
Edelweis mengajak Ryan bertemu.
“Ada sesuatu yang harus ku sampaikan.”
“Pentingkah?” Tanya Ryan.
“Sangat penting.”
“Baiklah, kapan dan dimana?”
Mereka bertemu di waktu dan tempat yang dijanjikan. Ryan memandang Edelweis dengan wajah penuh kerinduan.
“Senang bisa bertemu denganmu lagi.”
“Kau sangat sibuk dengan anggota baru di keluargamu?”
“Begitu lah. Sangat menggemaskan dan membuat kangen. Seperti dirimu.”
Edelweis tertawa.
“Bisa juga kau menggombal.”
“Aku tidak pernah menggombal jika hal itu berkaitan denganmu.” Wajah Ryan mendadak sendu.
Edelweis menatap wajah Ryan. Menemukan kesungguhan di wajahnya.
“Aku mempercayaimu.”
“Terima kasih. Aku sangat menantikan saat kita bersama lagi.”
“Tenang saja. Kita tinggal menghitung hari.”
“Kau ingin pernikahan seperti apa?”
“Private. Aku tidak ingin mengundang Rajasa.”
“Aku juga.”
Mereka tertawa berdua. Ryan menggenggam tangan Edelweis dengan erat.
“Aku sudah lama menantikan saat ini. Sejak pertama kali melihatmu. Aku tahu bahwa kau cinta sejatiku.”
“Kau tidak pernah mengatakan hal itu.”
“Aku tidak ingin membuatmu bingung. Kau mencintai Rajasa. Begitu pun dia. Aku tidak ingin berada di antara kalian berdua.”
“Hubungan kita selalu nyaman dari sejak awal. Kau selalu bisa memahami ku dengan baik. Kita selalu bisa saling berkomunikasi dan mengerti satu sama lain. Tidak seharusnya kau membahas cinta. Jika cinta ibarat garam maka tidak selalu makanan bergaram sehat dan dibutuhkan.”
“Hidup juga butuh rasa.”
“Seperti aku dan Rajasa? Sama-sama terluka karena rasa? Rasa butuh warna. Butuh dijaga. Setia. Apa gunanya rasa kalau tidak ada setia?”
“Sudahlah. Tidak usah membicarakan yang sudah berlalu. Tidak ada yang bisa mengubahnya. Tuhan saja tidak bisa mengubahnya apalagi kita manusia. Itu yang namanya takdir. kita harus terima dengan lapang dada dan ambil hikmahnya. Kita akan menatap masa depan kita berdua. Tidak ada Rajasa di sana.”
“Juga Nurmala.”
“Yeah.”
Mereka saling berpegangan tangan. Menunggu pesanan makanan dan minuman mereka datang.
Menikmati hari sambil menikmati makanan, minuman dan obrolan mereka.
“Seperti tidak melihatmu jutaan tahun rasanya.” Ujar Ryan.
Edelweis tersenyum lebar.
“Kita sibuk dengan urusan kita masing-masing. Malika sangat aktif dengan kegiatannya sekarang. Aku bisa lebih berkonsentrasi dengan kandunganku.”
“Kau jangan banyak berpikir. Jangan sedih dan stress. Akan berakibat pada kandunganmu.”
“Yeah. Ryan...” Suara Edelweis menggantung.
“Yeah.”
“Ada sesuatu yang harus ku sampaikan padamu.”
“Apa itu?”
“Aku akan menarik gugatan ceraiku pada Rajasa.”
“Tapi kenapa? Kita akan menikah.”
“Aku tidak bisa memberitahukan alasannya. Terlalu pribadi.” Mata Edelweis mengaca mengingat ancaman wanita yang tidak dikenal dan diketahuinya. Kehamilannya membuat hormonnya tidak seimbang.
Mempengaruhi emosinya. Dia tidak tahu sama sekali tentang foto-foto yang diancam kepadanya tersebut.
Tetapi wanita tersebut memastikan keasliannya.
“Kau benar-benar tidak bisa mengatakannya padaku?”
Edelweis menggelengkan kepalanya. Butir bening meleleh dari kedua pipinya.
Ryan menghapus air matanya.
“Baiklah. Kau tidak perlu mengatakannya. Kalau memang tidak bisa. Tetapi mengapa kau mencabut gugatan cerai terhadap Rajasa. Kita akan menikah. Bagaimana kita akan menikah kalau kau tidak bercerai dengan Rajasa? Aku tidak mau menjalani hubungan di luar pernikahan yang sah. Aku mencintaimu. Dan tidak akan menistakan hubungan kita pada jalinan yang terlarang dan menghinakan kita berdua.”
Edelweis menatap wajah Ryan. Dengan mata berkaca.
“Ada sesuatu yang mengharuskan aku untuk mencabut gugatan tersebut.”
“Kau diancam?”
“Semacam itu.”
“Rajasa yang mengancam mu? Aku akan mematahkan lehernya.” Ujar Ryan emosi.
“Bukan Rajasa. Dia tidak tahu apa-apa soal ini.”
“Kau tahu kau bisa mengatakan apa pun padaku.”
“Yeah.”
“Katakan semuanya dengan sejujurnya.”
“Seseorang mengambil fotoku tertidur tanpa busana di bawah selimut. Bersama seorang lelaki.”
“Kau memiliki hubungan dengan pria lain selain Rajasa?”
“Tidak.”
“Lalu foto tersebut?”
“Aku bersumpah tidak mengetahui apa pun tentang hal itu. Jika aku tidak mencabut gugatan ceraiku. Foto-foto tersebut akan disebarkan. Foto-foto tersebut asli dan bukan editan.”
“Apa maksudmu? Seseorang sengaja menjebak mu agar bisa mengancam mu?”
“Yeah.”
“Pasti Rajasa!” Wajah Ryan marah dan memukul meja yang mereka tempati dengan keras.
“Dia tidak tahu apa pun tentang itu.”
“Kau tahu darimana dia tidak ada kaitannya dengan hal ini?”
“Mengapa dia tidak langsung mengancam ku langsung?”
“Mungkin takut kau membencinya?”
Edelweis menggelengkan kepalanya.
“Rajasa mungkin brengsek tapi dia tidak akan melakukan hal semacam itu. Aku sudah membencinya sejak dia mengkhianatiku. Apa pun yang dia lakukan tidak akan mengubah kebencian dan kemarahanku padanya.”
“Kita tidak jadi menikah?”
“Jadi.”
“Bagaimana caranya? Poliandri dilarang.”
“Secara resmi mungkin status pernikahanku dengan Rajasa masih berlangsung. Tetapi secara agama?"
“Apa maksudmu?”
“Aku akan meminta Rajasa untuk menceraikan ku secara agama.”
“Maksudmu kita menikah secara siri?”
“Yeah.”
“Tapi status pernikahanmu dengan Rajasa masih berlangsung secara negara.”
“Hanya secara surat menyurat. Formil tapi tidak substansial.”
“Aku tidak ingin kita menjadi pembicaraan orang.”
“Kau ingin aku dipermalukan dengan foto-foto yang tidak ku ketahui sama sekali tentang asal usulnya?”
“Tentu tidak.”
“Orang akan tetap membicarakan kita. Tetapi ketika mereka tahu pernikahan kita hanya formalitas. Mereka akan mengerti bahwa secara kenyataan pernikahanku dan Ryan sudah berakhir. Tetapi jika foto-foto tersebut tersebar luas. Walaupun aku tidak tahu apa-apa tentang itu. Bagaimana aku bisa menghentikannya?”
Ryan terdiam mendengar perkataan Edelweis. Menggenggam tangannya dengan erat.
“Aku mempercayaimu. Jika memang menurutmu hal itu yang terbaik. Aku akan bersamamu.”
Edelweis mengambil tangan Ryan dan meletakkannya di pipinya. Menatap wajah Ryan dengan perasaan berterima kasih.
“Terima kasih. Buat semuanya.”
“Kuharap semua berjalan baik-baik saja.”
“Yeah.”
Mereka menyelesaikan makan siang mereka berdua. Bersiap untuk kembali ke kegiatan mereka sehari-hari.
Ryan menatap wajah Edelweis dalam sebelum mereka berpisah.
“Aku akan merindukanmu.”
Edelweis menganggukkan kepalanya.
“Akan tiba saatnya waktu untuk kita berdua.” Ujar Edelweis.
Ryan menganggukkan kepalanya.
“Kita hanya perlu bersabar menunggu.” Lanjut Ryan.
Mereka saling melambaikan tangan sebelum berpisah.
“Till we meet again.”
“See you when I see you....”
Mereka kembali ke kehidupan mereka masing-masing. Sepasang mata mengawasi dari kejauhan.
Kau berkeras meminta cerai dan enggan memaafkan kesalahanku. Karena Ryan.
Rajasa membalikkan tubuhnya. Kembali menuju kantornya. Harapannya untuk mempertahankan rumah tangganya pupus. Melihat kebersamaan Edelweis dan Ryan.
Mendengar niat Edelweis untuk mencabut gugatan cerainya sudah membuatnya merasa senang.
Jika kau ingin membalas pengkhianatan ku dengan menjalin hubungan dengan Ryan untuk membalas perbuatanku. Aku terima walaupun hal itu sudah melukai egoku sebagai laki-laki
Aku akan menunggumu. Apapun yang kau lakukan padaku untuk membalas semua sakit hatimu padaku. Aku akan menerimanya...
Rajasa berusaha memusatkan perhatiannya pada pekerjaannya. Terbayang pertemuan Edelweis dan Ryan.
Keduanya selalu serasi dan seirama. Tidak pernah terpercik api seperti dirinya dan Edelweis.
Keduanya seperti merpati yang tidak pernah ingkar janji.
Rajasa mendengus kesal. Ryan seperti duri dalam daging. Mengalah padanya tetapi sekarang ingin menggunting dalam lipatan.
Aku tidak mengerti bagaimana caramu berpikir. Kau melepaskan dia. Mempercayakan dia padaku. Sekarang kau merenggutnya begitu saja dariku....