Rajasa

Rajasa
Daily Hours



Mereka kembali pada pekerjaan mereka bertiga. Edelweis mengurusi Rajasa mulai dari bangun tidur sampai mereka naik ke tempat tidur.


Secretary wife, julukan yang diberikan Rajasa padanya. Sangat menggambarkan kesehariannya.


Edelweis sendiri menikmati melayani suami sekaligus bosnya tersebut.


Rajasa sendiri tentu sangat senang dilayani isteri yang juga bekerja dengannya.   Mulai bangun tidur sampai mereka naik ke tempat tidur. Diurusi isterinya. Mereka juga selalu bersama. 


"Perfect job and wife!" Puji Rasaja kepada Edelweis. Mencium bibir isterinya dengan mesra dan penuh nafsu.


"Yang bener aja dong! Masak ciuman di kantor sih?" Roy berujar jutek.


"Ngapain ngintip-ngintip ke ruangan gue?"


"Siapa yang ngintip? Ruangan lo dikelilingin kaca bening. Lo gak turunin tirai gulung pvcnya? Emang lo kira gue si buta dari gua hantu? Kagak bisa liat apa-apa?" Ujar Roy manyun. Diiringi gelak tawa Rajasa. Ruang kerja mereka berseberangan.


"Rekrut aja Angela jadi sekretaris lo. Jadi gak usah sirik!" Sambung Rajasa menyambung tawanya.


"Capek yang ada gue! Lo tinggal jaga perasaan orang apa susahnya sih? Lagian ini kantor?" Sahut Roy jutek.


"So what? Bini gue sendiri?"


Rajasa menurunkan tirai gulung pvcnya. 


"Gue emang gak bisa liat. Tapi bisa gak? Gak usah pake suara?" Pertanyaan Roy dijawab dengan suara ******* dan nafas yang memburu.


"Setan! Gue mendingan keluar dari sini." Roy menelpon Angela. Menelpon isterinya mengabarkan dia dalam perjalanan pulang. 


Edelweis sendiri awalnya merasa sangat risih tetapi akhirnya tidak bisa menolak keinginan suaminya.


"Ini ruanganku dan aku sudah menurunkan tirai gulung pvcnya. Apalagi? Roy yang seharusnya keluar ruangannya bukan kita. Aku tidak ingin kau membelanya. Aku juga tidak ingin dia masih mengharapkanmu. Mengapa dia tidak mau mempekerjakan isterinya. Membiarkannya  bergabung bersama kita?"


"Dia sudah menjelaskan alasannya." 


"Kau percaya?"


"Kau tidak percaya? Sungguh konyol!"


"Mungkin yang dikatakannya memang benar. Tapi tetap saja aku mencurigai motifnya. Aku tidak mempercayainya."


"Mengapa kau mencurigai sahabat-sahabatmu sendiri? Di hutan kau mencurigai Ryan. Di sini Roy?"


"Karena mereka tidak hanya sahabatku tapi juga rivalku."


"Kita kan sudah menikah. Roy juga sudah rujuk dengan Angela. Ryan sendiri tidak pernah terpikir untuk menikungmu apalagi mengkhianatimu."


"Coba kau pikir, kenapa dia tidak segera keluar dari ruangannya? Kalau dia mendapati kita bermesraan. Bisa kan pura-pura gak tau dan langsung aja keluar?"


"Kau tidak lihat dia keluar dari ruangannya."


"Akhirnya tapi awalnya kan tidak."


"Aku tidak mengerti caramu berpikir tetapi kupikir tidak seharusnya kau seperti itu."


"Kau seorang wanita. Kau tidak mengerti bagaimana cara pria berpikir dan bertingkah laku. Turuti saja aku! Aku tidak ingin berdebat dan dibantah!"


Edelweis terdiam. Walaupun Rajasa kerap mengikuti keinginannya dan memanjakannya tetapi ketika sifat otoriternya keluar, hal itu membuat dirinya tidak memiliki pilihan selain mengikutinya. 


Ruangan mereka terdiri dari lima ruangan terpisah. Ruang kerja Rajasa yang paling luas selaku Presiden Direktur. Ruang kerja Edelweis mengapit ruang kerja Rajasa dan Roy. Saling bersebrangan. Di tengah ruang rapat direksi dan di pojok ada dapur lengkap dengan  kitchen set dan minibar juga toilet.


Ruang direksi  dibatasi pintu dan tembok tanpa kaca. Memisahkan ruang direksi termasuk sekretaris direksi dengan ruang para manager dan sekat para karyawan.


Ruangan tersebut sangat menjaga privasi mereka bertiga sehingga tidak perlu takut akan diinterupsi staff lainnya.


Semua yang ingin berhubungan dengan Rajasa dan Roy harus melalui Edelweis. 


Mereka kembali tenggelam dalam rutinitas keseharian mereka.


Edelweis memesankan makanan untuk Rajasa dan Roy. Makan siang mereka berdua. Meletakkan makanan mereka di mini bar. 


Memanaskan lava cake ke dalam microwave dan menambah satu scope ice cream vanila di atasnya.


Dua buah jus buah segar menambah kelengkapan makan siang mereka berdua.


"Aku agak gak rela. Isteriku melayanimu  makan." Ujar Rajasa. 


"Edelweis sekretaris direksi. Dia bukan hanya isterimu saja."


"Sudah kubilang. Angela payah! Dia mantan model. Tidak terbiasa mengerjakan pekerjaan semacam ini. Terbiasa dilayani."


"Edelweis bisa mengajarkannya. Kau juga nanti enak kalau di rumah. Dia bisa melayanimu dengan lebih baik."


"Aku malas memaksa. Aku hanya ingin dia bahagia dan bisa menjalankan hari-harinya dengan baik. Tidak ingin membebaninya. Apalagi sebentar lagi dia akan melahirkan."


"Kau tidak makan bersama kami, sayang?" Tanya Rajasa pada isterinya.


"Kalian makan saja dulu. Ada yang ingin kukerjakan."


"Kau sedang hamil. Jaga kesehatanmu. Jangan suka telat makan."


"Ini makan siangku. Aku akan makan di ruang kerjaku." Edelweis menunjukkan nampan berisi salad buah, jus buah, cemilan sehat berupa cookies coklat terbuat dari gandum, coklat dan keju. Bubur dimasak dengan kuah kaldu daging dengan potongan daging sapi slice, wortel, brokoli dan tahu sutera. Vitamin yang ditaruh di wadah untuk menaruh obat.


"Itu makan siangmu?"


Edelweis menganggukkan kepalanya,"Yang penting makan dan sehat."


"Terserahlah! Yang penting makan dan jaga kesehatanmu."


"Kutinggal dulu supaya kalian bisa membicarakan bahan rapat mendatang. Kupikir kalian harus membicarakan beberapa hal dengan lebih matang."


"Yeah! Ringkasan yang kau buat sangat membantu kami berdua." Sahut Rajasa menatap dengan pandangan terima kasih.


"Baiklah! Kutinggal dulu ya?" Edelweis bergegas meninggalkan keduanya. Membawa baki nampannya menuju ruang kerjanya.


Bermaksud merapikan notulen rapat dari rapat terakhir yang mereka lakukan. Memindahkan laporan yang didapatnya dari bagian Finance, Accounting, Marketing dan Produksi.


Berencana membuat ringkasan laporan untuk mereka berdua.


Sementara Rajasa dan Roy menikmati makan siang mereka sambil berbincang mengenai proposal yang sedang mereka garap.


"Sayang, aku mau kopi dong!" Seru Rajasa.


"Sayang! Aku juga!" Canda Roy.


"Asem! Jangan panggil bini gue sayang, dong!"


"Lo yang nyontohin? Gue kan cuma ngikutin lo aja." Ujar Roy sambil tertawa.


"Edelweis, tolong kopinya ya?" Ujar Rajasa sekali lagi.


"Edelweis, aku juga ya?" Sambung Roy, "See?"


"Gini aja ntar kalau gue ketemu Angela. Gue panggil aja ya dia sayang. Jadi kan get even."


"Balas dendam itu gak bagus. Lagian, gue kan cuma becanda."


"Masak sih?"


"Ya iya dong!"


Edelweis bangkit dari tempat duduknya. Membuatkan dua cangkir kopi untuk keduanya. Menuangkan heavy cream dan diatasnya diberi foam dan hiasan.


"Angela mana bisa merangkap jadi barista dan lo minta dia bantuin gue di kantor? Yang ada pala gue makin pusing."


"Kapan bisanya bini lo. Kalau gak dikasih kepercayaan?"


"Gue mendingan dukung dia bikin sekolah modelling dan fashion deh."


"Bini lo sebosy itu?"


"Semua kan ada kurang lebihnya. Dia bukan bosy tapi entrepenuer."


Rajasa tergelak.


"Suami yang baik. Selalu bisa melihat potensi isterinya."


"Kalau boleh tuker isteri. Lo juga bisa kok!"


"Jangan gila deh!"


Giliran Roy yang tergelak.