
Rajasa memijat keningnya. Tidurnya tidak nyenyak. Pikirannya mendadak penuh. Gugatan cerai Edelweis mengiritasi dirinya.
“Roy, temenin aku makan siang ya?”
“Tumben. Ada angin badai apa?”
“Kamu gak ada janji sama Angela atau anakmu kan?”
“Gak lah.”
“Janji dengan orang?”
“Gak ada. Kenapa sih?”
“Temenin aku makan siang.”
“Ok!”
Wajah Rajasa tampak kuyu dan lebih tirus. Mereka makan siang ke tempat yang dulu sering mereka kunjungi. Kesibukan kerja dan keluarga membuat mereka jarang menghabiskan waktu bersama. Walaupun mereka bekerja di kantor yang sama. Ruangan yang berdekatan.
“Ada apa sih? Tampangmu suntuk banget.”
“Bisa tolong aku gak? Kali ini aja.”
“Ada apa sih?”
“Istriku minta cerai. Aku memikirkan Malika dan bayi yang sedang dikandung Edelweis.”
“Kenapa istrimu minta cerai? Bertahan cuma karena anak aja?”
“Ya gak juga! Tapi salah satunya karena anak.”
“Ada apa sih? Kalian keliatan adem ayem aja. Kok tiba-tiba mau cerai?”
“Aku gak bisa cerita detail. Itu sama aja memercik air di muka sendiri.”
“Trus gimana caranya aku bisa bantu?”
“Bujuk aja Edelweis membatalkan gugatan cerainya. As simple as that. Gak perlu tahu permasalahannya kan? Cukup buka pikirannya supaya jangan egois. Pikirkan Malika dan bayi yang ada di dalam kandungannya. Thats all!”
“Hmm, ok. Akan ku coba.”
“Apa resepnya, kau dan Angela bisa kompak?”
“Angela sudah berubah. Aku tinggal ngikutin mau dia aja. Coba aja kau ikuti maunya Edelweis. Siapa tau berhasil.”
“Gak mungkin aku mengikuti maunya.”
“Jangan egois. Mana ada perempuan tahan sama lelaki egois?”
“Dia minta cerai. Masak diikutin?”
“Bukan gitu maksudku. Apa yang bikin dia minta cerai. Kemungkinan ada yang dia gak suka darimu. Coba ikuti kemauannya. Berubah sesuai keinginan dia.”
“Dia cemburu buta.”
“Susah kalau kayak gitu. Sukur Angela gak seperti itu. Baiklah! Aku akan coba bicara dengan dia.”
“Ok. Thanks.”
Mereka menikmati makanan yang mereka pesan sambil mengobrol ngalor ngidul.
“Bagaimana anakmu? Siapa namanya?”
“Arya. Lebih tua sedikit dari Malika. Sangat aktif. Aku dan Angela sempat berpikir kalau dia hiperaktif. Tapi memang anak seumur itu kinestetis. Energinya full charged.”
“Yeah! Kau tidak pernah kesulitan dengan Arya?”
Roy menggelengkan kepalanya, “Dia sangat aktif. Tapi aku dan Angela sudah memiliki jalan keluarnya. Memfasilitasi kebutuhan kinestetisnya.
“Seperti apa?”
“Les berenang dan bola. Membiarkannya bebas bermain dan bergerak. Tetap diawasi.”
“Sangat sulit membujuk Malika mengikuti kegiatan seperti anakmu. Dia hanya suka menempelku, ibunya dan pengasuhnya. Sekarang sedang berada di rumah ibu mertuaku. Bersama adik-adik Edelweis.”
“Karakter dan kenyamanan anak beda-beda. Kau yang tahu anakmu lebih nyaman seperti apa. Arya sangat menyukai kegiatan yang dia ikuti. Sangat enjoy. Tidak setiap hari. Hanya beberapa kali seminggu. Kami tidak mungkin memaksanya kalau dia tidak enjoy dan nyaman.”
“Yeah, nanti malah jadi rewel. Tempramental dan emosional.”
“Yeah. Psikisnya bisa terganggu. Tapi kalau dia happy dan gak ada beban. Ya tidak apa-apa kan?”
“Yeah. Kuncinya happy dan fun.”
“Kalian couple goals. Banyak yang menganggap kalian serasi. Tapi kenapa mesti seperti ini?”
“Aku tidak tahu beratnya menjalani pernikahan. Menghabiskan energi dan pikiran. Semuanya.”
“Mungkin memang kalian sebaiknya bercerai. Kalau masing-masing sudah saling terbebani.”
“Kami memiliki Malika. Edelweis juga tengah mengandung. Kupikir dia juga dipengaruhi faktor hormonal.”
“Harusnya kalian jangan buru-buru punya anak lagi. Aku dan Angela sengaja menunda punya anak lagi. It’s not just the right time. Arya masih sangat membutuhkan perhatian. Aku dan Angela juga membutuhkan waktu berdua.”
“Malika kan sudah mulai besar. Kalau ditunda. Khawatirnya menjadi manja. Karena terbiasa sendiri.”
“Angela belum siap untuk hamil dan mengurus bayi lagi. Apalagi Arya masih sangat menyita perhatiannya.”
“Yeah. Semuanya berubah setelah kelahiran anak.”
“Tapi kalau tidak memiliki anak. Mana enak? Tidak punya keturunan. Tidak ada hiburan. Kau ingin mempertahankan rumah tanggamu dengan Edelweis karena anak. Kalau kalian tidak memiliki anak. Mungkin kalian sudah berpisah begitu saja.”
“Yeah! Kau benar. Anak itu yang mengikat pernikahan. Seandainya tidak ada Malika dan bayi yang dikandung Edelweis. Mungkin aku akan menuruti keinginannya untuk bercerai. Tetapi aku tidak bisa melakukan hal itu. Mereka semua membutuhkanku. Edelweis emosional. Tidak berpikir panjang. Aku minta tolong padamu. Bantulah aku dan Edelweis.”
“Baiklah! Akan kucoba. Semoga dia mau mendengarkanku.”
“Dia sangat menghormatimu. Aku yakin kau bisa menyakinkannya.”
“Aku tidak bisa menjanjikan apa pun. Tapi akan kucoba.”
“Thanks, Roy. You are such a good friend.”
“Mengapa kau tidak meminta tolong Ryan? Sepertinya mereka berdua akrab.”
“Memang. Sangking akrabnya. Ryan menunggu istriku menjadi janda .”
“Ah! Yang benar! Aku tidak percaya Ryan seperti itu.”
“Kau tidak tahu saja dia seperti apa. Serigala berbulu domba.”
“Ryan menyukai Edelweis?”
“Kupikir dia sengaja mengalah padaku. Tapi saat aku lengah. Dia mau merebut Edelweis dariku. Tidak fair kan?”
“Hmm, ya...Tidak punya pendirian.”
“Mungkinkah dia menyesal tidak berusaha memperjuangkan cintanya?”
“Mungkin saja. Bisa jadi dia menyesal. Melihat kalian berdua bahagia dan harmonis. Kalian berdua couple goals.”
“Kau sahabat yang baik. Sejati. Aku sangat mempercayaimu. Kau bisa saja menikungku sebelum aku menikah dengan Edelweis.”
“Edelweis mencintaimu. Aku tidak ingin memaksanya membalas perasaanku dengan terpaksa. Lagi pula, Angela tidak mau melepaskanku. Dia juga sudah berubah. Aku tidak melihat mengapa aku tidak memberikannya kesempatan lagi? Pernikahan dan rumah tangga kami setelah rujuk sangat bahagia. Berbeda dengan dulu sebelum dia berubah.”
“Yeah! Kau sangat beruntung memiliki Angela. Aku berharap Edelweis seperti Angela.”
“Mungkin kau menyakitinya terlalu dalam. Yang terjadi padaku dan Angela. Dia yang menyakitiku bukan sebaliknya.”
“Yeah! Kau benar! Aku memang bodoh! Tapi semua sudah terlanjur. Aku tidak bisa mengubah yang sudah terjadi. Tetapi aku bisa mengubah yang belum terjadi.”
“Aku akan coba berbicara dengannya. Mendamaikan kalian berdua. Tenanglah!”
“I owe you!”
“Don’t mention it!”
Sesudah selesai makan siang dengan Rajasa. Roy memikirkan cara untuk mengajak Edelweis berbicara. Sesampainya di ruangannya dia menelpon Edelweis.
“Halo!”
“Hai! Ada apa Roy?”
“Tidak mungkin lupa. Ada apa Roy?”
“Bisakah kita berbicara? Ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu.”
“Tanyakan saja!”
“Aku sedang di kantor. Sebentar lagi aku akan kembali tenggelam ke pekerjaanku. Kita bertemu di Bandar Jakarta. Bagaimana?”
“Baiklah. Kapan?”
“Lusa hari sabtu. Kita bisa seharian mengobrol. Bagaimana?”
“Baiklah!”
“Aku akan menjemputmu lusa.”
“Ok!”
“Thanks!”
Roy berjalan memasuki rumah Edelweis dengan pakaian santai. Kemeja Hawaii berwarna blue ocean campur navy dengan sedikit nuansa hitam dan putih. Topi rimba warna putih tulang. Sepatu kets berwarna senada dengan topinya.
“Kau sudah siap?” Sahutnya tertawa lebar melihat Edelweis yang ogah-ogahan duduk di teras.
“Belum.”
“Kita berangkat sekarang mumpung masih pagi. Mana Malika?”
“Di rumah ibuku.”
“Kau kelihatan lesu dan tidak bersemangat.”
“Yeah!”
“Ayo! Siap-siap sekarang.”
“Baiklah!” Edelweis beringsut dari tempat duduknya mengganti pakaiannya dengan pakaian ke pantai. Topi pantai lebar dengan hiasan pita dan bunga. Berwarna broken white. Hiasan bunga berwarna old pink. Dengan pita berwarna kopi susu.
Bajunya panjang menutupi betis. Mengenakan cardigan warna putih tulang untuk menutupi pakaian terusannya yang tanpa lengan. Memilih motif bunga sakura berwarna cheery blossoms. Dengan kain dasar berwarna broken white.
“Wow!” Sahut Roy berusaha menyemangati Edelweis.
“Seriusan kita mau ke Bandar Jakarta?”
“Iya. Kau kan tahu tempat favoriteku.”
“Ada apa sih? Aku sebenarnya lagi malas kemana-mana.”
“Suntuk aja. Angela sedang sibuk dengan Arya. Tidak bisa kuajak kemana-mana. Karena Arya sedang ingin di rumah. Rajasa juga sedang ada urusan. Ryan bersama keluarga barunya. Maklum lah pengantin baru.”
Edelweis mengganggukkan kepalanya.
“Gak apa-apa kan aku mengajakmu jalan-jalan. Kita juga udah lama loh, gak pernah jalan bareng.”
“Iya sih. Tapi aku benar-benar tidak ada energi sama sekali.” Airmata Edelweis mengalir dari kedua belah pipinya.
“Kau kenapa?”
Edelweis menggelengkan kepalanya.
“Sejak kapan kau tidak mempercayaiku?”
“Bukan begitu. Tapi masalahnya benar-benar pribadi sekali.”
“Sejak kapan masalah itu bersifat umum? Memang pribadi. Aku tidak ingin memaksamu. Tapi setidaknya kau harus tahu batas masalahmu. Jangan sampai kau dikendalikan emosi dan membuat keputusan yang bodoh. Yang akan kau sesali seumur hidupmu.”
“Sefatal itu?”
“Sefatal itu jika kau tidak mau menggunakan logikamu dan selalu menuruti perasaanmu.”
“Percayakah kau jika kukatakan bahwa Rajasa tidak setia?”
Roy terdiam dan mulai mengerti permasalahan yang menimpa kedua sahabatnya tersebut.
“Everything happened for a reason. Kau harus menceritakan semuanya. Tidak hanya akibatnya saja. It’s not fair.”
“Aku terlalu sibuk dengan Malika? Mengabaikan kebutuhannya? Kami berdua tidak bisa mengatasi Malika? Dia membicarakan masalah hak sedangkan aku berjuang sendirian. Malika tidak mau bersama ayahnya. Ryan yang membantuku dan Rajasa mengatasi Malika.”
“Kau tidak membalas perbuatan Rajasa kan?”
“Tentu saja tidak! Walaupun aku ingin sekali membalaskan sakit hatiku. Walaupun dia bertindak sinting bukan berarti aku ikut-ikutan gila kan?”
“Ketidaksetiaan lelaki berbeda dengan wanita. Aku bukan membela Rajasa. Walaupun dia melakukan kesalahan. Tapi dia masih tahu dengan jelas mana tanggung jawabnya dan bukan. Selama kau tidak mengikuti perasaanmu. Rumah tangga kalian akan baik-baik saja.”
“Apa maksudmu baik-baik saja? Dia berhak melakukan hal itu kepadaku?”
“Secara aturan agama iya. Tidak ada gunanya kau mengingkari. Jika dia menikahi wanita itu maka itu haknya. Kau tahu itu.”
“Tapi secara perasaan?”
“Secara perasaan dia tidak memiliki empati. Secara logika, dia tidak memiliki jalan keluar lain. Terpojok.”
“Kalian sesama lelaki. Jelas saja. Kau membelanya. Kalian akan saling melindungi satu sama lain.”
“Kau harus berpikir jauh ke depan. Malika dan anak yang kau kandung membutuhkan ayahnya. Kalian tidak akan bisa terlindungi dengan baik. Jika Rajasa tidak menjalankan kewajibannya dengan baik terhadap kalian semua.”
“Aku tidak bisa berpikir. Perasaanku sangat sakit sekali. Emosiku sangat labil. Aku ingin menikamnya dan memakannya hidup-hidup.”
“Semua orang akan sakit hati jika pasangan mereka tidak setia. Tetapi semua keputusan ada konsekuensinya. Kau harus memikirkan dan mempertimbangkannya masak-masak.”
“Mudah bagimu berbicara.”
“Kata siapa? Kau kan tahu bagaimana aku dan Angela. Tapi setelah dia berubah? Semua berbalik seratus delapan puluh derajat. Jika aku tidak memberikannya kesempatan. Tidak akan ada Arya dan kebahagiaan yang sedang kami rasakan saat ini. Semua ada naik turunnya. Kau harus bersabar. Aku tahu ini tidak mudah bagimu. Tapi jangan gunakan perasaanmu. Berpikir dan menimbanglah dengan logikamu. Apa yang terjadi seandainya kalian berdua bercerai?”
“Aku tidak ingin memikirkan hal itu.”
“Harus kau pikirkan. Apalagi Rajasa juga masih ingin memperbaiki kesalahannya dan mempertahankan rumah tangganya.”
“Aku tidak dapat berpikir saat ini. Emosi dan perasaanku kacau.”
“Jangan berpikir. Lepaskan saja emosimu. Jangan memutuskan dalam keadaan marah dan emosi. Bagaimana? Kau mau kan berjanji padaku?”
Edelweis menganggukkan kepalanya dengan lemah.
... ...