Rajasa

Rajasa
Adaptasi



Semenjak kelahiran Malika. Rajasa menyesuaikan diri dengan keadaan yang ada.


Tidur sendirian di kamar mereka berdua sedangkan Edelweis bersama Malika di kamarnya.


Memiliki dunia masing-masing. Rajasa dengan pekerjaan dan me timenya. Sedangkan Edelweis dengan Malika.


Mereka seperti dua orang yang berada dalam satu rumah tapi memiliki kehidupan masing-masing yang terpisah.


Malika sendiri sangat lengket dengan Edelweis. Tidak bisa berpisah lama dari ibunya. Dia akan segera merengek dan menangis dengan kencang jika tidak mencium bau dan atau merasakan kehadiran ibunya. Bau yang sangat dikenalinya dengan baik.


Rajasa dan asisten rumah tangga mereka tidak bisa banyak membantu Edelweis dalam mengurus Malika. 


Edelweis sendiri sudah tidak mempedulikan mengenai kesehariannya. Semua waktunya hanya untuk Malika.


"Jika kau tidak bisa mengaturnya maka kehidupan pernikahan kita juga akan ikut berantakan." Rajasa mencoba menasehati isterinya.


"Kau jangan egois! Malika membutuhkan aku."


"Aku tahu! Tapi aku juga membutuhkanmu. Malika sendiri tidak mau kupegang terlalu lama. Asisten rumah tangga kita juga ditolaknya. Lihat keadaanmu. Kau tidak memiliki kehidupan lain selain Malika. Ada aku, pekerjaanmu sebagai sekretaris, kehidupan sosialmu dan me timemu selain tentu saja, Malika sendiri."


Edelweis menangis histeris, "Jangan mendesakku. Membuatku bingung. Prioritasku adalah Malika."


"Sangat sulit berbicara denganmu. Kau harus mencoba mengaturnya."


"Aku tidak bisa! Kau lihat sendiri bagaimana dia. Dia tidak mau apa pun selain aku, asi dan payudaraku. Dia baru bisa disapih setelah dua tahun."


"Apa maksudmu dua tahun? Kau akan seperti ini selama dua tahun?" Keluh Rajasa, " Kau tidak tahu apa yang aku alami setelah kau melahirkan. Kau hanya memikirkan Malika. Tidak ada aku atau apa pun di dalam pikiranmu. Yang egois itu kau!"


"Kenapa yang egois jadi aku?"


"Kau itu sekretaris biasa mengatur apa pun. Masak mengatur anakmu sendiri tidak bisa? Bilang saja kalau kau sudah tidak cinta padaku. Kau tidak ingin membagi hidupmu denganku!"


"Kau jangan keterlaluan!" Edelweis naik pitam mendengar perkataan Rajasa.


"Aku berusaha mengerti dan menerima kondisimu setelah melahirkan tapi tidak bisa terus-terusan begini."


"Coba saja kau berikan Malika susu formula."


"Bagaimana bisa aku memberikannya formula sedangkan dia tidak mau kupegang?"


"Kau memegang dia saja tidak bisa. Kau menyalahkanku untuk hal lainnya. Kau hanya harus bersabar sebagaimana aku juga bersabar kehilangan semuanya selama rentang waktu tersebut. Lakukan untukku dan Malika. Jika kau mau mengalahkan egomu kau juga bisa melakukan hal yang sama denganku."


"Mengapa kau jadi kacau setelah melahirkan?"


"Mungkin seperti seorang ibu yang anaknya menderita penyakit tertentu atau lumpuh sehingga ibunya harus merawatnya dua puluh empat jam."


"Maksudmu, Malika memang benar-benar membutuhkanmu saat ini?"


"Ya." Air mata Edelweis mengalir.


"Jangan menangis."


"Sepertinya aku mengalami depresi. Tapi tidak ada yang dapat kulakukan."


"Kupikir kau butuh me time."


"Aku tidak punya tenaga dan energi selain mengurus Malika. Me timeku adalah waktu tidurku."


"Yeah! Kau membutuhkan tidur. Keadaanmu sangat kacau. Jam tidur Malika terbalik. Dia menyusu dan mengempeng padamu setiap waktu."


"Pertumbuhan Malika sangat baik. Dia tidak kurang gizi. Sedikit overweight tetapi tidak terlalu overweight. Perkembangan pertumbuhannya juga normal. Aku mengikuti setiap fase pertumbuhannya dengan baik."


"Sepertinya kau memang hanya bisa mengurus Malika saat ini."


"Ya, aku tidak punya pilihan lain. Aku minta kau mendukung aku. Jika kau tidak bisa membantu bukan tidak mau. Beri aku dukungan."


Rajasa meraih tubuh isterinya. Memeluknya dan mengecup ubun-ubunnya.


Edelweis menangis di pelukan suaminya, "Aku juga merindukan saat-saat kita bersama. Menghabiskan waktu berdua. Pekerjaanku. Me time dan kehidupan sosialku. Tapi saat ini, semua kehidupan dan energiku hanyalah untuk Malika. Tidak selain itu termasuk kau. Maafkan aku."


Perubahan yang terjadi pada mereka setelah kelahiran putri mereka tentu tidak mudah dijalani keduanya.


Mereka bisa menjalankan peran yang baru dengan segala kurang lebihnya.


Tetapi romantisme mereka sebagai pasangan menguap tanpa sisa.


Rajasa sibuk bekerja sedangkan Edelweis sibuk mengurusi Malika. Rajasa membutuhkan refreshing keluar rumah sedangkan Edelweis membutuhkan tidur sebagai refreshing yang bisa menyegarkannya kembali.


Belanja bulanan menjadi tugas baru Rajasa. Biasanya mereka melakukan berdua tetapi karena Malika sangat membutuhkan perhatian Edelweis. Rajasa melakukannya seorang diri.


Berbelanja membuatnya lebih fresh hanya saja daftar belanjaan yang dititipkan Edelweis sangat banyak.


Rajasa memasuki hypermarket yang menjadi andalannya dan Edelweis untuk berbelanja. Dia mengeluarkan list dari tas selempangnya.


Pampers ada di list pertama. Dia berjalan ke tempat pampers. Suara yang sangat dikenalnya menyapanya.


"Pak!"


Rajasa menengok ke arah suara,"Nurmala?"


"Kita ketemu lagi." Jawabnya dengan senyum lebar.


"Kau bersama dengan anak dan tetanggamu?"


"Saya sendirian."


"Sedang apa kau disini?"


"Mau berbelanja pampers. Dapat voucher. Lumayan buat nambah persediaan pampers anak saya. Bapak sendiri sedang apa?"


"Belanja bulanan. Ini list dari isteri saya."


"Biar saya bantu pak."


"Gak usah, saya bisa sendiri."


"Listnya banyak banget. Mumpung ada saya, biarin aja saya yang masukin barang-barangnya ke troli buat bapak."


"Hmm, boleh juga. Kalau gak merepotkan."


"Gak kok, pak! Tenang aja! Mana listnya?"


Rajasa menyerahkan list belanjaannya kepada sekretaris barunya.


Pampers, body lotion bayi, cologne bayi, sabun cair bayi, sabun batang bayi, minyak telon, hair lotion, bedak bayi dan  baby oil.  Satu troli. Dengan gesit sekretarisnya mengambil semua belanjaan dari rak dan memindahkannya ke troli. Minyak sayur, minyak zaitun, minyak wijen, minyak jagung, minyak biji matahari. Butter, margarin, minyak samin. Tepung terigu, sagu, jagung, gula, garam, penyedap, gula merah, gula batu, aneka pasta, saus sambal, saus tomat, saus tiram, kecap, kecap asin, saus keju, mayonaise. Satu troli.


Produk olahan. Nugget, sosis, beef burger, patties, bakso, dimsum, gyoza, kentang, kornet, sarden, buah-buahan kaleng, makanan kaleng. Satu troli.


Mie instant, mie kering, bihun, bihun instant, aneka cemilan manis dan asin. Aneka keripik dan kacang.Aneka roti tawar dan manis. Satu troli.


Peralatan membersihkan rumah dan mobil. Satu troli.


Aneka buah, sayuran, daging dan sea food segar. Satu troli.


"Semuanya lima troli, pak."


"Ok. Terima kasih ya."


"Saya bantu pak bawain ke mobil."


"Gak usah. Biasanya saya minta tolong masnya."


"Gak apa-apa, saya bantu dan sisanya minta bantuan masnya. Karena banyak banget belanjaannya."


"Kamu bawa belanjaan kamu aja sendiri."


"Gak apa-apa, pak." Sekretarisnya berkeras.


Rajasa dibantu sekretaris dan tiga staff hipermarket yang membantunya membawa troli-troli tersebut. Masing-masing membawa satu troli.


Sesampai di mobil. Setelah semua barang-barang dimasukkan ke dalam trolinya. Rajasa memberikan tips pada mereka semua. Giliran Nurmala, menolak.


"Tidak usah,pak."


"Gak apa-apa, ini buat kamu."


"Gak usah, pak! Bener!" Nurmala membalikkan badannya bermaksud berlalu dari hadapan Rajasa.


"Ya udah aku anter kamu pulang."


"Gak usah,pak!"


"Ayolah!" Rajasa menarik tangan Nurmala.