Rajasa

Rajasa
Finlandia



Edelweis menghirup kebebasannya begitu sampai di Finlandia.


Ryan menolongnya mengurus kepindahannya ke Finlandia. Selain itu juga memberikan pekerjaan sebagai penulis artikel. Menggunakan nama samaran Black Rose.


“Apakah kau mau bekerja sebagai penulis artikel? Menggunakan nama samaran?”


“Oh, Ryan! Terima kasih!” Air mata Edelweis berlinang.


“Jangan menangis.”


“Tangis bahagia. Kau benar-benar teman yang baik.” Ujar Edelweis sambil mengusap perutnya yang semakin membuncit.


“Kau bisa bekerja sambil mengasuh anakmu. Kupikir penulis artikel sangat cocok denganmu.”


“Aku selalu ingin menjadi jurnalis. Pekerjaan yang kau tawarkan sangat mendekati. Seperti yang kuinginkan.”


“Aku ingin kau menyembuhkan dirimu. Tidak perlu mengkhawatirkan apa pun lagi.”


“Rajasa menyakitiku begitu dalam.”


“Yeah, aku tahu. Justru itu aku ingin kau menyibukkan dirimu dengan hal-hal yang bisa menyembuhkan mu.”


“Aku berusaha memaafkan pengkhianatannya dengan Nurmala. Tetapi dia mengulanginya lagi. Wanita itu hamil.”


“Dia hamil anak kekasihnya.”


“Tetap saja dia hamil. Salah satu lelaki yang menjalin hubungan dengannya adalah suamiku. Bisa kau bayangkan?”


“Test DNA membuktikan kekasihnya adalah ayah dari janin yang ada di dalam rahim wanita tersebut.”


“Entahlah. Bagiku sama saja. Bisa saja test itu melakukan kesalahan. Bagaimana jika ada benih suamiku yang tercampur di dalamnya? Mungkin aku sudah gila atau paranoid tapi fakta bahwa wanita itu menjalin hubungan dengan suamiku saat pernikahan kami masih berlangsung. Sangat menyakitiku.”


“Aku tidak bermaksud membelanya. Pernikahan kalian rumit. Pada saat itu kemungkinan dia tidak yakin pernikahan kalian bisa berlanjut.”


“Aku tidak mau membahas hal ini. Membuatku terluka kembali. Mungkin aku egois. Tetap saja bagiku, dia telah mengkhianatiku berulang kali. Apa pun alasannya.”


“Yeah, kau benar. Bagaimana pun, dia sudah berlaku tidak setia padamu.”


“Walaupun kita sempat merencanakan pernikahan. Tetapi tidak ada yang kita langgar. Aku bukan bermaksud membela diri. Hal itu yang tidak bisa aku terima. Mengapa dia tidak bisa menjaga kesetiaannya? Setidaknya sampai semuanya jelas. Jika memang ditakdirkan benar-benar berpisah. Maka dia bebas menjalin hubungan dengan siapa pun yang dia mau.”


“Pikiran lelaki tidak seperti wanita. Mereka kerap berpikir pendek. Apalagi saat mereka merasa berada dalam tekanan. Apakah itu membuatmu lebih baik?”


“Kupikir, dia mencintaiku. Hanya aku wanita yang ada di dalam hati serta pikirannya. Tetapi aku tahu bahwa aku berharap terlalu banyak serta mengkhayal membayangkan dia bisa memiliki cinta sejati serta satu-satunya dalam hidupnya. Dia tidak bisa mengubah karakternya. Itu kenyataannya. Dia hanya mencintai dirinya sendiri.”


“Dengan tidak ingin melepasmu. Itu sudah bukti bahwa dia mencintaimu. Dia mengatakan semua wanita yang bersamanya hanya merupakan pelarian baginya karena tekanan pernikahan kalian. Aku tidak bermaksud membelanya. Tetapi mungkin yang berusaha dia katakan bahwa dia memang mencintaimu tetapi tidak bisa mengendalikan nafsunya apalagi saat tidak bisa mendapatkan pelampiasan seperti yang seharusnya. Membuatnya tidak bisa berpikir.”


“Aku menginginkan kedewasaannya sebagai lelaki. Tidak hanya menuruti hawa nafsunya saja. Semua pilihan ada konsekuensinya. Aku tidak bisa memberikannya cinta sekaligus membiarkannya terus menyakiti hati serta jiwaku. Hidup itu pilihan. Setiap pilihan memiliki konsekuensinya sendiri.”


“Yeah, kau benar. Memang dia harus dewasa. Hidup adalah pilihan. Setiap pilihan memiliki konsekuensi.”


“Sudahlah, Ryan. Bagiku, Rajasa sudah masa lalu. Mungkin saat ini aku dan dia belum bisa membicarakan perceraian. Tetapi setidaknya, dengan berpisah. Menandakan masing-masing sudah menjalani kehidupan sendiri-sendiri. Aku akan membicarakan perceraian jika sudah tiba saatnya.”


“Bagaimana jika dia tidak ingin bercerai?”


“Itu hanya masalah formalitas. Aku tidak ingin membahasnya. Dengan mengkhianati sudah sama dengan melanggar. Aku tidak harus mentolerir pengkhianatannya apalagi jika dia tidak pernah merubah perbuatan atau kebiasaannya. Selama dia tidak berubah maka tidak ada rekonsiliasi.”


“Ya sudahlah. Jalani saja hidupmu sebaik mungkin. Apa yang membuatmu nyaman dan tenang. Mungkin memang itu yang harus kau lakukan.”


“Yeah, terima kasih, Ryan. Aku tidak tahu bagaimana membalas kebaikanmu.”


“Kau tersenyum dan berbahagia. Sudah sama dengan membalasku.”


Air mata Edelweis kembali mengalir. Ryan menyodorkannya tissue. Edelweis menyedot ingusnya. Mengusap hidungnya yang terlihat memerah.


Edelweis mempersiapkan persalinannya. Wina membantunya menjaga Malika. Dengan kehadiran Wina, Edelweis merasa sangat terbantu.


“Aku juga menyukaimu dan Malika. Kalian sudah seperti keluarga bagiku.” Ujar Wina.


“Yeah, aku juga menganggap mu seperti saudaraku sendiri. Terima kasih kau sudah mendampingi Malika. Sekolah serta bahasa barunya.”


“Malika anak yang manis. Dia juga sangat energik. Kuharap dia bisa cepat menyesuaikan diri dengan lingkungannya yang baru.” Ujar Wina, “ aku membuatkanmu smootie.”


“Terima kasih.” Ujar Edelweis menerima gelas smootie yang disodorkan Wina kepadanya.


Saat melahirkan tiba. Dengan ditemani Wina. Edelweis bisa melalui persalinannya dengan baik.


Wina menjaga Malika selama Edelweis berada di rumah sakit melahirkan bayinya. Menemani Malika menjenguk ibunya. Melihat adik lelakinya yang tampan.


Edelweis tidak bisa menahan tangisnya. Saat melihat kelahiran bayi lelakinya.


Berbisik lirih, “selamat datang, tampan. Welcome to the club with me, your sister and Wina. Aku minta maaf, kau tidak bisa melihat ayahmu di saat hari kelahiranmu. Kau akan menemuinya satu saat nanti. Aku berjanji.” Ujarnya sambil mencium buah hatinya setelah menginisiasinya. Bersiap menyusuinya memberikan colostrumnya.


“Dengan colostrumku, kau akan tumbuh menjadi bayi yang kuat. Lebih kuat dari Obelix yang tercebur di panci yang penuh dengan ramuan jamu. Aku berjanji!"


Edelweis membuat video dan foto-foto bayinya dan mengirimnya kepada Ryan.


“Bolehkah jika kuberikan video serta foto-foto tersebut pada Rajasa?”


“Dia ayahnya. Kupikir dia berhak mengetahui mengenai keadaan anaknya tapi kumohon kau tidak memberitahukan dimana kami berada.”


“Tentu, kau tidak usah khawatir. Tulisan artikelmu sangat bagus. Kami berencana akan memberikanmu kolom khusus. Apakah kau keberatan?”


“Aku akan menjadi penulis artikel dan kolom?”


“Kadoku untuk kelahiran bayimu.”


“Ryan, mengapa kau sangat baik padaku?”


“Karena aku sangat menyayangimu. Kau tahu itu.”


“Tapi semua ini terlalu banyak juga berlebihan.”


“Tidak jika kau melihat peningkatan sirkulasi penjualannya. Mereka menyukai tulisanmu. Aku merasa tidak enak hati memberikan hadiah tetapi sekaligus juga mengharapkan imbalan dan keuntungan.”


Jawaban Ryan membuat Edelweis tertawa.


“Tidak usah merasa tidak enak hati. Yang kita lakukan simbiosis mutualisme. Tidak ada yang dirugikan. Aku senang jika tulisanku bisa menaikkan sirkulasi penjualan. Kau menawariku pekerjaan tambahan sebagai penulis kolom. Terima kasih. Its too much...”


“Kau selalu menangis padahal aku ingin melihatmu tersenyum dan tertawa.”


“Ini tangis bahagia. Kau membuatku terharu. You are my true friend. I am so lucky to have you in my life.”


“So, do you, honey...”


Rajasa tak dapat menahan tangisnya saat melihat kiriman video dan foto-foto bayi lelakinya.


“Dimana mereka, Ryan? Good damn it! Aku merindukan mereka semua. Dia tidak akan bisa menyembunyikan serta melarikan dirinya tanpa bantuanmu!”


“Kau tidak tahu apa itu cinta sejati. Jangan menyakitinya lagi. Jika saatnya sudah tiba. Kau pasti bisa menemui anakmu kembali. Tapi bukan sekarang saatnya.”


“Saat aku sekarat atau sudah mati? Tua renta? Aku ingin bersama dengan anak-anakku. Melihat mereka tumbuh.”


“Aku tidak bisa menyenangkan kalian berdua dalam satu waktu. Apalagi jika Edelweis tersakiti. Prioritas ku Edelweis bukan kau. Terima kenyataan. Berdamailah dengan keadaan.”


“Mengapa kau mencampuri urusan rumah tanggaku?”


“Karena kau melukainya.”