
Ryan dan Edelweis saling menjaga jarak. Sekaligus menjaga perasaan Rajasa yang kerap merasa cemburu kepada mereka. Kalau dianggap terlalu dekat atau mesra.
Rajasa sendiri semakin mesra dan sayang kepada Edelweis yang memahami kecemburuannya. Dia juga merasa berterima kasih kepada Ryan yang juga sangat mengerti apa yang dirasakannya.
"Edelweis, aku perlu laporan secepat mungkin." Pinta Ryan.
"Baiklah!" Edelweis membuka lap topnya dan terdengar bunyi kriuk yang cukup keras dari perutnya.
Ryan mengambilkan Edelweis makanan dan minuman. Di dekat Edelweis bekerja.
"Makan minumlah dulu. Sudah jam makan siang. Setelah selesai makan siang baru kau lanjutkan lagi pekerjaanmu." Ryan kembali ke dapur untuk mengambil makanan dan minumannya.
Edelweis mengambil makanannya. Memakannya dengan lahap dan meminum air yang dibawakan Ryan.
Mereka memperbaiki hal-hal yang bisa membuat Rajasa salah paham.
Menjadi pasangan suami isteri. Saling menenggang sifat dan karakter masing-masing. Apa yang mereka suka dan tidak sukai.
Suami isteri itu seperti campuran jus. Kalau serasi rasa jusnya enak dan segar. Tapi kalau campurannya gak pas. Rasanya pahit dan kurang enak. Sepat. Masam.
Mereka akan beranjak tidur ketika Rajasa mengutarakan apa yang dirasakannya.
"Terima kasih, ya sayang…."
"Terima kasih apa?"
"Pengertiannya…."
"Pengertian apa? Aku kayaknya gak ngapa-ngapain?"
"Kau mau menjaga perasaanku. Aku lihat kau menjaga jarak dengan Ryan. Kulihat Ryan juga sekarang berhati-hati kalau berinteraksi denganmu."
"Oh itu!"Edelweis mengalungkan tangannya ke leher suaminya. Mereka berciuman dengan sangat mesra. Menuntaskannya dengan saling memadu kasih.
Buah dari sebuah pernikahan adalah kehamilan. Walaupun tidak selalu seperti itu. Tetapi Rajasa dan Edelweis bersyukur pernikahan mereka membuahkan hasil.
Kehamilan Edelweis membuat Rajasa membuat rencana baru untuk mereka berdua.
"Aku akan kembali ke tempat lama. Roy menghubungiku."
"Dia akan berhenti berjualan kaos?"
"Tentu tidak. Usaha kaosnya akan jadi usaha sampingannya. Tapi dia mulai memikirkan tawaran kembali bekerja seperti sebelumnya. Apalagi semuanya sudah direhabilitasi. Nama kita bertiga sudah bersih."
"Tapi aku senang berada dan bekerja di sini. My dream job."
"You are having our baby and I didn't want anything happen."
"Aku akan menjaga diriku sebaik yang aku bisa."
"Rumah sakit jauh. Kalau kau mengalami komplikasi kehamilan bagaimana? Aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu dan bayi kita."
"Aku bukan satu-satunya di hutan ini yang mengandung. Ada sejumlah wanita yang memiliki suami, hamil dan melahirkan."
"Mereka memang orang sini. Lahir disini dan besar disini. Mereka sudah terbiasa dengan semuanya. Don't argue with me. Please!"
"Aku tidak suka sikapmu yang paranoid dan mendikte." Edelweis mengerucutkan mulutnya. Cemberut.
"Aku tidak bermaksud paranoid dan mendikte. Kita kembali bekerja seperti dulu. Aku juga senang bekerja di sini. Dimana pun, selama itu bersamamu. I'll be happy. But, please, be wise."
Edelweis terdiam. Kehamilannya membawa berita bahagia sekaligus membuatnya terpaksa melepaskan dream jobnya.
Rajasa mengadakan farewell party. Semua berbahagia dengan kehamilan Edelweis sekaligus merasa kehilangan mereka berdua.
"Kami akan kehilangan kalian berdua." Ujar Ryan tulus.
"Kupikir disini akan sangat beresiko buat kehamilan Edelweis."Ujar Rajasa tegas.
"Yeah! Kita semua pasti panik kalau terjadi sesuatu dengan Edelweis dan kehamilannya."
"Kau dengarkan kata Ryan. Jangan sampai nanti kau keguguran atau bayi kita meninggal. Kita berdua akan menyesalinya."
"Kami bukan tidak suka kau dan Rajasa disini. Kami semua akan kehilangan kalian berdua. Demi keselamatan kehamilan Edelweis, sebaiknya memang jangan disini."
"But it's my dream job!" Sahut Edelweis keras kepala.
"Kau akan menjadi seorang ibu. Jangan egois. Pikirkan janinmu." Nasehat Ryan"Memiliki anak juga impian. Kau memilih melepaskan dream jobmu atau janin di dalam kandunganmu."
"See? Tidak ada yang lebih penting daripada anak. Good choice and priority!"
Farewell party menimbulkan rasa haru. Mereka sudah bekerja sama seperti layaknya saudara. Saling bantu. Saling dukung. Bercanda dan mengobrol. Membagi banyak hal.
Rajasa memesan makanan khas Kalimantan dan juga mengundang masyarakat yang tinggal di sekitar hutan.
Para gadis menjadikan farewell party sebagai agenda wajib mereka bertemu dengan Rajasa. Mereka berebutan meminta berfoto dengan Rajasa.
"Kau tidak cemburu kan?" Sahut Rajasa was-was, isterinya marah dan ngambek melihat polah para gadis tersebut.
"Aku tidak marah. Tapi malam ini kau tidur di luar saja, ya!"
"Itu sih namanya marah."
Edelweis tertawa menggoda suaminya, "Aku cuma bercanda tapi awas kalau kau ngelaba. Aku benar-benar marah!"
"Tenang saja kedua tanganku berada di tempatnya masing-masing. Terima kasih atas pengertianmu." Rajasa mengecup kening isterinya, "Your the best!"
Para wanita asik mengobrol dan menikmati hidangan yang disuguhkan.
Soto banjar, ketupat, kalumpe, ayam cincane, sate payau dan choi pan. Kue puteri keraton dan jenderal mabok.
Mereka mengitari Edelweis yang sedang hamil muda. Menanyakan hal-hal seputar kehamilannya.
"Apakah kau mengalami morning sickness?"
"Kau ingin anak lelaki atau perempuan?"
"Bagaimana rasanya hamil?"
Mereka mengobrol dengan asyik. Bertukar cerita.
Ryan dan Rajasa sendiri memisahkan diri mengobrol di teras.
"Kau akan kembali bekerja seperti dulu?" Ryan menyenderkan tubuhnya ke dinding.
"Yeah! Bergabunglah kembali. Aku akan merekrutmu. Kuberikan posisi yang lebih tinggi dari sebelumnya. Bagaimana kalau editor?"
"Terima kasih. Aku senang berada di sini. Setidaknya saat ini. Jika satu saat aku membutuhkan pekerjaan atau sudah bosan dengan pekerjaan yang sekarang sedang kujalani. Aku akan menghubungimu."
"Jangan sungkan!"
"Yeah! Bagaimana rasanya akan menjadi ayah? Menjadi suami?"
"Takut."
"Takut? Aneh sekali? Kebanyakan orang berbahagia bisa menjadi suami dan ayah. Mengapa kau takut?"
"Aku takut tidak bisa melindungi anak isteriku. Tidak bisa membahagiakan dan membuat mereka nyaman."
"Yeah! Bertanggung jawab atas mereka."
"Yeah!"
"Kupikir hampir semua lelaki akan merasakan dan mengalaminya."
"Yeah! Mengetahui kehamilan isteriku. Membuatku menjadi penakut. Aku takut sesuatu terjadi padanya kalau kami masih di sini. Padahal sebelumnya aku tidak berpikir seperti itu. Dan tidak memiliki ketakutan apa pun. Tempat ini sempurna. Pekerjaannya, teman-temannya. Semuanya."
"Tapi selain takut tidak bisa melindungi dan menjaga mereka. Apakah kau bahagia?"
"Tentu! Buat apa aku menikah kalau tidak bahagia atau merasa tersiksa?"
"Kupikir kau menjalankan rumah tangga yang kau sudah idamkan sejak lama. Memilih pasangan yang kau inginkan. Kehidupan yang kau dambakan."
"Yeah! Bertemu dengan Edelweis telah banyak mengubah kehidupanku. Atas keinginanku sendiri. Edelweis tidak pernah memaksakan apa pun kepadaku. Itu membuatku sangat nyaman. Dia sangat pengertian."
"Yeah! Kau sangat beruntung mendapatkan dia. Jangan terlalu keras padanya. Bersabarlah."
"Kau selalu bisa menghadapinya. Dia merasa nyaman denganmu. Kau memahaminya dengan sangat baik. Aku cemburu padamu."
"Kau tidak usah cemburu! Itu karena aku mau mengalahkan egoku untuk memahaminya. Aku mendengarkan sehingga bisa memahaminya lebih banyak."
"Kau rival terberatku!"
"Aku tidak akan mengganggu hubunganmu dengan Edelweis. Berhentilah, bertingkah konyol!"