
Dalam keadaan terdesak. Nurmala memutar otaknya. Percuma berargumentasi dengan Ryan apalagi Edelweis yang memang ingin membalas dendam dan sakit hatinya.
Melihat golden momen. Tidak akan melepaskan kesempatan untuk menghukum dan membalaskan kesakitannya.
Cinta bukanlah ego. Jika Edelweis tidak sakit hati. Atau dikhianati mungkin bisa memahami hal itu dengan baik. Tapi siapa pun yang berada dalam keadaan tersebut. Akan sangat sulit untuk bersikap lapang dada.
Ryan mengantarkan Nurmala. Kemudian bergegas menuju rumah Edelweis.
Nurmala menggaduh. Membuat Ryan menahan langkahnya.
“Kau kenapa?”
“Pinggangku.”
Ryan mengangkat teleponnya. Tidak sampai lima belas menit seorang wanita muncul.
“Tolong pijit istri saya, ya bik. Pinggang sakit dan punggungnya pegal.”
Nurmala merengut. Ryan mencium dahinya dan berpamitan keluar rumah.
Akhirnya aku menemukan cara mengatasi masalahku. Gumam Ryan dalam hati.
Pijatan bibik sangat pas. Memang bibik terbiasa melayani panggilan untuk memijat.
“Bik!”
“Ya, nyonya...” Sahutnya sambil terus memijat pinggang dan punggung Nurmala.
“Bisa bantu saya gak?”
“Apa itu nyonya?” Nurmala menyerahkan sepuluh lembar uang seratus ribuan "Kalau berhasil, aku akan memberikan dua kalinya."
Keesokan harinya, sepulang kerja. Ryan mengantarkan Nurmala pulang dan menunggu bibik yang akan memijat Nurmala. Setelahnya baru dia ke rumah Edelweis membantu menjaga Malika.
Gadgetnya berbunyi.
“Sukurlah bibik menelpon. Istri saya sudah menunggu bibik. Cepat kemari ya bik!"
Terdengar suara di seberang gadget Ryan.
“Oh begitu. Baiklah.” Suara Ryan terdengar gundah, “ Iya bik, gak apa-apa.”
Ryan menutup gadgetnya.
“Bibik gak bisa datang. Harus mengantar anaknya ke rumah sakit.”
“Anaknya sakit?”
Ryan menganggukkan kepalanya, “Aku akan menanyakan tukang pijat yang lain.”
“Tidak usah!”
“Tidak usah? Bagaimana punggungmu?”
“Aku tidak mau dipijat oleh tukang pijat. Mereka tidak sepertimu yang bisa memahami tubuhku.” Ujar Nurmala berbohong.
“Tapi Edelweis benar-benar tidak bisa ditinggal sendirian dengan Malika.” Ujar Ryan cemas.
“Ara!” Panggil Nurmala.
“Ya bu.”
“Kamu dan Amalia ke rumah Malika ya? Temani Malika bermain. Naik go car aja.”
“Kau meminta Ara dan Malika ke sana?”
“Bagaimana menurutmu?”
Ryan tampak berpikir sejenak dan menjawab pasrah, “Baiklah. Kupikir memang itu jalan keluar terbaik.”
Nurmala tersenyum dalam hati. Maafkan aku, Edelweis. Sometimes when people have to survive. They have to lie or maybe doing something to manipulate.
Ara dan Amalia menuju rumah Malika dengan menggunakan go car. Sedangkan Ryan memijat punggung dan pinggang Nurmala seperti biasa.
Jantungnya berdebar keras. Tubuh Nurmala yang putih mulus membuat hati dan jiwanya bergetar.
Dia belum pernah menyentuh seorang wanita pun. Dengan Nurmala, pernikahan mereka tidak sungguh-sungguh. Dia akan menceraikannya begitu Nurmala melahirkan dan melewati masa iddahnya. Setelah suci. Pikirannya benar-benar kacau setiap kali memijat dan menyentuh tubuh mulus dan halus Nurmala. Sesuatu seperti hendak dibebaskan tetapi dia berusaha menahannya sekuat tenaga. Dia tidak ingin menyakiti Edelweis. Apa yang telah dilakukan Rajasa kepadanya. Tidak akan pernah dilakukannya. Tidak peduli seberat apa pun dia harus berjuang melawan desakan yang berasal dari dalam dirinya.
“Aku memiliki permintaan.” Ujar Nurmala.
“Apa itu?”
“Aku ingin kita bercerai setelah selesai cuti melahirkanku. Bagaimana?”
“Tapi mengapa?”
“Setelah melahirkan kemungkinan aku akan memerlukan penyesuaian dan membutuhkan bantuanmu. Sampai aku bisa bekerja kembali seperti biasa.”
“Baiklah, tiga bulan setelah kau melahirkan dan tidak lebih.”
“Tidak lebih.”
“Baiklah!”
Ryan mengusap wajah Nurmala dengan tissue. Kesepakatan mereka membuatnya berkonsentrasi penuh pada Nurmala. Setelah Nurmala melahirkan dan cuti melahirkannya habis. Semua sudah berakhir dan dia bisa bebas.
Apa salahnya mengurus Nurmala sampai dia tidak membutuhkannya lagi?
Edelweis walaupun sangat dongkol tetapi dia juga memiliki hati.
Bersaing dengan wanita yang sedang hamil tua membuatku seperti tidak memiliki rasa kemanusiaan. Aku akan meminjamkan Ryan hanya sampai urusan mereka berdua selesai.
Ryan akan menikahiku dan itu sudah lebih dari cukup.
Edelweis sendiri berusaha menjauhi Rajasa. Mereka akan bercerai. Setidaknya itu adalah keputusannya dan Ryan. Mau tidak mau Rajasa akan menyetujuinya. Mereka menyewa pengacara yang handal yang mampu memaksa Rajasa mengikuti kemauannya.
Apalagi dia dan Ryan juga sudah siap untuk mengesampingkan gugatan harta gono gini. Untuk memuluskan perceraian. Mereka akan berjuang hanya untuk hak asuh anak atas Malika dan bayi yang sedang dikandungnya.
Ryan akan kembali melamar pada pekerjaan lamanya bersama Edelweis. Mereka akan hidup di dalam hutan bersama Malika dan bayi yang sedang dikandungnya.
“Mungkin hutan bukan tempat yang sempurna untuk membesarkan anak. Tapi banyak orang yang bisa tetap terdidik dan diasuh dengan baik dimana pun mereka berada. Yang penting kita berdua tetap saling dukung dan bantu.”
“Yeah.”
“Aku minta pengertianmu. Untuk mengurus Nurmala sampai semuanya bisa selesai dengan baik.”
“Yeah. Maafkan aku kalau sudah membebani pikiranmu. Membuatmu terjepit di antara aku dan Nurmala.”
“Tidak apa-apa. Aku tahu kau takut kehilanganku.”
“Aku takut kau merubah pikiranmu.”
“Tidak akan. Aku sudah melakukan kesalahan. Mempercayakanmu pada Rajasa. Aku tidak akan mengulangi kebodohanku lagi.”
Rajasa sendiri merasa putus asa. Melihat tekad Edelweis dan Ryan untuk bersama. Memilih melarikan diri ke pekerjaannya dan Kinanti.
Untuk apa dia membuang waktu dan pikirannya. Berlaku seperti orang bodoh. Mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin.
Edelweis dan Ryan adalah couple goals. Mereka akan saling dukung dan mengatasi apa pun yang akan mereka hadapi.
Ryan akan memenuhi semua keinginan dan harapan Edelweis. Hal mana yang tak mampu dilakukannya. Dia tetap akan memecat Ryan begitu menikahi Edelweis dan memblok semua akses pekerjaannya. Selama hal itu bisa dilakukan kecuali yang berada di luar jangkauannya. Ryan sangat memahami hal itu.
Kemungkinan dia tidak bisa menuntut hak asuh anak. Atas dasar bukti yang diajukan Edelweis. Kesaksian bahwa dia bisa mengurus Malika dengan bantuan dari Ryan. Akan membuatnya tampak tidak becus mengurus anak. Dan memang seperti itu adanya. Dia bisa setiap saat kehilangan kontrol atas Malika. Hal mana tidak akan terjadi pada Ryan.
Rajasa melepaskan semua rasa frustasi dan kekecewaannya pada Kinanti. Pekerjaannya bolak balik Australia Jakarta membuat dirinya lebih bisa mengatasi tekanan yang sedang dialaminya. Dia akan kehilangan istri dan anak-anaknya. Wanita yang sangat dicintainya. Walaupun hubungan mereka berdua penuh terpaan badai. Tetapi hatinya masih sangat mencintai istrinya. Enggan berpisah. Tetapi dia telah melakukan kesalahan. Yang tidak bisa dimaafkan istrinya. Hal itu membuatnya sangat tidak berdaya.
“Ada apa denganmu?” Tanya Kinanti setelah mereka selesai bercinta.
“Aku kenapa?”
“Kau seperti mengamuk.”
“Aku akan kehilangan istri dan anak-anakku.” Ujarnya serak. Air mata mengalir dan Rajasa mengusapnya kasar. Man doesn’t cry.
“Kau tahu tidak ada wanita yang bisa menerima pengkhianatan.”
“Yeah.”
“Karena itu kah kau menghubungiku lagi?”
“Aku akan menikahimu.”
“Apa? Kau tahu di Australia tidak bisa menerima poligami. Aku tidak ingin ada masalah.”
“Aku akan bercerai dengan istriku. Dia akan menikahi sahabatku. Can you imagine?”
“Its really hard for you.” Kinanti menarik selimut menutupi tubuh polosnya.
“Ofcourse. I will lost her. Maybe forever. And I can’t believe that she will be ended with my best friend.”
“Maybe he love your wife sincerely.”
“Yeah. Still I can not except.”
“Your ego can not except.”
“You don’t understand. Its not about the ego. I don’t want her to love another beside me.”
“But you love another. Its not fair.”
“I love no one but her. Its just a lust no futher more.”
“Include us?”
“Include us.”
“What is a love exactly? If can turn arround to another. Its almost have no difference.”
“Love is when someone always stay in your heart and mind. You hope you will be with them forever. No matter what you are going through.”