
Edelweis tak mampu membendung air matanya. Pikirannya melayang pada saat dirinya dan Rajasa belum menikah.
Bulan tampak sangat terang. Mereka duduk berdua di depan rumah panggung yang mereka tempati.
Teman-teman mereka termasuk Ryan sedang sibuk mengedit di kamar Ryan dan Rajasa yang dijadikan tempat mengedit pekerjaan mereka.
Rajasa memandang Edelweis nyaris tidak berkedip membuat pipi Edelweis menghangat. Edelweis bisa merasakan pipinya semerah tomat.
“Mengapa kau memandangku seperti itu?” Ujar Edelweis tersipu malu.
Rajasa meraih tangan Edelweis. Suaranya bergetar. Berusaha mengatasi kegugupan serta gemuruh di dadanya.
“Menikahlah denganku…”
“Apa?”
“Menikahlah denganku…”
“Tapi kita memiliki banyak perbedaan.”
“Terutama jenis kelamin.”
Kontan Edelweis tergelak.
“Yeah, semua boleh sama kecuali yang satu itu.”
“Kau setuju kan?”
“Setuju apa?”
“Mau kan kau menerima lamaranku? Aku sudah lama menyukaimu. Sejak pertama kali melihatmu. Melamar pekerjaan di kantor tempatku bekerja. Aku merasa kau memang tercipta untukku.”
“Jangan terlalu dramatis.”
“Apa yang membuatmu ragu?”
“Kebiasaanmu mengejar gadis-gadis.”
“Aku pria normal. Tidak mungkin aku mengejar lelaki…”
“Bukan begitu maksudku. Kau mudah jatuh cinta. Aku tidak ingin kau bosan padaku atau tidak bisa menerima kekuranganku atau semuanya tidak berjalan sesuai dengan yang kau inginkan dan harapkan. Jika kau mengkhianatiku. Aku bisa mati…”
Rajasa menggamit tangan Edelweis serta mengelusnya dengan lembut.
“Apakah aku sebodoh itu? Melepaskan wanita yang aku cintai dengan sepenuh hatiku?”
Edelweis menarik tangannya.
“Banyak lelaki yang mengkhianati wanita yang mereka cintai. Berhenti mencintai. Perasaan mereka menguap begitu saja. Mungkin mereka mencintai dengan imajinasi atau berekspektasi. Bukan perasaan mereka yang sejati.”
“Bagaimana aku harus menyakinkanmu?”
Air mata Edelweis mengalir dengan deras. Dia sudah memperkirakan semuanya.
Semuanya terjadi sesuai dengan asumsinya. Prediksinya. Rajasa mengkhianatinya dua kali.
Apa yang harus kulakukan? Sakit sekali…Mau mati rasanya…
Kupikir, walaupun aku masih hidup. Bernafas. Tetapi kehidupanku sudah mati. Saat Rajasa memutuskan berulang kali mengkhianati pernikahan kami. Aku seperti tidak memiliki harga diri sama sekali…
Edelweis memencet gadgetnya. Menelpon Ryan.
“Apakah aku bisa meminta tolong padamu?”
“Katakan. Ada apa? Kau seperti sangat sedih dan putus asa.”
“Aku bermaksud menyelesaikan semua masalah yang menimpa Rajasa.”
“Kau tidak harus melakukannya. Apalagi jika kau merasa tersakiti. Kesempatan bagimu membalaskan seluruh rasa sakit hatimu.”
“Dia suamiku. Aku tidak bisa membiarkannya menghadapi semuanya seorang diri. Aku juga sangat mencintainya. Semua ini seperti kutukan bagiku. Ada sesuatu yang tidak beres. Aku harus mencari tahu. Membereskan semuanya.”
“Apa yang bisa kulakukan untukmu? Apakah kau ingin aku menemanimu mengatasi semuanya?”
“Tidak, terima kasih. Aku bisa mengatasinya sendiri. Aku ingin kau membantuku mengurus kepindahanku ke Finlandia bersama Malika serta bayi yang kukandung begitu semuanya selesai.”
“Apa maksudmu?”
“Aku ingin kau merahasiakan semuanya.”
“Tetapi mengapa?”
“Aku ingin memberikannya kebebasan penuh. Dia bisa memilih siapa pun yang dia mau. Aku, Malika serta bayi yang kukandung sudah membelenggu kebebasannya.”
“Kau jangan gila. Bicarakan semuanya dengan Rajasa sebelum memutuskan.”
“Mana ada maling mengakui? Aku tidak ingin mendengar kebohongannya lagi. Kau harus membantuku mendapatkan pekerjaan.”
“Apakah semua sudah kau pikirkan?”
“Yeah…”
“Baiklah. Aku akan memberikan pekerjaan sebagai jurnalis. Kau bisa menggunakan identitas samaran. Menjadi narasumberku di Finlandia. Bagaimana?”
“Terima kasih. Aku tahu , aku bisa mengandalkanmu.”
“Tenangkan dirimu. Fokus saja pada apa yang harus kau lakukan. Berusaha lah berpikir dengan menggunakan logikamu. Jangan selalu mengikuti perasaanmu. Aku tahu saranku sangat sulit. Wanita memang seringkali berpikir serta menimbang dengan perasaan mereka.”
“Terima kasih dengan semua saranmu. Aku tahu apa yang harus kulakukan.”
“Yeah, thanks.”
Edelweis berusaha mencari tahu apa yang tengah terjadi. Berdiskusi dengan pengacara suaminya.
“Pelaku mengatakan dia tidak bisa mengingat saat membunuh korban. Dia merasa ada seseorang menyemprotkan sesuatu.”
“Apa maksudmu menyemprotkan sesuatu?”
“Entahlah. Dia merasa ada orang lain di ruangan tersebut.”
“Apakah maksudmu ada yang menyemprotkan chloroform padanya?”
“Dia mengatakan tiba-tiba pandangannya gelap. Dan tidak bisa mengingat apa pun.”
“Apalagi yang dia katakan padamu? Mengapa dia tidak mengatakan apa pun tentang hal ini?”
“Hasil laboratorium menunjukkan Kadar alkohol serta morfin yang tinggi apakah kau akan mempercayai keterangannya?”
“Tidak seharusnya dia menyembunyikan informasi sepenting itu.”
“Kalau kau berada di posisinya. Kemungkinan kau akan merasakan hal yang sama. Di tengah tekanan serta tuduhan yang ditudingkan padamu?”
“Baiklah. Kita lanjutkan saja sebaiknya pembicaraan mengenai kasus yang menimpa suamimu. Ada lagi yang tidak atau belum diceritakan?”
“Ada seseorang menelponnya. Sebelum peristiwa penembakan tersebut. Mengatakan bahwa korban akan menyebarluaskan bukti perselingkuhan dengan suamiku.”
“Siapa kah orang itu?”
“Dia juga tidak tahu. Telepon tersebut membuatnya bergegas ke tempat kejadian.”
“Maksudmu?”
“Seandainya, tidak ada telepon tersebut. Kemungkinan dia tidak ada di tempat kejadian. Dia memang bermaksud untuk membunuh korban tapi tidak saat itu.”
“Menurutmu, dia dijebak?”
“Bagaimana menurutmu?”
“Masuk akal. Tapi siapa? Apa motifnya?”
“Siapa kah ayah dari janin yang dikandung korban?”
“Kami sedang menyelidikinya. Semasa hidup sepertinya korban berhubungan dengan beberapa pria.”
“Apa maksudmu beberapa pria?”
“Menurut keterangan tetangga korban ada beberapa pria yang kerap mendatangi apartementnya.”
“Suamiku mengatakan bahwa dia masih berhubungan dengan mantannya saat dia masih bersama suamiku.”
“Mantannya memang yang paling sering mendatanginya.”
“Bisakah aku bertemu dengannya?”
“Tidak bisa.”
“Mengapa?”
“Dia menghilang.”
“Tidak kah kau pikir, dia merupakan tersangka yang patut dicurigai?”
“Kami sedang melacak keberadaan mantan kekasih korban beserta dua orang pria lain yang kerap berhubungan dengan korban.”
“Apa maksudmu melacak?”
“Mereka tidak tinggal di negara bagian ini. Kami mengenali mereka melalui cctv dan keterangan para tetangga.”
“Apakah dia wanita nakal? Pelacur?”
“Statusnya single. Dia bebas berhubungan dengan siapa pun. Dia bukan pelacur. Australia berbeda dengan Indonesia. Selama seseorang tidak terikat dengan pernikahan maka dia bebas berhubungan dengan siapa pun. Selama tidak berada di dalam status pernikahan.”
Edelweis terdiam.
“Aku tidak tertarik dengan kehidupan pribadinya. Aku hanya ingin tahu. Siapa ayah dari janin yang dikandungnya? Apa motif orang yang menjebak suami serta pembunuh bayaran yang disewa suamiku?”
“Itu yang sedang kami cari tahu. Aku akan mengabarkan secepatnya. Jika ditemukan hal-hal yang berkaitan dengan perkembangan kasus suami anda.”
“Terima kasih. Kupikir, aku akan beristirahat di apartement.”
“Yeah, sebaiknya anda beristirahat. Anda tampak lelah.”
“Psikiaterku memang menyuruhku banyak beristirahat serta jangan terlalu keras berpikir. Tidak melepaskan obat-obatan yang diberikan padaku. Pada saat seperti ini. Aku tidak akan sanggup bertahan.”
“Yeah. Nyonya, beristirahatlah.”
“Terima kasih, tuan…Aku menunggu kabar baik darimu.”
“Baik, nyonya. Selamat beristirahat.”
Edelweis mengembangkan senyumnya sambil menganggukkan kepalanya. Berpamitan seraya mengucapkan greeting.
... ...