Rajasa

Rajasa
Dimensi



Rajasa tidak habis pikir. Dirinya masih mau menjalin hubungan dengan Kinanti. Mungkin ada faktor keadaan. Serta kenyataan mereka saling membutuhkan satu sama lain.


Perceraiannya membuatnya tidak bisa berpikir jernih. Hubungannya dengan Edelweis hanyalah sebatas urusan Malika.


Mencari wanita lain selain Kinanti? Mana ada wanita baik-baik mau menjalin hubungan dengan pria yang secara hukum masih menyandang status menikah dan suami orang lain?


Dia tidak mengatakan bahwa Kinanti bukan wanita baik-baik. Karena kenyataannya Kinanti tidak pernah menjual diri atau melacur. Tetapi Kinanti seorang yang sangat sulit diatur. Memiliki kerumitan hubungan  seperti dirinya. Dia tidak dapat menikahi mantannya tetapi juga tidak bisa melepaskan diri darinya.


Salah satu keuntungan menjalin hubungan dengan Kinanti adalah bisa mengatasi kerumitan yang ada. Semua dibuat sesederhana dan praktis mungkin.


Kenyataan bahwa Kinanti belum atau tidak bisa melepaskan diri dari mantannya. Merupakan salah satu konsekuensi dari kerumitan hubungan yang sedang mereka jalani saat ini.


Ryan sendiri terus berperang melawan dirinya sendiri. Secara status tidak akan ada yang menyalahkan jika dia dan Nurmala berhubungan suami istri bahkan Edelweis sendiri akan memahami hal itu.


Dia hanya tidak ingin mengambil keuntungan dari keadaan dirinya. Menyakiti Edelweis atau membuat wanita itu menjadi meragukan cinta juga kepercayaannya.


Nurmala melihat Ryan mulai dilanda keraguan. Sebagai wanita yang sudah memiliki pengalaman dalam berhubungan dengan pria. Dia bisa melihat bahwa Ryan mulai berubah.


Kuharap rencanaku bisa berjalan mulus. Semoga Tuhan merestui....


“Kita berdua kelelahan mengurus Amalia dan Amanda.” Sahut Nurmala memulai strateginya.


“Memang menjadi orang tua kan seperti itu.” Ujar Ryan.


“Tetapi kita juga membutuhkan istirahat dan jeda.”


“Bagaimana caranya?”


“Aku akan meminta tolong Ara dan ibunya menjaga mereka di apartement. Sementara kita berdua beristirahat. Bagaimana?”


“Kita bisa beristirahat sepuasnya? Hmm...Boleh juga.”


“Baiklah kalau begitu.”


Nurmala menitipkan Amalia dan Amanda kepada Ara dan ibunya. Dia mulai menyusun rencana yang sudah lama disusunnya. Yang dia butuhkan timing, keberuntungan dan takdir.


Setelah meninggalkan mereka semua di apartemennya. Nurmala mulai beraksi. Memberikan obat perangsang ke dalam minuman Ryan.


Untuk memuluskan semuanya . Membersihkan tubuhnya. Mengenakan pakaian seksi dan menyemprotkan parfum yang akan membuat Ryan sulit menolak dirinya.


Nurmala memasuki kamar dengan berhati-hati. Memberikan minuman yang sudah disiapkannya. Menunggu reaksinya beberapa saat. Sisanya biarkan semesta bekerja.


Wajahnya menjadi kusut melihat Ryan tertidur lelap dengan suara dengkuran yang sangat keras.


Sepertinya dia benar-benar lelah. Baiklah aku akan menunggunya bangun.


Ketika Ryan membuka matanya. Nurmala bergegas mendatanginya sambil membawa minuman yang sudah disiapkannya.


“Minumlah dulu...” Sahutnya lembut.


Ryan membalikkan tubuhnya sambil menggeliatkan tubuhnya yang terasa lebih segar sesudah tidur. Tangannya mengenai cangkir yang dibawa Nurmala dan pecah berantakan.


“Astaga! Maaf!”


“Tidak apa-apa.”


“Biar ku bantu membersihkan.”


“Tidak usah. Biar aku saja.”


“Baiklah, aku akan menjemput anak-anak. Rumah sangat sepi tanpa mereka. Aku sudah segar dan bisa tertidur nyenyak tanpa gangguan. Ide yang sangat bagus mengungsikan mereka sebentar untuk memulihkan tenaga.”


“Tidak usah buru-buru menjemput mereka.”


“Amanda harus menyusu padamu. Kasian kalau dia minum formula terus.” Sahut Ryan bangkit mengambil kunci mobil dan bersiap menjemput.”


“Kau tidak usah ikut. Istirahat saja. Kau akan langsung menyusui Amanda begitu dia sampai di rumah.”


***


Nurmala merasa putus asa karena sepertinya semesta tidak berpihak padanya. Rencananya menemui kegagalan satu per satu. Mulai dari cangkir yang tanpa sengaja dipecahkan Ryan.


Kucing yang tiba-tiba masuk dari jendela kamar dan menyambar kakinya membuatnya kehilangan keseimbangan. Lagi-lagi minuman yang sudah disiapkannya jatuh.


Salah kasih obat. Dua pil yang sangat mirip dan Nurmala harus menahan malu saat menunggu reaksi Ryan yang tidak kunjung menunjukkan reaksi yang diharapkannya. Karena ternyata dia salah kasih obat.


“Kau kenapa melihatku seperti itu?”


“Apakah kau baik-baik saja?”


“Yeah.”


“Tidak ada rasa panas atau sesuatu yang membuatmu bergejolak?”


“Ada sebenernya tapi aku takut kau tersinggung.”


“Katakan saja. Kau tidak perlu takut aku tersinggung.”


“Benar kau tidak akan marah?”


Nurmala menganggukkan kepalanya.


“Kau memasak kerang.”


“Lalu?”


“Aku alergi kerang.”


“Maaf aku tidak tahu. Aku tidak bermaksud menanyakan alergi mu. Bukan aku tidak peduli padamu. Tapi aku ingin tahu apa kau merasakan reaksi pada tubuhmu? Panas, bergejolak atau....”


“Ya kerang itu.”


“Kerang itu?”


“Maksudku....”


“Apa maksudmu?”


“Lupakan saja!”


Ide memasukkan obat perangsang ke dalam kerang sepertinya bisa menjadi ide yang bagus. Nurmala tidak tahu apa pun tentang alergi. Tetapi sepertinya alergi bisa memaksimalkan kerja obat perangsang. Terutama karena sama-sama menimbulkan rasa panas dan bergejolak. Hmm, patut dicoba....


Dia memasukkan obat perangsang sekali lagi ke dalam masakan kerang yang dibuatnya  di waktu yang lain. Membuat Ryan merasa bersalah kalau enggan mencicipinya.


Bingo!  Dia berhasil membuat Ryan berhasil memakan kerang yang sudah diberi obat perangsang tersebut. Satu, dua, ti....


Ryan jatuh pingsan. Sekujur tubuhnya timbul ruam-ruam merah. Terdapat bentolan di sana sini. Nurmala dengan wajah panik. Mengganti pakaiannya dan membawa Ryan secepat kilat ke rumah sakit.


Ryan dirawat inap dengan diagnosa keracunan akibat alergi akut.


Astaga aku nyaris membunuhnya. Kupikir aku harus menghentikan semua rencana ini kalau tidak ingin terjadi sesuatu pada suamiku...


Nurmala menyerah. Mungkin memang dia harus melepaskan Ryan kepada Edelweis. Apakah memang Ryan akan mengembalikannya pada Rajasa? Apakah memang dia harus melepas cinta sejatinya. Pada akhirnya. Kembali kepada kehidupan yang mungkin memang sudah menjadi takdirnya?


Perpisahan mereka semakin dekat. Semua akan berakhir. Mereka akan kembali pada jalan takdir masing-masing. Ryan menjadi suami Edelweis. Mungkin dia akan kembali menjadi istri Rajasa?


Ryan mengajak mereka semua berlibur. Memesan dua kamar untuk mereka semua.


Ara dan Amalia satu kamar. Sedangkan Ryan, Nurmala dan Amanda sekamar. Membantu mengurus Amanda sudah menjadi kesepakatan tidak tertulis Ryan kepada Nurmala. Selama pernikahan mereka belum berakhir. Dia akan melakukan kewajibannya sebagai suami dan ayah dengan sebaik mungkin.


Panas terik membuat kepala Ryan agak pusing.


“Bisakah kau menitipkan Amanda pada Ara? Aku ingin beristirahat.” Ujarnya.


“Baiklah. Aku akan menitipkan Amanda pada Ara.”


“Apakah kau membawa obat pusing?”


“Yeah, ada di tasku.”


“Baiklah. Aku istirahat dulu.”


“Yeah.”


Ryan melangkah gontai. Menahan rasa pusing yang menyerang karena teriknya matahari. Berjalan menuju kamarnya dan membuka tas Nurmala bermaksud mengambil obat.


Mengambil obat yang ada di dalam botol obat dan meminumnya.


Selesai menitipkan Amanda pada Ara. Nurmala memasuki kamarnya. Saat merebahkan diri. Ryan tampak meracau.


“Kau kenapa?”


“Aku tidak apa-apa. Kepalaku pusing dan sesuatu bergejolak.”


“Kau tidak makan kerang atau sesuatu yang membuat alergi mu kumat kan?”


“Tidak.”


“Kau sudah minum obat.”


“Sudah dari tasmu.”


“Yeah. Aku hanya membawa panadol satu strip.”


“Apa maksudmu Panadol? Obat yang ada di tasmu panadol?”


“Kau kan bisa membacanya.”


“Mungkin terlepas. Tidak ada bacaan apa pun di botol obat.”


“Botol obat?”


“Mengapa kau terlihat sangat berbeda?”


“Apa maksudmu?”


“Kau seperti menggodaku.”


“Aku menggodamu?”


“Entahlah! Apa yang terjadi padaku?”


Ryan bersikap tidak seperti biasanya. Dia tidak bisa mengendalikan dirinya. Nurmala tampak bingung. Apa yang diminum Ryan? Bukan obat untuk merangsang air susunya agar keluar banyak kan?”


Ada dua botol obat di dalam tasku. Satu obat untuk merangsang produksi air susu sedangkan satu lagi....


Astaga!


Semua terjadi di luar dugaan. Nurmala tidak menyangka semua terjadi begitu saja. Saat dia tidak merencanakan apa pun. Apalagi memikirkannya.


“Kau mau apa?”


“Aku mau apa?”


“Iya, kau mau apa?” Tanya Nurmala gugup.