Rajasa

Rajasa
Meet Up



Edelweis mempersilahkan Ryan tidur di kamar tamu setelah lelah bermain dengan Malika.


"Istirahatlah di kamar tamu sambil menunggu Rajasa pulang."


"Rajasa pulang jam berapa?"


"Kemungkinan jam enam dan tujuh apalagi dia tahu kau disini menunggunya."


"Baiklah, aku tidur dulu."


"Tidurlah dulu, supaya kau segar nanti bertemu Rajasa dan kalian bisa membicarakan pekerjaan dengan lebih baik."


"Baiklah!" Ryan mencium Malika, "Om tidur dulu ya, sayang. Nanti kita main lagi."


Malika bergumam seolah menjawab perkataan Ryan.


***


Rajasa memanggil Nurmala ke ruangannya.


"Ada apa pak?"


"Ada temanku datang. Sementara aku gak ke tempatmu dulu. Nanti kuberitahukan lagi kapan kita mulai lagi."


"Baik pak."


Nurmala meninggalkan ruangan Rajasa. Menekuni pekerjaannya kembali.


Rajasa memutuskan untuk pulang tepat waktu dan langsung ke rumah.


Sempat terlintas kekhawatiran bahwa Ryan akan mengetahui perselingkuhannya dengan Nurmala.


Ketakutannya tidak beralasan karena hubungannya dengan Nurmala tidak diketahui oleh siapa pun termasuk Roy. Tenang saja…Semua akan baik-baik saja.


Terus terang, Rajasa agak sedikit gugup dengan kedatangan Ryan. Dia khawatir perselingkuhannya tercium. Bagaimanapun dia mencintai anak dan isterinya. Tidak ingin rumah tangganya berantakan dan hancur. Tetapi sebagai lelaki normal, sangat sulit mengeyampingkan kebutuhan biologisnya yang seakan mendesak keluar dan membutuhkan penyalurannya.


Hubungannya dengan isterinya justru merenggang setelah kelahiran putri mereka. Satu sisi dia tidak ingin membebani isterinya tetapi di sisi lain, dia juga tidak bisa mengabaikan kebutuhannya sendiri.


Dia tidak ingin mengingkari janjinya memberi pekerjaan yang sudah dijanjikan kepada Ryan. Rajasa memijat keningnya. Dia sendiri tidak pernah berencana untuk mengkhianati Edelweis. Di dalam bayangannya, pernikahan mereka akan membawa kebahagiaan yang sejati. Awalnya memang demikian tetapi kemudian semuanya berbalik. Setelah Malika lahir. Edelweis tidak bisa memperhatikan dirinya. 


Dia sendiri belum bisa melepaskan Nurmala selama isterinya masih tetap seperti itu.


Sebaiknya, aku pulang sekarang!


Rajasa bergegas meninggalkan kantornya. Menaiki mobilnya mengemudikannya menuju kediamannya. 


Dalam perjalanan pulang tidak lupa dia membeli makanan kesukaan Edelweis dan juga Ryan.


Sesekali dia juga membelikan coklat. Makanan-makanan mana  bisa memperbaiki mood isterinya  yang seringkali terganggu karena terlalu lelah mengurusi Malika. Serta kehidupannya yang tidak seimbang. Tapi tidak ada yang bisa dilakukan karena Malika sangat memerlukan perhatian Edelweis dan tidak ada yang bisa menggantikannya.


Dia memasukkan mobilnya ke garasi dan bergegas masuk ke dalam rumah.


Betapa terkejutnya melihat Ryan dan Malika bermain dengan sangat akrab dan dekat. Mereka saling bercanda dan bercengkerama layaknya ayah dan anak. 


Dadanya terasa perih dan kecemburuan memenuhi dadanya. Ryan tidak hanya bisa mengambil hati Edelweis tetapi juga putri semata wayangnya. Sedangkan dia sendiri, ayah kandungnya tidak bisa seperti itu.


"Kau bermain dengan Malika? Mana Edelweis?" Tukasnya tajam.


"Di dapur. Menyiapkan makanan untuk makan malam."


"Edelweis!" Teriaknya sambil meletakkan belanjaannya begitu saja.


"Ada apa sih kau teriak-teriak begitu? Aku gak tuli!"


"Kau menyerahkan Malika begitu saja sama Ryan."


"Memang kenapa?"


"Kenapa? Kau kan ibunya? Ryan kan capek. Baru sampai langsung kau sodorkan Malika."


"Memang kenapa? Malika juga nyaman kok sama Ryan!"


"Apa maksudmu?" Rajasa memegang bahu isterinya dan mencengkramnya.


"Aww! Sakit!"


"Kau bilang apa tadi?"


"Aku bilang apa?"


"Barusan!"


"Anak kita nyaman dengan Ryan!"


"Maksudmu aku gak becus jadi ayahnya? Kau benar-benar keterlaluan!"


"Aku tidak menyalahkanmu."


"Barusan kau bilang apa? Kau banding-bandingkan aku dengan Ryan?"


Edelweis menangis. Ryan bergegas ke dapur dan menengahi.


"Kau kenapa sih?" Omel Ryan.


"Tanya saja dia!"


"Ada apa Edelweis?" Tanya Ryan dengan nada rendah dan membujuk.


"Aku juga gak tau. Rajasa tiba-tiba saja marah kepadaku."


"Memang kau berteriak dan marah padaku."


"Kau ngomong apa sebelumnya?"


"Kau bertanya kepadaku, kenapa aku menyerahkan Malika pada Ryan. Aku menjawab Malika memang nyaman bersama Ryan. Dan kau marah."


"Kenapa kau harus marah?" Tanya Ryan, "Aku tidak boleh memegang anakmu?"


"Bukan begitu, kau kan masih capek. Dan dia ibunya."


"Isterimu lelah mengurus anakmu seharian. Harusnya kau senang aku bisa membantu meringankan beban isterimu. Bagaimana kalau kau saja yang memegang anakmu? Kau kan sudah pulang."


Wajah Rajasa merah padam. Malika tidak mau diserahkan bersama ayahnya. Menangis.


"Mengapa dia tidak mau dipegang olehmu?" Tanya Ryan.


"Mana aku tahu?" 


"Kau jangan marah pada isterimu. Belajar lah memegang anakmu sehingga isterimu tidak terlalu lelah. Aku juga ingin mencarikan orang untuk menjaga Malika sehingga Edelweis bisa mengatur waktunya lebih baik."


"Mengapa kau jadi lebih tahu urusan isteri dan anakku?"


"Kau jangan seperti itu. Jangan egois. Malika masih batita sehingga dia hanya mengikuti intuisinya saja. Dia belum bisa membedakan mana ayah, ibu atau siapa pun itu. Siapa pun yang bisa membuatnya nyaman maka dia akan merasa nyaman."


"Kau juga membuat isteriku merasa nyaman. Tidak hanya anakku. Sekalian saja kau jadi suaminya!" Sembur Rajasa.


"Kau jangan seperti itu. Aku hanya membantu isterimu. Biar kupegang Malika. Jangan suka membesarkan masalah. Kalau kau mau mandi atau membersihkan diri. Silahkan. Sekalian tenangkan dirimu. Aku akan menjaga Malika." Ryan mengambil Malika yang rewel di gendongan ayahnya.


"Ya udah! Aku mandi dulu. Kau tidak pernah berubah. Selalu membelanya."


"Kalian berdua sahabatku. Jangan seperti itu. Aku hanya berniat membantu. Tidak ada yang lain."


"Baiklah, aku percaya padamu! Terima kasih.Malika memang seperti itu. Tidak bisa dipegang semua orang. Aku senang kalau kau bisa mencarikan orang untuk membantu isteriku."


"Yeah! Nanti kucarikan ya?"


"Baiklah! Aku mandi dulu. Nanti kita ngobrol."


"Istirahat dulu. Kau baru pulang kerja. Nanti kita bicara ketika makan malam di meja makan bagaimana?" Tawar Ryan.


"Baiklah! Aku mandi dulu."


"Ok!"


Rajasa bergegas meninggalkan mereka berdua.


"Jangan menangis lagi ya?" Ujar Ryan mengambil selembar tissue dari kotak tissue.


"Dia marah-marah padaku. Menyalahkanku!"


"Suamimu lelah baru pulang bekerja. Malika tidak nyaman bersamanya. Tentu saja, dia kesal karena putrinya lebih nyaman bersamaku. Mengertilah."


"Kau sangat pengertian. Seandainya Rajasa sepertimu."


"Ssstt…Jangan suka membandingkan. Suamimu mungkin kurang bisa menghiburmu dan anakmu tapi dia bekerja sangat keras untuk kalian berdua. Semua ada plus minusnya."


"Ryan, aku ingin menyampaikan sesuatu padamu. Tapi ini akan jadi rahasia kita berdua."


"Apa itu?"


"Aku berharap kau yang menjadi suami dan ayah Malika."


"Apa? Kau jangan seperti itu! Tidak boleh begitu!"


"Kau marah padaku?"


"Aku bukan bermaksud marah padamu. Tapi kau tidak boleh seperti itu. Kalau suamimu tahu. Dia akan sangat sedih dan terpukul."


"Apakah kau tidak menyukaiku?"


"Apa maksudmu?"


"Apakah kau tidak pernah menyukaiku?"


"Mengapa kau berbicara seperti itu?"


"Seandainya Rajasa bukan sahabatmu. Apakah kau menyukaiku?"


"Aku tidak menyukai pembicaraan ini. Kau jangan membuat Rajasa mencemburui kita berdua. Aku tidak ingin dia berpikir kita mengkhianatinya."


"Aku hanya bertanya. Kau hanya tinggal menjawabnya."


"Aku tidak bisa menjawabnya. Maaf!"


"Kau marah padaku! Kau tidak pernah seperti itu."


"Aku tidak suka kau seperti itu."


"Apakah kau sudah memiliki seorang wanita yang akan kau jadikan isterimu?"


"Tidak ada hubungannya dengan hal itu."


"Jadi kau sudah punya calon isteri. Siapa dia?"


"Please, Edelweis. Hentikan percakapan tidak berguna ini. Jika aku menikah, aku pasti akan mengundangmu dan Rajasa. Jangan membuat suamimu berpikir buruk. Kau tidak akan suka jika suamimu cemburu. Aku takut dia akan berlaku kasar padamu."


Edelweis menatap wajah Ryan dan menganggukkan kepalanya, "Baiklah!"