Rajasa

Rajasa
Telepon



Sebulan sekali mereka ke kota membeli semua perlengkapan dan kebutuhan.


Edelweis tidak melewatkannya untuk menelpon ibu, adik-adiknya dan Roy.


"Harus ya kau menelpon Roy?"


"Kau kenapa sih? Roy memintaku menelponnya kalau aku menelpon ibu dan adik-adikku."


"Seandainya, aku di sana dan kau di sini. Apa kau juga akan menelponku juga?"


"Kalau kau memintanya, tentu saja."


"Kau benar tidak menyukai Roy?"


"Rajasa! Kau sangat menyebalkan! Aku tidak tahu!"


Rajasa naik darah," Kau labil! Pencemburu! Curang!"


"Aku bukan labil. Aku bingung."


"Entah, apa namanya. Masak kau tidak bisa memilih satu dari antara kami bertiga?"


"Kau sangat menyebalkan. Mana Ryan?"


"Mengapa kau mencarinya? Mencari perlindungan?"


"Jangan terus mendesakku."


"Aku bukan mendesakmu tapi bisa gak kau menghargai perasaan orang lain. Kau menyukaiku atau tidak?"


"Aku tidak tahu!"


"Kau itu tidak mau rugi! Serakah!"


Mata Edelweis memanas.


"Plin plan!"


"Suka ngambek!"


"Mau enak sendiri!"


"Egois!"


"Tidak punya pera...."


"Kau sedang apa?" Ryan tiba-tiba muncul.


"Mengapa kau membuatnya menangis?"


"Mengapa tak kau lamar dan nikahi saja dia? Kalian berdua sepertinya cocok!"


"Kau bicara apa? Kau selalu emosi dengannya? Selalu mengintimidasinya!"


"Dia mau menelpon Roy!"


"Lalu kenapa?"


"Lalu kenapa? Mereka itu memiliki hubungan atau bagaimana? Kau liat sendiri bagaimana tidak masuk akal rasa cemburunya tapi aku tidak boleh mencemburuinya. Itu kan curang!"


"Kau tidak percaya dengan Edelweis dan Roy?"


"Tidak!"


"Kau selalu membuatnya menangis."


"Dia yang cengeng! Mengapa kau salahkan aku?"


"Jangan kekanak-kanakkan!"


"Aku akan memukulmu kalau kau terus mengintimidasinya!"


"Kalian jangan bertengkar! Kau jangan ladeni dia! Biarkan saja dia!" Edelweis menangis.


"Cengeng!"


"Rajasa!" Ryan menarik kerah Rajasa.


"Ryan! Lepaskan dia! Kau tidak usah meladeninya. Dan kau, jangan berbicara atau mendekatiku!"


"Baik! Aku juga alergi sebenarnya dekat denganmu. Kau sangat menyebalkan!"


"Rajasa!"


"Sudah, Ryan! Salahku, menyusul kalian kemari. Seharusnya aku mencari pekerjaan lain apalagi aku sudah tau bagaimana menyebalkannya dia!"


"Kau ingin pulang? Mencari pekerjaan lain?"


"Aku tidak tahu! Aku sangat menyukai pekerjaannya tapi aku benci dengan Rajasa yang selalu mengintimidasiku."


"Menjauhlah! Demi kebaikan semua! Tenangkan emosimu!" Ryan mendorong bahu Rajasa memintanya menjauh.


"Dia marah aku mau menelpon Roy. Dia memintaku kalau menelpon ke rumah sempatkan untuk menelponnya. Apa aku salah?"


"Tentu tidak! Kalian kan bersahabat. Hanya saja Rajasa cemburu padanya. Kau maklumi saja sikapnya."


"Dia selalu jahat kalau sedang cemburu. Aku tidak suka kalau dia sedang seperti itu."


"Itu karena dia sangat mencintaimu dan tidak mau kehilanganmu."


"Kenapa dia tidak pernah mempercayaiku?"


"Seperti aku bilang. Dia tidak ingin kau mengecewakan dan mematahkan hatinya."


"Aku tidak pernah bermaksud mematahkan hatinya."


"Tapi kalau kau tiba-tiba memilih Roy dan menikahinya tentu dia akan patah hati, marah juga benci padamu."


"Apakah menurutmu aku akan menikahi Roy?"


"Tidak ada yang tahu takdir tapi kalau kalian terlalu dekat mungkin saja, kan?"


"Lalu aku mesti bagaimana? Roy memintaku menelponnya."


"Jaga kepercayaan Rajasa tentunya. Jangan mematahkan hatinya."


Edelweis mengusap airmatanya dan menganggukkan kepalanya.


"Kau telepon dulu ibu dan adik-adikmu kemudian telpon Roy. Apakah kau bisa bergabung dengan kita malam ini?"


"Tentu saja aku bergabung. Aku tidak ingin Rajasa semakin marah padaku."


"Keputusan yang sangat bijaksana. Baiklah, kami akan menunggumu."


Edelweis menganggukkan kepalanya.


"Ryan!"


Ryan membalikkan tubuhnya.


"Ada apa?"


"Terima kasih!"


Ryan tersenyum dan menarik tangan kanannya ke bawah.


"Semangat!"