Rajasa

Rajasa
The Quarrel



Mengetahui pengkhianatan Rajasa. Edelweis mengajukan cerai. Dibantu Ryan.


Edelweis sangat shock. Mengetahui ketidaksetiaan suaminya.


“Kupikir kau mencintaiku.” Ujarnya dengan nada sedih.


“Aku memang mencintaimu. Aku sudah mengatakan padamu. Bahwa ...” Rajasa menatap Edelweis berharap istrinya mau mengerti jalan pikirannya, “Sudahlah! Percuma kujelaskan. Kau tidak akan percaya. Serta tidak akan pernah memahaminya.”


“Aku sangat terluka. Trauma.” Ujar Edelweis lirih.


“Aku tahu. Maafkan aku.”


“Tidak akan pernah!” Ujar Edelweis dengan nada terluka.


“Kumohon. Pertimbangkan semuanya masak-masak. Demi Malika dan bayi yang ada di dalam kandunganmu. Kalian semua membutuhkanku. Demi pernikahan dan rumah tangga kita.”


“Seharusnya kau berpikir sejuta kali sebelum memutuskan melakukannya.”


“Aku tidak bermaksud membela diriku. Semua di luar kendaliku. Aku tidak pernah bermaksud mengkhianatimu apalagi menghancurkan pernikahan kita.”


“Aku mungkin bisa memaafkan pengkhianatanmu kali ini. Tapi tidak sanggup menahan sakit jika kau ulangi.”


“Aku tidak akan mengulanginya!” Rajasa berbohong. Sampai kapan pun, Edelweis tidak akan pernah mengerti tekanan yang dihadapinya.


Dia belum bisa memutuskan hubungannya dengan Kinanti. Tidak tahu apakah bisa hal itu dihentikan. Keduanya berbeda negara. Setidaknya untuk sementara aman.


Dalam persepsi Edelweis. Dia mengkhianatinya. Menghancurkan pernikahan mereka. Tapi persepsinya sebagai lelaki. Dia tidak pernah bermaksud mengakhiri pernikahan mereka. Mengganti Edelweis dengan yang lain. Tidak akan pernah.


Bertanggung jawab dan mencintai Edelweis dengan anak-anak mereka. Seandainya, Edelweis bisa memahami bahwa bagi pria. **** dan cinta tidak selalu berada dalam tempat yang sama. Mungkin berlaku juga bagi wanita. Tapi wanita tidak bisa mendua . Tidak boleh mendua. The end of discussion.


Hubungan tanpa statusnya dengan Kinanti bisa berakhir setiap saat. Sehingga jelas hal itu bukan perselingkuhan. Mereka hanya saling menyenangkan satu sama lain. Merefresh. Tidak lebih dan kurang.


“Aku tidak bisa memaafkanmu. Terlalu takut kau mengulanginya kembali.” Sahut Edelweis sesengukan.


“Kalau kau bisa memaafkan yang pertama. Seharusnya kau bisa memaafkan yang selanjutnya.” Tukas Rajasa.


Edelweis mendorong suaminya dengan keras,”Kau memang brengsek!”


“Aku hanya menyampaikan logika berpikirku padamu. Kalau kau bisa memaafkan yang pertama maka tentu seharusnya kau juga bisa memaafkan yang lainnya.”


“Itu sebabnya aku tidak mau memaafkanmu!”


“Aku berusaha menghentikannya. Tapi kau harus percaya dengan yang namanya proses.”


“Cukup! Aku tidak mau mendengar apa pun darimu lagi!”


“Sebaiknya kau tenangkan dirimu. Kita tidak akan bisa berbicara dalam keadaan emosi seperti ini.”


“Aku hanya tidak percaya dengan semua ini. Seringkali aku menganggap semua hanyalah mimpi. Apakah dari pertama kita bertemu. Kau sudah berpura-pura?”


“Aku tidak pernah berpura-pura. Tidak ada gunanya menjelaskan apa pun. Kita beda persepsi. Aku lelaki sedangkan kau wanita. Kau tidak akan pernah mengerti.”


“Pembicaaan ini sangat tidak berempati!” Sahut Edelweis marah, “Kau tidak memiliki perasaan sama sekali.”


“Aku ingin kita bisa bertahan dalam segala situasi. Mengkhianati adalah ketika aku membuangmu dan menggantikan dengan yang lain. Tidak bertanggung jawab kepadamu dan anak-anak kita.”


“Kau benar-benar keterlaluan!” Edelweis menangis tanpa henti. Mengurung diri di kamar. Menghadapi gunungan amarah yang ada di dalam dadanya.


Ryan menengahi pertengkaran mereka. Mendampingi Edelweis menghadapi Rajasa.


“Kau sudah menyakitinya. Bersikaplah empati!” Tukas Ryan dengan keras kepada Rajasa. Memeluk Edelweis yang terus menangis dan mengucurkan air mata.


“Kau tidak usah ikut campur!”Ujar Rajasa marah.


“Kau sudah menyakitinya! Dia tidak bisa membela dirinya.”


“Aku tidak menyalahkannya. Aku hanya memintanya untuk bertahan dan bersikap dewasa.”


“Kau yang tidak dewasa! Tidak bisa menghargai perasaan orang lain. Apalagi menghormatinya!”


Rajasa mendorong Ryan,” Kau bukan suaminya! Jangan ikut campur urusan rumah tanggaku! Jangan peluk istriku!”


Ryan membalas mendorong,”Aku tidak akan ikut campur seandainya kau tidak seperti banci!”


Rajasa melayangkan tinjunya. Ryan membalasnya. Edelweis berteriak histeris, “Mengapa kalian saling baku hantam?!”


Rajasa dan Ryan tidak mendengarkan perkataan Edelweis. Mereka terus saja saling menyerang satu sama lain. Edelweis berusaha melerai ketika tanpa sengaja bogem mentah Rajasa yang ditujukan pada Ryan melayang sekuat tenaga mengenai wajah Edelweis yang tiba-tiba saja muncul. Seketika Edelweis pingsan.


“Kupikir kita harus membawanya ke rumah sakit.” Ujar Rajasa. Darah mengucur dari sudut bibirnya. Akibat pukulan Ryan.


“Kau benar! Sepertinya dia pingsan. Hidungnya juga berdarah. Kuharap kau tidak mematahkan hidungnya! Dasar banci!!!”


Rajasa tidak berkata sepatah kata pun. Dia menyesali semua perbuatan dan pengkhianatannya pada Edelweis. Tetapi dia juga tidak ingin pernikahan dan hubungan mereka berakhir.


Mengkhianati tidak serta merta berhenti mencintai. Dia memerlukan waktu untuk menghentikan semuanya. Tetapi tidak sekarang. Dia ingin memastikan semua akan benar-benar berakhir pada saatnya nanti.


Ryan membopong Edelweis ke dalam mobil. Rajasa mengemudikan mobil secepatnya menuju rumah sakit.


Sesampai di rumah sakit. Edelweis dibawa ke ugd. Wajahnya terlihat bengkak dan darah mengucur dari hidungnya. Edelweis sendiri tidak sadarkan diri.


“Kau memang bodoh!” Maki Ryan pada Rajasa.


“Dia muncul tiba-tiba!” Sahut Rajasa.


“Kalau sampai terjadi sesuatu padanya. Aku tidak akan melepaskanmu.” Ancam Ryan.


“Kau akan mengambilnya dariku?” Tanya Rasaja dengan wajah marah.


“Bukan aku yang mengambilnya. Tapi perbuatanmu sendiri!”


“Kau jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan.”


“Aku tidak sehina itu. Kau tidak bisa melindunginya. Menyakitinya!”


“Kau baru saja menikah. Belum tahu tekanan di dalam pernikahan. Kau tidak tahu bagaimana rasanya.”


“Kau jangan mencari alasan! Lepaskan dia!”


“Tidak akan! Kesalahanku bisa diperbaiki kapan saja. Sedangkan rumah tangga jika terlanjur hancur?”


“Itu bukan urusanku. Aku akan menghabisimu jika kau tidak mau melepaskannya.”


“Aku memikirkan Malika dan adiknya yang ada di dalam kandungan istriku.”


“Aku akan menjadi ayah yang sejuta kali lebih baik darimu. Kau tidak usah khawatir.”


“Mengapa kau suka mencampuri urusan rumah tangga orang lain?”


“Mengapa kau tidak memiliki perasaan dan membuat istrimu tertekan?”


“Kumohon. Jangan ikut campur!”


“Aku tidak akan ikut campur seandai kau bisa memperlakukannya dengan baik. Aku tidak tahan melihatnya seperti itu.”


“Urus saja istri dan keluargamu sendiri.”


Ryan menarik krah Rajasa, “Kau memang brengsek. Kau yang membuat masalah. Aku, si tolol yang mau saja membereskan semua masalahmu. Kalau bukan karena Edelweis. Aku tidak mau melakukannya. Ceraikan dia dan nikahi istrimu yang sebenarnya. Urus anakmu yang sebenarnya. Malika dan adiknya adalah anak-anakku!”


“Aku menikahi Nurmala? Aku sudah bilang semua sudah berakhir. Aku sudah tidak pernah menyentuhnya sama sekali. Kau kan suaminya. Tahu persis mengenai hal ini. Daripada kau menganggap anak-anakku yang lahir dari pernikahan resmi sebagai anak-anakmu. Lebih baik kau perlakukan anakku yang lahir dari pernikahan siri. Juga anak mantan suami Nurmala. Sebagai anak-anakmu sendiri. Nurmala janda sedangkan Edelweis, istriku. Tidak usah bermimpi bisa mengganggu rumah tangga orang lain. Aku tidak bermaksud memanfaatkanmu. Aku berterima kasih kepadamu. Sudah mau membantuku mengatasi masalahku. Tapi bukan berarti kau bisa seenaknya menghancurkan rumah tanggaku!” Rajasa membalas mendorong tubuh Ryan.