Rajasa

Rajasa
Arrested



Lelaki itu bersiap menuju ke rumah salah satu sanak keluarganya. Menaiki kereta menuju ke sana. Membawa barang-barang miliknya yang berada di sebuah koper. Seluruh hartanya ada di sana.


Meninggalkan kertas kardus yang sudah dilipat rapi. Yang digunakan sebagai alas untuk tidur.


Dia sudah membersihkan tubuhnya. Serta mengenakan pakaian terbaiknya. Sudah mencukur jambangnya dengan sangat rapi dan bersih. Tampil klimis.


Tidak ingin membuat keluarganya mengkhawatirkan keadaan dirinya. Dia akan meminta atau meminjam sejumlah uang.


Dia berjalan mendekati sebuah rumah yang tampak rapi juga bersih. Suara anak kecil terdengar sampai keluar rumah.


Memencet bel. Seorang wanita yang sangat dikenalnya tersenyum kepadanya.


“Darimana saja kak? Masuklah.”


“Biasa. Perjalanan bisnis.” Sahutnya sambil berjalan memasuki rumah adik perempuannya tersebut.


Kedua keponakannya berlarian ke arahnya. Berebutan memeluknya.


“Menginaplah disini.” Sahut adiknya sambil mengangsurkan secangkir cappuccino. Menyodorkan sepiring kue coklat chips.


“Waktuku tidak banyak. Aku ingin bertemu dengan suamimu. Meminjam sejumlah uang.”


“Dia baru di rumah jam tujuh malam. Sekarang baru jam lima sore.”


“Tidak apa-apa. Aku akan menunggunya.”


“Kita makan malam bersama ya? Kau darimana saja? Kak Adelia akan merasakan ulang tahun anaknya weekend ini. Kau datang dan menginap ya?”


“Siapa yang berulang tahun? Marilyn atau James?”


“Marilyn. Kau tidak mengingat ulangtahun keponakanmu sendiri. Tidak usah membawa apa-apa. Kami menunggu kehadiranmu. Kau menginap saja di rumah kak Adelia.”


“Baiklah. Siapa tahu dia bisa meminjamkanku uang.”


“Usahamu baik-baik saja kan?”


“Baik. Hanya saja aku membutuhkan uang untuk tambahan modal.”


“Aku akan memasakkan makanan kesukaanmu.” Wajah adiknya tampak mendung.


“Kau kenapa?”


“Tidak apa-apa.”


Adiknya berjalan menuju ke dapur. Mengusap airmatanya yang menetes turun.


Memasak makanan kesukaan kakaknya. Pie daging.


Dia memutuskan bermain dengan kedua keponakannya. Melepaskan rasa rindunya kepada mereka berdua.


Mereka makan malam bersama setelah adik iparnya sampai di rumah. Membersihkan dirinya. Kemudian bergabung dengan kakak ipar, anak-anak serta istrinya.


Di meja sudah terhidang aneka makanan. Pie daging kesukaan kakak iparnya. Beef stew kesukaannya. Nugget kesukaan anak-anaknya. Sepiring sosis ya g digoreng menggunakan butter. Sepinggan mash potatoes yang sangat lembut dan harum. Menerbitkan seleranya.


Mereka berbincang sambil menikmati makan malam mereka layaknya keluarga.


“Kau sekarang tinggal dimana kak?”Tanya adik iparnya.


“Nomaden. Aku berpindah-pindah. Bisnisku sedang kurang baik.”


Adik iparnya menganggukkan kepalanya. Memahami maksud kedatangan kakak iparnya.


“Aku mengundangnya ke ulang tahun Marilyn. Kak Adelia memintaku untuk menyampaikan ya padamu. Tapi aku tidak bisa menghubungimu. Kau sudah tidak berada di flatmu sejak setahun yang lalu. Menurut informasi pemilik flat. Dia juga tidak tahu keberadaanmu. Handphonemu juga tidak bisa dihubungi.” Ujar adeknya Jelita.


“Yeah. Aku sekarang nomaden. Baiklah aku akan ke rumah Adelia weekend ini.”


“Menginaplah di rumahnya.”


“Baiklah.”


Mereka melanjutkan makan malam mereka. Sambil mengobrol.


“Sebaiknya kau menginap. Hari semakin larut.”


“Baiklah. Tapi kau hadir kan di rumah kak Adelia?”


“Yeah. Aku akan hadir dan menginap disana.”


Keesokan harinya dia berpamitan pada Jelita serta adik iparnya. Menyimpan amplop berisi uang yang dipinjamnya dari adik iparnya.


Berjalan menuju stasiun kembali pada tempatnya berada saat ini. Menghamparkan kembali kardus yang dilipatnya rapi. Meletakkan kopernya di sebelah kardus tersebut.


Membuka paper bag yang diberikan adik perempuannya. Memeriksa isinya. Sisa pie daging yang dibuat untuknya kemaren. Beberapa potong sandwich yang dimakannya tadi pagi. Sekotak plastik kukis coklat. Ukuran sedang satu loyang aluminium macaroni schootel. Satu kotak jus jeruk serta satu kotak susu.


Setidaknya untuk hari ini dia tidak perlu membeli makanan. Ulang tahun keponakannya masih tiga hari lagi. Dia akan memanfaatkan waktu untuk mencari pekerjaan sehingga tidak membuatnya kehabisan uang.


Selama tiga hari ke depan dia mendapatkan pekerjaan mengurus kebun seorang wanita tua. Memberikannya imbalan berupa makanan juga minuman. Serta sejumlah uang.


Makanan yang dibuat wanita tua tersebut sangatlah enak juga lezat. Selama tiga hari ke depan. Dia tidak perlu mengkhawatirkan makanan dan uang.


Pada hari sabtu, dia membersihkan dirinya. Mengenakan pakaian terbaiknya serta mencukur bersih wajahnya.


Pada hari tersebut merupakan hari yang membahagiakan karena dia akan berkumpul dengan seluruh keluarganya. Kedua adik perempuannya serta keponakan-keponakannya juga adik-adik iparnya.


Dia menginap di rumah adiknya, Adelia. Ulang tahun dihadiri oleh seluruh keluarga. Para tetangga juga teman-teman para keponakannya.


Lilin dinyalakan serta ditiup. Kue ulang tahun dibagikan kepada seluruh yang hadir.


Mereka semua menikmati hidangan yang disuguhkan. Ayam goreng, nugget, kentang goreng, smash potatoes, sosis, lasagna, pie daging juga pudding coklat.


Adelia juga menyediakan ice cream serta aneka cookies. Coklat juga permen. Balon warna warni dipasang di sana sini.


Anak-anak bermain di sekitar rumah. Sedangkan orang dewasa berkumpul serta mengobrol.


Beberapa permainan diadakan untuk menghibur anak-anak yang hadir. Terdengar suara celoteh serta riuh gelak tawa ruang mereka semua.


Acara berakhir. Jelita, anak-anak serta suaminya ikut menginap di rumah Adelia. Semalaman mereka berbagi cerita serta memori kenangan di masa lalu.


Mereka tertidur di depan ruang keluarga. Sementara semua keponakannya tidur di kamar mereka sedangkan suami Adelia tidur di kamarnya sedangkan suami Jelita tidur di kamar tamu.


Keesokan harinya, menjelang pagi. Setelah mereka semua membersihkan diri. Sarapan pagi bersama. Wajah mendung menggelayuti di wajah kedua adik perempuannya.


“Kalian berdua kenapa?”


“Tidak ada apa-apa. Hanya terharu karena kita semua bisa berkumpul bersama.” Ujar Jelita meneteskan air matanya.


“Yeah.” Sahut Adelia dengan suara sengau.


“Jangan terlalu terbawa emosi seperti itu. Ini momen bahagia. Jangan bersedih.”


Keduanya menganggukkan kepalanya. Mereka menghabiskan waktu dengan seluruh keluarga setelah sarapan.


Tepat pukul setengah dua siang. Setelah mereka selesai makan siang dan mengobrol.


Polisi berpakaian preman masuk ke dalam rumah menangkap dan meringkusnya.


“Ada apa ini?” Teriaknya histeris.


“Maafkan kami kakak. Polisi mencarimu. Mereka mengatakan kau membunuh teman wanitamu dalam keadaan hamil. Mereka meminta kami bekerja sama untuk menangkapmu. Memeriksa dnamu apakah kau ayah dari bayi yang dikandung wanita tersebut. Kau juga harus diperiksa terkait kasus tersebut. Mereka mengatakan ada seseorang melaporkan mengenai kejadian tersebut kepada mereka melalui telepon. Kemungkinan itu kau.”


“Mengapa kalian melakukan ini padaku?”


“Maafkan kami, kakak. Jika kau tidak bersalah mereka akan melepaskanmu. Kau tidak perlu merasa takut jika memang tidak melakukannya.”


“Aku tidak mempercayai ini. Kupikir kalian adalah keluargaku.”


“Kami akan mendampingimu, kakak. Jika kau tidak bersalah. Kami akan berusaha membebaskanmu. Saat ini kau harus menghadapi dulu proses penyidikan serta persidangan untuk memeriksa apakah kau bersalah atau tidak.”


“You remain silent…” Polisi memborgolnya serta memberitahukan tuduhan yang diajukan kepadanya serta hak-haknya sebagai tersangka.