
Edelweis bersiap-siap mempersiapkan keberangkatannya dengan Wina dan Malika.
“Kita mau kemana bu?” Tanya Wina yang diburu Edelweis mempersiapkan keperluan mereka semua.
“Australia.”
“Tapi kenapa bu?”
“Bapak ada masalah di Australia.”
“Masalah apa bu?”
“Pengacaranya belum menjelaskan. Aku diminta datang ke kantornya.”
Mereka menyiapkan keberangkatan mereka dengan tergesa-gesa. Edelweis meminta sekretaris Rajasa menyiapkan tiket untuk mereka bertiga.
“Tiket yang paling keberangkatannya paling dekat. Aku harus segera sampai di sana.”
Ada penerbangan ke sana sore ini.”
“Baiklah, aku ambil tiketnya sambil bersiap-siap.”
Nurmala memesankan tiket untuk keberangkatan Edelweis.
Sesampainya di bandara setelah check in dan menunggu pesawat di ruang tunggu sampai gate pesawat dibuka.
Mereka menunggu dengan gelisah terutama Edelweis dan Wina. Keduanya bungkam
Edelweis sibuk dengan pikirannya yang kalut sedangkan Wina dengan kebingungannya. Keberangkatan mendadak ke Australia menyisakan beragam pertanyaan di dalam kepalanya juga kekhawatiran. Karena mereka tidak seperti sedang berlibur. Wajah Edelweis sendiri tampak tegang.
“Kita mau kemana ma?”
“Kita mau melihat papa.”
“Papa dimana?”
“Australia.”
Mereka bergegas memasuki gate setelah dibuka.
Edelweis tenggelam dengan pikirannya. Wina mengambil alih semua urusan Malika. Berusaha membuat Edelweis nyaman dan tidak merasa terdistract.
“Ma!” Panggil Malika pada ibunya.
“Ada apa Malika?” Ujar Wina mengambil alih, “mama sedang banyak pikiran. Kau bisa menyampaikan keinginanmu padaku.”
Edelweis menatap wajah Wina dengan pandangan berterima kasih.
“Lizzy sepertinya perlu ganti pakaian.”
“Baik, kita akan ganti pakain Lizzy.” Sahut Wina membuka tas pakaian Lizzy.
“Kau ingin menggantinya dengan yang mana?”
“Bagaimana yang ini?” Malika menunjuk pakaian yang dirasanya cocok dengan boneka kesayangannya.
Pikiran Edelweis melayang. Dirinya begitu gundah dan juga bingung. Mengapa Rajasa bisa menghadapi masalah di Australia. Tidak ada yang memberitahukannya kecuali pengacaranya.
Roy tidak mengetahui sama sekali apa yang menimpa Rajasa. Setidaknya belum tahu.
“Belum ada berita apa pun yang kuterima. Rajasa masih dalam masa cutinya.”
“Pengacarnya belum mengatakan apa pun padamu atau kantor?”
“Belum. Mungkin karena masih dalam masa cuti yang diambilnya.”
Edelweis tidak memiliki pikiran sama sekali mengenai apa yang menimpa suaminya.
Pikirannya sangat kalut. Rajasa tidak mengatakan apapun kepadanya. Roy mengatakan Rajasa mengambil cuti. Rajasa berkata ada sesuatu yang harus dilakukannya.
Kupikir, dia ke sana untuk urusan pekerjaannya. Apa yang sebenarnya terjadi?
Sesampainya di Australia. Mereka langsung menuju apartement Rajasa.
Apartement tersebut kosong melompong. Edelweis memesan makanan untuk mereka bertiga. Membuat janji untuk bertemu dengan pengacara Rajasa.
Makanan datang. Edelweis membuka pintu apartement. Membayarnya. Membawa masuk makanan ke dalam.
“Aku memesan pizza aja yang gampang. Kau senang kan pizza, Malika?”
“Yeah.”
“Besok aku akan ke kantor pengacara. Kuharap kau bisa menjaga Malika. Berbelanja di sekitar sini saja. Kuserahkan semua padamu. Kau mau beli makanan jadi atau memasak. Semua terserah padamu.” Ujar Edelweis menyerahkan sejumlah uang dan menyerahkan kartu ATM yang memang digunakan untuk keperluan belanja rumah.
“Kau atur saja semua kebutuhan selama kita disini. Aku tidak bisa berpikir.” Bening air meleleh dari kedua belah pipinya.
Dirinya tidak bisa lagi menahan kebingungan serta kesedihannya.
“Bu, tidak usah banyak berpikir. Aku akan mengurus Malika dan semuanya. Tidak usah khawatir.”
“Terima kasih, Win…”
Edelweis mempersiapkan diri untuk pertemuannya dengan pengacara Rajasa keesokan harinya.
Dirinya sudah tidak sabar ingin mendapatkan penjelasan mengenai suaminya. Pengacaranya menolak menjelaskan lewat Whatsapp atau email karena tidak ingin ada kesalahpahaman.
Malika tampak asyik bermain. Wina menyuapinya makan sambil menemaninya bermain.
“Aku harus berangkat sekarang. Titip Malika ya Win…”
“Iya bu…”
Edelweis membuka pintu apartement dan berjalan keluar. Menggunakan taksi menuju kantor pengacara suaminya.
Sesampainya di kantor pengacara. Mengabarkan kedatangannya pada resepsionis. Menunggu Dan dipanggil masuk ke dalam ruangan pengacara suaminya.
“Good morning, mr…”Balasnya.
“Ada sesuatu yang harus sampaikan pada anda.”
“Apa itu tuan?”
“Saya memilih menyampaikan langsung agar anda tidak salah paham. Menghindari salah penyampaian.”
“Baiklah tuan. Apa yang menimpa suami saya?”
“Suami anda dituduh membunuh seorang wanita muda yang sedang hamil.”
“Astaga!” Edelweis menutup mulutnya dan seketika air matanya berlomba menuruni kedua belah pipinya.
“Kami sedang menyelidikinya. Pembunuhnya ditemukan di dekat mayat wanita tersebut. Dalam keadaan pingsan. Kami sudah memastikan memang wanita tersebut dibunuh dari peluru pistol yang berada di tangannya.”
“Apakah suami saya yang membunuh serta pingsan di dekat korban?”
“Bukan.”
“Lalu mengapa suami saya dituduh melakukan pembunuhan tersebut Apa hubungannya dengan suami saya?” Edelweis menyeka air matanya.
“Seseorang mengirimkan foto ke kantor polisi. Memperlihatkan pertemuan suami anda dengan pembunuh tersebut. Memeriksa rekening bank pembunuh tersebut.”
“Apa maksud anda tuan?” Tanya Edelweis tidak mengerti.
“Suami anda menyewanya untuk membunuh wanita tersebut.”
“Apa?” Suara Edelweis bergetar, “tidak mungkin.” Sahutnya dengan bahu berguncang. Air matanya kembali tumpah, “oh Tuhan, apa yang sedang terjadi?”
“Tenanglah, nyonya…Kami sedang menyelidiki kasus yang menimpa suamimu.”
“Suami saya tidak mungkin membunuh tuan. Pasti ada kesalahan.” Ujar Edelweis kembali menyeka airmatanya serta menyedot ingusnya dengan tissue
“Saya sudah mengklarifikasi dengan suami anda. Dia mengakui memang menyewa pembunuh bayaran untuk menghabisi wanita muda tersebut.”
“Apa?” Wajah Edelweis pucat pasi. Matanya berkunang-kunang. Kepalanya berputar. Perutnya kosong dan dirinya tidak bisa tidur saat menerima berita tersebut.
“Nyonya, anda tidak apa-apa?”
“Entahlah, perut saya mual Dan kepala saya pusing.”
“Apakah anda sebaiknya beristirahat dulu? Kita lanjutkan saja setelah kondisi anda membaik.”
“Tidak tuan. Aku tidak apa-apa, teruskan.” Sahut Edelweis sambil memijat keningnya.
“Wanita muda tersebut memeras suami anda. Memintanya untuk menikahinya.”
“Tetapi mengapa?”
“Menurut pengakuannya dia mengandung anak suami anda.”
“Apa?” Kepala Edelweis kembali berdenyut, “suami saya berselingkuh dengannya?”
“Hal itu sebaiknya anda tanyakan sendiri pada suami anda, nyonya. Saya takut tidak bisa memberikan keterangan yang anda butuhkan.”
“Baiklah. Saya akan mengcrosscek dengan suami saya. Saat saya bertemu dengannya.”
“Masalahnya nyonya…”
“Apa itu tuan?”
“Kami sudah mendapatkan hasil pemeriksaan kandungan wanita muda yang terbunuh tersebut.”
“Apa hasilnya?”
“Bayi tersebut bukan milik suami anda.”
“Apa?” Wajah Edelweis terkejut campur lega, “tetapi mengapa dia meminta suami saya untuk menikahinya.”
“Itulah mengapa saya mengatakan bahwa suami anda diperas.”
“Apakah mereka berdua memiliki hubungan gelap?”Tanya Edelweis dengan jantung berdebar.
“Anda sebaiknya menanyakan ya langsung kepada suami anda.”
“Ya, tuan sebaiknya seperti itu. Apa ada lagi tuan yang perlu saya ketahui?”
“Sementara ini hanya itu.”
“Saya ingin bertemu suami saya.”
“Saya akan mengatur pertemuan anda dengannya tetapi sebaiknya anda beristirahat serta memulihkan kondisi anda terlebih dahulu. Anda tampak pucat.”
“Saya tidak bisa tidur dan makan sejak mendengar kabar tentang suami saya. Tidak menyangka suami saya terlibat pembunuhan.”
“Sebaiknya anda memulihkan kondisi anda. Setelah anda segar, aku akan mengatur pertemuan anda dengan suami anda. Bagaimana?”
“Baiklah, tuan. Saya pikir saya akan kembali ke apartement saya untuk beristirahat.”
“Ya sebaiknya begitu. Hubungi saya saat kondisi anda sudah pulih Dan segar. Saya akan mengatur pertemuan anda dengan suami anda.”
“Baik, tuan.”
Edelweis berpamitan dan beranjak dari tempat duduknya. Berjalan meninggalkan kantor pengacara tersebut. Bermaksud kembali ke apartementnya untuk beristirahat.