
Rajasa menatap Ryan dengan gusar. Wajahnya terlihat sedih juga kacau.
“Dimana Edelweis?”
“Aku tidak bisa mengatakannya. Jangan memaksaku. Jika dia tidak mempercayaiku. Tidak satu pun bisa menemukannya di muka bumi. Kau tahu itu!”
“Aku tidak akan membocorkannya. Aku berjanji.”
“Aku tidak bisa mempertaruhkan kepercayaan Edelweis padaku. Kau terima saja keputusannya. Dia sudah memikirkan semuanya dengan baik. Tidak ada yang terluput.”
“Dia sudah berjanji tidak akan gegabah. Melakukan kebodohan. Dia melanggar janjinya.”
“Kau yang memaksanya. Biarkan dia sendiri. Tidak akan ada sesuatu apa pun yang akan menimpanya. Aku berjanji. Edelweis, Malika serta bayi yang dikandungnya dalam keadaan baik-baik saja. Dia membutuhkan ketenangan. Membutuhkan ruang untuk menyembuhkan lukanya.”
“Aku sudah mengatakan semua padanya. Tidak ada yang tersisa.”
“Belajarlah untuk menghormati keputusannya. Menerima konsekuensi dari semua perbuatanmu. Dia menitipkanmu padaku. Jangan mempersulitku.”
Rajasa memandang wajah Ryan dengan gamang. Mengusap wajahnya. Menyisir rambutnya dengan jari-jari tangannya dengan gusar.
“Aku ingin semua drama pernikahan kami berakhir. Memulai kehidupan yang mungkin memang sejak awal sudah kami canangkan seperti itu.”
“Edelweis meninggalkan ini untukmu.” Ujar Ryan mengangsurkan sebuah surat untuknya.
Dearest Rajasa,
Aku ingin kau memahami semua dari perspektiveku. Aku melakukan semua untuk kebaikan kita berdua. Untuk Malika serta bayi yang kukandung. Saat aku menyadari betapa rasa cintaku padamu melebihi semesta.
Aku memberikanmu kebebasan. Karena aku mencintaimu. Tidak ingin mengukungmu dalam keterpaksaan. Ketidakbahagiaan.
Kau mengkhianatiku dua kali. Walaupun aku memahami kau sudah tidak melakukannya lagi. Tapi aku perlu bukti bukan janji.
Kematian serta kehamilan Kinanti membuat lukaku kembali menganga. Aku tidak ingin menambah deretan Nurmala, Kinanti dan yang lainnya...
Aku tidak bisa mengingkari bahwa diriku tersakiti kembali. Aku memutuskan memberikan apa yang kau butuhkan. Kebebasan.
Jika kau mencintai seseorang maka kau harus melepaskannya. Jika dia kembali maka dia memang diperuntukkan untukmu sejak dari pertama.
Tetapi jika dia tidak kembali. Maka kau tidak pernah memilikinya dari sejak awal.
Be good, be happy...
Butir bening mengalir dari kedua sudut matanya.
“Menangislah. Its okay.” Ujar Ryan.
“Dia sudah berjanji padaku. Aku tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi. Apa yang bisa kulakukan? Mengapa dia sangat tidak adil padaku!”
“Dia sangat tersakiti. Kau tahu, dia mengkonsumsi pil penenang dari dokternya untuk menerima semua kenyataan yang kau sodorkan padanya. Kau harusnya bahagia. Dia melepaskanmu. Bukan memaksamu berada di sisinya. Mengerti apa yang kau butuhkan.”
Rajasa meninju wajah Ryan.
“Apa maksudmu yang kubutuhkan?”
“Apakah ada yang salah dalam suratnya?”
“Dia menginginkan bukti. Aku akan memberikan apa yang dia inginkan.”
“Apa maksudmu? Kau mau memanipulasi dirimu sendiri?”
“Manipulasi apa? Waktu akan membuktikan.”
“Kau jangan konyol!”
“Perjalanan cintaku dengan Edelweis berliku. Apa kau percaya jika aku mengatakan bahwa aku kehilangan wanita satu-satunya yang sangat aku cintai?”
“Roy memberikanmu cuti. Untuk memulihkan dirimu.”
“Aku tidak ingin cuti.”
“Terserah padamu. Kau bisa mengambil cutimu kapan saja kau butuhkan.”
Rajasa menenggelamkan dirinya dalam pekerjaannya. Seperti mengubur kesedihannya.
Menyesap kopi yang dibuat Nurmala untuknya. Dia memutuskan melanjutkan pekerjaannya di kantornya.
Rindu yang mengigit. Sepi yang menyapa. Membuatnya merasa merana juga hampa.
“Kau masih di kantor?” Tegur Ryan pada Rajasa, “aku ingin menjemput istriku.”
“Silahkan saja kalau kalian mau pulang. Aku masih ingin bekerja.” Ujar Rajasa tetap berkutat di depan lap topnya.
“Jaga kesehatanmu. Tidak seharusnya kau menyiksa dirimu seperti ini.”
“Aku tidak menyiksa diriku. Kau tidak usah ikut campur urusanku. Kau tidak tahu apa pun. Ini cara aku bertahan hidup.”
“Aku bukan bermaksud menyembunyikan Edelweis. Dia sangat terluka. Aku tidak ingin membuatnya semakin menderita. Dia berusaha menerimanya tetapi dia hanya wanita biasa. Hati serta jiwanya rapuh.”
“Bagaimana keadaannya?” Rajasa menghentikan pekerjaannya.
“Baik. Dia juga sedang mengobati luka hatinya. Kalian berdua sama-sama sedang berusaha menyembuhkan diri kalian berdua.”
“Aku senang mendengarnya dalam keadaan baik. Bagaimana dengan Malika dan adiknya?”
“Dia akan melahirkan. Waktunya sudah semakin dekat. Ada Wina bersamanya.”
“Yeah. Apakah dia akan mengirimkan foto bayi kami?”
“Dia akan mengirimiku foto-foto tersebut. Mungkin juga video kelahirannya. Aku akan mengirimkannya padamu nanti.”
Rajasa melihat wajah Ryan dengan pandangan berterima kasih.
“Terima kasih. Aku mulai berpikir belakangan ini. Semenjak Edelweis meninggalkanku. Kalian benar. Aku memang brengsek. Aku tidak mau mengerti keadaan dirinya. Justru menyakitinya dengan menodai pernikahan kami.”
“Aku senang kau sudah mulai bisa mengerti serta menerima semua ini.”
“Kehilangan mengajarkan banyak hal padaku. Membuatku berpikir bahwa kita baru mengetahui bahwa sesuatu itu bermakna atau berharga setelah mereka tiada.”
“Yeah.” Ryan menepuk bahu Rajasa dengan hangat, “jika kalian ditakdirkan bersama. Maka kalian akan bersama.”
Rajasa menganggukkan kepalanya.
“Nikmati kebebasanmu. Jika kau menemukan wanita lain yang bisa menggantikan Edelweis. Maka hal itu juga akan mengobatimu.”
“Aku tidak tahu mengenainya. Jika dia bisa menemukan pengganti diriku. Mungkin memang aku tidak pernah jadi cinta sejatinya. Sejauh ini, aku tidak merasa bahwa ada yang bisa menggantikan Edelweis di hatiku. Time will tell...”
“Yeah, time will tell...”
“Kita pulang sekarang?” Tanya Ryan pada istrinya.
Nurmala menganggukkan kepalanya. Berpamitan pada Rajasa. Meninggalkan kantornya bersama suaminya.
Sesampainya di rumah. Mereka berdua membersihkan diri serta menyibukkan diri dengan anak-anak mereka.
Setelah seharian bekerja. Meninggalkan anak-anak mereka bersama pengurus rumah serta pengasuh anak. Membuat mereka merindukan buah hati mereka.
Ryan menyayangi anak-anak Nurmala dari pernikahannya dengan mantan suami pertamanya dan Rajasa seperti anaknya sendiri.
Bercengkerama. Mengobrol serta membacakan cerita sebelum tidur. Menggendong serta memeluk bayinya bersama Nurmala.
Nurmala juga bergabung bersama suami serta ketiga buah hatinya. Seharian bekerja. Kembali ke rumah. Bercengkerama dengan anak-anak juga bayi mereka. Selain merupakan obat rindu juga moodboster mereka berdua.
Bayi mereka, Rayan tidur bersama pengasuh anak di kamar bayi. Amelia tidur bersama Amanda. Ara tidur bersama pengurus rumah.
Selesai menidurkan ketiga anak mereka. Keduanya kembali ke kamar. Waktunya beristirahat.
Ryan merengkuh Nurmala dalam pelukannya. Nurmala menyandarkan kepalanya pada dada bidang suaminya.
Keduanya merasa lelah dengan aktifitas rutin mereka. Tidak butuh waktu lama untuk terlelap. Mengayuh ke alam mimpi.
Kehidupan rumah tangga mereka berjalan dengan harmonis. Tidak ada lagi bayangan Edelweis di dalam pernikahan mereka.
Demikian juga mantan suami Nurmala serta Rajasa sudah merupakan bagian masa lalunya. Nurmala sendiri sangat beruntung bahwa Ryan bisa menerima masa lalunya serta tidak pernah membedakan anak-anak yang berasal dari pernikahan Nurmala terdahulu.
Amalia, Amanda serta Rayan merupakan permata-permata dalam pernikahan mereka. Pernikahan mereka ibarat perhiasan emas yang dihiasi permata-permata. Begitu indah.
Jika Ryan diliputi kebahagiaan rumah tangga. Rajasa sebaliknya. Pernikahannya kembali disapa prahara.
Di tengah keputusasaan serta kesedihannya. Hatinya berbisik lirih, "Kau ada dimana?"