
Di tengah kebimbangan yang menerpa dirinya. Dia menerima sebuah paket dari seseorang yang tidak pernah dia duga sama sekali sebelumnya.
Dia hampir melupakan Aksa. Apalagi pikirannya juga sudah teralihkan dari semua permasalahan hidupnya.
Tidak ada alamat atau apapun. Hanya kiriman berisi kartu ucapan ulang tahun dan sebuah kotak berisi surat-surat.
Semua surat itu ditujukan untuk dirinya. Tanggalnya menunjukkan setelah Aksa pergi meninggalkan sepucuk surat buatnya.
Aksa menulis surat tersebut secara rutin dan semua dikumpulkan dan dikirim menjadi satu.
Dia tidak dapat menahan air matanya membaca surat-surat tersebut satu per satu.
Semua surat yang ditulis membuatnya sangat tersentuh.
Tidak pernah bermaksud membuat Aksa terluka atau bersedih.
Juga tidak pernah mengira persahabatan mereka bisa berakhir seperti ini.
Dia menyimpan semua surat itu dengan rapi bersama semua hadiah ulang tahunnya.
Dadanya menjadi lebih plong setelah menangis.
Tidak semua masalah itu harus dicari jalan keluarnya tapi lapangkan dada dan biarkan masalah mencari jalanmya sendiri apakah menguap, keluar atau menetap.
Berdamai dengan hidup dan masalah sama halnya seperti orang menerima semua ketetapan buruk dalam hidupnya apakah kematian, sakit, sedih dan lain sebagainya yang menimbulkan perasaan tidak nyaman tetapi keyakinan bahwa semua hal yang menimpa adalah baik adalah sikap positif yang mutlak harus ada.
Edelweis siap untuk menjalani hidupnya yang baru dan meninggalkan semua hal yang membebaninya.
There will be no fine future without excepting present and forget the past. Moving foward.
Menekuni usaha makanan ibunya juga bukan sesuatu yang buruk semua akan baik selama dijalani dengan sepenuh hati apapun itu.
Edelweis masih menyempatkan diri untuk menulis hanya saja sebatas mencurahkan emosi dan perasaannya di dalam diari yang semakin membuat langkahnya semakin ringan tanpa beban.
Walaupun dia masih berada di tengah rumitnya masalah tapi jika semua dihadapi seperti air mengalir di bebatuan kali maka masalah tersebut lambat laun akan terkikis bahkan sebagian menjadi kerikil atau tanah yang mengendap.
Hidupnya mungkin terasa monoton tetapi damai dan jauh dari intrik.
Simplicity sometime cured something that things seems so complicated.
Dia dan Aksa tidak mungkin bersatu karena Aksa tidak bisa menerima dirinya secara keseluruhan.
Sehingga memang semuanya harus berakhir kalau Aksa tidak mau menerima persahabatan mereka dan menginginkan hubungan tersebut berubah menjadi cinta. Dia benar-benar tidak bisa walaupun sudah memilikirkannya berulang kali.
Sejak awal memang tidak pernah ada cinta. Permintaan Aksa hanya membuatnya merasa bimbang, bersalah dan kasihan tidak bisa membalas dengan perasaan yang sama.
Jika memang Aksa harus pergi karena itu yang terbaik buatnya. Dia tidak bisa apa-apa. Menangisi persahabatan mereka yang indah terpaksa berakhir karena salah satu berkeras ingin merubahnya menjadi cinta mungkin konsekuensi dari persahabatan itu sendiri.
Dia selalu berdoa agar Aksa bisa menemukan seseorang yang memang lebih baik darinya dan bisa membahagiakan Aksa.
Dia sangat berharap orang itu adalah Sinta yang dengan setia mengharapkan agar Aksa kembali.
Sinta sesekali mendatanginya untuk mencurahkan semua perasaannya.
"Dimana dia sekarang? Apa kau tahu dia dimana?" Air mata Sinta meleleh.
"Maaf, aku tidak tahu."
"Mengapa dia pergi begitu saja. Tanpa kabar dan pesan?" dada Sinta naik turun menahan semua emosinya. Kesedihan, kemarahan dan kekecewaan bercampur menjadi satu.
"Aksa pasti punya alasan yang hanya dia sendiri bisa memahaminya."hibur Edelweis.
"Kau harus berjanji kepadaku. Mengabarinya kalau kau tahu dimana dia."
"Aku berjanji tapi aku benar-benar tidak tahu. Maafkan aku!"
"Aku percaya padamu."
"Untuk apa aku membohongimu?"
Mereka rutin bertemu di sela kesibukan Edelweis membantu ibunya.
Mereka bertemu di kedai kopi Kenanga. Memesan dua buah gelas kopi dolce. Dua roti coklat dan keju.
"Kau sudah lama?"
"Baru sepuluh menitan."
"Maafkan aku! Aku baru selesai membantu ibuku dan langsung ke sini."
"Tidak apa-apa. Aku yang minta maaf karena selalu mengganggu dan merepotkanmu."
"Tidak! Kau tidak merepotkanku sama sekali apalagi mengganggu."
"Kau kenapa? Kalau kau ingin menangis. Menangislah!"
"Aku tidak tega melihatnya! Raut wajahnya begitu sedih seandainya aku tahu apa yang menjadi beban pikirannya."
"Mimpi kan bunga tidur. Kau jangan terlalu masukkan ke hati." hati Edelweis menjadi bimbang, apakah surat-surat itu dan mimpi Sinta menjelaskan bagaimana keadaan Aksa?
"Aku benar-benar tidak tega kepadanya!" Sinta mencucurkan air mata.
"Ada sesuatu yang belum kukatakan padamu."
"Apa itu? Katakan saja! Mengapa kau sembunyikan dariku?"
"Aku takut kau salah paham dan marah padaku. Menuduhku yang tidak-tidak. Aku trauma dengan kejadian Angela dan tidak ingin terulang lagi. Dia membalaskan sakit hati dan dendamnya padaku dengan berusaha menghancurkan masa depanku. Memfitnahku dengan tuduhan keji yang sama sekali tidak benar. Merusak nama baikku tanpa bisa kupulihkan walaupun sudah mendapatkan pemulihan nama baik tapi siapa yang percaya kalau sudah terlanjur mendapat predijuce?"
"Kau bisa mempercayaiku!"
"Memang kau sepertinya berbeda. Tapi kau harus berjanji tidak menimpakan semua kepadaku karena aku benar-benar tidak menginginkan semua terjadi seperti itu! Aku juga sedih dan tidak ingin semua terjadi seperti ini!"
"Tolonglah, Edelweis kau katakan saja. Aku bisa menerima apapun yang akan kau sampaikan padaku."
"Aksa mengirimiku banyak surat."
Wajah Sinta mendadak tegang dan kesedihan juga kekecewaan serta kemarahan muncul di gurat wajahnya.
"Kau berjanji padaku untuk tidak marah!"
"Aku tidak marah! Aku hanya kecewa kau berbohong padaku!"
"Aku tidak berbohong padamu!"
"Kau bilang tidak tahu dimana Aksa?"
"Dia tidak meninggalkan alamat atau apapun. Aku benar-benar tidak tahu dia dimana. Maafkan aku!"
"Jangan-jangan kau juga tahu kenapa dia pergi begitu saja?"
"Kau berjanji tidak akan marah?"
"Aku berjanji!"
"Dia ingin merubah persahabatan kami menjadi cinta."
"Apakah kau juga mencintainya Edelweis? Aku ikhlas kalau kau mencintainya. Selama dia bahagia , aku bahagia apalagi orang itu adalah kau!" Air mata Sinta kembali mengalir.
Edelweis menggenggam tangan Sinta erat.
"Aku tidak mencintainya. Aku tidak bisa membalas perasaannya dan itu membuatku merasa bersalah sekaligus bersedih."
Sinta mengangkat wajahnya,"benarkah? Tapi kenapa? Kalian kan begitu dekat dan saling mengenal lama. Aku kerap mencemburuimu. Maafkan aku! Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku sangat mencintai Aksa dan tidak ingin kehilangannya."
"Kupikir aku juga mencintainya tapi sepertinya bukan cinta seperti yang dia maksud. Aku mencintainya seperti sahabatku. Saudaraku. Temanku. Tidak lebih."
"Kau yakin?"
Edelweis menganggukkan kepalanya.
"Aku belum sempat memberikan jawabanku padanya tapi dia sudah menghilang. Kau bacalah!"
Edelweis menyodorkan sepucuk surat yang sudah lama dan tulisannya pun mulai tidak jelas terbaca.
Sinta menangis membacanya, "Aku tidak tahu harus berkata apa."
Sinta kembali menangis. Edelweis menyodorkan tissue dan Sinta menyedot ingusnya serta menghapus air matanya.
"Mengapa kau tidak membalas cintanya dan bagaimana dia bisa tahu jawabanmu. Pergi begitu saja?"
"Aku juga tidak tahu!"
"Apakah karena aku?"
"Awalnya kupikir begitu tapi sepertinya aku memang tidak mencintainya seperti yang dia inginkan. Aku kehilangannya sebagai seorang sahabat."
"Bolehkah aku melihat surat-surat yang kau ceritakan?"
"Silahkan! Terima kasih kau tidak marah padaku."
"Kenapa aku harus marah padamu? Aku justru salut padamu. Kau jujur pada perasaanmu."
"Cinta tidak bisa dipaksakan. Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Sejak awal aku menyayangi Aksa sebagai sahabat dan tidak lebih. Semua tidak ada kaitannya denganmu. Aku sangat bersedih karena tidak bisa membalas perasaannya. Aku merasa sangat bersalah."