Rajasa

Rajasa
Epilog



Perjalanan hidup tidak ada yang bisa mengetahuinya. Tetapi yang pasti semua sudah tertulis dan ditetapkan. Hanya saja, manusia tidak pernah tahu apa yang akan mereka jalani sampai mereka sendiri mengetahuinya dengan menjalaninya tanpa mampu mereka hindari.


Roy memandang Edelweis dan Rajasa dari kejauhan. Perjuangan cintanya terhadap Edelweis telah berakhir dan dia harus menerima kenyataan pahit bahwa jodohnya adalah Angela.


Manusia memang seringkali tidak bisa memilih takdir yang akan mereka jalani tetapi Tuhan juga memberikan keajaiban pada setiap manusia bahwa mereka bisa menjalani apapun yang sudah menjadi goresan takdir Ilahi.


Karena Dia berkata bahwa Dia tidak akan memberikan cobaan di luar batas kemampuannya


Hatiku mungkin patah bagaikan ranting kering yang terinjak kaki


Jiwaku mungkin resah seperti embun pagi yang dihisap sinar mentari pagi yang semakin tinggi


Cintaku mungkin tidak berlabuh seperti perahu yang dikayuh menuju dermaga


Aku dan kau saling menjauh dan mungkin tak lagi saling bertemu


Harapan pupus dan juga lamunan terhapus karena tangis sendu....


Tangisan rindu linu....


Tapi kutau cinta ini sejati walaupun tidak pernah diberi kesempatan untuk menunjukkannya....


Kau menghidupkan hati yang sudah mati dan gersang


Bagai oase yang membasahi tenggokan yang kering dihantam tandusnya padang pasir yang kering


Kau harapan laksana mercusuar bagi para pelaut


Menerangi di waktu malam


Menjadi cahaya di saat kapal tersesat ditelan malam....


Aku mungkin bukan yang pertama maupun terakhir bagimu


Begitupun, engkau ku tak tau dimana letakmu di dalam chapter kehidupanku


Kau bagaikan buku yang kubaca dan kuletakkan begitu saja


Tetapi ketika ku membukanya tanpa sengaja, kau memberikan jawaban atas semuanya....


Kau alasan mengapa dunia menjadi berwarna dan indah


Mengapa nada menjadi merdu


Mengapa malam menjadi berbintang


Mengapa air terasa sejuk dan menyegarkan


Mengapa matahari terasa hangat dan tak membakar


Udara terasa cerah dan indah


"Kau kenapa?"


"Aku kenapa?"


"Kau sering termenung. Seperti memikirkan sesuatu?"


"Apakah kau mau melepaskanku? "Aku sudah katakan kau hanya memiliki ragaku tapi bukan hatiku?"


"Itu sudah cukup bagiku!"


"Mengapa kau begitu keras kepala?"


"Karena aku mencintaimu dan menyadari bahwa kau satu-satunya yang kucinta."


"Tetapi aku tidak lagi mencintaimu sama sekali."


"Aku akan menunggu cintamu kembali padaku...."


"Selama salju mencair. Hujan turun. Es batu meleleh, aku akan menunggu...."


"Kau tidak mengerti."


"Aku bukan tidak mengerti tapi aku tidak peduli sama sekali!"


"Kau terobsesi."


"Aku tidak peduli sama sekali!"


Sementara, Rajasa dan Edelweis menikmati indahnya madu pernikahan.


Edelweis membuatkan nasi goreng spesial dan segelas kopi susu untuk Rajasa.


"Baunya harum...."


"Aku senang kau menyukainya."


"Aku selalu suka apapun yang kau buat untukku."


"Benarkah?"


"Kau sudah makan?"


Edelweis menggelengkan kepalanya.


"Nanti saja!"


"Ambil sendok. Kita makan bareng."


"Aku belum lapar."


"Buka mulutmu!"


Rajasa menyuapi Edelweis dengan telaten. Mereka menikmati nasi goreng berdua.


"Minum kopi susunya."


Edelweis menengguknya. Mereka meminumnya bergantian sampai habis.


"Kau mau nambah lagi gak? Masih ada di dapur."


"Aku sudah kenyang. Terima kasih."


"Tapi aku tadi ikut makan. Takutnya kau belum kenyang."


"Sudah, sayang, aku sudah kenyang. Aku sudah boleh kan memanggilmu, sayang?"


Wajah Edelweis bersemu merah.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud...."


"Sst..., aku mengerti."


"Apakah aku sering menyakitimu dengan sikap dan kata-kataku?"


"Mawar tak akan bisa dipetik kalau takut akan durinya. Tidak usah kau pikirkan. Kalau kau tidak keberatan, aku ingin menambah sesuatu."


"Apa itu?"


Rajasa menggamit tangan Edelweis dan menggiringnya ke kamar.


Wajah Edelweis bersemu merah. Membuat Rajasa tertawa melihatnya.


"Kau nakal sekali!"