
Sepandai-pandainya tupai melompat. Sekali waktu jatuh juga. Sepandai-pandainya menutupi bangkai. Akan tercium juga.
Edelweis mencari dokumen asuransi dan berkas yang disimpan dalam satu tas khusus.
"Dimana aku letakkan? Seingatku ada disini?" Dia mulai mencari dengan memeriksa laci-laci, lemari dan setiap sudut yang memungkinkan untuk terselip berkas-berkas tersebut.
"Dimana kuletakkan berkas-berkas tersebut? Mengapa menghilang begitu saja?"
Edelweis memeriksa setiap sudut dan hasilnya nihil. Berpindah dari kamarnya ke kamar kerja Rajasa. Memeriksa semua lemari dan laci yang ada.
Ada sebuah laci terkunci.
Semua sudah diperiksa tidak ada. Hanya tinggal laci terkunci itu saja yang belum diperiksa.
Di laci meja kerjanya yang paling atas. Ada rentengan kunci yang sepertinya merupakan kunci-kunci laci tersebut.
Sebenarnya dia malas mencoba rentengan kunci-kunci tersebut satu per satu. Tetapi karena dia sangat membutuhkan dokumen asuransi untuk persiapan Malika bersekolah tahun depan. Memutuskan untuk mencarinya sampai ketemu. Jika tidak ketemu juga. Mungkin terpaksa, dia meminta surat hilang ke polisi. Untuk mengurus dokumen tersebut.
Edelweis berhasil membuka laci yang terletak di tengah yang terkunci.
Tidak ada apa pun melainkan sebuah handphone.
Handphone siapa?
Dengan penasaran dia mencharged handphone yang lowbat. Membukanya karena handphone tersebut tidak terkunci.
Jantungnya berhenti berdetak. Melihat foto-foto tidak senonoh dan video panas berisi pergumulan di atas tempat tidur yang sangat panas antara Rajasa dengan seorang wanita. Siapa dia?
Air mata menuruni pipi Edelweis. Jiwanya sangat terguncang. Semakin terguncang setelah berhasil mengenali wanita yang ada di dalam video tersebut. Nurmala.
Istri Ryan?
Omg! Suaminya berselingkuh dengan istri sahabatnya sendiri?
Apa yang harus aku lakukan?
Dengan gemetar dia menelpon Ryan.
"Kau harus ke sini sekarang juga!" Ujarnya dengan suara serak dan sengau.
"Kau kenapa?" Tanya Ryan panik.
"Bisakah kau kemari sekarang juga?"
"Baiklah! Aku ke sana!" Ryan menitipkan pekerjaannya pada anak buahnya. Langsung melesat keluar kantor secepat kilat.
Sesampainya di rumah Edelweis. Wajah Edelweis merah dan bengkak.
"Kau kenapa?"
Edelweis menghambur ke dalam pelukan Ryan. Meneruskan tangisnya. Tidak berhenti dari sejak dia melihat isi handphone Rajasa yang tidak pernah diketahuinya sebelumnya sama sekali.
Ryan mengelus kepala Edelweis.
"Kau tenang dulu! Ada apa? Ceritakan padaku!"
"Aku…" Tangisnya kembali meledak.
"Ya sudah! Tidak usah berkata apa-apa. Tenangkan dulu dirimu."
Edelweis menangis pilu. Dirinya tidak menyangka sama sekali. Suaminya mengkhianati dirinya.
"Aku ingin cerai!" Ucapnya disela tangisan pilunya.
"Tapi kenapa?"
"Rajasa…" Edelweis tersedak. Air matanya kembali mengucur deras.
"Kau tenang dulu, ya?" Sahut Ryan membelai punggung Edelweis.
"Dia jahat sekali! Aku tidak percaya ini! Oh Tuhan! Sakit sekali! Aku mau mati!" Tangisnya kembali meledak.
Ryan memeluk Edelweis. Berusaha meredakan tangisnya. Menenangkan dan menyamankan perasaannya. Tetapi tidak berhasil.
"Aku benar-benar tidak menyangka sama sekali!" Tangis Edelweis kembali pecah.
Lukanya tak berdarah. Tapi menusuk sampai relung jiwanya. Dirinya nyaris gila. Hatinya begitu sakit.
Oh Tuhan! Apa salahku? Aku mengabdikan seluruh hidupku. Mengapa dia membalasnya dengan perlakuan yang sangat menyakiti hatiku. Melukai perasaan dan jiwaku?
"Aku ingin cerai!"
"Ingat Malika! Kau jangan egois!"
"Aku tidak kuat lagi. Aku mau mati."
"Aku tidak melarangmu bercerai. Tapi pikirkan dulu semuanya. Jika memang tidak bisa juga. Aku akan membantumu mengurus perceraianmu. Bagaimana?"
Edelweis menganggukkan kepalanya.
"Maafkan aku! Aku bukan bermaksud egois dan tidak memikirkan Malika. Semua terasa sangat menyakitkan untukku."
"Tidak apa-apa! Dalam rumah tangga biasa kalau ada perselisihan. Mengapa kau ingin bercerai dengan Rajasa?"
Edelweis menyodorkan handphone milik Rajasa yang tanpa sengaja ditemukannya.
"Dia berselingkuh dengan istrimu."
"Kau sudah tahu?"
Semua yang terjadi seperti berpihak pada Ryan. Dia tidak perlu mencari alasan apalagi membuat rencana untuk memisahkan Edelweis dengan Rajasa.
Dia tidak ingin melihat Edelweis terluka akan perbuatan Rajasa. Semua terbukti. Edelweis terluka setelah mengetahui pengkhianatan suaminya.
"Kau benar ingin bercerai dari Rajasa?"
Edelweis menganggukkan kepalanya.
"Tidak ingin memberikannya kesempatan?"
Edelweis menggelengkan kepalanya.
"Itu sama saja membiarkannya menyakitiku kembali."
"Kejadian ini kemungkinan sebelum Nurmala menikah denganku."
Edelweis memperhatikan video yang ada di hadapannya.
"Astaga! Kau benar."
"Sudah berlalu kan?"
"Aku tetap ingin meminta cerai. Aku tidak bisa menerima pengkhianatannya."
"Bagaimana dengan Malika dan bayi yang ada di dalam perutmu?"
"Mereka akan baik-baik saja."
"Baiklah! Jika kau berkeras untuk bercerai. Aku akan membantu mengurus perceraianmu."
"Terima kasih, Ryan!" Edelweis memeluknya erat. Jantung Ryan berdebar keras.
"Aku sangat berterima kasih padamu. Kau selalu membantuku. Aku sangat bingung."
"Aku mengerti. Kau tidak usah takut. Semua akan baik-baik saja."
Edelweis menganggukkan kepalanya dan kembali menangis di dalam pelukan Ryan.
Nurmala menjadi resah karena Ryan semakin menjaga jarak dengannya.
"Kau kenapa?"
"Tidak apa-apa. Kupikir sebaiknya aku menjaga jarak denganmu. Sebentar lagi kau melahirkan dan kita akan berpisah."
"Kau bilang akan menjalankan kewajibanmu setelah aku melahirkan?"
"Aku berubah pikiran. Maafkan aku!"
"Tapi kenapa?"
"Edelweis akan bercerai dengan Rajasa."
"Tapi mengapa?"
"Dia menemukan foto-foto dan video-video panasmu bersama Rajasa."
Nurmala menutup mulutnya, "Astaga!"
"Aku tidak dapat membiarkannya sendiri. Aku akan menikahinya setelah dia melalui masa iddahnya."
"Kalian akan menikah setelah dia bercerai dan melalui masa iddahnya?"
"Yeah."
"Dia menyetujui menikahimu?"
"Aku belum mengatakan rencanaku. Dia masih sangat terguncang dan bersedih. Tapi aku akan melamarnya. Begitu dia menyelesaikan perceraiannya dan melalui masa iddahnya."
"Bagaimana dia bisa mengetahuinya?"
"Tidak sengaja menemukan handphone Rajasa di salah satu laci meja kerjanya."
"Astaga!"
"Sekarang kau mengerti kan? Kita harus jaga jarak."
"Sejujurnya, aku belum siap berpisah denganmu. Aku berpikir kita akan meneruskan rumah tangga ini."
"Aku tidak bisa. Apalagi Edelweis membutuhkanku. Aku tidak bisa membiarkannya sendiri."
"Aku tahu tidak berhak mencemburuinya. Aku sudah mengganggu suaminya. Aku juga bukan wanita baik-baik. Tapi aku juga tidak bisa membohongi diriku. Kalau aku menyukaimu." Air mata Nurmala menetes dari kedua belah pipinya.
"Edelweis memerlukanku. Aku hanya mencintainya. Kau kan tahu. Seandainya, Rajasa tidak menyakitinya dan bisa membahagiakannya. Aku tidak mungkin merebutnya. Aku tidak keberatan tetap menikahimu dan menjagamu."
"Pengkhianatan itu sudah lama berlalu. Aku dan suaminya sudah tidak memiliki hubungan lagi."
"Hal itu bisa terulang lagi. Aku tidak ingin dia menyakitinya kembali. Aku tidak bisa mempercayai Rajasa. Aku akan menjaganya. Mencintainya dengan segenap hati, perasaan dan jiwaku."
"Aku bukan tidak bisa menemukan lelaki selainmu. Tetapi aku menginginkan lelaki baik, bertanggung jawab juga setia sepertimu. Penyayang."
"Kau akan menemukan yang lebih baik dariku."
"Aku sudah dua kali menikah. Selalu tersakiti. Bersamamu. Aku merasakan kebahagiaan yang hakiki. Walaupun kau tidak mencintaiku. Tapi kau selalu bersikap baik dan melindungiku."