Rajasa

Rajasa
Betrayal



Ketika seorang lelaki mengkhianati seorang wanita. Itu seperti ketika seorang wanita tidak dapat menguasai emosinya ketika mereka pms.


Mereka dikuasai hormon. Sesuatu yang mengendalikan. Di luar diri mereka sendiri.


Mereka tidak bisa berpikir dengan jernih.


Rajasa berselingkuh dengan Nurmala bukan direncanakan. Semua terjadi begitu saja. Dia melihat Nurmala seperti halnya seorang yang kehausan di padang pasir melihat oase.


Apakah dia tidak mencintai Edelweis ketika memutuskan mengkhianatinya?


Sejujurnya, dia tidak ingin pernikahannya berakhir. Dia bisa memahami keterbatasan isterinya apalagi semua demi putri mereka.


Tetapi dia tidak berdaya menghadapi keterbatasannya sendiri. Dia tidak mencintai Nurmala. Itu sudah pasti. Hubungan mereka tidak diwarnai romantisme layaknya pasangan. 


Dia juga tidak memiliki rasa peduli seperti halnya dengan Edelweis dan putri mereka. Tetapi dia membutuhkan Nurmala.


Pikirannya kerap merasa kacau dan bosan sebelum menikahinya. Setelah kebutuhannya terpenuhi dengan baik. Dia bisa berpikir lebih baik.


Mungkin itu menjelaskan. Mengapa lelaki tidak pernah bisa mencintai wanita yang menjadi pelampiasan hasrat seksualnya walaupun mereka membutuhkannya?


Mereka juga kerap menghina dan merendahkannya. Karena pada akhirnya, cinta masalah komitmen, kesetiaan, perlindungan dan pengorbanan.


Sedangkan nafsu adalah kebutuhan dan keinginan. Sesuatu yang sulit ditepis. Karena hal itu langsung berhubungan pemenuhan kebutuhan biologis mereka.


Dia tidak mungkin berterus terang pada Edelweis mengenai pengkhianatannya.


Sampai kapan pun, Edelweis tidak akan pernah bisa mengerti mengapa dia mengkhianatinya?


Edelweis akan merasa bahwa dia ibu yang sangat baik. Melakukan yang terbaik untuk putri mereka. Berkorban untuknya. Melakukan segalanya untuk rumah tangga mereka.


Memang kenyataannya demikian. Tetapi dia juga lelaki biasa yang memiliki kebutuhan yang harus dipenuhi agar bisa menghadapi semua tekanan yang ada di dalam hidupnya.


Hampir semua lelaki terpaksa membohongi wanita yang mereka cintai agar bisa bertahan bersama mereka. 


Kalau dia tidak ingin bertahan bersama Edelweis. Dia akan memilih untuk menceraikannya. Dia bebas menikahi siapa pun yang dia inginkan. Tetapi dia ingin mempertahankan pernikahannya. Edelweis cinta sejatinya. Selalu ada di dalam pikiran dan hatinya.


Memang sebagai lelaki dia memiliki hak untuk berpoligami tetapi dari sisi istri sangat sulit untuk bisa mengerti bahwa hal tersebut merupakan kebutuhan suami dan merupakan solusi untuk masalah-masalah yang memang tidak bisa diatasi karena ada hal-hal yang dilematis di dalamnya.


Menghadapi perubahan di dalam pernikahan mereka merupakan tekanan baru selain pekerjaannya.


Secara perasaan, apa yang dilakukannya akan menyakiti isterinya. Tetapi secara logika, dia tidak memiliki cara yang lebih baik dari pada hal ini. Menikahi Nurmala efektif mengatasi masalah pemenuhan biologisnya yang tidak bisa dipenuhi oleh isterinya. Karena kehadiran anak mereka yang menyita seluruh perhatian dan energi isterinya. Nurmala juga seorang wanita yang tahu diri. Menyadari bahwa Rajasa menikahinya bukan karena cinta tapi untuk melengkapi kekurangan isterinya pada saat ini.


Mereka sendiri saling membutuhkan. Ibarat pepatah, lo jual, gue beli. Hubungan mereka saling memanfaatkan satu sama lain secara sadar.


Rajasa membutuhkan penyaluran biologis sedangkan Nurmala sendiri membutuhkan materi dan nafkah batin.


Nurmala bersyukur ada Ara dan ibunya, tetangganya yang membantunya menjaga anak dan mengurus rumah kontrakannya. Dia memberikan mereka imbalan berdua tiga juta sebulan. 


Mereka berdua sudah seperti keluarganya sendiri. Anaknya, Amelia sudah dimandikan dan diberi makan oleh Ara.


Rumahnya juga sudah bersih. Dibersihkan oleh ibunya Ara. Menitipkan Amelia dan rumahnya pada keduanya membuatnya bisa lebih tenang bekerja. Apalagi sekarang dia memiliki pekerjaan tambahan melayani Rajasa.


Tidak ada cinta dan romantisme dalam hubungannya dengan Rajasa. Mereka hanya sebatas saling memanfaatkan untuk kepentingan masing-masing.


Jam menunjukkan pukul setengah enam sore. Nurmala bersiap untuk pulang. Berencana akan menunaikan sholat maghribnya di rumah.


Dirinya merasa beruntung karena Amelia tidak rewel. Mau dititipkan dengan siapa saja sehingga dia bisa berkonsentrasi bekerja.


Mantan suaminya lelaki yang tidak bertanggung jawab dan tidak setia. Tipikal kebanyakan lelaki.


Cinta membutakan matanya. Impiannya menjadi seorang isteri dan ibu musnah melihat perlakuan suaminya kepadanya.


Hatinya sangat sakit juga trauma mengingat perlakuan mantan suaminya kepadanya.


Wanita mudah tersentuh dan terayu dengan mulut manis, rayuan dan gombalan lelaki.


Tanpa harus menjadi isteri siri  Rajasa. Dengan penghasilannya sebagai sekretaris cukup menghidupi kehidupannya dengan putrinya. Tetapi sebagai wanita normal. Dia juga membutuhkan nafkah batin juga materi.


Mobil pemberian Rajasa ditaruhnya di apartementnya. Digunakan untuk berjalan-jalan bersama Ara dan putrinya. Dia juga mengajak ibunya Ara yang   lebih sering menolak. Memilih dibawakan makanan daripada bergabung berjalan-jalan bersama mereka.


"Anak bunda sudah wangi." Sahutnya mencium Amelia dengan lembut.


Usia Amelia belum genap dua tahun. Amelia tidak suka menyusu ASI dan hal itu memudahkannya dalam mengurus kesehariannya.


Amelia juga mau memakan apa saja yang diberikan kepadanya sejak usia empat bulan.


Bubur susu dan bubur buatan sendiri. Bahkan sudah mulai memakan nasi lembek di usianya yang menginjak delapan belas bulan.


Perutnya sangat lapar. Amelia menemaninya makan. Pagi hari sebelum berangkat kerja. Dia menyempatkan diri untuk memasak. 


Menjelang isyaa, Ara yang rumahnya tinggal berdekatan dengannya mendatanginya kembali. Menungguinya mandi dan selesai sholat isyaa baru menyerahkan Amelia kepadanya. 


Hidup yang dia jalani bukanlah impian siapa pun tapi dia harus bersyukur di tengah cobaan hidup yang dia alami. Dia dapat menjalani dengan sebaik mungkin.


Hidupnya hanya lah untuk Amelia. Dia sudah menyiapkan tabungan, asuransi pendidikan dan juga kesehatan untuk putrinya.


Bahkan apartment dan mobil yang diberikan Rajasa padanya dibaliknama ke atas nama putrinya. 


"Apa kau merindukan bunda?" Nurmala mencium putrinya yang tertidur di tempat tidur mereka berdua. Tampak mengantuk sembari menghabiskan susu botolnya.


Bekas botol susunya dibawa ke bak cuci piring agar tidak mengundang semut di kamar mereka.


Ac kamar mereka yang sejuk dan dingin membuat keduanya terlelap sampai pagi.


Nurmala bangun jam empat pagi. Memasak makanannya dan Amelia. Bersiap untuk mandi dan sholat subuh. Menunggu kedatangan Ara yang akan mengambil Nurmala untuk dibawa ke rumahnya.


Dia memberikan kunci rumahnya kepada Ara sehingga bisa bebas keluar masuk rumahnya saat dibutuhkan.


Banyak wanita menjadikan materi sebagai suami karena lebih bisa diandalkan dan dia termasuk salah satunya.


Dia tidak peduli dengan pandangan orang terhadapnya. Berusaha terbaik yang dia bisa. Karena setiap orang bisa memandang diri mereka baik atau buruk. Sangat relatif. Pada akhirnya setiap orang bertanggung jawab pada hidup mereka masing-masing.


Di tengah kehinaan dirinya. Tidak terpikir untuk merebut Rajasa dari sisi isterinya. Karena memang dia tidak ingin berumah tangga kembali.


Luka dan trauma yang ditorehkan mantan suaminya, membuatnya kehilangan kepercayaan akan cinta dan kepercayaan. Apalagi dia sendiri adalah pelaku pengkhianatan cinta. Menorehkan luka pada isteri Rajasa.


Dia tidak memiliki dendam pada Edelweis. Tidak merasa sakit hati atau iri. Apa yang terjadi antara dia dan Rajasa karena tekanan kondisi yang tidak bisa ditolak mereka berdua.


Dia juga tidak ingin hamil anak Rajasa. Baginya, anak cukup Amelia saja. Sebagaimana Rajasa juga mencukupkan diri dari anak yang dilahirkan isterinya.