Rajasa

Rajasa
Resah



Rajasa memandang langit-langit kamar hotelnya. Pikirannya menjadi ruwet dan buntu.


Mengapa aku selalu mengulangi kebodohan yang sama? Aku tidak tahu mana yang lebih bodoh. Pengkhianatanku dengan Nurmala atau dengan Kinanti?


Dia sendiri yang tidak ingin menikah sekarang ngotot minta pertanggungjawabanku?


Apa yang harus kulakukan?


Rajasa memencet sebuah nomor. Dia mendapatkan informasi tentang nomor tersebut dari salah seorang temannya.


Mereka berjanji bertemu di sebuah tempat.


“Tidak ada yang tahu tentang pertemuan kita kan?”


“Tidak, mengapa?”


“Aku ingin kau merahasiakannya. Jangan sampai ada yang mengetahui.”


“Baiklah, kau tenang saja.”


“Berapa aku harus membayarmu?”


“500 juta. Dp 200 juta. Sisanya, begitu misi selesai dijalankan.”


“Baiklah. I want everything is clear.”


“Don’t worry.”


“Aku sudah menstransfer uang dpnya.”


Orang tersebut mengecek mobile bankingnya. Kemudian menganggukkan kepalanya.


Rajasa berdiri, “aku harus pergi sekarang.”


“Baiklah.”


Mereka berpisah dan kembali ke kendaraan masing-masing.


Edelweis menelpon suaminya.


“Ada apa sayang?” Tanya Rajasa.


“Tidak ada apa-apa. Hanya ingin menelponmu.”


“Aku juga merindukanmu. Hanya saja. Aku sedang sibuk.”


“Yeah. Aku akan menelponmu kembali jika kau sibuk.”


“Saat ini kebetulan waktuku sedang luang.” Hubungan mereka yang membaik membuat keduanya saling intens berkomunikasi dan memberi kabar satu sama lain.


Rajasa tidak ingin hubungan mereka memburuk kembali.


“Aku menelponmu karena…”


“Karena apa? Katakan saja.”


“Aku tidak ingin kau salah menangkap maksudku dan kita jadi bertengkar.”


“Kau takut aku akan mengkhianatimu lagi?”


“Aku sangat bodoh kan? Tidak mempercayaimu. Meragukanmu?”


“Kau tidak bodoh. Siapa pun yang mengalami trust issue akan berlaku sama. Aku bisa mengerti mengapa kau mencurigaiku.”


“Aku bukan bermaksud mencurigaimu apalagi tidak mempercayaimu.”


“Yeah, aku tahu. Ada urusan yang benar-benar sangat penting yang harus kuselesaikan.”


“Kuharap semuanya bisa berjalan lancar.”


“Yeah, kuharap juga begitu.”


Rajasa kembali ke hotelnya bersiap untuk kembali ke Indonesia. Semua akan berjalan lancar dan kembali seperti semula.


Aku berjanji ini yang terakhir kakinya. Aku tidak akan mengulangi kebodohanku lagi. Walaupun langit runtuh menimpaku. Aku berjanji!


Rajasa memesan pesawat yang paling pagi ke Indonesia. Rasa rindunya meluap. Ingin bertemu dengan anak dan istrinya.


Kinanti berulang kali menelponnya tetapi dia mengabaikan serta memblokir nomornya.


Rajasa memasang status igcognito selama stay cationnya. Dia tidak ingin Kinanti menemukannya.


Benar-benar tidak ingin menemui wanita itu lagi. Semua yang terjadi di antara mereka berdua tidak berarti apa pun.


Tidak pernah ada keinginan untuk membangun hubungan jangka panjang. Bahkan tawarannya untuk menikahinya bukan karena ingin melanggengkan cinta mereka di dalam pernikahan.


Hubungan mereka sebatas melampiaskan nafsu. Dia hanya tidak ingin berdosa karena melakukan perzinahan tetapi tidak ada keinginan untuk membangun rumah tangga yang sesungguhnya.


Bukan jenis pernikahan yang dilakukan karena untuk menjaga kesucian diri serta kehormatan melainkan agar mereka tidak berzina.


Bahkan saat ini, Rajasa merasa bahwa Kinanti sudah menjadi ancaman serta duri dalam daging bagi keluarga serta rumah tangganya. Membuatnya terpisah dari Edelweis selamanya.


Aku tahu bagaimana karakter Edelweis. Dia tidak akan pernah memaafkanku seandainya dia mengetahui apa yang terjadi antara aku dan Kinanti.


Dia tidak akan pernah mengerti penjelasanku. Apa pun itu! Dia akan menganggap aku mengkhianatinya kembali. Dan selalu mengkhianatinya.


Aku tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada Edelweis jika dia mengetahui tentang aku dan Kinanti.


Apalagi Kinanti sendiri sangat mengintimidasi. Dia akan menghancurkan rumah tanggaku dengan Edelweis.


Wanita itu tidak akan rela jika dirinya hancur seorang diri. Ingin semuanya hancur terutama pernikahan serta rumah tanggaku.


“Istriku akan menceraikanku jika mengetahui semuanya.”


“Baguslah! Kita bisa menjadi membangun keluarga kecil kita. Jika istrimu meminta cerai.”


“Kau jangan mimpi! Aku tidak akan menikahimu. Melepaskan istrimu dan menggangtikan dengan wanita sepertimu!”


“Memang aku wanita seperti apa?”


“Kupikir aku bodoh? Kau tidak bisa lepas dari mantanmu!”


Kinanti terdiam.


“Aku akan melakukan apa pun demi bayi yang kukandung.”


Rajasa menatapnya dengan wajah muak dan marah.


“Kau hanya menginginkan uangku.”


“Aku membutuhkan status untuk anakku. Aku tidak ingin dia lahir tanpa ayah dan keluarga yang bisa melindunginya.”


“Apa maksudmu? Keluarga yang bisa melindunginya? Jika aku segembel mantanmu apa kau juga akan memaksaku untuk bertanggung jawab?”


“Kau tidak usah beretorika!” Bentak Kinanti marah.


“Ini masalahmu! Kau berusaha menimpakannya padaku dan rumah tanggaku!”


“Aku akan memohon serta melakukan apa pun demi bayi yang kukandung!”


Rajasa berusaha melupakan perselisihannya dengan Kinanti. Dia sudah menemukan jalan keluar masalahnya.


Aku tidak memiliki pilihan lain. Kau yang memaksaku untuk melakukannya. Kau tidak suka dengan cara baik-baik. Menampik tawaran kompensasi berupa uang.


“Aku tidak butuh uangmu!” Teriak Kinanti histeris.


“Aku tidak bisa memberikan apa pun selain ini. Aku akan menambah dua sampai tiga Kali ya? Bagaimana? Kau bisa mengambil apartementku di Australia. Kendaraan baru. Apa lagi?”


“Aku ingin bayi yang kukandung memiliki status. Keluarga yang bisa melindunginya.”


“Selamanya anak itu tidak akan bisa masuk ke dalam keluargaku. Aku tidak akan pernah mengakuinya sampai kapanpun.”


“Kita akan menikah di Indonesia. Pernikahan yang sah akan membuat anak ini menjadi anak sah. Aku sudah mempelajari hukum di Indonesia.”


“Aku tidak akan menikahimu. Poligami resmi di Indonesia membutuhkan ijin dari istri pertama. Dan itu tidak akan terjadi. Aku tidak akan menyakiti hati istriku.”


“Kau bisa memalsukan statusmu sebagai bujangan.”


“Kau pikir memalsukan status tidak akan membatalkan poligami tersebut?”


“Aku akan memikirkan cara agar istrimu mau menerimaku dan bayi yang kukandung!”


“Kau jangan mengacau! Jangan ganggu istriku. Aku tidak akan membiarkanmu menyakitinya! Kau dengar aku!”


“Aku hanya memintamu melakukan apa yang harus kau lakukan!”


Rajasa memijat keningnya yang berdenyut. Meminta Kinanti mematuhinya sangat sulit. Kinanti tetap pada pendiriannya.


Keesokan harinya, Rajasa bersiap menuju bandara setelah sholat subuh mengejar pesawat paling pagi menuju Indonesia.


Menaikkan kopernya ke bagasi taksi. Meminta supir untuk melajukan kendaraannya secepat mungkin.


Hatinya lega. Akhirnya, dia meninggalkan Australia serta membereskan semuanya.


Aku berjanji tidak akan pernah mengecewakanmu lagi. Ini yang terakhir kalinya. Aku berjanji!


Sesampainya di Bandara, Rajasa bergegas  mengeluarkan kopernya dari bagasi serta bergegas menuju bandara. Bersiap untuk check in.


Menyeret kopernya secepat mungkin. Meletakkannya ke dalam alat detektor logam. Mengantisipasi bom. Walaupun seringkali alat tersebut salah mengenali. Terutama jika ada barang yang berjenis metal seperti jam, handphone dan lain-lain.


Rajasa mengambil kopernya yang sudah lolos pemeriksaan. Bergegas menuju tempat untuk check in.


Rajasa sedang menunjukkan paspornya dan semua barang bawaannya sedang ditimbang.


Rajasa mengambil tiketnya Dan bersiap untuk menuju ruang tunggu keberangkatan.


Mencocokkan gate pesawatnya. Saat dia akan menyerahkan tiket pesawat ke pramugari.


“Freeze!”


“Sir, wait a minute.” Sahut Pramugari menahan langkah Rajasa.


“What is it miss?”


“You are under arrest!”


Rajasa membalikkan tubuhnya. Dua orang polisi bergegas menuju ke arahnya dengan pistol mengacung ke arahnya.


Salah satu mengarahkan pistol ke arahnya sedangkan yang satu memasang borgol pada kedua tangannya.


“What is going on?”


“You are under arrest for convicted to a  murder.”