Rajasa

Rajasa
Resenting



Edelweis berniat membatalkan perceraiannya. Mendengarkan saran Roy membuka pikirannya. Apalagi Roy juga tidak asal bicara. Hubungannya dengan Angela tidaklah instant. Mereka berproses selama bertahun lamanya. Dan berhasil melalui semua hal yang ada di dalam hubungan mereka.


Ryan menunggu kedatangan Edelweis di rumahnya. Roy tidak mampir dan masuk ke dalam rumah. Hanya menurunkan di depan pagar rumah. Dan langsung berlalu pergi pulang ke rumahnya.


Edelweis membuka pintu pagar dan melihat Ryan yang sedang duduk sendirian di teras.


“Kau sudah lama?” Tanya Edelweis.


“Sekitar setengah jaman.”


“Rajasa mungkin ke rumah ibu.  Bermain bersama Malika atau jalan bersama Malika. Mungkin Basil dan Amarilis ikut bersama mereka. Mungkin juga tidak.”


“Yeah! Tidak ada siapa pun di rumah. Kau darimana? Tidak ikut bersama Rajasa?”


“Aku sedang perang dingin dengannya. Malas melihat wajahnya. Membuat emosiku naik. Kau sedang apa disini?”


“Aku ingin melihat keadaanmu.”


“Aku baik-baik saja. Kau tidak usah khawatir.”


“Wajahmu sembab. Kau menangis terus?” Tanya Ryan prihatin.


“Suamiku berselingkuh. Aku tidak mungkin tertawa bahagia.”


“Maafkan aku. Aku tidak bermaksud mengingatkanmu pada kesedihanmu.”


“Tidak seharusnya aku melampiaskan kemarahanku padamu.”


“Tidak apa-apa. Selama hal itu membuatmu merasa lebih baik.”


“Mengapa kau baik sekali?”


“Aku tidak suka melihat apa yang dilakukan Rajasa padamu. Aku akan mendukung semua keputusanmu.”


“Keputusan yang mana?”


“Bukankah kau ingin bercerai dengannya?”


Edelweis terdiam, “Aku tidak ingin membicarakan hal ini. Aku ingin istirahat.”


“Baiklah. Aku akan pulang. Kau istirahatlah. Kita bicara lain kali.”


“Terima kasih atas pengertianmu. Pikiranku sangat lelah.”


“Yeah! Aku tahu. Istirahatlah. Aku pulang dulu ya?”


Edelweis menganggukkan kepalanya dengan pandangan berterima kasih.


Edelweis memasuki rumahnya. Menuju kamar tidurnya. Menyalakan air conditioner dan televisi di kamarnya.


Tubuh dan pikirannya sangat lelah. Seperti habis berjalan mengelilingi bumi. Dirinya jatuh tertidur.


Di dalam mimpinya. Rajasa dan Nurmala kembali bersama. Mereka menertawakan kebodohannya. Edelweis terbangun. Tubuhnya penuh keringat dingin.


Dengan sorot kebencian memandang foto pernikahannya dengan Rajasa yang tertampang di dalam kamar tidur mereka.


Mengambil gunting dari dalam laci meja toiletnya.  Merusak foto pernikahan mereka berdua.


Suara mobil memasuki garasi yang dibuka pintu pagarnya terlebih dahulu. Terdengar suara pintu pagar ditutup.


Suara langkah kaki berjalan membuka pintu ruang tamu. Ditutup. Langkah kaki menuju kamarnya. Pintu kamarnya terbuka.


“Apa yang sedang kau lakukan?” Tanya Rajasa melihat foto pernikahan mereka berdua  dirobek dengan gunting.


“Kau darimana?”


“Berjalan-jalan bersama Malika, ibu, Amarilis dan Basil. Apa yang kau lakukan?” Ulang Rajasa.


“Kau keberatan aku merusak foto pernikahan kita?”


“Tidak. Aku hanya ingin tahu. Mengapa kau melakukannya?”


“Kau sudah menghancurkan rumah tangga kita!”


“Aku tahu dan menyesal. Aku tidak bisa mengubah yang sudah terjadi. Tetapi jika kau memberikanku kesempatan untuk memperbaiki semuanya? Aku akan memperbaikinya.”


“Bagaimana jika kau dan Nurmala mengulanginya?”


“Nurmala sudah menikah dengan Ryan.”


“Berselingkuh dengan yang lain?”


“Kau mau memberikanku kesempatan atau tidak?”


“Aku tidak tahu!”


“Aku tahu, aku sudah melakukan kesalahan. Tetapi jika kau tidak mau memaafkan. Kau akan menghancurkan apa yang sudah kita bangun.”


“Aku tidak peduli!”


“Kau sedang emosi. Tidak usah terlalu banyak berpikir. Istirahatlah!”


Edelweis melempari Rajasa dengan bantal dan guling. Memukul suaminya berulang kali.


“Kau benar-benar jahat!”


Rajasa menyilangkan kedua tangannya berusaha menahan pukulan Edelweis. Mendorong tubuh suaminya keluar kamar. Melemparinya dengan bantal dan guling juga selimut. Mengunci pintu kamarnya.


“Kau tidur di luar!” Teriak Edelweis.


“Aku mau mandi. Pakaianku ada di lemari.”


Beberapa saat hening dan pintu kamar kembali terbuka. Edelweis melemparkan pakaian tidur Rajasa ke  mukanya. Pintu kembali ditutup dan dikunci.


Hatinya sangat kesal dan marah. Lautan amarah seperti membenamkan dirinya. Mungkin seperti lumpur hisap tetapi isinya kubangan amarah.


Aku tidak percaya, dia tega melakukan hal itu padaku. Tidak memikirkan perasaanku sama sekali. Cinta macam apa yang dia berikan padaku? Sakit sekali rasanya.


Airmatanya mengalir dengan deras. Tidak mampu melawan apalagi menolak semua yang menimpa dirinya. Hanya tangisan yang bisa meringankan beban penderitaan yang dirasakannya.


Pengkhianatan merupakan issue yang paling sering terjadi di dalam pernikahan. Prahara yang kerap memisahkan pasangan dan menghancurkan pernikahan. Memporak-porandakan seluruh anggota keluarga.


Handphonenya berbunyi. Telepon dari Ryan. Edelweis memencet tombol hijau. Menerima panggilan telepon tersebut.


“Bagaimana keadaanmu?”


“Lebih baik.” Sahut Edelweis dengan suara sengau.


“Kapan kau ingin mengurus perceraianmu?”


“Aku tidak tahu.”


“Apa maksudmu tidak tahu?”


“Bagaimana dengan Malika dan bayi yang kukandung?”


“Kau tidak bisa membiarkan dirimu seperti ini. Aku akan membantumu.”


“Aku sangat membenci istrimu. Dia yang menghancurkan rumah tanggaku. Tapi aku juga tidak ingin rumah tanggamu terganggu karena mengurusiku.”


“Kami akan bercerai setelah dia melahirkan.”


“Apa maksudmu?”


“Aku tidak ingin mengatakan ini padamu sebelumnya. Aku ingin memastikan semuanya.”


“Aku tidak mengerti maksudmu.”


“Kami tidak cocok. Tetapi karena Nurmala sedang hamil. Maka perceraian baru bisa dilakukan setelah dia melahirkan.”


“Aku masih belum mengerti.”


“Aku akan menjagamu, Malika dan bayi dalam kandunganmu.”


“Kau ingin menceraikan istrimu karena aku?”


“Jangan salah paham. Kami akan tetap bercerai. Karena memang sudah diputuskan sebelumnya.”


“Aku tidak mengerti.”


“Perceraianku dengan Nurmala tidak ada kaitannya denganmu. Kau harus memahami itu terlebih dahulu.”


“Ok!”


“Aku sudah menganggap Malika seperti anakku sendiri. Hubungan kami sangat dekat.”


“Yeah.”


“Kau mengkhawatirkan Malika akan kehilangan sosok ayah dalam hidupnya. Bagaimana kalau aku yang menjadi ayahnya?”


“Apa maksudmu?”


“Aku tidak bermaksud untuk menggesamu. Kau pikirkan semua baik-baik. Bertahan dalam kebencian yang seperti api dalam sekam. Atau membuka lembaran hidup yang baru? Berdamai dengan masa lalumu. Berbahagia kembali?”


“Aku tidak bisa mencerna semua ini.” Ujar Edelweis.


“Aku hanya ingin kau tidak ragu dengan apa yang sudah kau putuskan. Aku akan membantumu melalui semuanya.”


“Aku belum bisa berpikir saat ini. Dan tidak ingin berpikir.”


“Yeah. Kau tenangkan dirimu terlebih dahulu. Bebaskan pikiranmu.”


Edelweis diam termangu. Saran Roy dan Ryan seperti berseberangan. Membuatnya bingung.


Yang satu memintanya untuk bertahan dan memaafkan Rajasa. Demi Malika dan bayi yang dikandungnya. Sedangkan yang satu mendukungnya untuk bercerai. Bahkan ingin mendampingi dan membantunya membesarkan Malika dan bayi yang dikandungnya.


“Kupikir, kau terlalu berempati terlalu dalam.” Edelweis memutuskan membuka suaranya.


“Pernikahanku dengan Nurmala tidak ada hubungannya dengan pernikahanmu dengan Rajasa. Seperti yang kukatakan. Kami memang sudah berniat bercerai setelah Nurmala melahirkan.”


“Tetapi mengapa waktunya bersamaan dengan prahara yang menimpa rumah tanggaku? Aku tidak ingin orang bergosip dan mengatakan hal-hal yang menyakitkan hati.”


“Itu yang namanya kebetulan. Terserah kau mau percaya atau tidak. Tapi aku dan Nurmala memang akan bercerai setelah dia melahirkan.”


“Aku tidak ingin membicarakan ini. Semua ini membuatku bingung.”


“Yeah. Tidak usah banyak berpikir. Fokuslah pada hal yang meringankan dan membahagiakanmu.”


“Yeah!”


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


... ...


... ...


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


 


... ...


... ...


 


... ...