Rajasa

Rajasa
Bermain Api



Perselingkuhan yang kedua. Membuat candu. Selain bisa menghilangkan rasa jenuh.


Rajasa merasa hidupnya berwarna. Memicu adrenalinnya.


Mengkhianati Edelweis. Bukan berarti tidak mencintainya. Apalagi ingin menghancurkan maghligai pernikahan mereka. Tekanan di dalam pernikahan. Kejenuhan. Membuatnya berpikir untuk mencari selingan. Agar hidupnya lebih berwarna.


Dia tahu bahwa dirinya egois. Tetapi sebagai lelaki. Makhluk yang memang dipenuhi ego. Tidak dapat berbuat apa pun.


Terdengar seperti pembenaran. Tetapi pada kenyataannya. Memang banyak lelaki yang sulit setia. Itu adalah kebenaran. Walaupun pahit untuk dikatakan.


Kinanti sendiri sangat modern dan praktis. Tidak pernah membebaninya dengan pernikahan. Hubungan tanpa status mereka seakan melengkapi pernikahannya.


"Kita tidak mengharapkan satu sama lain menjadi setia. Itu rulenya!" Ujar Kinanti.


"Maksudmu?"


"Kau boleh tetap dengan istrimu tapi kau juga tidak boleh mengekang aku."


"Bisa kau jelaskan maksudmu?"


"Open relationship."


"Kau tidak takut terkena penyakit kelamin atau aids?"


"Safe *** dan aku rutin memeriksakan serta membersihkan organ intimku ke dokter kandungan. Kau lupa?"


"Apakah itu alasannya kau tidak mau menikah?"


"Salah satunya. Seperti yang pernah kukatakan. I don't believe with marriage."


Kehidupan yang bebas di Australia. Memungkinkan hal itu terjadi. Open relationship.


Rajasa sendiri tidak mau ambil pusing. Dia tidak akan bisa mempertahankan keduanya.


Tentu dia memilih Edelweis. Sampai kapan pun dia akan selalu mencintai Edelweis. Apalagi mereka sudah memiliki Malika. Saat ini, Edelweis juga tengah mengandung buah hati mereka yang kedua.


Konsekuensinya, dia memberikan kebebasan pada Kinanti.


Tidak ada yang aman di dunia ini. Tidak ada yang benar-benar aman.


Mempercayai pilihan Kinanti melakukan safe *** dan memeriksakan dan membersihkan organ intimnya ke dokter kandungan. Adalah yang maksimal bisa dilakukan.


"Aku memberikanmu kebebasan. Kita bisa berpisah kapan pun. Tidak saling mengikat satu sama lain. Hanya saling menghibur dan bersenang-senang."


"Yeah! Right!"


Kinanti sendiri bukan tipe wanita yang bisa dijadikan istri. Dengan kehidupan bebasnya. Serta prinsipnya tidak ingin memiliki anak.


Sepertinya juga tidak akan bisa menghadapi kehidupan setelah menikah. Mengurus anak dan suami.


Tidak akan tahan menghadapi tekanan dalam berumah tangga. Sebatas teman menghabiskan waktu dan bersenang-senang mungkin terasa mengasyikkan dan menyenangkan. 


Bisa membuat stress menghilang. Kejenuhan menguap. Tetapi komitment bukanlah masalah selalu bersama ketika keadaan baik-baik saja.


Tetapi bertahan ketika keadaan sedang dalam tekanan. Seperti halnya Edelweis mengorbankan dirinya untuk mengurus Malika sepenuhnya. 


Apakah bisa Kinanti melaluinya? Mengorbankan dirinya untuk memiliki keturunan, mengurus dan merawatnya? Menghadapi setiap kekacauan yang ada?


Tetapi Rajasa meragukan rumah tangganya akan bertahan dan utuh seandainya, Edelweis mengetahui pengkhianatannya.


Mungkin Edelweis bisa menghadapi tekanan dalam hal anak dan lainnya tetapi pengkhianatan?


Rajasa enggan memikirkannya. Hanya merusak kesenangannya saat ini. Nafsu tidak bisa berpikir terlalu panjang apalagi abstrak. 


Hanya bisa berpikir saat ini. Tidak bisa berpikir akibatnya. Jika memikirkan akibatnya. Maka tentu tidak akan pernah dimulai pengkhianatan.


Kinanti beringsut bangun dari tempat tidurnya. Selimut yang membalut tubuhnya. Menutupi tubuh putih mulusnya.


Rajasa sendiri memilih di tempat tidurnya. Meneruskan tidurnya beberapa menit lagi sebelum memulai aktifitas paginya.


Di tengah tumpukan dosa yang dilakukannya. Dia masih berharap ampunan dan rahmat dari Tuhan semesta alam.


Tidak ada manusia yang lahir dalam keadaan berdosa. Tetapi semua manusia memulai dosa pertamanya karena dorongan situasi dan kondisi.


Dirinya yang lugu dan polos. Tertipu rayuan. Dimulai dari dosa pertama ke dosa berikutnya. Hingga terbiasa.


Memutuskan tidak menikah. Karena tidak percaya pada pernikahan itu sendiri. Banyak yang tidak bisa setia dan terbelenggu.


Tidak ingin memiliki anak karena tidak ingin terbebani dengan tanggung jawab. Melihat beberapa temannya yang single parent. Kerepotan mengurus kuliah, pekerjaan, anak-anak dan hubungan percintaannya.


Kembali ke Indonesia sama saja dengan bunuh diri. Dihujat lingkungan. Menjadi simpanan atau wanita panggilan karena sangat tidak mudah mencari pekerjaan di sana. Apalagi yang bisa menutupi biaya hidupnya.


Setidaknya disini dia bisa bekerja memenuhi kebutuhan hidupnya. Membiayai pendidikannya dengan bekerja dan mengajukan bea siswa.


Kinanti bergegas ke dapur. Membuka pintu kamarnya. Meninggalkan Rajasa yang sedang tertidur lelap. Meletakkan mukena dan sajadahnya begitu saja.


Menyiapkan sarapan pagi. Sambil belajar untuk kuliah paginya. Membaca bahan kuliah sebelum kelas dimulai. Sedikit banyak membantunya untuk lebih cepat memahami materi yang disampaikan dosen.


Mengoleskan butter ke masing-masing roti. Menceplok telur.


Membuka plastik keju slice melted. Meletakkannya ke atas lembaran roti. Kemudian meletakkan telur ceplok, lembaran beef bacon dan memarut keju di atasnya. Menutupnya kembali dengan roti yang sudah dioles butter. 


Memanggangnya ke dalam panggangan roti. Membuat dua tangkup. Untuknya dan Rajasa.


Membuat kopi dengan mesin pembuat kopi. Dimana mesin ini sudah seperti rice cooker di Indonesia. Setiap hari orang membutuhkan kopi untuk memulai aktifitas mereka.


Membuka kulkasnya. Membuat salad. Memotong pear, melon, semangka mencampurnya dengan lettuce dan timun. Telur rebus diiris dan udang rebus serta kentang rebus melengkapi saladnya. Mencampur potongan anggur dan kiwi sebagai garnishe. Ditutup dengan parutan keju.


Bumbu salad dibuat dari dressing thousand island dan youghurt serta susu kental manis. 


Membaca bahan kuliahnya dengan menstabilo beberapa tulisan yang dianggapnya penting.


Setengah jam berlalu dan pintu kamar terbuka. Rajasa terlihat sangat segar.


"Kau kuliah hari ini?"


Kinanti menganggukkan kepalanya, "Aku overtime hari ini."


Selain kuliah, Kinanti juga bekerja di panti jompo. Upahnya lumayan. Saat weekend dan liburnya digunakan untuk memiliki double job. Mencari penghasilan tambahan bekerja sebagai baby sitter, guide tour,  singer atau membersihkan toilet umum.


Mencari uang disini sangat mudah selama ada keinginan bekerja. Upahnya juga sangat lumayan. Cukup untuk membiayai hidup dan juga kuliah. Apalagi dengan status single. Lebih dari cukup. Sisa uang bisa ditabung.


"Kau benar tidak ingin kembali ke Indonesia?"


"Tidak. Aku sedang mengajukan permanen resident. Begitu selesai kuliah. Aku ingin melamar kerja dan menetap disini."


"Bagaimana dengan keluargamu?"


"Mereka tidak masalah. Aku harus bersiap-siap sekarang." Kinanti bangkit dari kursinya. Menutup text booknya.


Bergegas menuju kamarnya mengganti pakaiannya dengan pakaian yang casual.


Kaos katun baby pink dengan celana panjang katun broken white menjadi pilihannya. Tas berwarna senada dengan celananya dan sepatu sewarna dengan kaosnya menjadi pilihannya. 


Mengoles make up tipis. Foundation, concealor, bedak compact dan powder. Lipstick baby pink. Melukis alis dengan pensil alis.


Bergegas menuju dapur menyambar text book dan bekal makan siang yang dia siapkan sendiri.


"Bagaimana penampilanku?"


"Perfect!"


"Aku pergi dulu. Jangan lupa kau kunci apartement."


"Yeah! Aku tinggalkan saja peralatan makanmu. Nanti kucuci."


"Terima kasih!" Kinanti mencium mesra Rajasa, "Aku pergi dulu. Bye!"