Rajasa

Rajasa
After Married



Pernikahan Ryan yang mendadak membuat tanda tanya besar di kepala Edelweis.


"Kau tidak pernah berbicara ingin menikah atau membicarakan pernikahan. Tiba-tiba menikahi sekretaris Rajasa. Ada apa sih sebenarnya?" Selidik Edelweis.


"Kau tidak keberatan kan aku menikah?" Tanya Ryan.


"Tentu tidak. Kau memang sudah waktunya menikah. Aku senang kau akhirnya menemukan jodohmu. Lupakan perkataanku yang tidak berniat apa pun."


"Tidak usah khawatir. Aku tahu kau ingin Rajasa lebih perhatian, pengertian dan sabar denganmu dan Malika."


"Yeah!"


"Tenang saja! Aku tidak memikirkan perkataanmu sama sekali. Aku sudah mengenalmu lama."


"Terima kasih."


"Aku menikahi Nurmala karena merasa tertarik dengannya." Bual Ryan.


"Aku tahu kalian sekantor. Tapi kau tidak pernah menceritakan apa pun."


"Aku tidak ingin gegabah. Ingin memastikan semuanya."


"Baiklah, aku mengerti. Tetapi dia sudah janda dan memiliki anak. Sedangkan kau masih bujangan?"


"Tidak masalah bagiku. Terpenting dia bukan istri orang."


"Yeah! Kau benar. Kecocokan tidak bisa dilihat dari hal-hal semacam itu. Walaupun sebaiknya kalau kau masih bujangan seharusnya kau mencari yang masih gadis."


"Aku juga berharap demikian tapi hatiku memilih Nurmala."


"Yeah! Kadang cinta itu seperti mata kaki tidak bisa melihat. Tapi merasakan sakit yang amat jika terantuk. Cinta yang tidak bermuara akan terasa tersiksa. Aku senang kau menemukan Nurmala. Semoga kalian menjadi keluarga yang samara."


"Yeah! Terima kasih. Kau sahabat yang baik. Aku ingin kau, Malika dan Rajasa menghadiri akad nikah kami. Dilangsungkan secara sederhana."


"Mengapa sederhana? Ini kan momen spesialmu?"


"Lebih baik uangnya untuk keperluan rumah tangga setelah menikah."


"Yeah! Kau benar."


Akad nikah berlangsung dengan lancar. Ryan dan Nurmala tinggal di kontrakan Ryan. Mereka kerap pulang pergi kerja bersama.


Tampak seperti sepasang pengantin baru yang saling memperhatikan satu sama lain.


Mereka mengunjungi Edelweis dan Rajasa di akhir pekan. Mengucapkan terima kasih atas kehadiran mereka sekeluarga pada akad nikah mereka berdua.


"Ini fotomu, Rajasa dan Malika." Ryan menyerahkan beberapa lembar foto pada Edelweis dan Rajasa.


"Kau anak manis! Cantik sekali." Puji Ryan sambil mencium Malika.


Malika sangat senang bertemu dengan Ryan. Dia langsung bermain dan bermanja dengan Ryan.


"Kau kangen om Ryanmu, ya?" Ujar ibunya.


"Malika tampak sangat merindukanmu." Rajasa menyetujui.


"Kami bestie. Jelas saja kami saling merindukan satu sama lain." Ryan kembali mencium Malika dengan gemas.


"Om Ryan sekarang sudah memiliki keluarga sendiri. Tidak bisa seperti sebelumnya. Jadi kau harus mau mengerti ya, sayang." Ujar ibunya. 


Amelia mendatangi Ryan meminta perhatiannya.


"Sepertinya Amelia cemburu!" Ujar Nurmala sambil tertawa.


Ryan memeluk dan mencium keduanya secara bergantian.


"Aku terlalu memperhatikan Malika dan mengabaikanmu, ya?" Ryan tertawa melihat polag Amelia, "Bagaimana kalau kalian berdua saling berkenalan?"


Amelia dan Malika bermain bersama. Mereka saling berceloteh dan bercerita.


"Kupikir mereka lebih cocok menjadi bestie." Ujar Edelweis.


"Yeah! Sesekali Amelia bisa berkunjung ke sana dan sebaliknya."


Malika mengeluarkan semua boneka-bonekanya. Amelia membantunya membawanya keluar dari kamar Malika ke ruang keluarga dimana semua berkumpul.


Ketika mereka sedang asyik bermain tiba-tiba terjadi keributan. Mereka berebutan boneka kesayangan Malika. Sebuah boneka dengan mata biru dan rambut pirang keemasan. Terlihat sangat cantik mengenakan gaun yang juga tidak kalah indahnya. Berwarna baby pink. Mereka saling tarik menarik.


Malika mulai menjerit sambil meneriaki Amalia.


"Bonekaku!" Teriak Malika.


"Pinjam!" Teriak Amalia kembali.


"Tidak boleh!"


"Pelit!"


"Kembalikan!"


"Tidak!"


Kontan mereka berempat yang sedang mengobrol di ruang tamu segera bergegas menuju ruang keluarga. Melihat keduanya sedang bertengkar saling serang.


"Malika!" Tegur ibunya.


"Amalia!" Nurmala bergegas mendatangi anaknya dan menjauhkannya dari Malika, "Kau lebih besar dari Malika! Mengapa kau menyerangnya? Dia kan lebih kecil darimu. Harus mengalah dan bersabar."


"Malika pelit tidak mau meminjamkan mainannya padaku!" Adu Amalia.


"Malika! Mengapa kau pelit pada temanmu? Kau tidak ingin punya teman? Tidak ada yang ingin bermain dengan anak yang pelit." Tegur Edelweis pada putrinya.


"Dia menginginkan Lizzy." Malika mengencangkan suaranya dan mulai menangis.


"Amalia, boneka Malika kan banyak. Mengapa kau menginginkan boneka kesayangan Malika?"Tegur ibunya.


"Boneka itu paling cantik dan bagus." Seru Amalia tidak mau kalah.


"Tapi kan boneka Malika yang lain juga bagus dan cantik." Bujuk ibunya.


"Ini Manda. Boneka ini untukmu." Malika menyodorkan boneka berambut coklat tua. Matanya berwarna coklat bening indah. Memakai pakaian berwarna orange.


"Aku tidak mau. Aku ingin itu." Sahut Amalia sambil menunjuk boneka yang dipegang Malika erat-erat.


"Malika, pinjamkan temanmu, Lizzy. Dia hanya meminjam bukan meminta bonekamu."


Malika menggelengkan kepalanya, "Dia ingin meminjam bonekaku selama beberapa hari."


"Seminggu."Ralat Amalia.


"Tidak boleh!"


"Bagaimana kalau Amalia menginap di sini? Jadi bisa bermain dengan Lizzy bersama Malika?"Sahut Edelweis.


"Bu! Bolehkah aku menginap disini?"


"Kau ingin menginap disini?"


Amalia menganggukkan kepalanya.


"Ara apakah kau mau menemani Amalia menginap di sini?"


Ara menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, kau bisa menginap disini. Nanti pakaianmu akan ibu antar."


"Terima kasih, bu!" Amalia mencium ibunya senang.


"Sudah selesai ya masalahnya?" Sahut Edelweis tertawa sambil mencium pipi putrinya dengan gemas.


Malika dan Amelia kembali bermain bersama. Amelia menginap selama dua hari di rumah Malika. Dia merindukan ibunya sehingga pulang lebih cepat dari yang direncanakan.


Selama Amelia dan Ara menginap. Ryan tidur di kamar Amelia.


"Kau tidak keberatan kan? Aku tidur di kamar Amelia?"


"Tentu tidak. Lebih baik tidur di atas tempat tidur daripada kasur lipat."


"Aku akan membeli sofa lipat yang bisa digunakan untuk tidur."


"Ide yang bagus."


"Yeah!"


"Aku minta maaf padamu. Jadi merepotkanmu."


"Sudahlah! Tidak usah dibesar-besarkan. Aku tidak berkorban apapun. Aku ikhlas melakukannya."


"Apa maksudmu tidak berkorban apa pun?"


"Tidak ada yang aku korbankan. Aku single. Tidak memiliki siapa pun. Kalau pun aku menikahimu. Akan banyak yang beranggapan bahwa memang sudah seharusnya aku menikah."


"Kau tidak memiliki kekasih?".


Ryan menggelengkan kepalanya.


"Tapi tetap saja, aku merasa tidak enak denganmu."


"Untuk apa kau merasa tidak enak? Semua kuputuskan sendiri. Tidak ada yang memaksaku menikahimu."


"Aku sangat berhutang budi padamu."


"Tidak perlu! Aku melakukannya bukan untukmu. Kau tahu itu dengan pasti."


"Yeah! Kau ingin menyelamatkan rumah tangga pak Rajasa dan ibu Edelweis."


"Ini adalah jalan yang terbaik. Walaupun aku mulai berpikir ulang tentang semuanya. Aku mulai meragukan Rajasa. Apakah dia bisa membahagiakan Edelweis dan tidak mengulanginya lagi?"


"Selama ibu bisa melayani bapak dengan baik. Maka semua akan baik-baik saja."


"Kau sendiri menyangsikan bahwa Rajasa tidak akan melakukannya lagi. Terutama jika Edelweis mengabaikannya." Ryan menarik nafas panjang. Aku harus menemukan cara mengambilnya dari Rajasa tanpa harus menyakitinya. Tetapi bagaimana caranya?