
Rajasa mendudukkan Nurmala di kursi depan. Menutup pintu mobilnya.
Mobilnya penuh dengan belanjaannya sehingga tidak ada pilihan bagi Nurmala selain duduk di depan.
"Pak, gak perlu dianter. Saya bisa pulang sendiri."
"Gak apa-apa. Hari ini kan libur. Saya juga gak ada acara. Temenin saya makan dulu ya?"
Rajasa melajukan mobilnya menuju restaurant favoritenya dengan Edelweis.
"Kamu gak sama anak kamu dan tetangga kamu?"
"Gak, saya cuma mau nebus voucher pampers buat anak saya aja, kok."
"Gak ada acara lagi?"
"Gak ada."
"Temenin saya jalan-jalan ya?"
Nurmala tidak berani menjawab maupun membantah.
Rajasa memarkirkan mobilnya di sebuah restaurant yang tampak asri. Deretan lesehan tersusun rapi dengan view taman yang sangat indah.
"Kamu mau makan apa?" Tanya Rajasa menyodorkan buku menu.
"Terserah bapak."
"Jangan terserah saya. Saya kan gak tau kesukaan kamu apa. Pilih aja makanan dan minuman yang kamu suka."
Nurmala meneliti buku menu. Menuliskan pesanan paket makanan.
"Gak usah pesan makanan yang paket. Ya sudah biar aku aja yg milihin menunya. Kamu suka ayam ya?" Rajasa melihat pesanan makanan paket yang dipilih Nurmala.
"Kamu mau pesen minuman apa? Manis atau asam? Dingin atau panas?"
"Jus mangga aja, pak."
"Baiklah."
Rajasa memesan setengah ekor ayam kremes, ikan gurame ukuran 500 gr digoreng kering, disiram saus manis dengan potongan nanas, paprika merah dan hijau di atasnya. Udang dan cumi digoreng krispy. Tumis pare cumi asin sebagai sayurannya. Karedok. Sambal terasi.
Sambil menunggu makanan dan minuman tiba. Mereka mengobrol.
"Kau tidak ingin menikah lagi setelah bercerai?"
"Malas, pak. Saya udah trauma dengan mantan suami saya."
"Kebetulan aja kamu ketemu yang gak tanggung jawab dan playboy."
"Semua laki-laki kan begitu, pak." Sahut Nurmala tertawa.
"Termasuk saya?"
"Hmm, gak sih. Bapak keliatannya baik."
"Berarti carinya yang kayak saya aja ,dong!" Rajasa tertawa lebar menggoda sekretarisnya.
"Bapak kan udah punya isteri. Nanti saya dilabrak ibu. Gak ah!"
Makanan dan minuman mulai berdatangan.
Mereka mulai menikmati makanan mereka.
"Terima kasih ya udah bantuin belanja. Aku memang agak kewalahan berbelanja. Biasanya dibantu isteriku. Tapi isteriku sibuk mengurusi Malika, anak kami."
"Dedeknya gak dititip aja atau dibawa aja pak, sekalian?"
"Gak bisa. Malika gak suka keluar rumah. Dia sangat nyaman bersama ibunya. Tidak ada yang bisa menggantikan isteriku."
"Ibu repot banget,dong!"
"Ya itu tadi saya bilang. Terlantar semua urusan. Makanya saya sama Roy mempekerjakan kamu. Isteri saya gak bisa mengurus apa pun selain bayi kami."
Nurmala melanjutkan makannya.
"Kamu gak kesepian gak punya suami?"
"Sepi lah. Tapi mau gimana lagi? Saya udah trauma. Mantan suami saya kayak gitu. Gak bisa diandelin."
"Kalau sama saya gimana?"
"Ih! Bapak jangan suka becanda ah!"
"Saya serius! Saya gak akan seperti mantan kamu."
"Itu dia masalahnya. Isteri saya tidak bisa melayani saya sejak anak kami lahir."
"Bapak sabar aja ya pak!"
"Saya udah sabar tapi saya kan laki-laki normal. Gak bisa tahan juga kalau begini terus."
"Apa maksud bapak?"
"Kayaknya kita sama-sama membutuhkan. Gimana kalau kamu jadi isteri siri saya?"
"Saya gak mau ganggu rumah tangga orang, pak! Gak pengen jadi pelakor!"
"Kamu kan gak merebut saya dari isteri saya. Kita bikin kesepakatan. Kita menikah siri, kamu memakai kontrasepsi . Itu kan gak ganggu. Kamu jangan menuntut apa pun selain yang saya kasih buat kamu. Jangan menuntut dinikahi secara resmi. Dan jangan menolak kalau diceraikan. Gimana? Yang penting saya tanggung jawab nafkah lahir batin." Rajasa memandang lurus ke arah Nurmala.
Nurmala termangu.
"Kamu gak punya suami. Pasti kamu juga berat hidup sendiri. Saya pikir tawaran saya cocok buat kita berdua. Gimana?"Lanjut Rajasa.
"Saya tidak mau menyakiti hati ibu, pak."
" Ya, makanya itu tadi. Saya kasih kamu mobil, uang dan rumah. Bagaimana?"
Nurmala tidak berdaya menolak tawaran Rajasa. Karena memang semua yang ditawarkan merupakan kebutuhan dan keinginannya.
Pernikahan mereka dilangsungkan secara siri. Wali, dua saksi dan penghulu. Dengan aturan yang sudah mereka sepakati.
Malam pertama mereka seperti dua orang yang melepaskan dahaga. Nurmala, janda yang tidak memiliki suami sedangkan Rajasa sendiri tidak pernah mendapatkan pemenuhan kebutuhan biologisnya setelah anaknya lahir.
"Aku tidak ingin kau hamil. Jangan sampai telat meminum pilmu. Aku tidak bertanggung jawab kalau kau hamil. Aku tidak bisa mengakui bahwa itu anakku. Aku sangat mencintai isteriku dan tidak ingin rumah tangga kami hancur. Apakah kau mengerti?"
Rajasa bangkit dari tempat tidurnya setelah selesai menyetubuhi sekretarisnya.
"Aku mengerti."
"Tanggung jawabku hanya sebatas materi dan nafkah batin. Tidak termasuk anak. Aku sudah memiliki anak dari isteriku dan itu sudah cukup. Hubungan kita akan berakhir setelah isteriku bisa menjalani hidupnya seperti sebelumnya."
"Baik, pak."
"Satu lagi. Jangan sampai hal ini diketahui siapa pun."
"Baik pak."
Nurmala merasa tidak memiliki pilihan. Tidak mudah membesarkan anak seorang diri. Hidup sebagai janda dan tidak memiliki suami?
Dia mengakui bahwa dirinya kerap merasa kesepian. Tidak memiliki seseorang yang bisa memenuhi nafkah batinnya.
Pekerjaannya sebagai sekretaris cukup untuk menopang kehidupannya dengan anaknya.
Mengontrak rumah di gang agar mudah menitipkan anaknya ke tetangga.
Rumah mungil satu kamar dengan ruang tamu, ruang makan yang menyatu dengan dapur dan kamar mandi.
Sengaja memilih rumah yang kecil agar mudah membersihkan. Selain bisa menghemat uangnya.
Rajasa menepati janjinya. Memberikan mobil, rumah dan sejumlah uang.
"Aku akan memberikanmu uang bulanan selama kita menikah tetapi jika terjadi perceraian, aku akan menghentikannya. Aku akan memberikanmu mut'ah."
"Baik pak."
Memberikan apartement terletak dekat kantor mereka. Apartement dua kamar.
"Apartment lebih terjamin privasinya. Sebaiknya kau ajak anakmu tinggal disini."
"Tidak usah pak. Saya sudah nyaman tinggal di sana. Tidak perlu repot mencari orang yang bisa jaga anak saya. Tetangganya juga baik-baik."
"Tapi kamu harus hati-hati. Jangan sampai ada yang tahu hubungan kita."
"Baik pak."
Membelikan sebuah mobil mungil dan uang sejumlah lima ratus juta rupiah.
Hubungan mereka berjalan dengan lancar. Tidak ada yang mengetahui. Membuat mereka merasa aman dan nyaman.
Mereka melakukannya setiap jam makan siang. Berangkat sendiri-sendiri dari kantor. Bertemu di apartement yang Rajasa beli untuk Nurmala.
Nurmala membelikan makanan untuk Rajasa. Menatanya di meja makan. Membersihkan tubuhnya. Menunggu kedatangan Rajasa.
Begitu Rajasa datang . Mereka akan langsung bercinta. Gairah Rajasa langsung bangkit mencium aroma tubuh Nurmala yang wangi dan menyengat. Lingerie seksi yang membungkus tubuh mulus Nurmala yang sintal dan seksi.
Puas bercinta. Baru mereka makan bersama. Mandi. Kemudian kembali ke kantor. Sendiri-sendiri.
Rajasa sendiri semenjak menikahi Nurmala merasa lebih rileks dan sabar menghadapi semua perubahan Edelweis. Dia merasa semakin mencintai isterinya.