Rajasa

Rajasa
Tirai



Perpisahan mereka semakin dekat. Nurmala kembali merasa resah. Dia akan kehilangan Ryan selamanya begitu mereka berpisah.


Menghitung hari perpisahan yang semakin dekat. Air matanya kerap menetes.


Ryan kerap tidak tega melihatnya.


“Mengapa kau menangis?” Sahut Ryan menghapus air mata Nurmala.


“Kau akan menjadi suami Edelweis. Memiliki keluarga baru. Kau akan meninggalkan aku, Amelia dan Amanda. Melupakan kami semua.”


Ryan memeluk Nurmala dengan sangat erat.


“Jangan seperti itu. Kau tahu, aku akan selalu ada buat kalian semua. Kau juga akan menemukan pasangan yang lebih sesuai untukmu. Yang mencintaimu. Bisa jadi perceraian kita. Memberikan jalanmu kembali pada Rajasa.”


“Aku tidak ingin kembali padanya. Aku mencintaimu bukan dia!” Teriak Nurmala frustasi. Menubruk dan memeluk Ryan erat.


“Aku tidak akan melepaskanmu!” Ujarnya setengah berteriak, “Aku mencintaimu!” Serunya. Melupakan harga dirinya sebagai wanita.


“Jangan seperti ini. Kau itu wanita.” Ryan membelai punggung Nurmala menghiburnya, “Kau akan menemukan seseorang yang lebih baik dariku. Aku berjanji!”


“Tidak ada yang lebih baik darimu!” Ujar Nurmala keras kepala.


“Kau sedang dikuasai emosi dan perasaan. Aku tidak selalu bisa memenuhi keinginanmu. Kau akan lebih berbahagia dengan lelaki yang jauh lebih baik dariku.”


“Aku tegaskan sekali lagi!” Sahut Nurmala menghapus air matanya dengan punggung tangannya, “Tidak ada lelaki lain yang lebih baik darimu. Aku tidak dikuasai emosi atau perasaan. Aku benar-benar sangat mencintaimu. Aku tidak ingin. Dan tidak bisa kehilanganmu. Aku bisa gila!”


Tangis Nurmala meledak. Ryan berusaha menenangkannya.


“Aku tidak bisa memiliki kalian berdua. Sangat tidak adil buat kalian berdua. Aku tidak ingin kalian saling membenci satu sama lain. Aku berada di tengah kalian berdua.”


“Buat apa kau memilih dia? Edelweis sudah memiliki suami dan anak-anak dari suaminya.”


“Suaminya mengkhianatinya. Aku tidak bisa mempercayakan wanita yang sangat kucintai kepada pria yang tidak bisa menjaga kesetiaannya.”


“Kumohon! Jangan tinggalkan aku!”


“Aku tidak ingin bersikap egois apalagi serakah. Kau akan lebih baik dan bahagia tanpa aku. Percayalah padaku!”


Tangis Nurmala semakin pecah. Sia-sia Ryan membujuk dan menghiburnya.


Wanita tetap wanita. Tidak memiliki daya. Mereka berdua tinggal menghitung hari saat perpisahan mereka akan terjadi.


Edelweis sendiri sudah tidak sabar menunggu perceraian Ryan selesai diurus.


Dia tidak ingin membahas ancaman Rajasa kepadanya. Lebih baik menunggu Ryan resmi bercerai dengan Nurmala baru mereka merencanakan segalanya.


Kemungkinan dia akan lari bersama Ryan. Tinggal di hutan bersama Malika dan bayi yang dikandungnya untuk menghindari Rajasa dan wanita yang tidak dikenalnya kerap mengancamnya.


Waktu yang ditentukan sudah berlalu tetapi tidak ada tanda-tanda Ryan menghubunginya.


Apa yang terjadi pada Ryan. Edelweis berusaha menghubunginya nihil.


Edelweis enggan mendatangi rumah Ryan.


Sampai dengan empat bulan kemudian selembar undangan baby shower, selamatan empat bulanan dikirimkan ke rumahnya.


Teleponnya berdering. Ryan.


“Kau sudah menerima undangannya?”


“Sudah. Kau kemana saja?”


“Aku tidak kemana-mana.”


“Apa yang sebenarnya terjadi? Kau berubah pikiran?”


“Aku tidak berubah pikiran. Aku sudah akan mengurus semuanya. Sampai seminggu sebelum aku mengurus perceraianku. Nurmala muntah-muntah hebat. Aku membawanya ke dokter dan dia dinyatakan hamil.”


“Apa?”


“Maafkan aku.”


“Bisa kita bertemu?”


“Baiklah. Dimana?”


“Di tempat biasa.”


“Baiklah. Jam makan seperti biasa, besok.”


“Baiklah.”


Tangis Edelweis pecah. Hatinya hancur. Tidak menyangka bahwa Ryan akan berbalik. Entah lebih menyakitkan mana antara Rajasa dan Ryan.


Lelaki tetap saja lelaki. Tidak mampu setia. Sekeras apa pun mereka berusaha.


Keesokan harinya, Edelweis bergegas menuju rumah makan. Menggunakan taksi. Mengenakan kaca mata hitamnya.


Mengedarkan pandangannya. Menemukan sesosok lelaki dikenalnya dengan sangat baik. Berjalan lamat-lamat menuju lelaki yang sedang duduk sendirian.


“Kau sudah lama?” Tanyanya.


“Baru sampai. Duduklah.” Ujar Ryan dengan nada lesu.


“Terima kasih.”


“Kau mau makan apa?”


“Kopi saja.”


“Jangan kopi nanti kau susah tidur. Aku pesankan jus jeruk saja ya?”


Edelweis menganggukkan kepalanya.


“Kau pesan makanan apa?”


“Aku tidak lapar.”


“Jangan begitu. Kau harus makan. Aku akan memesankan cake coklat. Bagaimana?”


Edelweis menganggukkan kepalanya.


Mereka saling terdiam. Hening yang panjang. Edelweis bolak balik menghapus air matanya.


Ryan menggenggam tangannya. Mengusapnya lembut.


“Maafkan aku.”


“Bagaimana pun aku dan Nurmala adalah suami istri seperti kau dan Rajasa.”


“Ya. Sahut Edelweis mengusap perutnya yang semakin membuncit. Tiga bulan lagi dia menantikan kelahiran jabang bayinya.”


“Aku sudah bermaksud menceraikannya tetapi dia mengandung anakku.”


Edelweis menganggukkan kepalanya lemah.


“Aku benar-benar tidak tega meninggalkannya. Dia mengandung anakku. Aku tidak ingin memisahkan anakku dengan ibunya. Kuharap kau mengerti.”


“Aku mengerti tapi rasanya sakit sekali.”


“Ya, aku tahu.  Maafkan aku.”


Edelweis menggelengkan kepalanya.


“Aku yang minta maaf. Menjadi duri di dalam rumah tangga kalian.”


“Kembalilah pada Rajasa. Mungkin kalian memang ditakdirkan bersama. Sebagaimana aku dan Nurmala.”


Edelweis menganggukkan kepalanya.


“Mungkin ini hukuman untukku karena enggan memaafkannya.”


“Yeah. Kulihat, Rajasa benar-benar mencintaimu dan anak-anak kalian.”


“Kuharap dia bisa menjaga kepercayaanku.”


“Dia seorang lelaki. Hampir saja melepaskan cinta sejatinya. Dia pasti tahu apa yang harus dia lakukan.”


“Yeah.”


“Kita tetap berteman dan bersahabat kan?”


Edelweis menganggukkan kepalanya.


“Sampai kapan pun aku tidak dapat marah apalagi membencimu.”


“Aku juga begitu. Aku akan selalu menjagamu. Jika Rajasa tidak menepati perkataannya. Akan ku patahkan lehernya. Bagaimana?”


Edelweis tertawa kecut, “Yeah, sure. Thanks.”


“Kau datang ya empat bulanan bayiku bersama Rajasa dan Malika.”


“Yeah. Sure.”


“Ryan....”


“Yeah?”


“Aku ingin memesan makanan yang kau pesan. Perutku tiba-tiba lapar.”


“Alhamdulillah. Aku senang kau sudah bisa menerima semuanya.”


“Awalnya berat. Tapi kusadari bahwa ucapanmu benar. Jodoh itu adalah takdir. Lebih baik kita berserah dan menerima dari pada melawannya.”


“Yeah. Aku tahu kau wanita yang kuat dan bijaksana. Aku pesankan makanan untukmu ya? Nasi beef lada hitam?”


Edelweis menganggukkan kepalanya, “Thanks.”


Mereka menyelesaikan makan mereka dalam diam. Pikiran keduanya saling berkecamuk satu sama lain.


“Maafkan aku tidak bisa memenuhi janjiku padamu.”


Edelweis hanya mengangguk lesu.


“Mungkin takdir tidak berpihak pada kita.”


“Dia mengandung anakku.”


“Yeah, aku tahu. Aku mengerti. Kau tidak usah khawatir.”


“Kau tidak mengerti.” Ryan menggenggam tangan Edelweis dengan kuat.


Bening air mata menetes di atas genggaman tangan Ryan. Kaca mata hitamnya penuh embun berasal dari air matanya yang menganak sungai. Ibarat awan ber kondensasi dan merembes turun bak air hujan.


Air mata Ryan meleleh. Dengan suara serak berkata, “ Aku tidak bisa menyampaikannya padamu. Saat mengetahuinya. Aku merasa dunia rasanya hancur. Aku tidak bermaksud mengacaukan semuanya.”


Edelweis menganggukkan kepalanya. Dengan suara bergetar berkata lirih, “Aku mengerti.”


“Semua terjadi di luar kendali. Tetapi kemudian aku berpikir. Aku dan Nurmala, suami istri seperti halnya kau dan Rajasa. Tidak ada yang salah tetapi aku tidak mempertimbangkan bahwa hal ini bisa terjadi.”


“Mungkin sedang dalam masa subur.”


“Dia tidak meminum pilnya.”


“Apa pun itu aku mengerti. Semua sudah takdirnya. Tuhan yang menggariskan. Tidak perlu disesali. Terima kasih untuk semua perasaan cinta yang kau berikan untukku. Aku merasa menjadi wanita yang paling beruntung di dunia.”


Ryan melepas kaca mata hitam Edelweis. Menghapus air mata yang memenuhi wajah Edelweis.


Dengan suara bergetar berkata, “Aku yang menyebabkan semua air mata ini tumpah. Aku yang akan menghapusnya. Aku jauh lebih brengsek dari Rajasa!” Ujar Ryan frustasi.


Edelweis meletakkan jari tangannya di mulut Ryan. Memintanya untuk berhenti berbicara.


“Jangan mengatakan apa pun yang akan menyakiti kita berdua. Tidak satu pun dari kita bermaksud mengkhianati atau mengingkari. Semua takdir Ilahi. Kita saling mempercayai itu sudah lebih dari cukup.”


Ryan meraih wajah Edelweis mencium bibirnya dengan segenap hati, jiwa dan perasaannya.


“Maafkan aku.” Ujarnya melepaskan ciumannya, “Aku bukan bermaksud lancang. Aku hanya ingin kau tahu. Apa yang kurasakan. Aku tidak bisa mengatakan apa pun karena mungkin apa yang kurasakan tidak bisa dituangkan dalam bentuk kata-kata.”


Edelweis menganggukkan kepalanya. Ciuman pertama dan terakhir.