
Edelweis, Malika, Wina dan Rajasa bertandang ke rumah kontrakan Ryan.
"Mengapa kau mengontrak rumah? Tidak membeli dan investasi di property? Persiapan jika kau nanti menikah?"Tanya Rajasa.
"Aku tidak ada rencana menikah. Aku nomaden. Untuk apa membeli rumah? Hanya merepotkan saja. Lebih enak begini mengontrak. Kalau aku mau pindah kerjaan. Tinggal pindah kontrakan ke tempat yang lebih sesuai."
"Rumah kontrakanmu mungil?"
"Aku hanya hidup sendiri. Rumah kecil mudah membersihkannya."
"Rumahmu nyaman dan bersih." Ujar Edelweis.
"Terima kasih. Ada yang membantuku membersihkan rumah pulang pergi."
Rajasa menghempaskan dirinya di sofa ruang tamu. Malika berkeliling rumah Ryan dengan ditemani Wina.
Malika sangat tertarik dengan susunan album foto yang diletakkan Ryan di dalam lemari kaca.
Mencoba untuk membuka lemari kaca tetapi sia-sia dan dia mulai menangis.
"Ada apa sayang?" Tanya Ryan menggendong Malika yang sedang menangis kesal.
"Dia ingin bermain dengan album fotomu." Sahut Rajasa yang memperhatikan polah Malika, " Jangan Malika! Nanti rusak album fotonya om Ryan." Tegur ayahnya.
"Malika boleh bermain dengan album foto om tapi tidak boleh dirusak."
Malika menganggukkan kepalanya seolah mengerti. Dia sudah tidak sabar ingin bermain dengan album foto tersebut.
"Kau jangan memanjakannya! Album foto bukan untuk mainan. Kalau dia terbiasa bermain dengan sesuatu yang tidak boleh dimainkan. Nanti menjadi kebiasaan. Kalau sudah kebiasaan, akan sangat sulit memintanya untuk menahan diri dari merusak barang-barang."
"Kau bisa santai tidak?" Sahut Ryan sambil tertawa, "Anakmu tidak selalu kecil. Itu yang harus kau pahami. Semakin besar apalagi kalau dia sudah banyak mengerti dan memahami akan semakin mudah diajak berkomunikasi. Pengertiannya juga semakin bertambah." Ryan mencium pipi Malika yang gembil, "Aku setuju dengan ucapanmu mengajarkan anak sejak dini mana yang mainan dan bukan mainan. Tapi tentu caranya mesti nyaman dan tidak membuat anak menjadi terintimidasi."
"Kau sangat memahami anak-anak. Mengapa kau tidak menikah atau menjadi guru?"
"Passionku di jurnalistik dan kau memintaku mengajar?"
"Kupikir akan banyak yang terbantu denganmu jika kau menjadi guru atau bekerja di day care."
Ryan tergelak,"Semua orang bisa memahami anak-anak asal mereka tidak mengedepankan ego mereka serta mau memahami serba serbi anak."
"Terus terang mengerti seluk beluk pekerjaan jauh lebih mudah daripada memahami Malika."Ujar Rajasa.
Kontan Ryan tergelak, "Ya itu masalahmu. Passionmu di pekerjaan bukan anakmu. Kau ayahnya. Seharusnya kau terkoneksi dengan anakmu. Nalurimu seharusnya bisa kau gunakan untuk mengerti, menjaga dan melindunginya. Tetapi karena fokus perhatianmu hanyalah pekerjaan. Tentu semua menjadi sangat sulit."
Malika menghentakkan kakinya dan tangannya menunjuk album foto.
"Baik, om akan ambilkan tapi tidak boleh dirusak. Itu bukan mainan."
Malika menganggukkan kepalanya tidak sabar. Ryan mengeluarkan album foto tersebut dan Malika ingin membuka plastik dan mencopot foto-foto tersebut.
"Kau lihat dia ingin merusak album fotomu. Dia menganggukkan kepalanya tapi melakukan hal yang sebaliknya." Sahut Rajasa.
"Dia tidak mengerti konsekuensi dari anggukan kepalanya. Dia hanya ingin cepat bermain dengan album foto tersebut. Memang anak-anak seperti itu. Mudah bilang iya tapi tidak konsisten menuruti. Karena mereka belum bisa mensinkronkan antara apa yang mereka katakan dengan konsekuensinya. Apalagi kalau hal itu tidak berasal dari mereka sendiri."
"Kau akan membiarkan Malika merusak album fotomu?"
"Tentu tidak."
"Lalu? Dia sepertinya ingin membuka plastik yang melapisi foto-fotomu dan mengeluarkan foto-foto tersebut."
Ryan menuju kamarnya. Mengeluarkam tissue dan aneka kaos kaki bersih miliknya dengan aneka warna. Meletakkannya di samping Malika yang sedang berusaha melepaskan plastik di dalam album foto.
Malika menghentikan kegiatannya. Melihat pada tissue dan kaos kaki yang berwarna-warni. Menjauhkan album yang sedang berusaha diutak utiknya. Meraih tissue dan kaos kaki tersebut.
Ryan mengambil album yang digeletakkan Malika begitu saja dan menyimpannya kembali di dalam lemari.
Kontan tawa keduanya meledak.
"Kau ayah yang payah! Mudah menyerah!"
"Malika terlalu abstrak untukku."
"Egomu terlalu besar. Memahami anak, kau harus mengerti mereka seperti halnya individu. Kau harus memahami keterbatasan mereka. Karakter mereka. Menerima mereka apa adanya sebelum kau membuat batasan dan arahan yang bisa mereka ikuti."
"Jika Malika dan Edelweis nyaman bersamamu. Wajar saja. Kau begitu pengertian."
"Pengertian itu kebutuhan manusia. Pengertian itu menandakan mereka tidak egois. Kau juga bisa asalkan mau menurunkan egomu."
"Malika! Sini sayang!" Panggil Rajasa.
"Anakmu sedang asyik bermain."
"Aku ingin memeluk dan menciumnya."
"Kau datangi dia. Kalau dia terganggu. Mengertilah! Dia sedang asyik bermain. Sama sepertimu kalau sedang asyik bekerja dan diganggu. Seperti apa rasanya?"
"Rasanya seperti gunung yang ingin memuntahkan laharnya."
"Malika juga sama. Anak kecil juga perlu dihargai apalagi seringkali mereka kesulitan untuk menyampaikan isi pikiran mereka."
"Aku membayangkan mengurus anak sangat mudah. Aku dan Edelweis sudah mempersiapkan sejak kehamilannya. Membaca buku-buku yang diperlukan. Menonton video. Tetapi prakteknya?"
"Pengalaman setiap orang tua dan karakter anak tidak sama. Memiliki referensi boleh saja tapi kau juga harus memahami anakmu dengan baik."
"Yeah! Kau bilang sifat Malika mirip denganku. Aku sudah mulai merasa referensi tersebut gagal karena tidak satu pun yang menggambarkan karakterku."
Ryan kembali tertawa, "Aku senang kau sudah memahami dengan baik."
"Semua karakter ada plus minusnya. Belajar mengamati, mendengarkan dan memahami adalah bagian yang tersulit."
"Aku tidak menyangka menjadi orang tua tidak semudah yang kukira."
"Pekerjaan paling sulit justru menjadi orang tua. Aku bisa saja memahami Malika karena bukan anakku sendiri. Tapi kalau nanti aku memiliki anak. Bisa jadi kau yang lebih paham dari aku."
"Berarti aku juga bisa lebih paham istrimu daripada kau sendiri."
"Waduh keterusan ini namanya."
"Bagaimana rasanya kalau orang lain lebih memahami istrimu dari pada dirimu sendiri?"
"Aku bukan bermaksud mencampuri urusan kalian berdua. Aku hanya berusaha membantu. Tidak ada niat lain."
"Jika kau ada di posisiku. Bagaimana?"
"Aku pasti tidak suka. Tapi kalau tidak ada jalan lain untuk menengahi? Walaupun cemburu tapi dilihat manfaatnya aja. Daripada hubungan kalian semakin tegang dan kandas?"
"Memang bisa kandas?"
"Kau pikir wanita yang minta cerai itu karena apa? Kebanyakan masalah komunikasi. Wanita itu makhluk yang sangat sensitif. Sama seperti Malika. Kalau dia nyaman maka semuanya akan baik-baik saja. Tapi kalau dia gak merasa nyaman. Maka semua akan terasa salah. Wanita kurang bisa menggunakan logikanya. Mereka hanya bisa menggunakan perasaan mereka. Harus bersabar dan jangan memojokkan atau membuat mereka semakin bingung."
"Kau mengerti wanita dan anak-anak tapi tidak mau menikah."
"Bukan tidak mau menikah. Aku belum bertemu dengan jodohku. Kalau sudah bertemu jodoh. Aku pasti menikah."
"Titipkan saja anak istrimu padaku. Kan kau sendiri bilang kemungkinan yang mengerti mereka orang lain?"
"Enak aja!"
Kontan tawa keduanya meledak.