan yang kita inginkan tetapi hal itu membawa kebaikan yang banyak untuk orang di sekitar kita dan mungkin diri kita sendiri.”


Air mata Edelweis kembali menuruni kedua belah pipinya.


“Aku tidak ingin menjalani ini semua. Seandainya aku bisa memilih dan memutuskan sesuai dengan dorongan hatiku.”


“Apakah dorongan hatimu memberikan jaminan bahwa setelah kau mengikuti emosi dan perasaanmu keadaan baik-baik saja? Mungkin kau merasakan ketenangan dan kenyamanan. Terbebas dari semuanya. Tapi bagaimana dengan Malika dan janin yang ada di dalam kandunganmu?”


Airmata Edelweis kembali semakin deras menuruni kedua belah pipinya. Edelweis meraih tissue yang disediakan di meja. Menggunakan dengan tangan kirinya untuk menghapus air mata dan menyedot ingusnya.


“Aku masih tidak percaya, Rajasa tega melakukan hal itu padaku!” Sahutnya marah. Emosinya kembali naik.


“Mungkin dia tidak bermaksud menyakitimu. Tapi dia juga memiliki batas dan kebutuhannya sendiri.”


“Kau tidak usah membela sohib brengsekmu. Somehow, aku merasa persahabatan kalian mengintimidasi dan memojokkanku.”


“It’s so hard and almost impossible!” Teriak Edelweis frustasi.


“Human didn’t born to be perfect. They are born to be process and learning from their whole life process. That’s  the fact. There is no one can avoid the process and put a side their  imperfectness. Sometimes, the perfection itself is   the imperfect also. There is   consequences for everything. Everything always have their bright and bad side.”


“I don’t get it. Please be real.”


“Aku ambil contoh. Seorang anak yang diberi kecerdasan yang sempurna. Menjadi jenius. Bisa melakukan semuanya dengan baik. Tetapi kesempurnaannya dalam hal tersebut menyebabkannya tidak bisa berbaur dengan kebanyakan orang. Apakah contohku bisa dimengerti? Sedangkan manusia selain makhluk individual adalah makhluk sosial juga. Sedangkan ada orang yang mungkin tidak cerdas tetapi bisa memahami orang lain dengan lebih baik justru karena keterbatasan yang dimilikinya. It’s like, do you want to be right or you want to have the relationship with others?”


“Kalau aku harus mengorbankan hati dan perasaanku agar bisa tetap bertahan dalam pernikahan ini. Kupikir, it’s to much. There is boundaries for everything. Right?”


“Yeah, of course. If both of you didn’t want to perform the marriage. Maybe it’s the boundaries. Or you don’t have any obligation to your children.”


“Unhealty and toxic relationship can make mental health problems.”


“Like I said everything always have their consequences. There always a price for everything.”


“I wish I don’t have any emotion or feelings. It’s so hard to understand mostly except if involved the emotion and feelings.”


“That’s why I said, don’t be impulsive. Mostly, when you have to decide the most important thing for your life. But if you can not put a side your emotion and feelings. Just be prepared for the consequences. Maybe, there is some regrets but maybe not. Who knows? Right? Be consistence for everything that you are decide.”


“Nice closing argument.” Sahut Edelweis menghapus sisa airmatanya.


“Pada akhirnya, aku berharap yang terbaik untuk kalian berdua. Pernikahan itu persis seperti langit. Kadang cerah. Kadang mendung. Kadang badai. Gak mungkin cerah terus. Gak mungkin mendung terus. Dan gak mungkin badai terus.”


“Yeah! Aku tahu maksudmu. Rajasa memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihannya membuat semua terasa menyenangkan dan menyamankan tapi kekurangannya membuat semua orang seperti mau mati.”


“Bukan semua orang tapi hanya kau.”


“Yeah! Tapi setidaknya aku bisa belajar dari hubunganmu dengan Angela.”


“Yeah! Good girl!”


“But  I can not promise anything.”


“Yeah! Everything that you will decide. Don’t feeling guilty. Anything. You have to believe for what you have decide and consistent.”


“Yeah!”


“You don’t have to be right. But you have dealing with your learning process. You will have your wisdom because of that.”


“Yeah!”


 


 


 


 


 


 


 


 


... ...