Rajasa

Rajasa
Pasca Partus



Kehidupan mereka berubah setelah kelahiran Malika. Bayi yang mereka nantikan menjadi pemisah hubungan mereka berdua.


Keadaan Edelweis sangat kacau dan berubah seratus delapan puluh derajat. Hidupnya hanya seputar Malika.


Mereka sudah jarang mengobrol, bercanda apalagi bercinta.


Rajasa berangkat bekerja. Edelweis masih lelap tertidur. Setelah sholat subuh. Edelweis  langsung kembali tidur. Mencuri waktu. Karena jam tidur dan menyusu Malika sangat tidak beraturan.


Ketika Rajasa pulang. Edelweis juga tengah tertidur. Terbangun tengah malam sampai dini hari menjelang subuh. Tertidur sesudah subuh. Memandikan Malika jam delapan pagi dan menjemurnya. Kemudian menyusui dan Malika akan tertidur setelahnya sampai Edelweis mencuri waktu untuk sholat zuhur dan makan. Kemudian menemani dan menyusui kembali.


Edelweis seperti tinggal di dunianya sendiri bersama Malika. Rajasa sendiri tidak ingin merasa bersaing dengan Malika.


Memahami sepenuhnya bahwa Malika sangat membutuhkan ibunya. Hubungan mereka saat Edelweis mengandung Malika, tergantung dengannya melalui tali pusar. Sepertinya berlanjut tetapi kali ini melalui kedua payudara Edelweis yang menggantikan fungsi tali pusar.


Rajasa merasa bosan seharian berada di rumah pada saat weekendnya. Edelweis sibuk dengan Malika setiap detik. Mengabaikan dirinya.


Semua keperluannya sudah disediakan dan disiapkan asistent rumah tangga mereka. Tetapi tetap saja terasa sangat membosankan.


"Kita malam mingguan, yuk, sayang."


"Aku gak bisa ninggalin Malika."


"Kita bawa aja Malika jalan."


"Memangnya Malika betah jalan keluar?"


"Memangnya dia tidak suka keluar rumah."


"Aku tidak tahu kalau usianya sudah lebih besar. Tapi kalau sekarang Malika sangat nyaman di rumah. Surganya adalah menyusui dan ngempeng nenenku."


"Kau sudah tidak pernah meluangkan waktu lagi buat aku. Apalagi memperhatikanku?"


"Aku harus bagaimana? Untuk sholat, makan dan mandi saja aku kerepotan. Harus mencuri waktu apalagi melakukan selain itu."


"Tapi aku jadi bosan di rumah."


"Ya sudah kau pergi saja dengan teman-temanmu. Aku lebih nyaman di rumah menemani Malika."


"Baiklah, aku akan ajak Roy pergi bersamaku."


"Ide yang bagus."


Rajasa menelpon Roy ternyata dia menemani Angela dan batita mereka berjalan-jalan.


"Roy, tidak bisa menemaniku. Menemani Angela dan bayi mereka jalan-jalan."


"Kau bergabung saja bersama mereka."


"Tidak enak, ah! Aku jalan sendirian aja."


"Ya sudah."


"Coba kau belajar dengan Angela bagaimana mengatur bayi?"


"Aku rasa tidak bisa disamakan. Aku sudah mencoba mengatur tidur, makan dan formula untuk Malika, gagal. Malika sepertinya sangat nyaman jika aku mengikuti semua kemauannya."


"Tentu saja nyaman. Tapi aku juga membutuhkanmu. Aku ingin kau tetap bekerja sebagai sekretarisku, mengurusiku dan Malika. Menjalankan kewajibanmu sebagai isteri."


"Aku tidak bisa melakukan apa pun selain mengurus Malika. Maafkan aku!"


"Yeah! Aku mengerti. Dia selalu menangis kalau dipegang selainmu bahkan aku ayahnya sendiri. Tidak mau kugendong lama-lama. Selalu ingin menempel bersamamu."


"Payudaraku seperti tali pusar untuknya. Bersabarlah demi anakmu."


"Yeah! Baiklah! Aku mau refreshing ya? Bosan di rumah. Ingin cari suasana baru."


"Baiklah! Maafkan aku tidak bisa menemanimu."


"Tidak apa-apa! Aku justru kasihan melihatmu tidak memiliki kegiatan lain selain menyusui anak kita. Memang kau tidak bosan?"


"Aku tidak sempat berpikir bosan. Yang ada di dalam pikiranku adalah bagaimana agar Malika nyaman."


"Baiklah!" Aku pergi dulu ya?" Rajasa mengecup kening isterinya. Dia juga tidak betah berdekatan dengan Edelweis. Semenjak melahirkan, sering tercium bau amis ASI dan keringat dari tubuh isterinya.


"Kau tidak makan dulu?" Tanya Edelweis.


"Nanti aja aku makan di luar. Aku mau nonton. Sepertinya ada film bagus."


"Baiklah! Selamat bersenang-senang."


"Maafkan aku ya, sayang. Bukan tidak mau mengajak kalian berdua. Tapi kalian sendiri yang lebih nyaman di rumah."


"Iya, tidak apa-apa."


"Terima kasih, sayang! Kau sangat pengertian!" Rajasa memberikan tanda kiss bye pada isteri dan bayinya.


"So, do we!"


Rajasa membuka pintu kaca mobilnya, "Kau mau kubawakan apa?"


"Eclair, risoles isi ragout dan lemper ayam."


"Ok! Aku pergi dulu ya, sayang?" Rajasa kembali melempar kiss bye pada anak dan isterinya.


Rajasa mengendarai mobilnya dengan santai. Menyetel musik kesukaan Edelweis. Mengobati rasa rindunya pada isterinya yang mulai berubah setelah melahirkan anak mereka.


Dirinya seperti baru dibebaskan dari lubang sempit dan pengap. Jika bisa diibaratkan. Bekerja dari Senin dan Jumat sampai larut malam. Membuatnya ingin merefreshing dirinya yang kerap dilanda stress karena tekanan pekerjaan.


Memilih mall kesukaannya dengan Edelweis. Memudahkannya juga membeli makanan kesukaan Edelweis. Ditambah mall tersebut memang yang paling nyaman untuk menghabiskan weekend dan refreshing.


Rajasa berjalan menuju bioskop membeli satu buah tiket untuk dirinya sendiri. Kemudian menuju tempat makan favoritenya dan Edelweis. 


Tempat makannya lesehan. Sajian aneka sea food dan sayuran segar.


Saat berjalan menuju ke tempat makan tersebut. Melihat seorang wanita susah payah membawa belanjaannya sambil menggendong bayi. Perempuan tersebut bersama seorang anak perempuan berusia sekitar empat belas sampai lima belas tahun. Membantu membawakan belanjaannya. Masing-masing mereka membawa satu troli belanjaan.


"Biar saya bantu." Tawar Rajasa sopan tidak tega melihat kerepotan dua wanita tersebut.


Wanita tersebut membalikkan badannya.


"Nurmala?" Sapa Rajasa kaget.


"Bapak?"


"Saya liat kalian berdua kerepotan. Biar saya bantu membawakan trolinya. Jadi kamu bisa menggendong bayimu dengan lebih baik."


"Tidak usah pak. Saya bisa kok sendiri."


"Gak apa-apa! Aku bantu aja!" Rajasa mengambil alih troli yang dibawa Nurmala, sekretaris barunya.


Troli yang dibawa oleh anak perempuan abg tersebut berisi pampers, susu, minyak sayur, beras, gula, mentega, cemilan, mie instant, buah, sayuran dan daging olahan. Bakso, nugget, sosis.


Troli yang dibawa Nurmala berisi aneka sabun, sabun mandi, cuci tangan, cuci piring, detergent, pewangi,karbol dan pemutih pakaian.  Keperluan mandi bayi, shampoo, sabun, cologne, body lotion, daging segar berupa ayam, ikan, telur dan aneka jenis daging sapi. Kopi,susu, teh, sirup, minuman kemasan, frozen food dan vegebtables. 


"Kalian sudah makan belum?" Tanya Rajasa.


"Kami buru-buru pulang,pak. Nanti aja di rumah."


"Makan bareng saya aja ya? Saya juga belum makan. Daripada makan sendirian. Kita mampir dulu ya ke tempat makan favorite saya dan isteri saya."


"Gak usah, pak!"


"Gak apa-apa! Ayo ikut saya!" Rajasa mendorong troli yang didorongnya ke arah tempat makan favoritenya dua lantai di atasnya.


"Kamu belanja bulanan disini?"


"Iya pak! Disini lebih murah."


"Murah dan lengkap ya?"


Nurmala menganggukkan kepalanya menyetujui.


Sesampainya di tempat makan kesukaannya. Troli-troli diletakkan di dekat pintu masuk tempat makan tersebut.


Mereka masuk ke dalam memilih spot lesehan kesukaan Rajasa dan Edelweis.


Rajasa memesan seekor ikan gurame yang digoreng kering, udang crispy, cumi bakar, tahu tempe dan cah kangkung balacan. Es teh manis seteko untuk mereka bertiga. Air mineral besar ukuran 1000 ml dingin sebotol.


"Ini adikmu?" Tanya Rajasa. 


"Bukan tetanggaku tapi sudah aku anggap sebagai adik sendiri. Aku suka minta tolong buat menjaga anakku."


"Namanya siapa?"


"Tania."


"Tidak sekolah?"


"Sekolah."


"Kalau kau sekolah, siapa yang menjaga bayinya Nurmala?"


"Kutitipkan pada ibuku."


"Dia mencari tambahan dengan menjaga anakku tapi kalau dia bersekolah. Dititipkan ke ibunya."


Rajasa tersenyum lebar. Makanan dan minuman berdatangan. Rajasa menuangkan nasi ke piringnya.Mengisi piringnya denga lauk dan sayur yang dia pesan. Tania dan Nurmala sendiri bergantian makan.


Selesai makan. Rajasa mengantar kedua nya ke depan lobi mall. Meninggalkan troli yang dibawanya dan keduanya di sana. Sedangkan dia bergegas menuju bioskop untuk menonton film yang sudah dibeli tiketnya.