Rajasa

Rajasa
Invitation



Rehabilitasi membuat ketiganya   bisa kembali bekerja di perusahaan mereka yang lama.


Rajasa, Roy dan Edelweis mendapatkan pekerjaan lamanya.


Roy sendiri sudah rujuk dengan Angela. Kebencian Roy kepada Angela perlahan berubah. Terutama ketika Angela mengandung benihnya. Hatinya menjadi tidak tega. Apalagi Angela sendiri juga sudah banyak berubah.


"Jaga kesehatanmu." Roy mengambilkan segelas susu hangat untuk Angela.


Angela menganggukkan kepalanya. Kehilangan Roy membuatnya belajar banyak tentang cinta. 


Tidak peduli berapa besar cinta yang dirasakan Roy kepadanya. Pada akhirnya cinta adalah keseimbangan dalam menerima dan memberi. Cinta juga memiliki keterbatasan. Apalagi kalau sudah mulai merusak dan merugikan.


Memanfaatkan cinta dan kepercayaan mungkin menjadi keuntungan di awal. Semakin lama hal itu justru menjadi sesuatu yang mengikis cinta itu sendiri. Seperti karat dengan besi. Seperti udara dengan polusi. Sungai dan limbah. Hutan dan penebangan liar atau pembakaran hutan.


Roy mau rujuk dengannya bukan atas kehendaknya sendiri tetapi melindungi Edelweis. Menjadikan Edelweis senjata agar Roy mau kembali kepadanya.


Angela memahami besarnya rasa cinta Roy pada gadis itu. Membuatnya kerap merasa benci dan cemburu pada gadis itu. Gadis itu telah mendapatkan cinta dan kepercayaan Roy tanpa batas. Walaupun Roy tidak tahu bahwa Angela memfitnah Edelweis tetapi dari sisi Roy. Dia begitu mempercayai dan mencintai gadis itu. Angela kehilagan kepercayaan dan rasa cinta yang tulus dari Roy.


Dia bertekad untuk mendapatkannya kembali. Angela mulai memperhatikan Roy. Bertekad meninggalkan pekerjaan lamanya. Berusaha menjadi seorang isteri yang baik. Meninggalkan karirnya sebagai model.


Rumah tangganya akan benar-benar hancur jika kali ini tidak memilih dengan benar. Dia juga akan kehilangan Roy untuk selamanya. Dan tidak ada yang bisa memaksanya kembali padanya.


Angela nyaris putus asa dengan sikap dingin Roy. Kebencian Roy sama seperti cintanya. Terasa sampai ke ubun-ubun dan tulang sumsumnya.


Semua mulai menunjukkan buahnya ketika Angela mengandung benihnya. Perlahan kebencian Roy kepadanya berubah.  Angela menganggap kehamilannya sebagai kesempatan kedua untuk memperbaiki semua hal yang ada di antara mereka berdua.


***


Rajasa sendiri semenjak mereka kembali dari hutan. Sangat bersemangat mempersiapkan kepindahan mereka ke rumah baru mereka. 


Kehamilan Edelweis juga membuatnya sangat bahagia karena akan menjadi seorang ayah. Menjadi suami dan ayah merupakan hal terindah yang terjadi di dalam hidupnya.


Mempersiapkan ruang kerjanya agar didesain sesuai dengan seleranya. Mempercayakan semuanya kepada Edelweis untuk urusan ruang kerja dan kediamannya.


Mereka merayakan perjumpaan mereka kembali. Untuk kembali bekerja sama. 


Edelweis dan Rajasa mengundang Roy dan Angela ke kediaman mereka berdua.


Perut Angela yang membuncit. Membuatnya sedikit kesulitan berjalan. Nafasnya terengah. Roy menggandeng isterinya dengan telaten.


Mereka memencet bel. Rajasa dan Edelweis menyambut mereka berdua.


"Kapan melahirkan?" Tanya Edelweis pada Angela. Angela terlihat semakin cantik dengan kehamilannya. 


"Bulan depan."


"Laki-laki atau perempuan?"


"Laki-laki."


Mereka berjalan ke dalam rumah. Rumah ditata dan desain sedemikian rupa oleh Edelweis.


Ruang tamu dengan nuansa krem dan coklat mendominasi. Dindingnya berwarna krem denga tirai senada dengan motif hati berwarna coklat tua. Sofanya sendiri pilihan Edelweis. Rajasa menemaninya sampai nyaris putus asa. Karena semua model ditolak Edelweis.


Pilihan jatuh pada sofa model peanut. Berwarna cream dengan bantal berwarna coklat tua.


Sebuah lukisan tergantung di tengah dinding tamu. Menambah indah ruangan sofa yang ditata dengan sangat baik tersebut.


Dengan nuansa warna cream dan coklat. Pasir terhampar berwarna cream dengan taburan buah coklat di sana sini. Sebuah perahu terdampar berwarna senada dengan buah coklat.


Angela mendudukkan dirinya di sofa yang terasa sangat nyaman, empuk dan lembut.


"Ruang tamunya bikin betah." Puji Angela.


"Yeah! Edelweis sangat teliti ketika memilih sesuatu." Ujar Rajasa.


"Lukisan itu juga kau yang memilihnya?" Tanya Angela.


"Yeah." Sahut Edelweis.


"Semua warna di ruangan ini sangat serasi. Model sofa, korden sampai dengan lukisannya juga sangat serasi." Puji Angela tulus.


"Aku berniat menambahkan dua guci besar warna senada. Ruangan ini masih cukup luas kalau ditambah guci."


"Yeah!" Sahut Angela setuju.


Asisten Rumah Tangga keluar membawakan nampan berisi kue-kue dan minuman.


"Sebentar lagi kita makan ya?"


"Gak usah repot-repot!"


"Gak repot. Aku udah siapin makanan. Mudah-mudahan cocok dengan selera kalian berdua." Edelweis memindahkan bantal kursi ke pangkuannya.


"Telat dua  bulan."


"Hamil muda? Pantas, tidak kelihatan."


"Belum kelihatan."


"Roy bilang, kau akan kembali bekerja sebagai sekretaris?"


"Yeah! Hanya itu pekerjaan yang bisa kulakukan."


"Roy sering bercerita tentangmu. Kau sekretaris yang sangat cekatan dan bisa diandalkan."


"Suamimu berlebihan. Aku hanya bekerja seperti halnya yang lain bekerja. Tidak ada yang istimewa."


"Bagaimana rasanya bekerja dengan mereka?" Tanya Angela.


"Konyol yang pasti!"


Angela tertawa.


"Aku juga ingin jadi sekretaris apalagi sejak aku melepaskan karir modelku. Tapi Roy melarangnya."


"Bagaimana tidak kularang? Bisa-bisa aku seharian melayani dia. Terbalik dan semua pekerjaanku keteteran."


Pecah tawa mereka semua.


"Sayang, tolong bikin kopi. Yang ada, dia nyuruh aku balik. Bisa gak kamu ambilin kopinya. Tolong seduhin. Tuangin. Sekalian aja semua aku kerjain sendiri." Sahut Roy konyol.


Pecah tawa semuanya.


"Kau kan bisa training aku." Saran Angela.


"Training tidak serta merta merubah seseorang apalagi kalau sehari-harinya kau sangat membenci pekerjaan tersebut. Sudahlah, kau jadi isteriku saja. Rumah selalu bersih dan rapi. Makanan selalu tersedia. Pakaianku juga bersih dan rapi. Aku sudah sangat bersyukur. Walaupun bukan kau sendiri yang mengerjakan tapi semua dalam pengawasanmu."


"Tapi banyak yang bilang, bos itu suka selingkuh dengan sekretarisnya. Rajasa selingkuh dengan Edelweis ya wajar saja. Dia isterinya kan? Sedangkan kau?"


"Aku nanti nebeng aja sama Rajasa!" Ujar Roy jahil.


"Enak aja!" Semprot Rajasa.


Sontak pecah tawa mereka semua.


"Meja makan sudah siap. Kita makan dulu aja ya…." Edelweis mengingatkan mereka semua.


Mereka berjalan ke ruang makan. Bersebelahan dengan ruang keluarga yang luas. Dapurnya sendiri agak ke belakang dengan beberapa jendela yang menghadap ke taman.


Edelweis memilihkan menu yang aman dan sehat bagi Angela yang sedang hamil tua.


Steamboat aneka bakso, tahu dan daging slice juga dengan sayuran serta jamur enoki Dengan dua macam kuah. Original dan tom yam. Ditambah dengan kaldu ayam buatan sendiri. Menambah kaya rasa kuah kaldu yang disajikan.


Mereka makan sambil mengobrol. Bercanda. Berbagi cerita.


"Cerita kalian selama di hutan sangat menarik. Kalian pasti sangat berat meninggalkannya." Sahut Roy mencelupkan tahu sutra, putih dan daging slice ke dalam kuah yang dimasak sampai mendidih. 


"Hutan tersebut walaupun rusak tapi masih menyisakan keindahannya. Mungkin itu yang bikin betah karena sangat rileks berada di tengah alam yang hijau." Jelas Rajasa.


"Kita juga sudah seperti saudara kan?" Timpal Edelweis.


"Yeah!"


"Overall. Kalau bukan karena kehamilan Edelweis kalian berdua tidak akan kembali ke sini."


"Yeah! Edelweis sangat suka berada di sana."


"Memang kau tidak suka di sana? Apa hanya karena gadis-gadisnya?"


Kontan mereka semua tertawa.


"Kau kan yang ingin tetap di sana walaupun sedang hamil?"


"Yeah. Aku senang di sana kecuali gadis-gadisnya. Mereka kerap berlaku genit."


"Mereka cuma minta foto bersama."


"Itu genit dan kau jangan membela mereka."


"Aku sebal kalau kau mulai cemburu buta!"


Roy tertawa melihat keduanya,"Kalian tidak berubah!"