
Rajasa menepati janjinya. Memberikan pekerjaan pada Ryan. Dengan pengalaman Ryan membuat dokumentasi hutan. Sangat menunjang pekerjaannya sebagai editor.
Ryan sendiri mencari kontrakan agak jauh dari kantor. Di dekat perumahan Edelweis dan Rajasa.
Sebuah rumah mungil dengan dua kamar. Lengkap dengan garasi, dapur, kamar mandi luar dan ruang tamu.
Dia juga bisa mencarikan orang yang bisa membantu Edelweis memegang Malika. Tidak mudah karena Malika nyaris menolak semua orang yang menawarkan diri untuk menjaganya.
Malika memilih seorang perempuan berusia delapan belas tahun yang sangat ramah dan menyukai anak kecil.
Malika merasa sangat nyaman dan bisa berlaku sekehendak hatinya. Karena pengasuhnya yang sangat sabar dan menyenangkan.
"Apakah ada yang dipilih Malika?" Tanya Rajasa ketika mereka makan siang bersama di rumahnya.
"Dia memilih Wina. Usianya delapan belas tahun. Baru tamat SMA. Tidak ingin melanjutkan sekolahnya dan memilih bekerja sebagai pengasuh anak karena menyukai anak-anak."
"Malika anak yang sulit. Kau tahu kan mengapa istriku sulit dibantu kalau sudah menyangkut urusan Malika."
"Malika bukan anak yang sulit. Dia sangat selektif. Dia menginginkan kenyamanan untuk dirinya sendiri. Malika mirip denganmu, sebenarnya." Cetus Ryan sambil tertawa.
"Masak sih?"
"Kau pikir saja sendiri. Apa kau bisa semudah itu menerima orang bersamamu?"
"Astaga! Kau benar. Jadi Malika itu fotokopiku."
Ryan tergelak,"Kau tidak menyadarinya?"
"Tidak. Aku hanya berpikir istriku memanjakannya."
"Memang Edelweis tidak memanjakanmu?"
"Sebelum Malika lahir?"
"Edelweis selalu memprioritaskanmu. Setelah Malika lahir tentu saja kau harus mengalah bukan?"
"Yeah! Tapi Malika mendominasi semuanya."
"Kalau Malika sudah nyaman dengan Wina. Edelweis bisa memperhatikanmu seperti sebelumnya. Walaupun sudah pasti tidak sama karena anakmu masih sangat membutuhkan perhatian ibunya. Tidak semua bisa diambil alih pengasuh. Mereka hanya membantu. Bukan berarti istrimu tidak ikut mengurus dan mengasuh. Terutama dalam mendidik."
"Yeah! Kau sangat perhatian. Terima kasih atas bantuan dan pengertianmu. Tidak heran, kalau Edelweis sangat nyaman denganmu. Karena kau begitu pengertian. Apakah seharusnya aku tidak melamarnya? Mengikhlaskan dia denganmu?" Ujar Rajasa.
"Kau bicara apa? Jangan ngaco! Kalian saling mencintai. Memangnya bisa Edelweis bahagia hanya dengan dimengerti?"
"Pernikahan itu membutuhkan pengertian dibandingkan cinta. Seperti hal tanaman. Tanpa pupuk, air dan perlakuan yang baik. Tidak akan bisa tumbuh subur. Sebaliknya mati. Kekeringan."
"Memang kau sendiri bisa melepaskannya?"
"Saat itu tidak tetapi kalau sekarang. Aku sering berpikir mungkin aku terlalu tergesa dan egois. Hanya memikirkan diriku sendiri."
"Cinta memang egois. Tidak mempedulikan semua hal. Merawat cinta adalah pilihan."
"Entahlah! Aku merasa tidak ada apa-apanya dibandingkan dirimu. Kau bisa memahami Edelweis dengan sangat baik. Kalian tidak pernah berselisih. Selalu bisa mengkompromikan semuanya dengan baik."
"Sebentar." Sahut Ryan.
"Kau mau apa?" Tanya Rajasa.
"Tunggu sebentar." Ryan bergegas menuju dapur. Mengeluarkan sebutir telur dan membuat telur ceplok yang sangat bagus. Meletakkannya ke piring.
Kemudian membuat telur satu lagi. Dikocok dengan memasukkan garam dan kaldu. Membuat scrambled egg.
Ryan membawa kedua piring ke meja makan.
"Mana yang paling bagus dan enak di lihat?"
Rajasa menunjuk telur ceplok.
"Mana yang kau pilih, kau bisa mencicipi keduanya."
Rajasa mencoba keduanya dan memilih scrambeld egg.
"Mengapa kau memilih scrambled egg?"
"Telur ceploknya tidak ada rasanya."
"Apakah kau bisa menangkap maksudku?"
"Walapun hubunganmu dengan Edelweis penuh kekacauan tetapi kalian berdua memiliki rasa."
"Tapi rasa tersebut bisa menghilang."
"Sebentar." Ryan kembali membuat scramled egg dengan menambahkan banyak garam dan kaldu. Membuatnya gosong. Menuangkannya ke piring. Menyodorkannya pada Rajasa. Rajasa mencicipi dan menolaknya.
"Yang membuat cinta hilang rasa karena komposisi rasanya sudah tidak seimbang." Sahut Ryan.
"Astaga! Kau benar." Ujar Rajasa.
"Cinta tanpa pengertian. Tanpa kompromi juga empati. Tentu akan seperti scrambled egg yang terakhir kubuat."
"Tetapi kupikir, scrambled yang kacau balau tersebut masih bisa dinikmati dengan nasi." Sahut Rajasa. Pikirannya melayang pada Nurmala yang memang bisa menyelamatkan semua kekacauan di dalam rumah tangganya. Membuatnya bisa bertahan dan menerima apa pun yang terjadi di dalam pernikahannya.
"Seperti ikan asin mungkin. Kalau dimakan begitu saja sangat asin tapi kalau dengan nasi?" Ryan menyambungkan perkataan Rajasa,"Berarti tidak ada alasan kan mengapa harus menyesali atau mengakhiri sesuatu yang menjadi kacau apalagi karena situasi dan kondisi?"
"Yeah!"
***
Edelweis bisa membenahi rutinitasnya dengan lebih baik dan seimbang dengan bantuan Wina.
Malika sangat nyaman bersama Wina. Membuat Edelweis dan Wina lebih mudah mengarahkan Malika.
Malika sudah mau meminum susu formula dan memakan makanan tambahan.
Malika menyukai ASI yang memiliki rasa manis. Sehingga jenis susu formula yang dipilihnya juga yang memiliki rasa manis, gurih dan enak.
Untuk makanan tambahannya Edelweis menggunakan garam dan kaldu untuk mpasi.
Rajasa sangat takjub melihat perubahan anak dan istrinya. Apalagi Edelweis juga meluangkan waktunya untuk menulis artikel. Ryan memenuhi janjinya memberikannya pekerjaan secara freelance.
Edelweis dan Wina mengatur jam makan, mandi, bermain dan istirahat Malika. Edelweis sangat berterima kasih pada Wina dan Ryan.
"Kalian, dua orang yang menyelematkan hidupku."
Ryan tergelak mendengarnya," Kau sangat hiperbolik."
"Memang. Tapi hal itu benar adanya. Tanpa kalian, aku tidak akan mampu berfungsi dengan seharusnya."
Kontan Ryan kembali tertawa.
"Kau berbicara seolah kau kran yang rusak."
"Lebih dari sekedar kran rusak. Kalau kau melihat kabel kusut dan rawan korslet. Itulah aku."
Kali ini tawa Ryan benar-benar pecah,"Kau tidak menyukai rutinitasmu merawat putrimu? Pasti bukan itu kan?"
"Tentu tidak. Tapi putriku seperti putri salju yang menunggu pangeran yang menciumnya dari tidur panjangnya. Pangeran itu adalah Wina."
Wajah Wina merona merah," Ibu jangan berlebihan seperti itu."
"Aku tidak berlebihan. Kau pikir mudah mencari pengasuh untuknya? Mengapa kau tidak ingin bersekolah lagi? Kau masih sangat muda."
"Keadaan ekonomi keluarga. Saya juga tidak suka sekolah selain bermain dan berteman dengan teman-teman. Tapi kalau sekedar bermain. Saya tetap bisa bermain bersama mereka di sela waktu libur saya bekerja."
"Apakah kau suka belajar secara online? Seperti kursus? Mungkin bisa menambah pengetahuanmu dalam menjaga dan merawat anak?"
"Sepertinya saya juga tidak tertarik karena terasa membosankan. Apakah pekerjaan saya kurang memuaskan ibu?"
"Oh tidak sama sekali! Putriku memendam kecerdasan terpendam. Dia bisa menggunakan instingnya seperti halnya tupai memilih mana buah yang baik atau tidak. Aku tidak bermaksud memaksamu bersekolah tapi wawasan dan pendidikan sangat penting."
"Saya sudah bersekolah sampai SMA. Saya tidak mau meneruskan lagi dan lebih tertarik bekerja."
"Tapi memang di luar negeri tidak semua orang melanjutkan pendidikan ke akademi atau perguruan tinggi. Apalagi kalau mereka lebih suka langsung bekerja. Pekerjaannya juga tidak membutuhkan pendidikan yang terlalu tinggi."
"Buat apa sekolah kalau cuma membolos dan melakukan hal tidak bertanggung jawab lainnya? Lebih baik bekerja kan bu? Dapat uang dan waktunya juga lebih bermanfaat."
"Hmm, menurutku juga begitu. Sangat prihatin melihat anak-anak yang tawuran, membolos, pacaran bebas dan lulus pun mereka tidak bisa meringankan beban orang tua mereka. Seringkali mereka jadi masalah sosial kan?"
"Kecuali kalau mereka bisa belajar dengan baik. Mereka juga menyukai sekolah dan bekerja sesuai dengan tingkat pendidikan mereka tentu berbeda. Mungkin memang harus dibantu akses mereka agar bisa lebih terfasilitasi. Apalagi kalau orang tua mereka tidak mampu."
"Obrolan ini terlalu berat sebenarnya untuk anak seusiamu. Kau bekerja saja dulu. Kalau kau berubah pikiran dan ingin melanjutkan pendidikanmu. Mungkin kau bisa mempertimbangkan untuk mengambil pendidikan yang berkaitan dengan anak. Karena sepertinya kau sangat menyukai anak-anak."