
Tidak ada yang menyangka pernikahan Roy dan Angela berjalan dengan baik . Semakin membaik.
Roy tidak menyangkal bahwa dia mau rujuk karena melindungi Edelweis dari ancaman Angela yang akan membocorkan foto Edelweis tanpa busana pada Rajasa.
Dia tidak ingin hubungan Rajasa dan Edelweis hancur. Dia bukan tipe orang yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.
Cinta adalah pengorbanan dan juga ketulusan. Melihat Edelweis bisa berbahagia dengan Rajasa. Membuatnya bahagia.
Edelweis mungkin merasa tersanjung dengan semua perlakuannya kepadanya. Tapi itu bukan berarti Edelweis mencintainya.
Perasaan cinta Edelweis hanya untuk Rajasa. Jantungnya berdebar untuk sahabatnya tersebut.
Matanya yang berbinar serta rona merah wajahnya. Semua ditujukan untuk Rajasa. Walaupun mereka berdua kerap mengalami salah paham. Edelweis sendiri berusaha menepis rasa cintanya pada Rajasa. Penyebabnya tentu dia takut gagal. Memiliki perasaan cinta sebesar itu menjadi beban dalam hidupnya.
Bagaimana jika Rajasa sudah tidak menyukai atau mencintainya lagi? Jika berselingkuh? Kembali pada kesukaannya dahulu? Tidak ada satu pun wanita ingin patah hati atau dikecewakan. Mereka ingin diistimewakan dan menjadi satu-satunya.
Awal mereka rujuk merupakan siksaan bagi Roy. Karena cintanya sudah beralih pada Edelweis. Cintanya pada Angela pupus tanpa sisa.
Membenci pengkhianatan, keculasan dan juga kekotoran pekerjaan Angela sebagai model prostitusi kelas atas sekaligus perselingkuhannya yang menjadi noda hitam dalam pernikahan dan juga hubungan mereka berdua.
Dia merasa dibohongi. Angela mengerti cara mengcengkramnya seperti memegang bulu kuduk seekor kucing. Menggunakan Edelweis.
Angela sangat mengenal setiap inchi pikirannya. Tidak ada yang dapat dia sembunyikan darinya.
Roy tidak terlalu menganggap keinginan Angela untuk rujuk secara serius. Karena sudah bertahun-tahun dia mengejar cinta Angela berakhir kecewa. Dalam mindset Angela, dia tidak mungkin bisa jatuh cinta pada wanita lain selain dirinya. Hal itu memang benar adanya. Sampai dia bertemu Edelweis.
Tidak butuh waktu lama bagi hati dan jiwanya untuk mencintai gadis itu. Pindah ke lain hati. Hal mana membuat Angela murka dan sangat membenci gadis itu.
Perlahan sikap Roy yang dingin dan acuh berubah melihat kesungguhan Angela merubah semuanya.
Berusaha melayani Roy dengan baik walaupun dengan bantuan asisten-asisten rumah tangga mereka.
Angela hanya pandai merawat dirinya dan melakukan hal yang berhubungan dengan model dan fashion. Sangat bossy dan egois.
Walaupun perasaan Roy sudah menguap tapi Roy tetap melayani dan memperhatikan isterinya dengan baik.
Angela sendiri kerap mengeluhkan sikap dingin Roy kepada Clara sahabatnya.
"Lo sendiri yang pengen rujuk sama Roy. Lo juga udah tau kalau dia udah pindah ke lain hati, Edelweis."
"Edelweis, sialan! Apa sih kelebihan dia dariku?"
"Lebih baik kau konsentrasi untuk mengambil hati Roy kembali."
"Bagaimana caranya?"
"Penuhi kebutuhan perut dan di bawah perutnya?"
"Maksudmu?"
"Coba kau belajar memasak. Setidaknya kau pastikan untuk memperhatikan kebutuhan makanan suamimu. Kalau yang di bawah perut kan memang keahlianmu." Sahut Clara tertawa.
Angela menjalani saran Clara. Cipratan minyak bercampur dengan suara jeritan Angela.
"Tolong!"
Roy tergopoh-gopoh menuju dapur.
"Kau kenapa?" Tanyanya kaget dan cemas.
"Wajannya ngamuk!" Seru Angela ketakutan.
Roy melihat minyak bercipratan keluar dari dalam wajan.
"Kau masak apa sih? Memangnya kau bisa memasak?"
"Aku cuma menuang minyak dan tau-tau mereka berlompatan."
"Bi Inah! Ini kenapa sih?" Tanya Roy pada asisten rumah tangganya.
"Nyonya memasukkan minyak ke wajan yang masih basah, Tuan. Jadi minyaknya nyiprat semua."
"Sudahlah! Kau tidak usah memasak. Nanti kalau malah kau yang kegoreng kan repot!" Roy mengambil sutil dari tangan Angela menyerahkannya pada bi Inah.
"Nyonya jangan dikasih masak. Bisa abis rumah. Bibik aja yang masak."
"Nyonya sendiri yang mau tuan."
"Kau tidak usah memasak. Biar bi Inah saja atau pesan makanan aja. Aku tidak ingin terjadi sesuatu pada rumah kita."
"Kau tidak memikirkanku. Rumah kita saja yang kau pikirkan?" Sahut Angela cemberut.
"Aku memikirkan semuanya."
Perasaan Roy semakin berubah setelah Angela mengandung benihnya. Dirinya menjadi tidak tega. Perasaan sayang dan cintanya perlahan kembali.
Roy sangat bahagia saat mengetahui Angela hamil.
"Kau harus hati-hati menjaga kandunganmu!"
"Banyak makan buah dan sayur!"
" Jangan lupa minum vitaminmu."
"Habiskan susumu!"
"Ini sudah jam berapa? Kau harus tidur!"
Setiap permintaan Angela adalah titah.
"Badanku pegal!"
"Aku mau makan yang asam-asam!"
"Aku ingin makanan pedas!"
"Aku tidak mau kau kemana-mana."
Roy juga dengan telaten menemani Angela menemui dokter kandungannya. Menemaninya berjalan untuk kesehatan kandungannya. Memastikan semua kenyamanan isterinya. Tanpa merasa terpaksa atau terbebani.
"Aku gak akan berangkat ke kantor sebelum kau menghabiskan makanan, susu dan vitaminmu."
"Kau memperlakukanku seperti anak kecil."
"Kau sedang mengandung anakku."
"Nanti kuminum."
"Mengapa tidak sekarang kau habiskan semua?"
"Nanti saja. Aku masih kenyang."
"Kau baru bangun tidur. Gak mungkin kenyang. Kalau kau baru selesai makan dan ku suruh makan lagi, mungkin saja kau kenyang."
"Belum lapar!"
"Ini sudah waktunya makan pagi. Kalau kau biasa telat makan. Nanti bisa sakit maag."
Roy menjadi overprotektif sejak Angela hamil.
Mereka juga mendesain kamar bayi. Karena anak mereka diperkirakan lelaki. Mereka memadukan warna biru.
Untuk box tempat tidur anak mereka, menggunakan warna steel blue. Wall papernya kombinasi soft dan baby blue.
Korden dan lantainya senada dengan warna box bayi, steel blue.
Mereka tidak menggunakan desain umum tetapi menggunakan desain khusus.
Yang didesain secara eksklusif.
"Aku ingin desain kamar anak kita eksklusif dan gak pasaran." Sahut Angela ketika mereka makan pagi bersama.
"Terserah."
"Ada designer yang direkomendasikan temenku. Aku udah liat hasil portofolionya. Aku sangat terkesan dengan hasil kerjanya."
"Ya sudah pakai saja. Kalau kau suka."
"Terima kasih, sayang!"
"Kalau ada maunya aja. Aku dipanggil sayang."
"Ada sambungannya. Ada uang abang disayang. Ada uang abang dibuang!"
"Kura-kura dalam perahu, pura-pura gak tahu aja deh!"
Kontan Angela tergelak.
"Aku kalau gak ada uang juga pusing, yang… Kabur aja mendingan daripada pusing dengerin kamu ngomel!"
Pecah tawa mereka berdua.
"Uang bukan segalanya tapi segalanya butuh uang."
"Ya itu dia. Ke wc umum aja bayar."
"Mengapa kau menyukai Edelweis?"
"Karena dia baik, jujur dan menyenangkan."
"Memang aku tidak menyenangkan?"
"Dulu? Memangnya kau mau aku tidak setia padamu dan jadi gigolo?"
"Ya tidaklah!"
"Aku juga sama."
"Aku takut kau tidak bisa bertanggung jawab padaku jika aku bergantung padamu."
"Buktinya?"
"Namanya juga takut."
"Kita sebagai manusia wajar memiliki ketakutan-ketakutan.Tapi kita berusaha melaluinya. Jangan jadikan ketakutan kita justru menghambat kita sendiri dari kebahagiaan yang akan kita raih."
"Yeah, takut sebagai tanda kehati-hatian tapi bukan berarti hal itu menjadi acuan apalagi kalau sampai membuat kita jadi pesimis atau apatis."
"Semua positif karena kita positif dan berbuat yang positif."
"Aku positif karena hamil."
"Itu mah beda lagi keleus!"
Mereka kembali tertawa.