
Kehamilan Edelweis merupakan kebahagiaan bagi mereka berdua.
Rajasa telaten menemani Edelweis memeriksakan kehamilannya dan menyimak setiap penjelasan dokter mengenai kehamilan isterinya.
Edelweis sendiri di tengah kehamilannya masih bisa menjalani tugasnya sebagai isteri sekaligus sekretaris.
Pernikahan mereka berjalan dengan sangat manis dan menggairahkan.
Pernikahan yang baru dikayuh biduknya memang hanya menyisakan madu dan gula.
Setiap saat mereka bercengkrama dan tidak sabar menunggu kelahiran janin yang dikandung Edelweis.
"Jangan terlalu lama berada di dalam kandungan ibumu. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu denganmu."
"Keguguran dong!"
"Bukan begitu maksudku."
"Prematur?"
"Gak juga! Susah juga kalau isteri terbiasa bekerja jadi sekretaris. Terlalu detail dan teliti." Kontan mereka berdua tergelak.
"Iya, aku juga gak sabar ingin menimang bayi kita. Tapi bukan berarti keguguran atau prematur juga."
Kehamilan Edelweis semakin membesar. Tidak menyurutkan semangat Edelweis menjalani kesehariannya.
Rajasa kerap tidak tega melihat isterinya sehingga jika dia bisa melakukan sendiri. Dia akan melakukannya sendiri. Begitu juga dengan Roy.
"Aku saja yang bikin kopi! Bisa kok! Gampang." Rajasa menuang heavy cream. Walaupun gagal membuat hiasan dari foam, "Aku suka yang basic."
"Sama! Aku juga." Kata Roy membuat kopinya sendiri.
Edelweis tertawa melihat keduanya sekaligus berterima kasih.
Mereka juga membantu Edelweis menyiapkan makan siang.
Rajasa memanaskan makanan di mikrowave. Roy memesan makanan. Edelweis membuat jus. Membuat kopi mereka masing-masing.
"Edelweis biasa bikin hiasan bentuk love atau daun. Kalau itu apa?"
"Rambut nenek!" Kontan mereka tergelak.
"Kalau aku badai petir." Mereka kembali tertawa.
"Yang penting gak mainstream."
"Good argument!"
"Yang paling penting bisa diminum."
"That's the point!"
Angela sendiri sudah melahirkan seorang bayi lelaki yang sehat sejak enam bulan yang lalu.
Seorang bayi yang sangat tampan. Menuruni wajah kedua orang tuanya. Terutama Angela.
"Tampan sekali!" Puji Edelweis dan Rajasa nyaris bersamaaan.
"Yeah! Tapi anak kita akan lebih tampan. Kau tenang saja!" Sahut Rajasa yang diikuti gelak tawa Roy.
"Semua orang tua pasti menganggap anak mereka yang paling cakep. Terus terang, kalau tidak memandang Edelweis malas aku memuji anakmu nanti. Kau jelas bukan selera apalagi tipeku." Roy menyambung tawanya.
"Jijay banget sih komen lo! Gak banget!"
***
Kehamilan Edelweis semakin besar dan menua. Dirinya mulai kewalahan tetapi masih menjalani rutinitasnya.
Sesekali Rajasa membantu memijat pinggang dan punggungnya yang kerap terasa pegal karena kandungannya yang semakin membesar.
Menjadi orang tua membuat mereka menjadi sangat bersemangat.
Membaca buku-buku parenting. Menonton video-video seputar pengasuhan anak. Berdiskusi mengenai hal tersebut.
Dokter mengatakan bayi mereka adalah perempuan. Mereka akan memilih warna dusty pink. Sanrio dan Hello Kitty menjadi pilihan mereka berdua.
Mereka tidak hanya berburu tempat tidur bayi tetapi juga wall paper, karpet, sprei, bantal, korden dan juga lemari pakaian.
"Kamar bayi menjadi ruangan terpenting dari keseluruhan rumah ini." Sahut Rajasa yang disetujui oleh Edelweis.
Setiap melihat bayi atau anak kecil. Mereka sudah tidak sabar ingin menimang bayi mereka sendiri.
"Kupikir kita sudah sangat siap mempersiapkan segala sesuatunya untuk buah hati kita." Sahut Rajasa saat mereka menonton video di minggu pagi yanh cerah
"Yeah! Tapi kupikir aku agak sedikit protektive. Mungkin aku tidak akan menerapkan pola makan bayi makan sendiri. Aku akan menghaluskan makanan mempertimbangkan usus mereka masih sangat sensitif."
"Aku setuju. Kau takut nanti ususnya berdarah atau mereka memiliki masalah pencernaan?"
"Usus mereka belum siap. Apakah tidak berbahaya? Mereka juga tidak selamanya tergantung dengan kita. Ada masanya mereka bisa melakukanya sendiri."
"Balita sering memiliki masalah gangguan makan. Terpenting mereka harus selalu happy dan nyaman. Bersabar menghadapi polah mereka."
"Yeah, mungkin mengajak mereka sambil bermain atau membuat semacam strategi sehingga mereka mau memakan makanan mereka."
"Aku pikir aku akan menggunakan garam yang aman buat bayi. Kaldu mpasi. Keju dan susu juga menambah gurih dan gizi."
"Bayi juga memiliki selera dan rasa. Mereka juga bisa memilih rasa makanan atau minuman yang bisa mereka terima. Seperti ASI, formula, buah, sayuran, ikan, ayam, daging atau tahu tempe."
"Yang sangat disarankan mereka diberi makanan dengan rasa asli tanpa tambahan gula, garam dan penyedap."
"Kalau bayi kita mau tidak apa-apa. Tentu itu yang terbaik tetapi kalau menolak? Kupikir kita harus mempertimbangkan grafik pertumbuhan berat badan bayi. Sebisa mungkin ideal. Tidak kurang tapi juga tidak overweight. Setidaknya tidak terlalu kurus atau gemuk."
"Apa perlu kita menstimulan bayi kita?"
"Tidak perlu. Biarkan bayi kita bebas. Kau hanya perlu mengawasinya. Ketika saatnya anak kita bersekolah. Kita pilih playgroup dan tk yang bisa memberikan stimulan yang dibutuhkan untuk motorik halus dan kasarnya. Untuk perkembangan emosi dan psikologinya terpenting."
"Yeah! Mencerdaskan emosi dan perasaannya terlebih dahulu sebelum mencerdaskan logika dan kognitifnya."
"Yeah. Aku ingin mendesign kamar mandi dan bak mandi anak kita kalau kau tidak keberatan."
"Aku tidak begitu mengerti tentang ini. Aku design interiornya aja ya?"
"Yeah! Aku ingin supaya ketika kau membersihkan anak kita tidak kerepotan dan nyaman. Aku akan membuat bak mandi yang bisa digunakan untuk membersihkannya kalau pup atau pipis. Juga untuk memandikannya dan membersihkannya secara cepat tetapi kalau ingin memandikannya sambil bermain atau lebih lama. Bisa menggunakan kamar mandi. Aku akan membuat bathtub yang lebih aman untuk anak-anak. Bak mandi saat mereka bayi dan kamar mandi bisa digunakan ketika umur mereka lebih besar."
"Apa gak sedikit ribet?"
"Kau jadi mempercayakannya ke aku atau tidak? Yang penting kau merasa nyaman ketika melakukan aktifitasmu membersihkan bayi kita."
"Ok!"
"Anak Roy, laki-laki sedangkan anak kita perempuan. Apakah ada kemungkinan mereka berjodoh atau dijodohkan?"
Edelweis tertawa,"Kita lihat saja nanti! Kalau kau dan Roy akur mungkin saja." Canda Edelweis.
"Kau jangan genit ya sama besanmu! Awas! Kalau cari kesempatan dalam kesempitan!"
"Kalau kau malah jadi gila! Cemburu buta mendingan tidak usah!" Edelweis memajukan mulutnya membuat Rajasa menjadi gemas. Rajasa meraup bibir isterinya. Perut buncit Edelweis menghalanginya tetapi tidak menyurutkan niatnya. Setelah puas ******* bibir isterinya. Rajasa melepaskan tautan bibir mereka. Matanya menatap dalam ke arah Edelweis, "Aku cemburu buta karena terlalu mencintaimu!"
"Apakah kau masih mencintaiku ketika kau sudah mencintaiku lagi?"
"Pertanyaan macam apa itu? Aku tidak bisa membayangkan tidak mencintaimu lagi. Aku merasa mencintaimu seperti jantung yang memompa darah. Jika darah bisa diibaratkan cinta maka tanpa darah, jantung tak berfungsi dan mati. Aku akan selalu mencintaimu. Aku berjanji. Selama jantungku masih berdetak. Nafasku masih berhembus. Darahku masih mengalir. Cintaku memancar hanya untukmu."
Rona wajah Edelweis memerah.
Dug!
"Aduh!" Gaduh Edelweis.
"Apakah dia menendangmu?"
Edelweis menganggukkan kepalanya.
"Sepertinya dia menyetujui ucapanku."