
Sesampainya di apartement. Edelweis mencari tas obatnya. Mengambil botol obat yang berisi obat penenang yang diresepkan psikiaternya.
Semenjak kasus hukum yang menimpa suaminya. Dirinya merasa gelisah dan tidak tenang. Dia membutuhkan psikiaternya untuk meresepkan obat yang sangat dibutuhkannya dalam keadaan seperti ini.
Perselingkuhan suaminya. Sekarang kasus hukum yang menimpa suaminya membuat dirinya merasakan ketegangan juga ketidaktenangan.
Pintu kamarnya terbuka. Wina berdiri di depan pintu kamarnya.
“Aku memasak ayam panggang kecap dengan sambal tomat. Sop ayam. Rolade ayam. Ibu tidak makan dulu? Aku tidak melihat ibu memakan apa pun dari kemarin. Bahkan tidak menyentuh pizza yang ibu pesan.”
“Aku memesannya untukmu dan Malika. Aku tidak lapar. Aku ingin beristirahat. Aku membutuhkan pilku. Setelah keadaanku nyaman mungkin aku bisa merasakan lapar.”
“Baiklah. Aku akan menemani Malika bermain.”
“Terima kasih, Win…Tolong ambilkan aku minum untuk minum obat.
Edelweis memijat keningnya yang terasa pening. Wina kembali membuka pintu kamarnya. Berjalan menghampirinya. Menyodorkan segelas air kran.
“Terima kasih, Win…”
Edelweis meminum obat penenangnya. Beberapa saat dirinya diserang kantuk yang sangat. Tertidur pulas seperti bayi.
Wajahnya menggurat rasa lelah dan juga sedih. Beban berat menggelayuti wajahnya. Cinta yang dirasakannya seakan membebani serta membayanginya.
Pengkhianatan suaminya sangat memukul dirinya. Dia selalu merasa mereka memiliki sesuatu yang kuat. Mengikat mereka sangat erat. Cinta.
Bagaimana mungkin, saat kita mencintai. Kita mampu mengkhianati orang yang kita cintai? Memberi mereka luka? Yang akan mereka bawa selamanya?
Edelweis terbangun saat hari sudah menjelang sore. Membuka pintu kamarnya. Melihat hidangan di atas meja membuat perutnya merasa lapar. Sepertinya pikirannya mulai rileks setelah dia meminum obat penenangnya.
Menarik kursi makan kemudian mendudukinya. Menyendok nasi ke piring. Mengisinya dengan ayam panggang kecap lengkap dengan sambalnya serta sop ayam. Mengambil sebuah rolade ayam yang tampak sangat lezat.
Malika dan Wina tidak tampak di apartement apakah mereka sedang bermain di kamar Malika?
Selesai makan, mandi dan menunaikan sholat asharnya. Gadgetnya berbunyi. Ryan.
“Kau berada di mana? Aku ke rumahmu dan tidak ada siapa pun di sana?”
“Australia.”
“Aku baru tahu dari Roy bahwa Rajasa mendapatkan masalah hukum di Australia. Mengapa kau tidak mengatakan apa pun?”
“Aku tidak ingin mengganggumu.”
“Mengganggu apa? Kita semua bersahabat. Rajasa juga sahabatku. Bagaimana keadaan kalian?”
“Kami baik-baik saja. Apakah ada yang tidak kau ceritakan padaku?”
“Apa maksudmu?”
“Kau mengetahui pengkhianatan Rajasa dengan Nurmala. Apakah kau mengetahui tentang yang lainnya?”
“Apa maksudmu yang lainnya?”
“Kau tidak tahu sama sekali?”
“Tentu tidak. Apa yang kau bicarakan?”
“Rajasa dituduh membunuh dan menghamili seorang wanita muda yang sedang hamil.”
“Astaga! Aku tidak tahu sama sekali mengenai hal ini.”
“Pemeriksaan dna menunjukkan janin yang dikandung wanita tersebut bukan miliknya.”
“Aku tidak mengerti.”
“Aku juga. Aku akan menemui Rajasa besok meminta penjelasannya.”
“Aku harap kalian berdua bisa melewati semuanya.”
“Ya, kuharap juga demikian.”
“Kabari aku jika ada perkembangan kasus Rajasa.”
“Entahlah. Pikiranku sangat ruwet. Aku mengkonsumsi obat penenang.”
“Baiklah. Kau fokus saja pada kasus Rajasa. Jika kau membutuhkanku jangan segan menghubungiku.”
“Terima kasih, Ryan. Atas pengertianmu.”
“Aku tahu kau melalui masa yang sangat berat dalam hidupmu. Tetapi seberat apa pun itu semua akan berlalu pada waktunya.”
“Yeah, thanks. Semua ini sangat menyakitkanku. Menceritakannya membuat emosiku terluka serta terbuka lagi. Emosiku sangat kacau, marah, sedih dan bingung.”
“Yeah, aku tahu. Maafkan aku jika tanpa sengaja mengingatkanmu pada masalahmu kembali.”
“Kau tidak ada salah sama sekali. Keadaanku yang sedang kacau.”
“Yeah, baiklah. Kita akan bicara lagi jika semua sudah baik-baik saja.”
“Thanks, Ryan.”
“My pleasure.”
Keesokan harinya, Edelweis bersiap menemui Rajasa di penjara. Malika sedikit rewel karena Edelweis sibuk mengurusi kasus Rajasa.
“Aku mau ke taman bermain atau hiburan.” Rengeknya.
“Aku belum bisa menemanimu. Kau bersama dengan Wina saja ya?”
“Aku ingin bersama mama juga.”
Edelweis mengelus perutnya yang semakin membuncit.
“Aku ingin bersama mama.”
“Ada sesuatu yang penting yang harus kulakukan.” Edelweis memeluk anaknya. Menciumnya.
“Jangan nakal. Jadilah anak yang manis. Kau bersama Wina dulu ya? Setelah semuanya selesai kau bisa memilih apapun. Kemana pun yang kau suka.”
“Bolehkah aku membeli boneka? Untuk menemani Lizzy. Dia sepertinya ingin teman baru.”
“Tentu saja boleh.” Edelweis mengecup pucuk kepala buah hatinya. Menciumnya dengan gemas dan penuh kasih sayang.
“Boleh kah aku pergi sekarang?” Tanya Edelweis.
Malika menganggukkan kepalanya.
“Anak manis dan pintar. Aku pergi dulu ya sayang?”
Malika menganggukkan kepalanya.
Edelweis beranjak pergi dari apartementnya. Memesan go car menuju penjara dimana Rajasa berada.
Sesampainya di sana. Saat mereka bertemu. Kerinduan berpendar di mata Rajasa juga penyesalan.
“Kau tidak merindukanku?” Tanya Rajasa melihat sikap Edelweis yang dingin.
“Bisa kah kau menjelaskan semuanya?” Tanya Edelweis dengan nada kecewa juga luka.
“Namanya Kinanti.” Ujar Rajasa.
“Kau mengenalnya?”
“Ya, aku mengenalnya. Dia mahasiswi yang cantik juga pintar serta mandiri.”
“Kau memiliki hubungan dengannya.”
“Iya. Tapi semua tidak seperti yang kau pikirkan.”
“Apa maksudmu tidak seperti yang kupikirkan?!” Teriak Edelweis histeris. Semua mata memandang mereka.
Rajasa menundukkan wajahnya.
“Aku tidak bermaksud membela diriku. Aku memang brengsek. Mengkhianatimu dengan Nurmala dan Kinanti.”
“Ceritakan saja semuanya. Pastikan tidak ada yang tertinggal sama sekali.”
“Aku mengenal Kinanti saat hubungan kita memburuk. Kau mengetahui pengkhianatanku dengan Nurmala. Semua memburuk serta tidak bisa diperbaiki saat itu. Kau tidak hanya menjauhiku tetapi juga akan menikahi Ryan.”
“Kau benar-benar brengsek!!” Teriak Edelweis kembali.
“Aku memang brengsek. Aku pikir rumah tangga kita sudah hancur dan tidak dapat diperbaiki. Kau akan menikah dengan Ryan. Aku tidak ingin menghadapi semuanya seorang diri. Aku merasa marah dan tidak berdaya. Aku bertemu dengan Kinanti. Menjadikannya pelarian.”
Edelweis menatap Rajasa dengan marah.
“Kita akan bercerai. Aku bermaksud menikahinya. Tetapi dia menolaknya. Alasannya, di Australia tidak bisa menerima poligami. Dia tidak ingin kehilangan kehidupan juga kemandiriannya.”
“Lalu?”
“Hubungan kita membaik. Aku tidak pernah menghubunginya lagi. Apalagi dia juga tidak bisa melupakan mantannya. Mereka tetap berhubungan walaupun dia sedang bersamaku. Aku memergoki mereka berdua. Aku bersumpah tidak akan pernah menikahinya. Hubungan kami tanpa status.”
“Jika kau tidak pernah menghubunginya lagi. Mengapa kau mendapatkan tuduhan membunuhnya?”
“Dia menghubungiku. Mengatakan bahwa dia mengandung anakku. Meminta pertanggungjawabanku.”
“Tetapi test dna menunjukkan bahwa bayi itu bukan milikmu.”
“Yeah. Fakta tersebut juga memukulku. Mengapa dia membohongiku? Dia mungkin masih hidup jika dia tidak membohongiku.”
“Apa maksudmu?”
“Aku tidak ingin rumah tangga kita menghadapi jurang kehancuran dan perpisahan kembali. Mungkin Kali ini selamanya, kau tidak akan mempercayaiku lagi. Aku menyewa pembunuh bayaran untuk membunuhnya. Karena dia menolak sejumlah kompensasi dariku. Dia berkeras aku harus menikahinya. Mengakui anak tersebut berdasarkan Undang-undang Pernikahan nasional Indonesia. Dia sudah mempelajari hukum di Indonesia. Pengesahan anak bisa terjadi karena pernikahan kedua orang tuanya."
“Secara agama, walaupun kalian berdua menikah, anak yang dikandungnya tetap anak zina. Seandainya anak tersebut anak kalian berdua."Tukas Edelweis.
“Kinanti tidak memakai hukum agama dalam menyelesaikan masalahnya. Memanfaatkan hukum positif yang berlaku di Indonesia. Dia mendesakku untuk menikahinya . Bahkan dia tidak peduli jika kau akan meminta cerai jika mengetahui semuanya. Dia ingin menghancurkan rumah tangga kita. Aku tidak memiliki pilihan lain.”
“Yang menghancurkan rumah tangga kita adalah sifat tidak setiamu. Aku terlalu bodoh mempercayaimu kembali.”
“Saat itu kita akan bercerai dan kau akan menikahi Ryan. Apa pilihanku?”
“Menunggu semuanya jelas. Memastikan kita benar-benar bercerai. Jika kita memang sudah bercerai. Terserah kau mau berhubungan dengan siapa pun. Sudah bukan urusanku lagi. Walaupun aku dan Ryan berencana menikah. Kita akan bercerai saat itu tetapi aku tetap setia padamu. Tidak melanggar aturan negara dan agama. Hatiku sangat sakit mengetahui pengkhianatanmu. Ryan, satu-satunya yang bisa mengembalikan kepercayaanku tentang cinta.”
Rajasa bungkam seribu bahasa.
... ...