
Nurmala tertegun melihat Ryan yang seperti cacing kepanasan.
Ryan berusaha meraih tubuhnya. Tangannya menggapai ke arah dirinya.
“Kau mau apa?” Tanyanya gugup. Dia tidak siap dengan polah Ryan yang berubah tidak seperti biasanya.
“Aku...” wajah Ryan tampak memerah. Dirinya terlihat kepanasan. Ryan meringsek maju. Refleks Nurmala mundur.
“Kau kenapa?” Tanyanya lagi. Ryan bergerak mendekati Nurmala. Menubruknya hingga jatuh terlentang.
Nurmala benar-benar tidak siap. Apalagi menyangka bahwa Ryan bisa berubah dalam sekejap.
Sepertinya Ryan dipengaruhi obat yang diminumnya tidak sengaja dari tasnya. Obat perangsang.
“Ryan! Aku belum siap.” Ujar Nurmala dengan suara takut.
“Siap apa?” Ryan tidak menghiraukan perkataan Nurmala.
Wajah Ryan menyuruk ke buah dadanya. Sesuatu yang mengeras seperti kayu mengenai paha dan inti tubuhnya.
“Ryan, kau tidak bisa seperti ini padaku. Ini menyerupai marital rape.” Ujar Nurmala yang merasa tidak siap dengan serangan Ryan.
“Ma...apa?” Sahut Ryan terus saja menyurukkan kepalanya ke payudara Nurmala.
“Jangan sekarang, aku tidak siap. Aku benar-benar sedang tidak mood.”
“Apa maksudmu tidak mood?” Ryan tidak bisa berpikir apalagi mencerna ucapan Nurmala.
Sesuatu dari dalam tubuhnya seperti akan meledak dan meminta untuk dibebaskan.
Ryan merobek pakaian Nurmala. Setelah mencoba membukanya tidak berhasil.
Buah dada Nurmala yang putih, bulat dan kenyal membuat dirinya semakin kalap.
Seperti orang mengamuk. Ryan meremas sambil menghisap dan tanpa sengaja menggigitnya karena gemas.
“Awww...” Teriak Nurmala. Air matanya menetes.
“Maaf...” Ryan kembali meneruskan aktifitasnya. Membuka paksa bawahan dan ****** ***** Nurmala. Memasuki Nurmala dengan brutal.
Nurmala sama sekali tidak menyangka hubungan seksual mereka yang pertama akan seperti ini. Setelah serangkaian rencananya gagal. Sesuatu yang mengerikan terjadi. Ryan menjadi sosok yang tidak dikenalnya sama sekali.
Ryan sendiri yang berada di bawah pengaruh obat perangsang tidak mampu berpikir. Semua yang dipendam dan ditahannya keluar begitu saja tanpa bisa dikendalikan.
Logika dan perasaannya seperti berada di dua tempat yang berbeda. Perasaannya tidak tega melihat keadaan Nurmala tetapi logikanya menuntut pemuasan semua yang berusaha diredamnya selama ini.
Nurmala tidak bisa menghentikan Ryan. Membuang wajahnya, menahan rasa sakit dan meneteskan air mata yang mengalir pada kedua pipinya yang mulus.
Ryan menyelesaikan dan menuntaskan semua hal yang menuntut pemenuhan tanpa bisa ditunda.
Semua baru bisa dicerna setelah semuanya selesai dilakukan.
Keadaan Nurmala bisa dibilang acak-acakan. Dengan pakaian robek, bawahan dan ****** ***** yang ditarik paksa ke bawah. Dadanya dipenuhi bekas hisapan dan gigitan. Rambutnya awut-awutan.
Ryan menutupi tubuh Nurmala dengan selimut. Dengan wajah menyesal memandang Nurmala yang dipenuhi dengan air mata.
“Maafkan aku!” Sahutnya lirih, “Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku. Tapi kita suami istri. Aku bukan bermaksud membela diri.”
“Aku tidak siap. Sedang tidak mood. Kau juga tidak melakukan pemanasan. Apa yang kau lakukan menyerupai marital rape.”
“Marital rape?”
“Kau memperkosa aku. Bukan melakukan hubungan intim denganku.”
“Aku memperkosa mu? Tapi kau istriku?”
“Kau tidak melakukannya dengan cara yang benar.” Nurmala kembali menangis. Dirinya merasa direndahkan dan dilecehkan.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku. Aku tidak dapat mengendalikan diriku. Mungkin aku seperti orang yang mencari pembenaran. Tetapi sesungguhnya itu yang terjadi padaku. Aku tidak pernah bermaksud memperkosa mu. Aku membutuhkan pelepasan sedangkan kau adalah istriku.”
Tangis Nurmala meledak. Seharusnya dia merasa senang dan bahagia karena akhirnya bisa membawa Ryan ke tempat tidur. Tetapi tidak seperti ini.
Ryan berusaha membujuk Nurmala sambil terus meminta maaf.
Pertengkaran mereka yang pertama setelah mereka menikah.
“Aku sudah memintamu berhenti.” Ujar Nurmala kesal, “No, it's mean no!”
“Aku tidak bisa berpikir. Ada sesuatu dari dalam diriku yang tidak bisa ku kendalikan. Lagi pula kau kan istriku.” Sahut Ryan dengan nada sabar dan juga menyesal.
“Seandainya kau mendengarkan ku.”
“Aku mendengarkan mu tetapi aku tidak dapat berpikir jernih. Apa yang harus kulakukan agar kau mau memaafkan ku?”
Nurmala akhirnya luluh melihat kesungguhan Ryan. Dia juga menyadari semua terjadi di luar kendali Ryan.
Obat perangsang yang diminumnya membuatnya tidak bisa mengendalikan dirinya.
Dia juga mau bersabar terhadap kemarahan Nurmala. Satu sisi, Nurmala memang sudah lama menginginkan mereka berhubungan layaknya seperti suami istri. Tetapi di sisi lain, bukan dengan cara seperti itu. Dia merasa dilecehkan dan diperkosa.
Tetapi kemudian dia menyadari. Setelah amarahnya surut. Hatinya tersentuh dengan niat dan cara Ryan meminta maaf. Penuh dengan ketulusan.
Ryan tidak dapat mengendalikan dirinya karena di bawah pengaruh obat. Selain itu, dia juga masih perjaka. Tentu tidak mengerti permintaan Nurmala agar mereka melakukan pemanasan terlebih dahulu.
Nurmala memindahkan bunga yang ada di buket bunga ke dalam vas.
“Baiklah, kita berbaikan. Tapi aku ingin kau tidak mengulanginya lagi.”
“Baiklah, aku berjanji. Itu yang pertama dan terakhir.”
“Maksudku, kau jangan menyerang ku seperti itu lagi. Bukan begitu caranya berhubungan intim.”
“Maksudmu?” Tanya Ryan tidak mengerti.
“Kita kan sudah menikah. Wajar saja kalau kita berhubungan layaknya suami istri. Tetapi jangan seperti itu. Kau harus lebih sensitif.”
“Aku tidak mengerti maksudmu.”
“Aku akan mengajarimu, bagaimana?”
“Apa maksudmu, kau akan mengajariku?”
“Aku lebih berpengalaman darimu. Aku akan mengajarimu melakukannya dengan cara yang lebih baik dan nyaman.”
“Kupikir, tidak adil jika kita melakukannya lagi. Kita akan bercerai.”
“Kau tetap ingin menikahi Edelweis setelah apa yang terjadi?”
“Kau kan sudah tahu niatku menikahinya.”
“Apa kau hanya ingin mempermainkan ku?”
“Aku tidak bermaksud mempermainkan mu. Tapi aku tidak bisa mengingkari janjiku pada Edelweis.”
“Aku tidak mau banyak berpikir. Kita jalani saja semua yang ada. Sebagaimana adanya. Bagaimana?” Sahut Nurmala.
Ryan menganggukkan kepalanya.
Nurmala membimbing Ryan ke tempat tidur mereka. Dia sudah menitipkan Amanda pada Ara.
Pintu kamar sudah dikunci agar tidak ada yang mengganggu mereka.
“Kau mau apa?” Tanya Ryan dengan suara serak.
Nurmala merebahkan Ryan ke atas tempat tidur mereka. Dia sudah menitipkan Amanda pada Ara.
Pintu kamar sudah dikunci agar tidak ada yang mengganggu mereka.
“Kau mau apa?” Tanya Ryan dengan suara serak.
Nurmala merebahkan Ryan ke atas tempat tidur mereka.
“Seperti janjiku. Aku akan mengajarimu. Kita akan melakukannya dengan benar.” Nurmala membuka pakaian Ryan dengan perlahan. Kemudian membuka pakaiannya sendiri.
Dengan perlahan dia mengajari Ryan bagaimana melakukan pemanasan sebelum mereka melakukan hubungan intim.
“Kau harus mencari titik sensitif pasanganmu.”
“Titik sensitif?” Tanya Ryan, “Seperti apa?”
“Seperti ini...” Nurmala mengusap lembut titik sensitif Ryan, “Bagaimana rasanya?”
Ryan bergumam tidak jelas, “Rasanya...Hum...”