Rajasa

Rajasa
Preparation



Edelweis mempersiapkan dirinya menghadiri baby shower dan selamatan empat bulananan yang diselenggarakan Ryan dan Nurmala.


Rajasa berjalan menuju wardrob tempat istrinya sedang mempersiapkan dirinya.


“Kau cantik sekali. Seksi.” Ujarnya sambil menyusupkan wajahnya di leher istrinya.


Kulit Edelweis bergelenyar mendapat sentuhan dari Rajasa. Dirinya bermaksud membalas sentuhan suaminya tetapi video perselingkuhan suaminya kembali terbayang.


Edelweis membalikkan tubuhnya dan mendorong suaminya menjauh.


“Jangan sentuh aku!” Teriaknya kesal.


“Kau kenapa sih?”


Mata Edelweis memanas. Air matanya mengalir.


“Video itu! Kau dan sekretaris bedebahmu!”


“Sayang, kalau kau tidak mau memaafkanku. Hubungan kita tidak akan membaik. Aku menginginkan dan membutuhkanmu.”


“Tapi kau menjijikkan. Kau menyentuh wanita lain di dalam pernikahan kita.”


“Kau mengabaikan kebutuhanku. Kumohon jangan kau ulangi lagi. Kau membuatku sangat tersiksa.”


“Kau hanya mencari alasan.”


“Buat apa aku mencari alasan apa untungnya buatku?”


“Agar kau bisa berhubungan dengan banyak wanita.”


“Jika aku menginginkan itu. Tentu aku akan menceraikanmu dan untuk apa mempertahankan rumah tangga kita. Bahkan masih memperjuangkan cinta kita?”


“Tolong jangan mendekatiku! Aku benar-benar merasa tidak nyaman karena teringat dengan video itu.”


“Kalau kau terus mengingatnya. Tidak mau memaafkanku. Dendam dan sakit hati. Tidak ada yang dapat kukatakan Dan lakukan."


“Lebih baik kita bercerai. Kau bebas berhubungan dengan siapa pun. Tidak selalu harus merasa tersiksa dengan sikapku.”


“Hidupku bersamamu, Malika dan bayi di dalam kandunganmu. Siapa yang bisa merasa nyaman jika teringat dengan hal yang melukai serta menyakiti hati dan perasaannya.”


“Terima kasih atas pengertianmu.” Edelweis menghapus air matanya.


“Kau persiapkan dirimu. Aku akan bermain bersama Malika. Bagaimana?”


Edelweis menganggukkan kepalanya. Rajasa mengecup dahi istrinya.


“Aku tidak akan mengganggumu. Take your time. Ok?”


Edelweis menganggukkan kepalanya. Berkata singkat, “Terima kasih.”


Malika sedang bermain di ruang keluarga. Hari ini adalah weekend sehingga dia tidak bersekolah.


Mainan lego menarik perhatiannya. Semenjak bersekolah dan mengetahui lego dari teman-temannya. Malika ikut berburu lego dan menghabiskan waktu bermain lego.


“Anak papa anteng bener.” Sahut Rajasa melihat putrinya sedang menyusun lego.


Malika tetap serius menyusun legonya. Dia menaruh ambulans di samping rumah sakit lego yang sudah dibuatnya lengkap dengan lego petugas kesehatannya.


Rajasa mengusap kepala putrinya dan mengecup ujung ubun-ubunnya. Mencium pipinya yang gembil.


“Kau mau es krim gak?” Tanyanya pada putrinya yang disambut dengan anggukan.


Rajasa berjalan ke dapur mengeluarkan kotak ice cream meletakkannya ke dalam mangkuk. Malika sangat suka es krim rasa durian, coklat dan vanilla.


Rajasa mengambil ketiga jenis ice cream serta menuangkannya ke dalam mangkuk. Membuka kaleng Astor. Mengeluarkan isinya dan menancapkannya pada scope ice cream di dalam mangkuk masing-masing satu.


Menaburkan corn flakes coklat di atasnya. Terakhir meises warna warni. Mengambil dua buah sendok.


Berjalan menuju Malika yang sedang asyik bermain lego.


“Mau makan ice cream gak?” Tanya ayahnya.


“Mau!!!” Malika meninggalkan mainannya dan mendatangi ayahnya.


Keduanya duduk di sofa ruang keluarga tempat Malika bermain. Malika mengambil Astor. Mencolekkannya ke ice cream di dalam mangkuk.


Wajah mungilnya berlepotan ice cream. Membuat ayahnya tertawa dan iseng mencolekkan ice cream ke hidungnya.


“Supaya rata!” Ujar ayahnya tergelak.


Malika membalas mencolekkan ice cream ke wajah ayahnya. Wajah keduanya berlepotan ice cream. Keduanya tertawa riang.


“Astaga! Apa yang kalian lakukan?” Ujar Edelweis nyaring.


“Makan ice cream.” Sahut keduanya nyaris bersamaan.


“Apakah pipi, jidat, dagu dan hidung kalian ikut makan?”


Keduanya tertawa mendengar perkataan Edelweis.


“Ayo bersiap-siap kita kan mau ke acaranya om Ryan.” Ujar Edelweis.


“Tidak usah buru-buru.” Ujar Rajasa.


“Acaranya jam sebelas siang. Sekarang sudah jam sembilan pagi.”


“Tenang saja. Ngapain sih kau ingin buru-buru?”


“Memangnya kita gak bawa kado?”


“Astaga! Kupikir kita langsung ke sana.”


“Ayo, Malika mandi sama teh Wina.”


“Kau tidak ingin bertemu dengan om Ryan?”


“Mau!!!”


“Mandi sekarang sama teteh. Mama sudah rapi. Dari tadi mama minta kau mandi kau tidak mau. Sekarang mama sudah rapi dan wangi. Tidak bisa memandikanmu.”.


Malika berjalan mendatangi Wina. Mereka berjalan menuju kamarnya. Membuka lemari  yang bergambar sanrio. Mengambil pakaiannya sebelum bersiap mandi di kamar mandi yang terdapat di dalam kamarnya.


“Kau mau mandi di bath up atau menggunakan shower?”


“Bath up.”


Wina menyiapkan air mandi hangat untuk Malika mandi di dalam bath up. Meletakkan mainan bebeknya. Dan juga bola-bola memenuhi bath upnya.


“Keramas ya?”


Malika tidak jadi memasang penutup rambutnya. Bath up diisi dengan bubble bath. Malika memasuki bath upnya sambil mengusapkan bubble bath ke tubuhnya  dibantu Wina. Mengeramas rambutnya.


Rajasa sudah harum, rapi dan wangi. Begitu juga dengan Malika. Mereka berempat bersama Wina. Menaiki mobil dan meluncur ke rumah Ryan.


Mereka mampir membeli kado di mall. Memasuki sebuah toko perlengkapan bayi.


“Bayinya lelaki atau perempuan?” Tanya Rajasa.


“Lelaki.”


“Ryan juga akan memiliki anak lelaki? Bisa bersahabat dengan anak kita.”


“Ya, kuharap.” Ujar Edelweis.


Mereka berkeliling mencari hadiah yang cocok. Dan sepakat memilih stroller.


“Stoller warna coklat atau navy?” Tanya Edelweis, “Atau yang baby blue?”


“Yang coklat bagus terlihat elegan.”


“Yeah.”


Keduanya sepakat memilih stroller dengan gambar bayi beruang berwarna coklat tua yang lucu dengan interior dalamnya berwarna krem.


“Aku beli tas bayi dengan beberapa baju dan selembar handuk dengan warna senada ya?” Ujar Edelweis pada Rajasa.


Rajasa menganggukkan kepalanya.


“Kalau masih muat. Isi saja dengan perlengkapan mandi bayi.”


“Yeah, kau benar.”


Tas bayi berisi isinya diletakkan di dalam stroller. Stroller dibungkus dengan plastik transparent dan diberi pita berwarna senada.


Kado dimasukkan ke bagian belakang mobil dengan melipat seat belakang.


Mereka melanjutkan perjalanan. Musik mengalun lembut memenuhi kendaraan.


Malika merengek ingin minta ke depan duduk bersama ibunya.


“Kau mau duduk dimana? Perut mama kan ada adek bayi. Tidak muat.” Ujar Rajasa kepada putrinya.


“Aku ingin duduk sama mama.”


“Tidak muat, sayang.” Sahut ibunya, “Perut mama sudah besar sekarang berisi adik bayi.”


“Apa kata ibu guru?” Bujuk Rajasa.


“Tidak boleh melawan orang tua.” Sahut Malika.


“Anak pintar! Jadi kau akan duduk dimana?”


“Di sini bersama teh Wina.”


“Anak manis!” Puji ayahnya.


Malika membatalkan keinginannya untuk pindah ke depan. Memandang ke arah luar jendela. Menikmati pemandangan melalui jendela mobilnya.


Mobil meluncur dengan tenang. Sesekali Rajasa membelai tangan Edelweis. Menggenggamnya.


Mengelus perut Edelweis yang semakin membuncit.


“Aku tidak sabar menunggu jagoanku keluar dari perut mamanya. Sebentar lagi kau keluar dari zona nyamanmu, son!”


Edelweis tertawa mendengar perkataan suaminya.


“Aku senang melihatmu tertawa.”


Edelweis membelai perutnya lembut.


“Kami semua tidak sabar menantikanmu!”


 


 


 


 


 


... ...